
Kedekatan Siena dengan Kenzi, hanya satu hal yang ia ketahui tentang Kenzi. Bagaimana dia memperlakukannya dengan baik. Pria itu tengah duduk termenung menghisap cerutu dalam dalam dengan secangkir kopi. Sesekali ia mengangkat kopinya dan menghirup cairan kental berwarna hitam di dalamnya.
Mereka berdua ada di dalam ruangan yang sama namun tidak ada satupun yang berbicara.
Siena yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara, "apa yang kau pikirkan?" Siena tidak tahu lagi harus bicara apa. Namun pria itu jelas tengah berpikir keras.
Kenzi hanya melirik sesaat ke arah Siena, "tidak ada."
"Kau bohong." Siena tahu betul apa yang tengah pria itu pikirkan.
Pemilik mata gelap itu memalingkan wajah menatap Siena. "Habiskan sarapanmu."
"Kenzi." Siena menundukkan kepala sesaat, menarik napas gusar dan menggeser kursinya hingga terdengar suara gesekan di lantai.
"Kau tidak perlu khawatir, aku hanya ingin melihat kau baik baik saja." Kenzi menatap wajah frustasi Siena, gadis itu jelas tengah berusaha tenang dan menerima kenyataan hidupnya. "Tenanglah Siena, kau akan tetap aman bersamaku."
"Tapi kenyataannya kau pun terluka karena aku." Pernyataan sinis Siena di balas tatapan tajam Kenzi. Membuat Siena menundukkan kepala.
"Bisa tidak kau diam dan duduk manis bersamaku? apa kau tidak melihat sedikit tentang aku? bisa saja dulu aku menjualmu."
"Kenapa kau tidak kau lakukan?" kali ini Siena bertanya kenapa pria itu memperlakukannya dengan baik jika masa lalu ibunya harus dia ungkit. Siena tidak mengerti dua sisi Kenzi yang begitu berlawanan.
"Apa kurang jelas?" Kenzi kembali duduk dengan tenang, kembali menghirup kopinya. Setiap pagi dia tidak pernah sarapan. Hanya di temani kopi dan rokok. Dan setiap malam dia makan di temani sebotol minuman wiski atau minuman lainnya. Siena terdiam memperhatikan Kenzi mengangkat cangkir lalu meletakkannya kembali.
***
__ADS_1
Siena keluar dari kamar menuju lantai bawah, ia berusaha menelan ludahnya susah payah ketika melihat bos besar dan Livian tengah menatapnya benci seakan ingin menelannya hidup hidup. Siena menalingkan wajah menatap Kenzi dan Samuel yang tengah berdiri di hadapan dua pria itu.
Siena berjalan semakin lambat dan melihat Kenzi tengah menatap penuh rasa khawatir.
"Siena?" Kenzi membuka suara saat Siena berdiri di sampingnya. "Kenapa kau kesini?'
Siena menggelengkan kepala, mengalihkan pandangan pada dua pria di hadapannnya. Ia menyadari kalau dua pria itu sangat tidak menyukainya. Mereka menganggap keberadaan Siena telah mengambil perhatian Kenzi dari outfit.
Siena menatap benci dua pria itu, kini ia alihkan pandangan melihat Kenzi dan Samuel. Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah katapun
" Kau punya kesempatan dua hari Kenzi. Jika kau tidak dapat menyelesaikan pekerjaanmu. Maka kami akan mengambil alih." Bos besar meletakkan pistol di atas meja.
Kenzi terdiam, lidahnya kelu. Dadanya naik turun menahan emosi. "Siena, masuk ke kamar."
Siena menganggukkan kepala, ia menoleh ke arah dua pria itu dan mengerti maksud ucapannya.
"Aku mengerti." Gadis itu berucap. Ia menatap satu persatu empat pria di hadapannya. Lalu ia melangkah pergi kembali ke kamar.
Kenzi menatap punggung Siena, ia berharap Siena tidak terlibat dalam konflik di antara mereka. Kenzi selalu berusaha melindungi dan mempertahankan Siena dari kekejaman dunianya, dan rasa frustasi yang Siena alami. Ia akan selalu melindunginya. Berbeda dengan Hana yang selalu menghabiskan uangnya untuk berjudi dan minum minuman dan memperraruhkan putrinya di meja judi.
Sialnya Kenzi, ia berusaha melindungi Siena dari kekejaman dunianya. Maka bos besar dan Livian melakukan hal sebaliknya. Mereka mrminta Kenzi untuk melenyapkan Siena dengan tangannya sendiri.
"Bagaimana Kenzi? atau kau berharap Livian yang melakukannya?" ucapan bos besar membuat Kenzi menutup mulut, giginya gemelutuk menahan amarah.
"Atau kau memang sudah bosan bekerja dengan kami." Livian menatap lurus Kenzi. Ia melihat sebentuk senyum mencemooh terbentuk di bibir Kenzi.
__ADS_1
"Aku harap kau lakukan dengan cepat." Ancaman bos besar bukan main main. Bisa pria itu melakukan apa saja yang ia inginkan sebagai pria imoral tak memiliki belas kasihan. Bisa saja ia menangkap Siena dan memberikannya pada anak buahnya untuk di gilir.
"Lakukan dengan cepat." Livian dan bos besar meninggalkan rumah Kenzi setelah mengancam Kenzi.
Kenzi duduk di kursi di ikuti Samuel. Ia mengepalkan tangannya, "Livian, benar benar brengsek, dia telah menghasut bos besar dan membahayakan nyawa Siena. Aku harus melakukan sesuatu." Kenzi menatap Samuel sesaat. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar Siena.
Kenzi berdiri di depan pintu memperhatikan Siena yang tengah berdiri di depan meja. Kenzi terdiam di depan pintu hingga Siena menyadari kehadirannya. "Kenzi.."
"Siena." ia berjalan menghampiri Siena. Tanpa ragu meraup tubuhnya dalam pelukan. Tubuh Siena yang mungil membuat Kenzi sedikit membungkuk untuk memeluknya.
"Mereka sudah pergi?"
"Ya." Kenzi melepaskan pelukannya
"Kenzi," Siena memperhatikan pria itu terdiam sesaat dengan raut wajah tak terbaca. "Apa mereka memintamu untuk membunuhku?"
"Kau mendengarnya?" Kenzi menangkup wajah Siena dengan tatapan nanar.
"Aku tahu kenapa mereka datang ke sini, aku tahu jika kau tidak bisa meninggalkan pekerjaan terkutuk itu, tetapi bisakah kau berhenti melakukan semuanya?" Siena bahkan tak bisa mengucapkan kata penjualan manusia salah satu bisnis yang di lakukan outfit.
"Sudah terlambat Siena, berhenti sekarang atau nanti. Mereka tidak akan membiarkanku hidup tenang bahkan mereka bisa membunuhku."
"Lalu bagaimana dengan kita? apa selamanya akan seperti ini? atau mereka akan melenyapkanku? Siena menyadari kalau ia tidak bisa terus menerus menekan Kenzi. Namun bukan sekali dirinya menjadi korban.
Kenzi tahu orang orang Crips dan bos besarnya bertanya mengapa ia membiarkan Siena hidup dan membawanya ke dalam kehidupan Kenzi. Bagi mereka dan outfit, Siena tidak berguna dan akan menyulitkan. Buka hal yang mustahil Siena akan buka mulut dan membeberkan semua rahasia pada pihak kepolisian. Meskipun mereka menawarkan Siena untuk di tukar. Namun bagi Kenzi, Siena adalah segalanya.
__ADS_1
"Tidak Siena, tidak akan aku biarkan mereka menyentuhmu.' Kenzi menggelengkan kepala. Kenzi tersenyum samar, bahkan tanpa keterlibatannya pun bos besar dan Livian akan melakukan sesuatu terhadap Siena. Hanya karena gadis itu di anggap penghalang untuk Kenzi. Tapi mereka tidak akan senang jika Kenzi tidak melakukan perintah bos besar.
Ia masih ingat saat ia memeluk Siena yang berlumuran darah. Untuk pertama kalinya Siena membela dan menganggapnga bukan seorang penjahat. Hari itu juga rasa ingin memiliki Kenzi semakin besar. Kenzi meraih kedua tangan Siena dan meremasnya perlahan. Di dalam dunia Kenzi yang di dominasi pria. Dan bukan hanya sekali wanita menjadi korban dan dia tahu betul seperti apa