The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and Love


__ADS_3

Sepeninggal Kenzi dan Adelfo untuk mencalonkan diri supaya musuhnya keluar dari sarang. Jiro keluar dari kamarnya dan berpamitan pada Siena untuk menemui Zoya di rumahnya. Awalnya Siena melarang dan meminta Jiro untuk membantunya menyiapkan makanan. Sore ini, Ryu putra bungsu Siena akan datang berkunjung karena kuliahnya telah selesai.


Sesampainya di rumah Zoya. Pria itu tidak menemukan Zoya. Menurut penjaga rumah, Zoya sedang tidak ada di rumah. Namun Jiro mendapati Miko yang sedang menunggu Zoya pulang.


"Kau ada di sini? sedang apa?" tanya Jiro menatap ke arah Miko.


Miko langsung menarik tangan Jiro dan menggenggamnya erat.


"Jiro, aku mau minta maaf. Sama sekali, aku tidak ada niat untuk melukaimu ataupun Zoya. Tapi aku terpaksa melakukan itu karena Ibuku yang minta."


Jiro menepis tangan Miko lalu membuang muka ke samping.


"Kau tidak perlu minta maaf, aku sudah memaafkanmu."


"Tidak, kau belum memaafkanku."


Miko kembali meraih tangan Jiro dan menggenggamnya erat. Gadis itu terus berusaha meyakinkan Jiro, dia tidak perduli dengan penjaga yang ada di hadapannnya.


'Jiro, aku janji. Aku akan keluar dari organisasi itu, aku juga tidak akan mengikuti semua perintah mereka. Dan aku berjanji akan membantu Om Kenzi, semua yang kuketahui."


"Bagus." Jiro menjawab singkat tanpa menoleh ke arah Miko.


"Aku mencintaimu, bisakah kita mulai dari awal?"


Jiro mengalihkan pandangannya pada Miko. Menyentuh pipinya lembut.


"Aku memang tidak mencintaimu, tapi aku juga tidak mau kau bersama pria lain."


"Jiro..." ucap Miko pelan, menatap kedua bola matanya.


"Jiro..." gumam Zoya pelan namun terdengar oleh mereka berdua. Jiro menoleh ke arah Zoya yang sudah berdiri di belakangnya.


"Kau sudah pulang?" tanya Jiro, lalu berjalan satu langkah mendekati Zoya. Namun gadis itu mundur beberapa langkah menjauhi Jiro.


"Zoya? kenapa?" tanya Jiro menatap bingung gadis itu.


Gadis itu menggelengkan kepala, tertawa kecil menatap Jiro lalu beralih menatap Miko sesaat dengan perasaan terluka. Namun ia berusaha untuk tetap tenang dan menyembunyikan kekecewaannya.


"Jangan kau tanya kenapa, aku sudah mendengar apa yang baru saja kau katakan padanya."


"Zoya, aku-?"


"Cukup," potong Zoya.


Gadis itu kembali tersenyum miring dengan kedua tangan ia silangkan di dada.

__ADS_1


"Kau tidak perlu menjelaskan apa apa, mungkin kau mencintaiku. Tapi itu dulu, sekarang yang kau cintai Miko, bukan aku."


"Zoya, aku-?"


"Sidahlah, aku baik baik saja kok." Zoya memotong ucapan Jiro lagi.


"Mudah saja, dari pada kita ribut, salah paham. Lebih baik aku dan kau bersahabat seperti yang kubilang dulu. Iya kan?"


Zoya tersenyum sinis menatap Miko dan Jiro bergantian.


"Orangtua kita sedang menghadapi masalah pelik, jangan menambah beban mereka. Aku rasa usulku tidak buruk. Kita bersahabat, dan kau Jiro-?" Zoya menarik napas dalam dalam, menatap sendu ke arah Jiro. "Kau bisa mencoba dan berikan kesempatan untuk Miko."


"Tapi, aku-?"


"Jiro.." ucap Zoya pelan, tersenyum samar lalu menundukkan kepala. "Dulu aku agresif, aku akui itu. Tapi sekarang, aku tahu batasanku. Apa yang kau katakan tadi pada Miko, itu sudah cukup menjelaskan bagaimana hatimu pada Miko."


Zoya melangkah lebih dekat dengan Jiro dan Miko. "Aku sahabat kalian, jadi jangan ada lagi dusta di antara kita. Apalagi kesalahpahaman yang berujung malapetaka. Ingat Jiro." Zoya menatap lekat wajah pria yang ia cintai. "Ayahmu dalam masalah, ada baiknya kau tidak berulah."


"Apa yang di katakan Zoya benar, apa susahnya kita mencoba dari awal lagi hubungan kita. Kau jangan egois." Miko menimpali dan membenarkan ucapan Zoya.


"Aku-?"


"Ayolah Jiro." Miko menyela ucapan Jiro dan tidak memberikan kesempatan Jiro untuk bicara.


Namun Miko menolaknya, ia meminta Jiro untuk mengantarkannya pulang. "Ayo, antarkan aku pulang sebentar."


"Jiro, antarkan dia pulang. Lagipula, aku masih ada urusan." Zoya menganggukkan kepalanya. Jiro hanya diam menatap dalam wajah Zoya, lalu ia menganggukkan kepalanya dan mau mengantarkan Miko.


Zoya menarik napas panjang, menyeka air mata di sudut matanya yang hampir jatuh. "Tidak Zoya, kau tidak boleh menangis. Ingat pesan Papa, buat apa mengejar pria yang tidak mencintaimu." Zoya menyemangati dirinya sendiri. Lalu ia meminta pengawal untuk mengantarkannya ke rumah Siena. Tadi di perjalanan, Siena meminta Zoya untuk membantunya membuatkan masakan untuk menyambut kedatangan Ryu.


Tiba tiba Zoya meminta pengawalnya untuk berhenti. Sejenak ia berpikir, bagaimana kalau Siena bertanya tentang keberadaa Jiro? sesaat Zoya terdiam lalu minta pendapat pengawalnya.


"Kim, jawaban apa yang harus aku berikan pada Tante Siena?"


"Bilang saja, kalau Tuan Jiro langsung pergi ke kantornya," jawab Kim, pengawal Zoya.


"Tidak buruk juga idemu, ayo berangkat!" Zoya tersenyum setelah mendapat ide.


Hanya butuh waktu dua puluh menit, akhirnya Zoya telah sampai di rumah Siena. Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah, di sambut Siena dengan pelukan hangat.


"Hei sayang, di mana Jiro?" tanya Siena melepaskan pelukannya, melirik ke arah pintu rumah.


"Anu Tante, tadi Jiro ada urusan ke kantor dulu. Sebentar lagi pulang," jawab Zoya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ke kantor?" Siena memicingkan matanya menatap wajah Zoya. Ia menangkap isyarat tubuh gadis itu tengah berbohong, tapi Siena tidak mengatakannya. "Ya sudah, sekarang kita ke dapur." Siena menarik tangan Zoya, lalu mereka berdua mulai mengerjakan semua menu yang akan mereka buat untuk Ryu.

__ADS_1


"Sekarang Ryu sudah lulus Tante?" tanya Zoya sambil mengaduk tepung.


"Iya sayang," jawab Siena melirik ke arah Zoya sesaat. "Dia mau tunangan denga. Savanah."


"Wah, syukurlah. Aku ikut senang dengarnya." Zoya tersenyum lebar. Saat mereka tengah asik membuat makanan sambil bercanda. Jiro yang baru saja datang, terkejut mendapati Zoya di rumahnya. Ia bingung jawaban apa yang harus di berikan jika Siena bertanya.


"Kenapa kau diam di situ?" sapa Siena.


"Ah, iya Bu." Jiro berjalan mendekati mereka berdua.


"Sudah selesai urusan kantornya?" tanya Siena.


"Deg!"


Jiro menggaruk rambutnya, menatap ke arah Zoya yang menganggukkan kepala .


"Oh, iya sudah Bu. Hanya pekerjaan kecil." Jiro tertawa yang di paksakan.


"Ya sudah, mungkin kau lelah. Sebaiknya kau istirahat." Siena menatap dalam wajah putranya. Bukan ia tidak tahu, kalau Jiro tengah berbohong. Dan Siena juga tahu, kalau Zoya tengah melindungi Jiro dari kemarahannya.


"Baik Bu.." Jiro langsung berlalu begitu saja, dia pikir Siena tidak tahu kebohongannya.


"Jangan lupa, nanti sore jemput adikmu!" seru Siena. Sesaat ia melirik ke arah Zoya yang menundukkan kepala dengan raut wajah sedih.


"Kau gadis baik, sangat baik. Ibu menyukaimu Nak, Kau mirip Ibu sewaktu muda." Siena tertawa lebar menghibur hati Zoya yang tengah terluka. Gadis itu ikut tertawa, lalu meminta Siena untuk bercerita.


***


Sementara itu, Kenzi dan Adelfo yang berada di tempat lain. Telah selesai mengumumkan bahwa, dia ikut dalam pemilihan akhir tahun ini. Beberapa awak media langsung mewawancarai Kenzi dan Adelfo sebagai pasangan terkuat tahun ini. Berita naiknya Kenzi dan Adelfo dalam pemilihan. Hanya dalam hitungan menit, sudah tersiar di beberapa media online. Bahkan mereka yang menjadi musuh atau saingan politik, langsung mendapat kabar itu dan menjadi trending topic di media televisi.


Setelah selesai, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun di tengah perjalanan, mobil mereka di pepet satu pengendara motor yang meminta mereka untuk berhenti. Adelfo meminta sopir untuk menepikan mobilnya. Lalu Kenzi membuka kaca jendela. Pria yang ada di atas motor itu membetikan secarik kertas pada Kenzi. Setelah itu, pria tersebut langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Informasi yang kita butuhkan," ucap Kenzi membuka kertas itu. Ia membaca tulisan yang menginformasikan alamat markas yang di rahasiakan dan selama ini Kenzi maupun Adelfo tidak mengetahuinya.


"Bagaimana ini?" Kenzi melirik ke arah Adelfo.


"Kita ke sana sekarang." Adelfo menjawab dengan santai.


"Tapi kita tidak membawa senjata yang cukup." Kenzi sempat ragu, ia khawatir jika di sana sudah banyak perangkap.


"Uji nyali, tanpa senjata." Adelfo menepuk dada Kenzi sekilas, lalu tertawa lebar.


"Ok, aku setuju." Sahut Kenzi.


"Kita berangkat!" perintah Adelfo pada sopirnya.

__ADS_1


__ADS_2