
Barangkali kakak semua berkenan membaca novelku yang lain: SCANDAL
Siapa yang tak bahagia? jika salah satu harapan dari sekian banyaknya harapan akan tercapai? Ya, itulah yang Anna rasakan. Menikah dengan pria yang lebih tua dari usianya bukanlah masalah besar. Baginya, pria itu bisa memberikan kasih sayang dan ketulusan yang selama ini, Anna impikan. Mimpi yang tak pernah di dapatkan dari kedua orangtuanya.
Satu hari lagi pernikahan Anna akan di langsungkan. Keluarga Genzo memberikan dukungan meski Aldrien tidak terlalu menyukai Anna. Di rumah Genzo terlihat sibuk mempersiapkan segalanya. Anna pun ada di rumah itu membantu Nyonya Haira.
"Nak, istirahat saja. Besok pagi kau harus sudah siap siap," ucap Haira.
Anna menganggukkan kepalanya. "Baiklah Bu." gadis itu berdiri. Lalu melangkahkan kakinya menuju kamar, di antarkan Genzo.
"Kau juga tidur," ucap Anna berdiri di ambang pintu menatap wajah Genzo.
"Tentu sayang, besok hari spesial buat kita." Genzo meraih pinggang Anna lalu mendekapnya erat.
"Aku tidak akan membiarkan kau menangis lagi." Pria itu mendekatkan wajahnya mencium kening Anna dengan segenap perasaan yang ia miliki.
"Tidurlah." Genzo melepaskan pelukannya dan membiarkan Anna beristirahat. Sementara dia sendiri beristirahat di kamar lain.
"Ya Rabb, terima kasih. Jika Genzo jodohku, biarkan aku bahagia bersamanya." Anna tersenyum lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Ibu, Ayah, aku harap kau datang di hari pernikahanku."
Sementara Genzo yang tengah berbaring di atas tempat tidur berusaha menejamkan matanya. "Anna, kau memang bukan yang pertama. Tapi kaulah cinta terakhirku," gumam Genzo.
Setelah sekian lama hatinya membeku, tak ada satupun wanita yang mampu menyentuh hatinya. Setelah ia ditinggalkan wanita yang di cintainya dulu. Wanita itu hilang entah kemana setelah mereka melakukan hubungan intim. Selama itu pula Genzo mencari dan menanti wanita itu hingga hatinya membeku. Namun sejak pertemuannya dengan Anna. Hati pria itu yang dingin sedingin es mulai mencair dan mencoba untuk membuka hatinya, meski kenangannya bersama wanita itu masih tersimpan di dalam sanubarinya. Dan Genzo berusaha untuk menguburnya dalam dalam, dan tidak akan pernah menceritakannya pada Anna. Perlahan tapi pasti, mata Genzo mulai terpejam dan mimpipun mulai menyambutnya.
****
Senin pukul 7:30.
Anna dan Genzo tengah bersiap siap untuk melangsungkan pernikahannya. Pesta pernikahan akan di langsungkan di taman rumah Genzo yang berukuran cukup luas. Ditangan para ahli dekorasi, taman itu di sulap berbagai macam pernak pernik pernikahan. Atas permintaan Anna yang menginginkan pernikahan sederhana.
Tamu undangan sudah hadir di pesta pernikahan mereka, sanak saudara dan beberapa teman bisnis Genzo ikut hadir di pesta itu. Semua tamu, pandangannya tertuju pada Anna dan Genzo yang tengah berjalan menuju tempat terpisah untuk melakukan ijab qobul. Anna terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih yang ia kenakan.
Di sela sela langkahnya, jantung Anna tidak berhenti berdegup kemcang, ia juga sedikit gugup. Sebagai seorang gadis yang akan mengakhiri masa lajangnya tentu ada perasaan bahagia bercampur sedih. Namun kali ini kebahagiaan Anna bertambah saat melihat Alan dan Elama ada di antara tamu undangan. Meskipun Alan menolak untuk menjadi wali Anna. Namun dengan kedatangan mereka saja sudah membuat Anna bahagia.
Anna duduk di samping Genzo menundukkan kepalanya. Sementara Nyonya Haira dan Sano duduk di belakang mereka bersama Aldrien.
"Bagaimana? bisa kita mulai?" tanya Penghulu pada Genzo.
__ADS_1
"Siap." Genzo menjawab cepat.
Tamu undangan duduk di kursi masing masing dengan tenang. Tanpa ada suara selain Penghulu.
"Mari kita mulai."
"Tunggu!"
Semua tamu undangan menoleh ke arah belakang, tidak ada yang tidak menoleh ke arah seorang wanita berusia sama dengan Genzo tengah berjalan dengan seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun.
"Daiva?" ucap Genzo pelan tapi jelas terdengar oleh Anna dan yang lain. Menatap tajam wanita. Lalu ia berdiri di ikuti Anna dan yang lain.
"Tunggu dulu, aku mohon. Berikan aku waktu," ucap Daiva menatap sendu Genzo.
"Daiva? kau kemana saja?" tanya Genzo spontan berjalan mendekati Daiva. Sementara Nyonya Haira, Sano dan Aldrien yang sudah mengenal baik Daiva langsung berjalan mendekatinya.
"Sayang, kau kemana selama ini?" tanya Nyonya Haira menyentuh pipi Daiva dengan lembut. Anna hanya diam terpaku memperhatikan. Sementara para tamu undangan mulai kasak kusuk saling berbisik membicarakan wanita itu.
"Genzo, aku minta maaf telah meninggalkanmu. Tapi sebelum kau melangsungkan pernikahanmu. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu."
Namun di luar dugaan, Papanya Daiva membawanya keluar Negeri dan Daiva, akhirnya bisa sembuh.
"Kenapa kau tidak cerita, Daiva. Aku sekarang akan menikah dengan Anna, wanita yang aku cintai." Genzo melirik ke arah Anna yang menundukkan kepala.
"Aku tahu, dan aku tidak akan mencegahnya," ucap Daiva serak. "Hanya satu permintaanku, dia putrimu, namanya Adhira Genzo. Terima dia sebagai putrimu."
"Papa.." ucap Adhira menyentuh tangan Genzo.
Genzo membungkukkan badan lalu memeluk erat anak itu. "Papa, kembalilah. Kita kumpul bersama. Aku mohon Papa."
BLEDDARRR!!
Bagaikan di sambar petir, hati Anna hancur seketika. Gadis itu berusaha untuk tidak menangis. Ia tahu bagaimana rasanya tidak di akui seorang Ayah. Ia tahu bagaimana rasanya tidak di terima sebagai anak. Anna tahu rasanya menjadi anak di luar nikah. Gadis itu hanya terpaku menelan salivanya susah.
"Sayang, maafkan Papa..tapi Papa tidak bisa kembali pada Ibumu." Genzo melepas pelukannya lalu menoleh pada Anna hanya diam mematung.
"Anna, maafkan aku. Bukan maksudku membohongimu. Tapi bagiku, Daiva sudah menjadi masa laluku."
__ADS_1
Anna hanya diam, ia enggan membalas kata kata Genzo. Hatinya sudah hancur saat itu juga. Bunga di tangan Anna terjatuh ke bawah.
"Genzo, bagaimana ini?" tanya Nyonya Haira.
"Papa! jangan menikah lagi. Menikahlah dengan Mama. Aku mohon Pa!" jerit anak itu menarik tangan Genzo.
"Papa tidak bisa Nak." Genzo menangkup wajah anak itu. "Papa tetap menerimamu sebagai putriku. Tapi Papa tidak bisa kembali."
"Tidak! aku tidak mau Pa!" anak itu menjerit histeris. Ia menangis dan memukul tangan Genzo. Membuag pria semakin serba salah. Begitupula dengan Nyonya Haira menjadi serba salah. Di sisi lain ia senang memiliki cucu yang ia idam idamkan.
Untuk sesaat semua hanya diam tanpa ada keputusan jelas. Anna yang sedari tadi coba menekan perasaannya. Akhirnya mendekati Genzo dan angkat bicara.
"Menikahlah dengan Daiva, aku mundur." Anna mlepaskan pernak pernik di rambutnya satu persatu, hingga rambutnya terurai dan berantakan.
"Tapi Anna-?"
"Aku tidak bisa menikah, dalam situasi rumit seperti ini." Anna melirik ke arah Daiva yang menundukkan kepalanya, lalu menatap wajah Genzo. Jelas terlihat masih ada cinta untuk Daiva di mata Genzo.
"Aku ikhlas menerima ini semua, kau tidak perlu khawatir. Aku baik baik saja. Dan terima kasih untuk semua yang telah kau berikan." Anna menundukkan kepalanya, kedua tangannya mengangkat gaun yang ia kenakan lalu berjalan meninggalkan pesta pernikahannya dengan wajah di angkat menatap lurus ke depan.
Para tamu undangan berdecak kagum mendengar pernyataan Anna. Dan menganggap gadis itu berhati baja. Sementara Genzo hanya diam menatap punggung Anna. Detik berikutnya ia hendak berlari menyusul Anna. Namun Nyonya Haira mencegahnya. Menurutnya keputusan Anna sudah benar, dan sekarang yang harus Genzo lakukan adalah menikahi Daiva.
Anna terus berjalan menyusuri tepi jalan raya dengan hati hancur sehancur-hancurnya. Air mata saling memburu jatuh di pipi Anna. Ia tidak perduli dengan orang orang yang memperhayikannya. Harapan yang telah ia pupuk bagaikan pecahan cermin yang rapuh kembali terhempas oleh kenyataan. Untuk kesekian kalinya Yang Maha Kuasa menghancurkan harapan dan keyakinan Anna.
Sakit? pedih? kecewa? jangan di tanya. Anna hanya bisa menangis. Tanpa bisa berkata apa apa lagi.
"Anna!"
Anna terus berjalan dan mengabaikan panggila Dika yang mengejarnya.
"Anna!"
Dika berhasil mensejajarkan langkahnya lalu menarik tangan Anna hingga mundur ke belakang. Dika langsung memeluk tubuh Anna dengan erat. "Anna.." ucapnya lirih.
Tubuh Anna mendadak lemas, ia menjatuhkan tubuhnya di jalan bersama Dika. Anna menangis dalam pelukan Dika.
"Anna.." hanya itu yang mampu Dika ucapkan.
__ADS_1