
Baru saja dua hari Siena tinggal di Hongkong, ia sudah merasa bosan. Apalagi Kenzi tidak pernah mengizinkannya keluar kamar. Ia duduk termenung di tepi tempat tidur, merindukan sahabat dan suasana di Indonesia.
"Sampai kapan aku seperti ini, tidak ada kesempatan untuk melarikan diri. Lagipula ini di Negara lain," ucap Siena pelan.
Saat Siena tengah memikirkan hidupnya, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarnya. Ia mengangkat wajahnya menatap pintu.
"Tidak ada salahnya aku mencoba melarikan diri, kalau aku tertangkap polisi di sini, aku bisa di antarkan pulang ke Indonesia," pikir Siena.
Ia berjalan perlahan memdekati pintu, dan bersembunyi di belakangnya. Saat pintu di buka ia ikut mundur ke belakang.
"Kemana Siena?" ucap Kenzi menatap tempat tidur. Ia teringat kejadian dulu saat Siena melarikan diri. Kenzi tersenyum tipis lalu ia menoleh ke belakang pintu. Dan ternyata benar dugaannya.
"Kau sedang apa di situ?" tanya Kenzi mendekati Siena.
Siena menghela napas panjang, "tidak."
"Ayo sini!" Kenzi menarik tangan Siena dan membawanya ke tepi tempat tidur.
"Kau mau apa?" tanya Siena menolak untuk duduk.
"Ganti pakaianmu, kita pergi." Kenzi melemparkan gaun berwarna merah ke atas tempat tidur.
"Tidak!" sahut Siena menolak.
"Kau menolak?" Kenzi tersenyum, tangannya terulur membuka kancing kemeja yang Siena kenakan.
"Kau mau apa!" Siena menepis tangan Kenzi.
"Apa kau tuli? pakai baju ini atau aku yang memakaikan!" ucap Kenzi dengan nada tinggi.
"Aku bisa sendiri!"
"Baik, aku tunggu kau dalam waktu sepuluh menit," ucap Kenzi dan berlalu meninggalkan Siena.
"Dasar gila!" rutuk Siena menatap punggung Kenzi hingga hilang di balik pintu. Kemudian ia mulai mengganti pakaiannya dengan gaun yang di berikan Kenzi.
Sementara itu Kenzi menunggu di lantai dasar duduk di sofa di kelilingi anak buahnya. Tak lama Kenzi melihat Siena menuruni anak tangga. Kenzi menatap kagum Siena yang menggunakan gaun merah panjang dengan belahan dada yang sedikit terbuka.
"Kau cantik my doll," ucap Kenzi menghampiri Siena.
__ADS_1
Namun Siena menanggapi dingin ucapan Kenzi, ia merasa risih dengan pakaian yang ia kenakan. "Kau, mau ajak aku kemana?" tanya Siena.
"Kau diam dan jangan banyak bertanya. Oke?!"
"Baik tuan Kenzi." Siena menatap horor Kenzi yang tertawa kecil melihat sikap Siena. Akhirnya mereka berjalan bersama menuju halaman. Disana telah menunggu seorang pria dan membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.
"Jangan berpikir untuk melarikan diri, kau bisa tersesat di sini," bisik Kenzi di telinga Siena.
"Lebih baik tersesat dari pada seumur hidup dekat denganmu," sahut Siena begidik menatap Kenzi yang tertawa mendengar pernyataan Siena.
"Dasar keras kepala." Kenzi menggelengkan kepala.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di sebuah cafe mewah dan cukup terkenal di kota itu. Seorang pria membukakan pintu mobil untuk Kenzi dan Siena.
Baru saja mereka keluar dari pintu mobil dari arah lain dua buah mobil melintas langsung menembaki mereka berdua, sontak Kenzi langsung merangkul Siena dan merunduk ke bawah mobil. "Kau diam di sini, dan jangan kemana mana," ucap Kenzi menatap Siena yang ketakutan. Ia langsung mengambil pistol di balik jasnya dan berdiri menembaki mereka.
Sementara Siena merunduk sambil menutup telinganya, "ini kesempatan aku untuk melarikan diri," gumam Siena.
"Siena jangan pergi!" seru Kenzi.
Namun Ia terus berjalan merangkak di antara mobil yang terparkir menjauh dari Kenzi. Namun di luar dugaan Siena, seorang pria mengarahkan senjata api ke arah Siena. "Bangun!" seru pria itu. Siena tengadahkan wajah menatap pistol yang mengarah padanya. Perlahan ia berdiri dan mundur selangkah.
"Akkhhh.." Siena mengerang kesakitan.
Kenzi langsung mengangkat tubuh Siena, "kau terluka?" ucap Kenzi mengusap kening Siena. Ia langsung mengangkat dan menggendong tubuh Siena masuk ke dalam mobil.
"Aku sudah bilang, kau jangan pergi," ucap Kenzi memeluk Siena.
Siena hanya diam saja menahan perih di keningnya. "Yeng Chen, kita pergi dari sini!" seru Kenzi memerintahkan anak buahnya.
Saat mobil mereka meninggalkan cafe, tak lama terdengar suara sirine mobil kepolisian setempat datang ke lokasi.
Sepanjang perjalanan Kenzi menatap Siena yang menejamkan mata, ia mengambil saputangan di dalam sakunya dan menyeka darah di kening Siena. "Kenapa kau keras kepala Siena," ucap Kenzi dalam hati.
Tak lama kemudian mereka sampai di halaman rumah, Kenzi langsung keluar dari pintu mobil dan menggendong Siena masuk ke dalam rumah.
"Panggil Dokter! seru Kenzi pada anak buahnya di depan pintu.
" Baik tuan!"
__ADS_1
Kenzi langsung membawa Siena masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur. "Sekali lagi kau bersikap keras kepala, aku tidak segan segan mengurungmu Siena! ucap Kenzi menatap Siena.
Siena bangun dan turun dari atas tempat tidur, kalau kau kesulitan dengan adanya aku, kenapa tidak kau biarkan aku pulang!" bentak Siena.
"Kau milikku, dan aku sudah membelimu dari Ibumu!" seru Kenzi kesal.
"Plakk!!
Siena menampar pipi Kenzi, " bagaimana jika kau punya adik perempuan dan menggantikan posisiku, bagaimana perasaanmu Kenzi! pekik Siena.
Kenzi mendengus kesal menatap Siena, "kau tidak tahu apa apa Siena, sebaiknya kau diam dan turuti semua perintahku."
Kenzi langsung balik badan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Siena. Tak lama kemudian seorang Dokter datang dan memeriksa luka di kening Siena.
"Kau beristirahat saja, lukamu akan segera pulih," ucap Dokter.
"Terima kasih Dok."
Dokter menganggukkan kepala, "saya permisi dulu."
"Silahkan," sahut Siena. Dokter itu tersenyum pada Siena, lalu ia beranjak pergi keluar kamar.
Siena bangun dan turun dari atas tempat tidur, ia mengganti gaunnya dengan pakaian biasa. Terdengar suara pintu di buka dari luar, Siena menoleh ke arah pintu menatap Kenzi yang tengah berjalan mendekatinya.
"Apa kau sudah lebih baik?" tanya Kenzi.
"Apa perdulimu," jawab Siena acuh, ia kembali mengancingkan kemejanya.
"Tidak bisakah kau bersikap manis sedikit?" ucap Kenzi, ia menyandarkan bahunya di dinding.
"Haruskah aku bersikap manis padamu?" Siena melirik sesaat ke arah Kenzi, lalu ia berjalan dan hempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Kenzi terdiam memperhatikan Siena, ia berjalan mendekatinya dan berdiri menatap Siena yang menejamkan mata.
"Baiklah, kau beristirahat dan jangan lupa di minum obatnya," ucap Kenzi.
Siena hanya diam, ia tidak ingin bicara lagi dengan Kenzi. Yang dia inginkan saat ini adalah pulang ke Indonesia.
Kenzi mengangkat kedua bahunya berlalu meninggalkan Siena di kamarnya.
__ADS_1