
Hana berdiri di halaman club milik Kenzi, ia tidak berani masuk ke dalam sebelum Rei dan yang lain datang. Ia tidak berhenti melirik jam tangannya dengan cemas.
"Ya Tuhan, selamatkan anak anakku.." ucap Hana menatap ke arah pintu gerbang.
Detik berikutnya ia melihat mobil memasuki gerbang club. Nampak Rei dan yang lain keluar dari pintu mobil.
"Rei!!" seru Hana bergegas menghampiri mereka.
"Tante?!" ucap Marsya.
"Syukurlah kalian selamat," ucap Hana senang. "Apa kalian berhasil?" tanya Hana menatap koper yang Rei pegang.
"Kita berhasil tante," jawab Keenan.
"Kalau begitu ayo masuk! tersisa satu menit lagi!" pekik Hana menarik tangan Rei.
Rei mengikuti langkah Hana di ikuti yang lain. Mereka langsung memasuki club milik Kenzi dengan membawa harapan besar bisa membebaskan Siena malam ini juga.
Hana langsung membuka pintu club tepat pukul 01:30. Hana dan yang lain terpaku menatap Siena berdiri di tengah ruangan dengan memakai pakaian transparan, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Di kelilingi pria pria perlente duduk di kursi tengah menatap Hana dan yang lain. Sementara Kenzi duduk di kursi tak jauh dari tempat Siena berdiri.
Hana dan yang lain berjalan perlahan mendekati Siena. Hana menatap Siena dengan tangan terulur. "Putriku.." ucapnya lirih.
Siena menatap Hana dengan mata berkaca kaca. Ia tetap berdiri di tengah tengah mereka semua tanpa bicara sepatah katapun. Keenan geram melihat pemandangan seperti itu, begitu juga Rei.
"Kenzi! aku datang tepat waktu sesuai persyaratanmu, sekarang lepaskan Siena! seru Rei. Ia letakkan koper di lantai, kemudian Rei menendang koper itu dan meluncur tepat di bawah kaki Kenzi.
Kenzi menatap koper itu dan menginjaknya dengan kaki kanan. Detik berikutnya ia berdiri dan kembali menendang koper itu hingga kembali tepat di bawah kaki Rei.
"Apa maksudmu!" pekik Keenan sudah tidak tahan lagi.
"Kalian memang datang tepat waktu dan berhasil membawa uangnya. Tapi kalian telah berbuat kesalahan! balas Kenzi.
" Omong kosong! kesalahan apalagi yang kami perbuat!" seru Rei menatap tajam Kenzi.
"Jangan banyak alasan Kenzi! serahkan Siena sekarang juga! balas Keenan.
Kenzi tersenyum sinis, ia berjalan beberapa langkah dan berdiri di samping Siena.
Tangannya terulur menunjuk ke arah Marsya. " Dia! dia adalah kesalahan kalian!"
Hana dan yang lain menoleh ke arah Marsya, "kebohongan apa yang kau katakan Kenzi?" tanya Hana.
"Dia anggota kepolisian yang menyamar, bukan begitu nona Marsya?" tanya Kenzi.
"Apa maksudmu?" tanya Marsya.
__ADS_1
Rei dan Keenan menoleh ke arah Marsya tak percaya. "Katakan padaku, apa itu benar?! ucap Rei.
" Hahahaha! kalian telah bermain main denganku rupanya, tangkap wanita itu!" perintah Kenzi pada anak buahnya.
Tiga pria di belakang Hana dan yang lain langsung menyergap Marsya, "Kenzi, semua kejahatanmu akan terbongkar. Kau akan dihukum! seru Marsya.
"Bawa dia! Kenzi menatap marah Rei dan yang lain.
" Kenzi, soal identitas Marsya kami tidak tahu. Jadi bukan alasan untuk ingkar janji!" seru Rei berjalan lebih dekat ke arah Siena di ikuti Hana dan Keenan.
"Siena, ayo pulang sayang.." ucap Hana mengulurkan tangan meraih tangan Siena. Namun Kenzi menepis tangan Hana.
"Kau sudah berbuat kesalahan untuk kesekian kalinya nyonya Hana, bahkan persyaratan kali ini pun kau telah gagal. Sekarang kau bisa saksikan pertunjukan yang di lakukan putrimu!" ucap Kenzi di akhiri dengan tertawa kencang.
"Kurang ajar! pekik Keenan ia maju menerjang Kenzi. Namun Adrian yang selalu ada di samping Kenzi, langsung menghadang Keenan dan memukul balik perut Keenan hingga terhuyung ke belakang dan ambruk. Rei tidak terima dengan semua itu, akhirnya ia tak dapat mengendalikan emosinya.
Rei balik menerjang Adrian dengan melayangkan tinju ke wajah Adrian. " Aku muak dengan sandiwara kalian!"
Adrian oleng kesamping, ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya supaya tidak jatuh. Adrian langsung menerjang Rei kembali. Akhirnya terjadi perkelahian di saksikan oleh para pria perlente. Mereka bersorak dan tertawa saat Rei atau Keenan terjatuh.
"Hentikan! pekik Siena. Pipinya basah oleh air mata. " Hentikan Kenzi! sekarang katakan apa maumu!"
Kenzi menatap Siena, ia tersenyum lalu memerintahkan Adrian untuk berhenti. Namun Kenzi memerintahkan yang lain untuk menahan Hana.
"Apa maksudmu Kenzi!" Hana berteriak saat dua pria memegang dua tangannya. Sementara anak buahnya yang lain memegang Rei dan Keenan.
"Menarilah Siena!" seru Kenzi.
"Tidak! tidak akan pernah! pekik Siena marah.
" Menari!" bentak Kenzi. Namun Siena tetap diam tak bergeming, membuat Kenzi kesal. Ia memerintahkan anak buahnya untuk memberikan penyiksaan kecil pada Hana. Pria itu mengarahkan senjata api di pelipis Hana.
"Kau tidak punya hati Kenzi! lepaskan aku! kita duel sampai mati! seru Rei. Namun Kenzi tidak menggubrisnya.
"Menarilah Siena, atau ibumu akan kehilangan nyawanya di depan matamu. Aku hitung sampai tiga!"
Siena terdiam menatap Hana dengan berlinangan air mata. Ia melihat pria itu mulai menarik pelatuknya.
"Hentikan Kenzi!" seru Rei.
Kenzi mulai menghitung, sementara Adrian mulai memutar musik. "Menari Siena!
Perlahan Siena mulai menggerakkan tangan, dadanya naik turun menahan gejolak amarah tanpa mampu ia berbuat apa apa. Perlahan tapi pasti, Siena mulai menari mengikuti alunan musik. Tubuhnya meliuk gemulai mengikuti irama. Pakaian transparan yang ia kenakan mengundang gairah para pria perlente yang Kenzi undang untuk acara pelelangan Siena.
" Hentikan Kenzi..hentikan!" pekik Hana.
__ADS_1
Rei dan Keenan menundukkan kepala saat melihat Siena mulai menari. Napas mereka saling memburu menahan amarah. Tapi tak mampu membalas perbuatan Kenzi.
Sementara Kenzi mulai membuka pelelangan Siena dengan harga yang sangat fantastis. Jika ada yang berani, maka Kenzi memperbolehkan orang tersebut untuk menari dengan Siena dan membawanya pulang.
Seiring musik yang mengalun, Kenzi mulai menyebutkan nominal harga untuk melelang Siena. Awalnya tidak ada yang berani melebihi harga yang di berikan Kenzi karena terlalu tinggi. Namun detik berikutnya seorang pria berwajah rupawan berdiri dan mendekati Kenzi.
"Aku setuju, jika dua kali lipat dari harga yang kau tawarkan Kenzi! seru pria itu.
" Tuan Julian, kau berani dengan harga dua kali lipat?" tanya Kenzi.
"Tentu saja Kenzi!"
"Deal!" ucap Kenzi mengulurkan tangan menjabat tangan pria bernama Julian.
Kemudian Julian menelpon orang kepercayaannya untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening milik Kenzi. Setelah sepakat, Julian berjalan me dekati Siena yang tengah menari dan memeluknya dari belakang. Siena terus menari dengan berurai air mata.
Hana hanya bisa menangis menatap Siena dan merutuki kebodohannya sendiri, "aku memang bukan ibu yang baik, maafkan mama nak..maafkan mama.." ucap Hana menundukkan kepala menangis.
Rei dan Keenan berusaha melepaskan diri dari cengkraman anak buah Kenzi. Ingin rasanya ia meludahi wajah Kenzi dan menguburnya hidup hidup. Tapi sayang, itu hanyalah keinginan belaka. Kenyataannya mereka tak mampu menyelamatkan Siena.
Kenzi kembali duduk memperhatikan Siena tengah di peluk Julian dan mencium punggung Siena. Awalnya ia bahagia melihat Siena menderita dan malu. Tapi detik berikutnya ada rasa sesak menyeruak di dalam dadanya. Darahnya mendidih tatkala Siena mengerang kesakitan di gigit punggungnya oleh Julian. Perlahan Kenzi berdiri dan menghampiri Julian lalu ia menarik kerah baju Julian hingga mundur ke belakang.
"Ada apa ini?" tanya Julian.
"Hentikan musiknya!" seru Kenzi marah.
Adrian langsung mematikan musiknya dan Kenzi membuka jas yang ia kenakan. Jas miliknya ia kenakan ke tubuh Siena. Hana dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatap bingung ke arah Kenzi.
"Adrian, kembalikan uang tuan Julian. Pelelangan ini resmi aku batalkan! seru Kenzi.
" Apa?! kau tidak bisa begitu Kenzi! ini namaya kau menipu!" ucap Julian tidak suka.
"Sebelumnya aku minta maaf, acara ini resmi aku tutup! silahkan kalian pulang!" Kenzi merangkul bahu Siena dan memeluknya erat.
Satu persatu pria undangan Kenzi meninggalkan tempat dengan kesal. Berbeda dengan Julian, ia merasa di permalukan oleh Kenzi. Sebelum ia meninggalkan tempat. Julian sempat memberikan peringatan pada Kenzi atas rasa malu yang ia terima. Setelah itu ia berlalu meninggalkan ruangan.
"Kalian!" seru Kenzi menatap Hana dan yang lain bergantian. "Tinggalkan tempat ini sekarang. Dan aku akan memberikan kalian kesempatan terakhir!"
"Apalagi yang akan kau rencanakan Kenzi? aku sudah tidak percaya lagi! seru Rei.
" Kau jual, aku beli. Saat ini aku mengaku kalah..tapi lihat nanti. Apa yang bisa aku lakukan, aku akan membalas semua perbuatanmu pada Siena!" ucap Rei geram.
Rei berjalan mendekati Hana lalu ia membawanya keluar dari ruangan di susul Keenan.
"Siena! bertahanlah!" seru Rei menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan menoleh ke arah Siena. Kemudian mereka kembali melangkah keluar club.
__ADS_1
Kenzi menghela napas dalam dalam, ia mengangkat tubuh Siena dan menggendongnya. "Kau jahat!" ucap Siena menatao wajah Kenzi.
Kenzi diam saja meski Siena terus memaki. Ia membawa Siena ke lantai dua club tanpa bicara sepatah katapun atau membalas semua makian Siena.