The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Dengan langkah yang mantap, Zoya memasuki wilayah Crips yang dulu pernah di pakai Jiro bertanding. Untung saja dulu ia ikut.


"Aku harus hati hati, pasti mereka sudah membuat jebakan," ucap gadis itu dalam hati.


Zoya terus menyusuri lorong bawah tanah yang pengap dengan tatapan waspada. Langkahnya terhenti di sebuah pintu yang tertutup.


"Apakah pintu ini yang dimaksud Jiro?" ucapnya pelan.


Perlahan Zoya mendekati pintu dan menempelkan telapak tangannya di pintu. Lalu mendorongnya perlahan untuk memastikan terkunci atau tidak.


"Terkunci," ucapnya pelan. Lalu ia mengambil jarak mundur ke belakang untuk mendobrak pintu. Dengan tatapan tajam, mengambil napas panjang. Lalu gadis itu mengambil dua langkah panjang ke depan, langkah berikutnya ia menerjang pintu dengan kedua kaki.


"Brakkk!!


Pintu terbuka bersamaan dengan tubuh Zoya yang jatuh ke lantai lalu berguling dan bangkit kembali berdiri tegap. Menatap Jiro dalam keadaan terikat dan wajahnya di penuhi noda darah.


"Jiro!" pekik Zoya langsung berlari dan jongkok di hadapan Jiro. Gadis itu langsung melepaskan ikatan tangan di kaki dan tangan pria itu. "Apa yang terjadi?"


"Plok plok!"


Zoya menoleh ke arah suara, "Miko?" gadis ity berdiri mengangkat tubuh Jiro supaya berdiri. Keduanya menatap ke arah Miko yang tengah berjalan mendekati mereka.


"Wow, pahlawan kita sudah datang rupanya." Miko tersenyum sinis menatap Zoya.


"Miko, aku tidak menyangka kau akan berbuat setega ini pada kekasihmu sendiri." Zoya mendengus geram menatap tajam ke arah Miko.


"Kekasih?" Miko tertawa lebar. "Jiro tidak pernah mencintaiku, tidak pernah!" ucap Miko dengan nada tinggi.


"Apa maksudmu? kau terlalu mengada ada. Atau kau sedang bersandiwara untuk rencanamu yang lain?' Zoya tersenyum menyeringai lalu berjalan dua langkah mendekati Miko.


"Kau pura pura tidak tahu? atau kau sengaja biar hatiku sakit? iya begitu, hah?!!" pekik Miko dengan mata membulat menatap tajam ke arah Zoya, lalu beralih menatap Jiro yang hanya diam. Wajahnya yang di penuhi luka sayatan pisau yang di akibatkan Miko.


"Ayolah Miko, tidak perlu kau bersandiwara lagi. Aku tahu, Jiro sangat mencintaimu. Dan dia rela mengorbankan nyawanya demi kau. Selama ini, aku sudah merelakannya. Lalu apalagi yang kau inginkan dari Jiro?" ungkap Zoya dengan santai. Gadis itu sudah berbesar hati untuk merelakan pria yang di cintainya untuk Miko.


Miko tertawa lebar, ia berjalan mendekati Jiro lalu merebut ponsel milik Jiro yang ada di saku celananya. Lalu ponsel itu ia perlihatkan pada Zoya.

__ADS_1


"Kau tahu?" tunjuk gadis itu pada ponsel milik Jiro. Zoya menggelengkan kepala pelan menatap ponsel milik Jiro.


"Di dalam ponsel ini, hanya di penuhi oleh foto fotomu Zoya! pekik Miko, raut wajahnya berubah garang dan menyeramkan. " Dia mencintaimu, sebelum Ryu!


Zoya menggelengkan kepalanya, sesaat menatap ke arah Jiro yang masih diam tak bergeming di tempatnya. "Tidak mungkin, kau membual."


"Sampai saat ini, dia masih mencintaimu. Tapi Jiro tidak ingin membuat adiknya patah hati. Dia memilih memendam perasaannya, dan memilih aku hanya untuk melupakanmu! puas kau!" mata Miko berkaca kaca, membanting ponsel milik Jiro ke lantai hingga berantakan.


"Aku seperti ini gara gara kau!" tunjuk Miko ke arah Zoya.


"Miko, sungguh aku tidak tahu." Zoya perlahan berjalan mendekat.


"Cukup! tetap di tempatmu. Dan jangan dekati aku!" air mata Miko perlahan menetes. Buru buru ia mengusapnya menggunakan telapak tangan.


"Puas kalian menyakiti aku! apa salahku padamu, Zoya!" pekik Miko. "Aku mencintai Jiro, tapi aku tidak pernah bisa memiliki hatinya." Miko menundukkan kepalanya sesaat. Lalu ia mengeluarkan senjata api dari balik pinggangnya, lalu di arahkan pada Jiro.


"Merusak wajahnya tidak membuatku puas, aku menginginkan dia mati!"


"Miko! tenanglah! pekik Zoya panik.


"Cukup! Miko matanya melebar, menatap Jiro marah. " Kau jadikan aku hanya sebagai pelarian, saat kau tidak dapat melupakan dia! kau memaksakan diri untuk melamarku, saat kau menyadari bahwa kau sangat mencintai dia! bukankah begitu tuan muda Jiro!"


"Miko tenanglah, aku minta maaf jika seperti itu situasi yang sebenarnya, tapi percayalah. Jika kau mencintainya, aku rela. Jika kau mencintainya, kau harus percaya pada Jiro, seiring waktu dia akan mencintai seperti yang kau inginkan."


"Diam!" Miko semakin patah hati, ia menarik pelatuknya. Lalu ia arahkan pada Zoya. "Mari kita buktikan, apakah kau mencintaiku atau dia."


"Miko! hentikan! Zoya tidak salah!" Jiro berjalan mendekati Miko dan berada di antara kedua gadis itu.


"Tidak, jika benar. Kau menginginkan aku, dan mau melepaskan dia. Aku ingin kau menikahi aku saat ini juga."


Zoya melirik ke arah Jiro sesaat. "Lakukan apa yang dia minta."


"Diam kau, Zoya. Jangan banyak bicara."


Sesuai rencana Miko, gadis itu sudah mempersiapkan segala hal untuk pernikahannya. Dua pria masuk ke dalam ruangan dengan membawa seorang pria yang biasa menikahkan di kota itu. Kemudian dua pria tadi memberikan dua buah cincin pada Jiro.

__ADS_1


"Cepat lakukan!" perintah Miko.


Gadis itu menurunkan senjata apinya, lalu di gantikan oleh salah satu pria lain yang mengarahkan senjata api pada Zoya. Sementara Miko memaksa Jiro untuk menikahinya.


"Cepat lakukan!" perintah Miko lagi pada pria paruh baya yang akan menikahkan mereka. Miko mengambil salah satu cincin di tangan Jiro lalu memakaikannya di jari manis pria itu. Giliran Jiro yang menyematkan cincin itu di jari Miko.


Zoya terdiam, ia tersenyum. Baginya tak mengapa Jiro menikahi Miko. Yang terpenting siapapun tidak ada yang saling melukai. Namun saat tangan Jiro hendak menyematkan cincin di jari manis Miko. Sesaat ia menoleh ke arah Zoya yang menganggukkan kepala. Tanda ia baik baik saja. Dan menerima pernikahan mereka berdua.


"Cepatlah." Miko semakin geram di buatnya.


"Maaf, aku tidak bisa menikahimu." Jiro melemparkan cincin itu, lalu menerjang pria yang mengarahkan senjata api pada Zoya. Hingga terhuyung ke samping. Jiro langsung menarik tangan Zoya lalu berlari keluar ruangan.


"Tangkap mereka!" perintah Miko.


"Dor!


Pria itu melesatkan satu tembakan ke arah Jiro dan mengenai bahunya. Jiro terhuyung ke depan lalu ambruk.


" Jiro!" pekik Zoya. Lalu ia membantu Jiro untuk berdiri.


"Zoya, kau larilah..lari!" pekik Jiro mendorong tubuh Zoya untuk berlari sejauh mungkin. Namun kedua pria tadi dan Miko berhasil mencegahnya.


Miko mencekal tangan Zoya lalu meninju perut gadis itu berkali kali, hingga ambruk. Lalu ia menarik kerah baju Zoya menghempaskannya ke dinding.


"Bukk!" Tubuh Zoya membentur dinding lalu ambruk ke lantai cukup keras, darah segar mengalir dari mulutnya. Duduk di lantai menatap tajam ke arah Miko.


"Zoya!" Jiro yang tengah menghadapi dua pria sekaligus, langsung berlari menghampiri Zoya lalu membantunya berdiri.


"Kau kejam!" Jiro menatap benci ke arah Miko.


"Semua ini gara gara kau!" balas Miko semakin patah hati.


Jiro mengalihkan pandangannya ke pintu ruangan lain, nampak beberapa pria bermunculan. Tidak ingin membuang kesempatan, Jiro langsung menarik tangan Zoya, sebelumnya mendorong tubuh Miko terlebih dahulu. Lalu mereka berdua melarikan diri menyusuri lorong bawah tanah.


"Tangkap dan bunuh mereka!" perintah Miko pada anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2