The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 89: Cuddle in death 2


__ADS_3

Di ujung jalan tempat Kenzi menepikan mobilnya, nampak iringan mobil milik Siena tengah melaju mendekat bersama iring iringan para gangster. Siena langsung menghentikan mobilnya saat melihat mobil Kenzi. Ia langsung keluar dari pintu mobil berjalan mendekati mobil suaminya, di ikuti Surya dari belakang. Sementara beberapa anggotan gangster menunggu perintah selanjutnya.


Tangan Siena terulur mengusap mobil Kenzi, matanya berkaca kaca. Lalu mengalihkan pandangannya menatap jauh pada sebuah bangunan. "Suamiku, tunggu aku." Siena langsung melangkah turun dari tepi jalan raya namun Surya menahan lengan Siena.


Siena menoleh kebelakang menatap Surya. "Pa lepas! Kenzi membutuhkanku!"


Surya langsung memeluk tubuh Siena erat, "tidak sayang, kau sedang takut." Surya mengusap punggung Siena untuk menenangkan. Lalu menampuk wajahnya, ia menganggukkan kepala menatap wajah putrinya. "Suamimu pria tangguh, percayalah." Surya berusaha untuk membesarkan hati Siena, meski dia sendiri tidak takin.


Gadis itu tengah di landa rasa takut yang menguasai pikirannya. Wajar dia seperti itu, untuk pertama kalinya ia terlibat dalam dunia mafia. Selama ini ia hanya menonton film di acara tv saja. "Bisa kau tenang? kau gadis kuat, lakukan itu untuk Papa? untuk Kenzi?"


Siena mengangguk cepat, "maafkan aku."


Surya mengusap lembut rambut Siena, lalu mengecup keningnya dengan dalam. "Ayo."


Mereka kembali naik ke tepi jalan raya, lalu menyudun rencana sesuai denah lokasi yang Surya miliki. Setelah semua siap, mereka menuruni tepi jalan raya menuju lahan kosong berbatu dengan perlengkapan senjata.


***


Sebelum Kenzi bergerak, ia sempat menelpon Marsya untuk memberitahu keberadaannya dan keberadaan Bos besarnya. Setelah selesai menelpon, ia masukkan ponselnya ke saku celana. Kenzi memalingkan wajahnya menatap tiga anak buahnya bergantian.


"Kalian siap?" ucap Kenzi pelan.


Mereka bertiga mengangguk mantap. Lalu mereka mulai berpencar ssesuai rencana yang telah mereka susun. Kenzi masuk lewat gerbang samping bangunan, sementara tiga anak buahnya masuk melalu pintu belakang bangunan yang berukuran yang sangat luas.


Kenzi langsung membuka pintu tempat penyimpanan senjata ilegal. Langsung di hadapkan seorang pria tinggi besar tengah berdiri membelakangi tanpa banyak bicara, Kenzi langsung meraih balok berukuran besar yang tergeletak di lantai, ia hantamkan ke kepala pria itu hingga ambruk ke lantai tak berkutik. Matanya melirik ke arah dua pria yang keluar dari pintu.Dengan gerak cepat ia mengambil senjata api di balik pinggangnya.


'Dor! Dor! Dua pria ambruk ke lantai bersimbah darah di lantai. Setelah memastikan dua pria itu tak bernyawa. Kenzi langsung masuk ke ruangan setelah memastikan tidak ada penjagaan lagi. Ia mengeluarkan pematik untuk membakar gudang tempat penyimpanan senjata dan obat obatan terlarang. Kemudian Kenzi langsung membakar gudang itu.

__ADS_1


Ruangan itu mulai terbakar perlahan tapi pasti, api mulai melahap apa saja dalam ruangan. Perlahan ia berjalan keluar setelah api mulai membesar, baru saja kakinya hendak keluar dari pintu, dari arah lain anak buah Bos besar mulai menembaki Kenzi. Baginya yang sudah terlatih di jalanan bukan hal yang sulit mengalahkan anak buah Bosnya.


Terlihat api mulai membakar dan merembet, asap tebal berwarna pekat di udara menghalangi pandangan, di tambah suara tembakan memekakkan telinga. Di saat bersamaan tiga anak buah Kenzi tengah sengit mengalahkan musuh. Kenzi melihat Samuel dari kejauhan mulai terpukul mundur.


Baru saja Kenzi hendak berlari ke arah Samuel, dari arah belakang terdengar suara menyapanya, suara yang sangat familiar di telinga Kenzi.


"Selamat datang Kenzi!" ia erkekeh mencemooh, karena telah berhasil menjebak Kenzi. Senjata api laras panjang mengarah ke pelipis Kenzi.


"Livian!" Kenzi menoleh ke belakang. Livian gerak cepat memukul tengkuk Kenzi menggunakan ujung senjatanya hingga pria itu ambruk ke lantai. Kenzi berusaha bangun namun Livian kembali memukul pelipisnya hingga darah segar mengalir di wajah Kenzi. Ia berusaha meraih kesadarannya, sebelum ia jatuh pingsan sempat mendengar suara lantang Livian.


"Tamat riwayatmu hari ini juga Kenzi! di iringi tawa terbahak bahak. Kemudian Livian memerintahkan anak buahnya untuk membawa tubuh Kenzi ke hadapan Bos besar.


Setengah jam berlalu, perlahan Kenzi membuka matanya. Ia mencoba untuk bangun sembari memegang kepalanya yang terasa sakit. Matanya melirik ke arah Bos besar yang tengah duduk di sofa menghisap cerutu dengan santai, di kelilingi anak buahnya. Di sisi lain Livian tengah berjalan mendekatinya, pria itu tersenyum mencemooh menatap Kenzi yang tak berdaya. Tangan kirinya langsung memukul wajah Kenzi hingga oleng ke samping. Belum sempat Kenzi membalas, Livian mencengkram kerah baju Kenzi lalu menendang perut Kenzi hingga ambruk di lantai.


Darah segar mengalir dari sudut bibir Kenzi, ia kembali mencoba bangun dan berdiri. Kali ini dengan sigap Kenzi menubruk tubuh Livian. Tangannya merebut senjata api di tangan pria itu, lalu Kenzi arahkan ke Bos besar. Perlahan ia melangkah mendekati Bos besar.


"Kau sudah lupa dengan persahabatan kita, kau telah merusak kepercayaanku, Kenzi." Bos besar mematikan cerutunya di asbak lalu berdiri balas menatap tajam Kenzi.


Tersungging senyum sinis di sudut bibir Kenzi, "sahabat?" Kenzi tertawa mencemooh. "Sahabat kau bilang!" Klik, suara pelatuk senjata api di tangan Kenzi.


"Sahabat tidak akan pernah tega melenyapkan wanita yang di cintainya." Kenzi maju selangkah lebih dekat dengan Bos besar. Dengan ujung senjata menempel di pelipis Bos besar. Namun di saat bersamaan, tiga pria masuk dari arah pintu dan menghempaskan tubuh Samuel dan Akira berikut Yeng Chen di samping Kenzi. Ia melirik ke arah Samuel dan yang lain.


"Bos, maafkan kami," ucap Samuel lirih, wajahnya sudah tidak di kenali lagi, di penuhi noda darah.


"Menyerahlah Kenzi, riwayatmu tamat hari ini juga!' Livian mengarahkan senjata api ke arah Samuel dan yang lainnya.


"Kenzi, turunkan senjatamu," ucap Bos besar dengan sanrai, ia kembali duduk menyaksikan pertunjukan.

__ADS_1


"Cepat!" seru Livian menatap tajam ke arah Kenzi.


"Bos, jangan. Bunuh saja mereka dan pergi dari sini! Nona lebih penting dari pada kami!" pekik Akira berusaha bangun untuk mencegah Kenzi. Tapi pria lain yang berdiri di dekat Akira langsung memukul punggung Akira hingga tak berdaya lagi.


Perlahan Kenzi menurunkan senjata apinya dengan tatapan ke arah Livian, ia mendengus geram lalu kembali berdiri tegap. Bagi dia, nyawa mereka lebih berarti dari pada dirinya sendiri terutama Siena. Keluarga yang selama ini Kenzi rindukan baru saja di dapatkan senak kehadiran Siena.


"Bagus!" Livian maju bersama dua pria lain mencengkram kedua tangan Kenzi. Sementara Livian mulai menyiksa Kenzi. Berkali kali Livian menghajar dan menendang Kenzi hingga babak belur.


Tubuh Kenzi melorot ke bawah, mencoba untum bertahan. Sesekali ia tertawa sembari meludah darah ke lantai. "Bukan hanya aku yang tamat, tapi semua bisnismu ikut hancur Hernet! kau penipu! pembohong! pekik Kenzi. menatap geram Bos besar. " Kau yang telah membunuh orang tuaku!"


"Hahahahaha! Bukkk!!" Livian kembali memukul wajah Kenzi hingga ambruk di lantai. Sementara tiga anak buahnya hanya menatap sedih. Akira memukul lantai dengan tangannya, sementara punggungnya di injak pria lain.


"Bos! ayo bangun! bangun! demi Nona!"


Buk!!! kembali pria itu memukul punggung Akira. Samuel dan Yeng Chen hanya menatap penuh amarah ke arah Livian. Mereka tidak dapat berbuat apa apa, kedua tangan dan kaki dalam keadaan terikat.


"Tamat riwayatmu sekarang," ucap Livian. Tangannya terulur dengan sebuah pisau belati. Dia tusukkan ke dada kanan Kenzi bersamaan darah yang mengalur dan erang kesakitan dari bibir Kenzi.


Tubuhnya terjungkal kebelakang dan ambruk terlentang. Tatapan mata kosong menatap langit langit ruangan. Waktu serasa berhenti, bayangan wajah Siena berputar putar di hadapannya, suaranya, tawa canda Siena jelas terdengar di telinga Kenzi. Perlahan mata Kenzi terpejam, dari bibirnya terucap satu nama.


"Siena.."


"Siena.."


Sebelum kesadaran Kenzi hilang, terdengar suara Siena tertawa dan memanggil manggil namanya.


"Kenzi!"

__ADS_1


"Siena?" Mata Kenzi kembali terbuka dan menatap langit langit ruangan cukup lama.


__ADS_2