The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 9: Surat undangan pernikahan


__ADS_3

"Tumben Keenan jam segini belum datang," gumam Siena menatap jam tangannya. "Mungkin hari ini dia tidak masuk kerja."


"Tok tok tok!" suara pintu ruangan di ketuk dari luar.


"Mungkin itu Keenan," ucap Siena lalu ia berdiri. "Masuk!" sahut Siena.


Siena terkejut karena yang mengetuk pintu bukanlah Keenan tapi Reegan datang dengan raut wajah marah.


"Di mana Keenan!" tanya Reegan berdiri di hadapan Siena.


Siena mengerutkan dahi menatap tajam Reegan, "kau ini lucu..mencari Keenan bukan di sini ruangannya."


"Dia tidak ada diruangannya," jawab Reegan ketus.


"Kalau tidak ada, berarti dia dirumahnya."


"Tidak ada!" jawab Reegan cepat, ia bertolak pinggang.


Siena mengangkat kedua bahunya lalu kembali duduk di kursi, "ya sudah."


"Cuma itu?" Reegan menurunkan tangannya lalu mencengkram meja.


"Lalu? maumu aku jawab apa?" timpal Siena santai.


"Seharusnya kau tahu semua kegiatan Keenan, bukankah kau sekertarisnya?" tatapan Reegan tajam ke arah Siena seakan ingin menelannya hidup hidup.


"Iya betul..tapi diluar pekerjaan..aku tidak tahu di mana Keenan." Siena berdiri lagi, ia tidak nyaman melihat tatapan Reegan.


"Oh, ternyata kau pintar juga." Reegan menarik tangannya dari meja lalu berjalan dan berdiri di hadapan Siena.


"Siena melingkarkan tangannya di dada dan berkata, " jadi kau pikir aku bodoh?" sindir Siena tersenyum sinis. Reegan terdiam menatap Siena cukup lama, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua pertanyaannya dijawab dengan benar oleh Siena.


Siena menautkan dua alisnya menatap bingung ke arah Reegan, "kenapa kau melihatku seperti itu? ada lagi yang ingin kau sampaikan?" Siena mengibaskan tangannya ke wajah Reegan.


Reegan mengerjapkan matanya, "ah maaf," ucapnya spontan.


"Tidak masalah..jika kau tidak ada keperluan lagi, silahkan pulang..aku mau bekerja." Siena mendorong lengan Reegan ke samping lalu berjalan mendekati pintu. "Silahkan pulang."


Reegan berdiri terpaku di tempatnya cukup lama, membuat Siena kesal. Lalu ia berjalan mendekati Reegan dan menarik lengannya.


"Dari tadi kau hanya bengong dan mengganggu waktuku bekerja."

__ADS_1


"Hei! kau tidak perlu mengusirku!" seru Reegan menepis tangan Siena.


Siena mengangkat kedua tangannya, "oke! aku minta sekarang kau keluar."


"Atasan sama bawahan sama sama gila!" gerutu Reegan menatap Siena jengah, lalu ia balik badan melangkahkan kakinya keluar ruangan Siena.


"Hufftt..dasar orang aneh, cari orang kok salah tempat," sungut Siena.


" Hei! kau bilang apa!" Siena terkejut saat melihat Reegan menyembul dari balik pintu.


"Oh ya ampun." Siena menepuk keningnya sendiri, lalu berjalan mendekati pintu dan menutupnya. Namun pintu terhalang oleh sepatu yang di kenakan Reegan dengan sengaja ia mengganjal pintu. Ia paling tidak suka di rendahkan wanita.


"Kau mau apa lagi!" Siena melepaskan tangannya dari pintu dan membiarkan Reegan mendekatinya.


"Kau jangan macam macam padaku," bisik Reegan di telinga Siena membuat ia begidik. "Aku bisa melakukan apa saja terhadapmu, kau paham?" Siena tersenyum sinis, matanya melebar menatap Reegan lalu mendorong kembali tubuh Reegan keluar ruangan dan menutup pintunya.


"Hufffttt".


Siena kembali duduk di kursi, ia melanjutkan pekerjaannya. Sempat ia terpikirkan tentang Keenan. " Memangnya Keenan kemana?" tanya Siena pada dirinya sendiri.


***


Siena merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan Sifa, " hai sayang."


"Kakak coklatnya mana?" Sifa melepaskan pelukannya, ia ulurkan tangannya ke hadapan Siena.


"Tapi hari ini kau tidak nakal bukan?"


Sifa menggeleng cepat, "tidak kak."


"Anak manis." Siena mencubit gemas hidung Sifa lalu ia membuka tasnya dan mengambil coklat untuk Sifa. "Nih coklatnya..jangan lupa..saudarmu yang lain di beri juga ya." Lagi lagi Sifa hanya mengangguk, ia tersenyum merekah lalu berlari ke kamarnya. Siena tersenyum menatap tingkah lucu Sifa.


"Neng Siena.." sapa Santi dari belakang.


"Ya Mbak?" tanya Siena menatap Santi yang berdiri di sampingnya. Santi ini pekerja baru yang baru saja bekerja beberapa hari terakhir.


"Ini ada undangan," ucap Santi menyodorkan kartu undangan pernikahan berwarna Silver.


"Undangan?" Siena menatap lekat kartu undangan pernikahan di tangan Santi, lalu ia mengambilnya. "Dari siapa?"


"Dari pak Keenan," jawab Santi.

__ADS_1


"Keenan? Keenan mau menikah?" Siena buru buru membuka kartu undangan itu, dan benar saja di balik kartu undangan itu tertulis nama 'Keenan dan Maria'. "Hmm, jadi Keenan mau menikah dua hari lagi?" Siena tersenyum kecut, ia lipat kembali kartu undangan itu.


"Terima kasih," kata Siena menatap Santi yang menganggukkan kepala, lalu ia berjalan memasuki kamarnya.


"Keenan sudah berubah," gumam Siena. Ia hempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tatapan lurus ke langit langit kamar. "Apakah setelah menikah dia akan berubah total?" tanya Siena pada dirinya sendiri.


"Hmm, tapi itu urusan dia..hak dia..aku sudah tidak boleh mengganggunya. Dia akan segera punya tanggungjawab terhadap istrinya. Dan aku harus giat bekerja jangan sampai aku merepotkan Keenan lagi."


Siena bangun lalu turun dari tempat tidur menuji kamar mandi untuk membersihkan diri. Selang beberapa menit kemudian ia telah selesai.


"Mbak santi masak apa malam ini?" tanya Siena memperhatikan Santi dan Asti tengah mempersiapkan makan malam.


"Goreng tempe, ada sayur asem, ada tahu juga," jawab Santi tersenyum.


"Wah..sepertinya enak..mbak Asti tolong panggilkan anak anak, kita makan bersama." Asti menganggukkan kepala, lalu ia berjalan keluar dapur untuk memanggil anak anak.


Tak lama kemudian Asti sudah kembali bersama anak anak, mereka pun duduk manis di kursi masing masing. Seperti biasa Zidan akan memimpin untuk membaca doa sebelum mereka makan.


"Ranti, Zidan, Lola, Aisyah dan yoga..bagaimana sekolah kalian?" tanya Siena di sela sela makannya.


"Sekolah kami baik kak.." jawab mereka serempak.


"Bagus..apa kalian sudah mengerjakan tugas sekolah? atau kalian sudah belajar?" tanya Siena lagi menatap mereka satu persatu.


"Sudah kak..besok aku ada tugas," jawab Leni dan Riska.


"Yang lain bagaimana? sudah belajar? atau ada masalah di sekolah?" Mereka semua menggelengkan kepala. Siena tersenyum senang melihat anak anak semua baik baik saja. Memang Siena tidak bisa seperti Bu Silvi tapi ia bisa memantau aktifitas anak anak setelah pulang bekerja.


"Neng..tadi siang ada donatur datang ke sini..mereka membawa pakaian anak anak juga sembako," sela Santi. "Saya lupa memberitahu neng Siena."


"Oya? syukur alhamdulilah ya mbak..ada rezekinya anak anak."


Santi dan Asti menganggukkan kepala, "iya neng..kalau tidak salah namanya kakek Hardi."


"Kakek Hardi?" Asti menganggukkan kepala.


'Jadi..kakek Hardi yang memberikan ini semua' ucap Siena dalam hati.


"Beliau juga bertanya tentang Bu Silvi." Santi membenarkan ucapan Asti.


"Iya mbak..kakek Hardi itu yang memberikan tanah ini untuk kita semua tinggali..kakek orang yang baik." Siena tersenyum, ia teringat akan tawaran kakek Hardi untuk menikah dengan cucunya. Sampai saat ini Siena belum sempat berkunjung ke rumah Kakek, dan ia juga tidak pernah tahu seperti apa wajahnya cucu kakek Hardi.

__ADS_1


__ADS_2