The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3


Dokter Ryu.


Mimpi besarnya ingin mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemanusiaan.


Dua hari berlalu, perlahan Siena membuka matanya menatap langit langit kamar.


"Nyonya, apa kau baik baik saja?" tanya seorang Dokter wanita menatap Siena.


Namun wanita itu tetap diam menatap langit langit kamar, matanya berkaca kaca. Tragedi berdarah di malam itu terus berputar di otak Siena bagaikan kaset kusut. Siena menggelengkan kepalanya, bergumam pelan, "kenapa aku masih hidup..kenapa.."


"Nyonya, sadarlah." Dokter itu membungkukkan badan tangannya menyentuh lengan Siena pelan.


"Tidak! kenapa kumasih hidup!" pekik Siena.


Matanya terpejam, menjerit sekencang kencangnya. Ke dua tangannya menutup telinganya sendiri.


"Tidaaaaaaaakkkkk!!!


" Nyonya, sadarlah!" ucap Dokter menaikkan satu nada suaranya.


"Ryu..." perlahan matanya terbuka menatap ke arah Dokter. "Di mana putraku?" lalu ia bangun dan turun dari atas tempat tidur. Namun Dokter mencegahnya.


"Tenanglah Nyonya, tenang!" Dokter meminta suster untuk memegang lengan Siena supaya tenang.


"Lepas, aku mau melihat putraku!" Siena terus memberontak.


"Sus, beri dia obat penenang." Akhirnya Dokter memberikan obat penenang.


"Baik Dok!" sahut Suster.


"Tenang Nyonya." Suster menyunyikkan obat penenang di lengan Siena.


Tubuh Siena terkulai lemas dalam dekapan Dokter, lalu di baringkan kembali tubuh Siena. "Biarkan dia istirahat."


***


Perlahan Siena membuka matanya, ia melirik ke kanan. Nampak seorang pria paruh baya tengah berdiri di sampingnya.


"Halo." Pria itu menyapa.


Siena bangun lalu duduk di atas ranjang dengan tatapan lurus ke depan. "Siapa kau?"


"Aku yang sudah membawamu ke rumah sakit." Pria itu menjawab dengan raut wajah datar menatap Siena.


"Mengapa kau menyelamatkanku, kenapa tidak kau biarkanku mati saja."


Pria itu tersenyum sembari menundukkan kepala sesaat. "Hidup dan mati bukan urusanku. Yang kulakukan atas rasa kemanusiaan, tidak lebih."


"Kemanusiaan?" Siena melirik sesaat ke arah pria itu.


"Ya tentu saja, bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama jika dalam posisiku?"


Siena menundukkan kepala, meremas ujung selimut. Air matanya mengalir deras membasahi ujung selimut yang ia genggam.


"Tidak ada yang menginginkan hal buruk terjadi dalam hidup kita. Tapi siapa yang tahu tentang masa depan yang akan menimpa bukan? dan wajahmu yang rusak, bisa di obati dengan melakukan operasi."

__ADS_1


Air mata Siena semakin deras, tak mampu lagi menahan kegetiran hatinya, bukan wajahnya yang mengalami kerusakan. Bahkan ia tidak perduli jika wajahnya rusak semua sekalipun, tapi yang membuat hatinya semakin hancur mengingat putranya tidak lagi memiliki kaki yang sempurna.


Pria itu kembali diam, menatap Siena yang menangis sesegukan. Lalu pria itu mengalihkan pandangannya pada pintu yang terbuka, nampak Zoya berjalan perlahan mendekati Siena.


"Tante..."


Siena tengadahkan wajahnya, menatap ke arah Zoya yang berdiri mematung, dengan derai air mata membasahi wajahnya.


"Sayang.."


Siena turun dari atas ranjang, berdiri menatap Zoya. Pria itu hanya diam, memperhatikan dua wanita yang tengah saling tatap dengan air mata yang turun deras saling memburu.


"Papa.."


"Grep!"


Siena langsung memeluk erat gadis itu. "Maafkan tante sayang, maafkan tante."


"Papa..aku mau Papa.." bisik Zoya lirih, air mata terus mengalir membasahi pakaian Siena.


"Maafkan Tante, sudah melibatkanmu dalam masalah ini..."


"Aku mau Papa! aku mau Papa! pekik Zoya.


" Sayang..." Siena semakin mengeratkan pelukannya.


"PAPAAA!"


Tubuh Zoya terkulai lemas dalam pelukan Siena, kedua wanita itu menjatuhkan diri duduk di lantai saling berpelukan.


"Papa.."


"Maafkan aku sayang, maafkan aku.." bisik Siena lirih.


Perlahan Zoya melepas pelukannya, mengusap air mata di pipi Siena. "Bukan salah Tante..aku tidak menyalahkan tante."


"Kau memang anak baik sayang, beruntung sekali memiliki putri sepertimu." Siena tersenyum, tangannya terulur menghapus air mata di pipi Zoya.


"Sekarang aku tidak punya siapa siapa," ucap gadis itu pelan, menundukkan kepala.


Siena mengangkat dagu gadis itu. "Tidak sayang, ada Ibu, ada Ryu. Sekarang, aku Ibumu. Tidak akan kubiarkan kau sendirian." Kembali mereka berpelukan.


"Ryu?" Zoya melepaskan pelukannya. "tante, bagaimana dengan Ryu?" tanya Zoya.


Siena berdiri, lalu menarik tangan Zoya pelan supaya berdiri. "Ibu belum tahu sayang, sebaiknya kita lihat kondisi Ryu.


"Mari ikut saya Nyonya, kutunjukkan kamar putra anda."


Siena merangkul bahu Zoya, lalu mereka melangkahkan kakinya mengikuti pria tersebut menuju kamar Ryu.


Pintu kamar Ryu terbuka, nampak Dokter tengah memeriksa kondisi Ryu setelah operasi. Sementara Ryu masih terbaring lemah belum sadarkan diri.


"Bagaimana kondisi putraku, Dok?" tanya Siena.


"Putra Nyonya belum sadarkan diri."


Siena berjalan mendekati Ryu, menatap wajahnya cukup lama. Lalu beralih menatap kaki Ryu. Siena mendekap mulutnya sendiri, tangisannya kembali pecah. Tatkala melihat putranya tidak memiliki satu kaki.

__ADS_1


"Sayang, maafkan Ibu.." ucapnya lirih.


Detik berikutnya, jari jemari Ryu mulai bergerak. Perlahan ia membuka matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah wajah Ibunya.


"Ibu..."


Siena menoleh, lalu membungkukkan badan memeluk putranya dengan erat.


"Sayang, putra Ibu.."


"Ibu kenapa menangis?" tanya Ryu masih belum menyadari.


Perlahan Siena melepas pelukannya, mencium kening Ryu dengan segenap perasaan yang di miliki.


"Ibu.."


"Kau yang kuat sayang." Siena kembali berdiri tegap menatap wajah putranya dengan sendu.


"Zoya.." Ryu perlahan bangun lalu duduk di atas ranjang. "Kau baik baik saja?" tanyanya menatap ke arah Zoya yang berdiri terpaku menundukkan kepalanya, menutupi wajahnya sendiri dengan telapak tangan.


"A, aku, baik baik saja," ucapnya kelu.


Ryu mengalihkan pandangannya pada Dokter sesaat, lalu terdiam mengingat kejadian malam itu. Matanya melebar, saat teringat di mana kakinya di tebas oleh Abel.


"Grep!


Tangannya memegang kakinya yang di tutupi selimut. Perlahan ia menarik selimutnya, semakin ia tarik. Ryu tidak melihat kakinya yang lain.


" Kakiku.." ucapnya, matanya menatap kakinya yang hilang satu.


"Aku tidak mau cacat..aku tidak mau.."


"Ryu, sayang.." Siena merangkul bahu Ryu.


"Tidak, tidak mungkiiiinnn!!" pekiknya menarik selimut lalu melemparnya ke lantai.


"Ryu sayang, putraku. Kau harus kuat Nak.." Siena terus menguatkan hati Ryu dan memeluknya erat.


"Aku tidak mau cacat! tidak Ibuu!!" jerit Ryu memukul kakinya sendiri.


"Sabar sayang, sabar.."


"Tidak! tidak!"


Ryu menarik tangan Siena, lalu mendorong tubuhnya. "Tidak, aku tidak mau cacat!"


Ryu menggeser tubuhnya, lalu turun dari ranjang.


"Brukk!


Ia terjatuh ke lantai, Siena langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat.


" Aku tidak mau cacat Bu..tidak mau.." ucapnga sembari menangis dalam pelukan Ibunya.


"Ryu.."ucap Zoya pelan. Gadis itu hanya berdiri mematung tanpa bicara apapun. Sama seperti yang di lakukan pria yang menolong mereka, hanya diam menundukkan kepala.


Hidup hanyalah tawa dan air mata. Jika sudah tertawa ya tertawa bahagia, jika sudah menangis air mata tidak berhenti mengalir. Hanya cinta yang mampu mengubah pengecut jadi pemberani. Hanya cinta yang mampu merubah yang lemah menjadi kuat.

__ADS_1


__ADS_2