
Helion terus menangis di pangkuan Siena membuat Livian menatap tajam ke arah Helion. Ia teringat masa kecilnya dulu, bukan tanpa alasan dia seperti itu. Masa lalu yang buruk, keluarga yang buruk dan perlakuan orang orang sekitar yang buruk telah menjadikan Livian seorang pribadi yang kejam dan jahat. Perlahan ia berdiri tangannya terulur menyentuh air mata di pipi Helion. Sementara Siena siap siaga jika dia melakukan hal hal tak terduga pada putranya.
Livian mengalihkan pandangannya menatap Siena dengan senjata yang terus mengarah padanya. "Apa tanggapanmu tentangku?"
Siena tersenyum samar menatap tajam Livian. "Sama sepertiku."
Livian menautkan kedua alisnya, tertawa kecil. "Sama?"
Siena menganggukkan kepala, ia mendapat celah untuk mengulur waktu. Ia berikan Helion pada Surya. Dan Surya mengambil Helion dari pangkuan Siena. "Kau lihat putraku?" Siena menoleh ke arah Livian. Lalu ia mendorong tubuh Surya perlahan mundur sedikit menjauh darinya atau Livian.
"Dia bisa saja sepertimu bahkan lebih darimu." Siena menatap tajam Surya sebagai kode untuk menjauh perlahan dari mereka semua. Sementara dia akan mengulur waktu mengajak bicara Livian. Ia percaya kalau pria jahat itu memiliki sisi lain yang tak mungkin orang lain mengerti. Selama ia mengenal Kenzi, Siena tahu banyak bagaimana suaminya bisa berbuat sekejam itu pada orang lain. "Kau paham maksudku?"
Livian tersenyum sinis menatap tajam ke arah Siena. "Cinta?" Livian tertawa mencemooh, dia tidak percaya dengan cinta yang mampu merubah apapun. Yang dia tahu, semua orang egois dan pantas di perlakukan sesuka hatinya. Seperti masa lalunya yang telah memperlakukan buruk dirinya.
"Saat kau sentuh putraku, itulah cinta Livian." Siena terus mengajak bicara Livian, matanya melirik ke arah Surya yang terus mundur ke belakang. Perdebatan antara Siena dan Livian tentang Cinta memberikan ruang untuk Surya membawa Helion untuk bersembunyi. Sementara Samuel dan dua sahabatnya bisa bernapas lega melihat Surya menjauh dari mereka semua.
"Persetan dengan Cinta!" seru Livian semakin mengarahkan senjatanya ke pelipis Siena. Namun wanita itu sedikitpun tidak gentar menghadapi pria di hadapannya yang kapan saja mengakhiri hidupnya.
"Kau boleh tidak percaya dengan adanya Cinta, tapi aku bisa melihat sisi kebaikan yang kau miliki. Dan itu, hanya aku yang tahu."
"Deg! ucapan Siena serasa menusuk hatinya yang paling dalam. Seumur hidupnya, baru kali ini ada seorang wanita yang menerima keberadaannya sebagai manusia.
Siena berkali kali merutuki ucapannya sendiri dalam hati, semoga pria di hadapannya itu tidak salah paham dengan ucapannya. Namun hanya itu satu satunya jalan untuk menyelamatkan putranya dari tengah tengah mereka. " Aku percaya, kau baik."
__ADS_1
"Jangan katakan itu lagi, aku benci mendengarnya!" Livian mendekat dan berdiri di belakang Siena. Dengan senjata api menempel di pelipisnya, sementara tangan kiri Livian melingkar di leher Siena.
"Aku tidak menyesal jika mati di tanganmu, Livian. Setelah kematianku, kuharap kau mengerti satu hal. Kematianku demi cintaku pada keluargaku."
Livian menekan senjata apinya di pelipis Siena. Ia menarik napas dalam dalam menghirup aroma tubuh Siena. "Kau cantik, lembut seperti Ibuku. Andai aku yang berada di posisi Kenzi saat ini. Mungkin aku akan berpikir dua kali." Livian mendekatkan wajahnya menyusur rambut Siena yang terurai. Kesempatan itu di pergunakan Siena untuk melepaskan diri dari Livian.
Kedua tangan Siena mencengkram kuat tangan Livian yang memegang senjata api. Saling dorong terjadi di antara mereka. Tenaga Siena tak mampu mengimbanginya, ia terdorong mundur hingga tak ada ruang lagi untuk Siena mundur ke belakang. Livian terus menahan tangan Siena. Tubuh Siena dan Livian tidak ada jarak lagi di antara mereka. Mata mereka saling beradu pandang cukup lama. Samuel dan yang lain mendapatkan kesempatan, mereka langsung memukul dan menerjang musuh. Perkelahian dengan tangan kosong terjadi di dalam rumah itu. Suara kegaduhan terdengar oleh Surya yang bersembunyi di dalam ruang kerja Kenzi. Ia memilih diam menyelamatkan cucunya meski hati kecilnya mengkhawatirkan Siena.
Sementara Siena terus berusaha merebut senjata api di tangan Livian. "Aku menyukaimu, Siena." Livian tersenyum samar membuat Siena menjadi geli sendiri.
"Itu bukan Cinta, tapi nafsu!" Siena langsung mendorong tubuh Livian dan menendang perutnya hingga terhuyung kebelakang. Senjata api Livian terpental jauh, melihat situasi yang menguntungkan. Siena langsung mengeluarkan senjatanya di balik pinggangnya.
"Diam ditempatmu, Livian!" pekik Siena mengarahkan senjatanya pada Livian. Mata Siena melirik ke arah Samuel dan yang lain. "Kalian menyerah atau Bos kalian mati!"
Perlahan anak buah Livian berhenti bertarung, "Sam! ikat mereka semua! Akira! telpon Polisi cepat!"
"Diam dan jangan coba coba untuk kabur jika kau ingin nyawamu selamat, Livian."
"Kau semakin cantik jika sedang marah." Livian tertawa terkekeh.
"Tutup mulutmu, brengsek!" ucap Siena geram. "Sam! ikat manusia satu ini!"
Samuel langsung berjalan mendekati Livian dan mencengkram kedua tangan Livian mengikatnya dengan tali yang kuat hingga Livian tidak bisa bergerak lagi.
__ADS_1
Samuel menarik kerah baju Livian dan mendudukkannya di lantai bersama empat anak buahnya. "Aku ingin menjadikanmu pengantinku Siena!" Livian kembali tertawa.
"Diam kau! seru Siena.
" Dorr!!
Dengan geram Siena menembak bahu Livian sebagai peringatan bahwa ia tidak main main ingin melenyapkannya. "Nona, tenanglah." Samuel menghampiri Siena di ikuti Akira dan Yeng Chen.
"Kau bunuh aku sekalipun aku tidak perduli Siena, aku mencintaimu," ucap Livian mengerang kesakitan.
"Dorrr!!
Kembali Siena melesatkan peluru bersarang di bahu kanan Livian. " Siena, hentikan! biar Polisi yang menyelesaikannya!" seru Surya dari arah pintu berlari mendekati Siena. Sementara Helion tertidur di ruang kerja Kenzi.
"Tidak Pa! mahluk satu ini harus mati!"
Livian tertawa lagi, sesekali ia mengerang krsakitan dengan tatapan lurus ke arah Siena. "Aku berharap Kenzi mati di sana!"
"Dorrr!
Kali ini tembakan Siena tepat mengenai dada kanan Livian. Membuat pria itu mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Kemeja yang ia gunakan basah oleh noda darah. Saat Siena akan menghabisi Livian Polisi datang dan merebut senjata api di tangan Siena.
"Jangan bergerak!
__ADS_1
Livian tertawa kecil menatap Siena sendu, " aku akan kembali merebutmu dari tangan Kenzi." Setelah bicara seperti itu ia hilang kesadarannya.
Beberapa Polisi langsung mengangkut mereka semua, sementara dua Polisi lainnya meminta beberapa keterangan pada Siena dan yang lain. Siena duduk di kursi menangkup wajahnya di ikuti Surya duduk di kursi, "tenanglah sayang, semua baik baik saja."