The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2:Vendetta and love


__ADS_3

Adegan yang di tunjukkan Miko kemarin di cafe membuat Zoya hatinya terbakar cemburu. Kebenciannya terhadap Miko semakin besar. Rasa ingin memiliki Jiro semakin besar di hati Zoya.


"Kau harus menjadi milikku, milikku." Gadis itu menggeram marah. Sebagai putri seorang mafia, ia merasa sangat berkuasa. Apapun yang dia inginkan harus di dapatkan bagaimanapun caranya.


"Papa, hanya dia yang bisa mengabulkan semua keinginanku," gumam gadis itu.


Belum selesai ia membatin, lamunannya buyar saat di kejutkan dengan kedatangan Adelfo.


"Papa!" jerit Zoya saking bahagianya melihat Adelfo sudah berada di hadapannya. Gadis itu betlari menyambut pria itu dan memeluknya erat.


"Zoya? kau baik baik saja?" tanya Adelfo sembari memeluk erat tubuh putrinya.


Zoya menganggukkan kepala, ia tengadahkan wajahnya menatap pria itu. "Papa sudah bebas?" tanya Zoya.


Seharusnya Adelfo masih mendekam di penjara, tapi dia bisa bebas atas dukungan dari orang orang yang berpengaruh di kota itu.


"Tentu saja, kenapa harus lama lama di penjara?" ujarnya tersenyum.


"Kebetulan sekali Pa.."


"Kebetulan?" Adelfo menautkan kedua alisnya menatap Zoya, lalu merangkul bahu gadis itu untuk duduk di sofa. "Katakan, apa yang aku tidak ketahui Nak?"


Sesaat Zoya menundukkan kepalanya, lalu ia mengutarakan keinginannya untuk memiliki Jiro. Tentu saja pernyataan Zoya tidak di setujui Adelfo. "Kau boleh memilih pria manapun, tapi jangan Jiro. Aku tidak setuju."


"Aku tidak mau yang lain, selain Jiro!" ucap Zoya dengan nada tinggi.


"Tapi Nak-?"


"Kalau Papa tidak setuju, lebih baik aku mati!" ancam Zoya, gadis itu berdiri lalu mendekati meja mengambil pisau yang tertancap di buah apel. Pisau itu ia tempelkan di urat nadinya.


"Zoya!" seru Adelfo menatap tajam gadis itu. "Jangan lakukan itu, Nak."


"Kalau Papa mau lihat aku bahagia, jangan halangi aku, Pa. Aku mencintainya Pa.."


Adelfo terdiam menatap wajah putrinya, selama ini ia selalu memanjakan dan memenuhi apapun keinginannya. Bagi Adelfo, putrinya adalah segala galanya, hidup dan matinya.


"Baiklah, aku ikuti apa maumu. Tapi jangan lakukan itu. Aku mohon." Adelfo berjalan perlahan mendekati Zoya.


"Sungguh?"

__ADS_1


Adelfo menganggukkan kepalanya, tangannya terulur meminta pisau di tangan Zoya. "Papa janji, tidak akan pernah mengganggu orang tua Jiro. Apalagi menyakitinya."


Pria itu menarik napas panjang menatap kedua bola mata Zoya, ia melihat cinta yang besar di mata gadis itu. "Nak-?"


"Janji dulu Pa!" potong Zoya. Ia menekan ujung pisau di lengannya. Membuat Adelfo menyerah.


"Baik, Papa janji tidak akan menyakiti orangtua Jiro."


"Terima kasih Pa." Zoya melempar pisau itu ke lantai lalu memeluk erat Adelfo.


"Kau mencintainya?" tanya Adelfo sekali lagi.


"Sangat, sangat mencintainya Pa.." ucap Zoya pelan.


***


Sementara Siena dan Kenzi berniat untuk mengundang Miko dan Ibunya untuk makan malam. Kenzi tidak mau berlarut larut dalam masalah pembunuhan Hernet. Jika di biarkan kesalah pahaman bisa saja terjadi kapan saja seperti menyimpan bom waktu.


Bukan tanpa pertimbangan jika nanti pada akhirnya, Miko akan marah. Namun bagi Kenzi dan Siena, kejujuran adalah hal yang utama. Apalagi putra kesayangannya sangat mencintai gadis itu.


"Sayang, nanti malam kau ajak Miko ke rumah. Katakan Ibu mengundangnya untuk makan malam."


"Tentu sayang."


"Kalau begitu, aku pergi dulu Bu!" Jiro melipat korannya lalu di letakkan di atas meja.


"Kau mau kemana?" tanya Kenzi memperhatukan putra nya yang terburu buru.


"Menemui Miko, Yah." Jiro berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar rumah. Meninggalkan Kenzi dan Siena begitu saja.


Kenzi menggelengkan kepalanya menatap punggung Jiro hingga hilang dari pandangan. Lalu tangannya merangkul bahu Siena.


"Kau lihat? putramu sudah tidak sabar."


Siena memiringkan wajahnya menatap Kenzi. "Bukankah kau juga begitu? memaksaku untuk menikahimu."


Kenzi memajukan bibirnya lalu tertawa lebar saat Siena mengingatkannya tentang masa lalu. "Ya kau benar, dia mirip aku."


"Bukan mirip, lebih tepatnya sama." Tangan Siena terulur mencubit gemas hidung Kenzi.

__ADS_1


"Tapi sayang, kalau kau tidak di paksa. Tidak mungkin ada Jiro dan Ryu. Bukan begitu?" Kenzi mendekatkan wajahnya mencium pipi Siena lalu memeluknya dengan erat.


Waktu terus berputar, usia bukan jadi halangan mereka untuk tetap mesra dan menjaga cinta mereka. Saling percaya, dan saling mendukung satu sama lain membuat mereka serasa masih muda.


Sementara Jiro mendatangi rumah Miko, dia tidak menghubungi Miko sebelumnya karena ingin memberikan kejutan untuk gadis itu. Namun sesampainya di halaman rumah Miko. Pria itu terkejut melihat Ibu Miko tengah menangis di teras rumah.


Jiro langsung keluar dari pintu mobil lalu berlari menghampiri Ibu Miko. "Ibu, Ibu kenapa?"


Ibu Miko tengadahkan wajahnya langsung berdiri dan memegang lengan Jiro kuat. "Nak, tolong Miko."


"Miko? Miko kenapa Bu?' tanya Jiro cemas.


" Mereka membawa Miko pergi untuk bertanding," jawab Ibu Miko terisak.


"Bertanding?" Jiro mengulang ucapan wanita itu. Ia masih belum paham ucapannya.


Ibu Miko menyeka air mata dengan ujung bajunya. Lalu ia menceritakan sebelum kedatangan Jiro ada seorang gadis dan beberapa pria kekar menantang Miko duel sampai mati untuk mendapatkan Jiro.


Mata Jiro melebar, ia shock mendengar kata kata 'Duel sampai mati'. "Siapa mereka Bu? dan di mana tempatnya?"


"Ibu tidak tahu Nak, tapi dia bilang di kowloon dekat sekolah anak anak gangster itu Nak." Ibu Miko menjelaskan panjang lebar sesuai apa yang ia dengar tadi. Meski ia sendiri tidak tahu pasti di mana lokasinya.


"Ibu tenang, aku akan menyusul mereka." Pria itu langsung balik badan meninggalkan Ibu Miko. Dan memerintahkan pengawalnya untuk segera memcari lokasi tersebut. Tanpa menunggu lagi, Jiro langsung meluncur ke lokasi yang Ibu Miko sebutkan tadi. Jiro yakin kalau gadis yang di sebutkan Ibu Miko tidak lain adalah Zoya.


***


Sementara itu di tempat lain. Di atas ring, Miko dan Zoya saling berhadapan dan menatap tajam. Di luar ring anak buah Zoya mengelilingi ring yang mereka gunakan untuk bertanding.


Miko mengikat rambutnya yang terurai, lalu berjalan satu langkah ke depan. Sementara Zoya hanya tersenyum sinis pada Miko.


"Kau yakin? mau melawanku? atau..kau mundur saja." Zoya tersenyum lebar, sambil tolak pinggang.


"Bermimpilah, aku tidak akan membiarkanmu mengganggu Jiro. Dia pria baik, sangat baik. Aku tidak rela jika dia bersama gadis licik sepertimu. Lebih baik Jiro aku berikan pada binatang buas!" Miko tersenyum lebar menatap raut wajah Zoya merah padam.


"Sialan! berani sekali kau menghinaku. Aku pun tidak rela jika kau bersamanya. Lebih baik Jiro aku bunuh. Biar kita sama sama tidak ada yang memilikinya."


Miko tertawa terbahak bahak mendengar pernyataan Zoya. "Dasar gadis bodoh! kau putri seorang mafia. Tapj kau benar benar bodoh!" Tangan Miko terulur, "ayo maju, habisi aku jika kau mampu."


Zoya mendengus geram, matanya merah menyala menatap Miko, seakan akan ingin menelannya hidup hidup.

__ADS_1


__ADS_2