The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 107: Good bye


__ADS_3

"Dengar, jika dalam satu minggu aku dan kakak Yu tidak kembali. Aku minta kalian semua menjaga anak dan istriku layaknya keluarga kalian sendiri." Kenzi mempertegas lagi ucapannya tempo hari pada ketiga anak buahnya.


"Tanpa Bos minta, kami akan melakukannya. Menjaga keluarga Bos dengan nyawa kami sendiri sebagai taruhannya." Mereka menjawab dengan serempak.


Kenzi terdiam sesaat menatap ke arah Siena yang tengah berjalan mendekat memangku Helion. "Hai jagoan Ayah!" sapa Kenzi mengambil alih Helion dari pangkuan Siena.


"Sayang, kau berangkat sekarang?" tanya Siena wajahnya murung. Kenzi melirik sesaat ke arah Siena. "Iya sayang."


"Hei jagoan Ayah, jaga Ibumu baik baik ya?" ucap Kenzi tertawa kecil mencium hidung Helion dengan gemas.


"Sayang..." ucap Siena pelan, menundukkan kepala sesaat.


Kenzi menoleh ke arah Siena. "Iya?"


"Cepat kembali, kami menunggumu." Siena tersenyum samar menatap wajah Kenzi.


Kenzi memberikan Helion pada Surya, lalu ia memeluk Siena erat. "Hei sayang, aku tidak mau melihatmu menangis."


Siena menganggukkan kepala, ia sangat berat hati melepaskan kepergian Kenzi. Andai Kenzi mengijinkan, Siena pasti ikut bersamanya menemani kemanapun suaminya pergi. Tapi kali ini ia tidak bisa, ada Helion yang lebih membutuhkannya.


"Cepat kembali sayang, aku tidak perduli kau mau punya anak berapapun, aku mau." Siena menatap wajah Kenzi yang tertawa melihat raut wajah Siena yang tengah merayunya.


"Janji? awas kalau kau bohong." Kenzi mencium kening Siena dengan dalam lalu mencium kedua bola matanya turun ke bibir. "Jaga anak kita baik baik."

__ADS_1


Siena menganggukkan kepala, melepaskan pelukan Kenzi. Dengan mata berkaca kaca ia pegang erat kedua tangan Kenzi. "Aku akan segera kembali." Perlahan Kenzi melepaskan tangannya lalu beralih menatap Yu. "Kakak Yu!"


Yu menganggukkan kepala, lalu ia berjalan lebih dulu keluar rumah. Sementara Kenzi masih berdiri menatap Siena yang mulai terisak. Perlahan ia berjalan mundur dengan tatapan lurus ke arah Siena dan Helion yang di pangku Surya. Ia balik badan melangkahkan kakinya menyusul Yu.


"Sayang!" pekik Siena berlari menyusul Kenzi dan berdiri di teras rumah. Kenzi menoleh ke arah Siena tersenyum mengembang lalu ia masuk ke dalam mobil. Sementara Yu sudah menunggu di dalam mobil.


Siena terduduk lemas di lantai saat mobil yang di kendarai Yu melaju meninggalkan halaman rumah. "Cepat kembali, aku tidak akan memaafkanmu kalau kau ingkar janji."


"Bersabarlah Siena, suamimu pasti kembali. Dia tidak pernah ingkar janji," ucap Surya pelan. Ia mengenal Kenzi lebih dulu sebelum Siena. Pria itu selalu menepati janjinya dalam segala hal. Tapi untuk kali ini ada keraguan dalam hati Surya, entah mengapa ia merasakan hal yang tidak enak sejak dua hari lalu.


Siena tengadahkan wajah menatap Surya dan Helion. Perlahan ia hapus air matanya lalu berdiri, menatap Helion yang memiliki wajah mirip dengan Kenzi. Bukan ia tidak percaya pada kemampuan suaminya tapi ada yang beda kali ini. Siena mengalami mimpi buruk berkali kali, ia coba menepis keresahannya dengan mempercayai Kakak Yu.


"Kita berdoa sayang." Surya merangkul bahu Siena masuk ke dalam rumah.


Waktu terus berjalan, hari pun berganti dengan sangat lambat itu yang di rasakan Siena saat ini. Setiap hari ia merasakan kegelisahan, apalagi kalau Kenzi sulit untuk di hubungi. Terakhir ia mengangkat telpon Siena dan mengatakan hari ini pertandingan di mulai.


Rasa rindu dan rasa khawatir bercampur menjadi satu. Andai Helion belum ada, mungkin Siena sudah menyusul Kenzi. Ia berani mengambil resiko demi berada di dekat suaminya. Siena duduk termangu di balkon kamar menatap lurus ke depan. Entah sudah berapa lama ia duduk termenung. Siena mendesah gusar lalu ia berdiri bermaksud untuk menemui Surya. Siena yang mulai terlatih dengan segala pergerakan yang mencurigakan. Matanya menangkap satu sosok pria tengah menyelinap memasuki halaman samping rumahnya. "Sial!" sungut Siena. Ia bergegas masuk ke dalam jendela dan pintu kamar Helion ditutup rapat rapat.


Siena berjalan mendekati Helion yang tengah tertidur pulas, tangannya mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur, ia menghubungi Samuel dan yang lain. Memberitahu mereka kalau ada musuh menyelinap. Dan ternyata mereka sudah mengetahuinya. Samuel meminta Siena untuk tetap di dalam kamar dan mengunci pintu kamar. Siena lemparkan ponsel miliknya ke atas tempat tidur setelah selesai menelpon.


Siena membongkar kembali lemari pakaiannya, ia menemukan kotak tempat ia menyimpan beberapa senjata api di dalam kotak. Lalu ia ambil salah satu senjata apinya setelah memastikan terdapat peluru di dalamnya. Ia berjalan mendekati jendela kamar, mengintip dari balik kaca. Mata Siena melebar saat melihat lebih dari lima pria mulai merangsek masuk ke halaman rumah dan melumpuhkan para penjaga di luar dengan senyap tanpa menimbulkan suara. Rumah Kenzi yang jauh dari pemukiman warga memudahkan mereka bergerak dengan leluasa.


Di saat genting, Helion terbangun dan menangis kencang. Siena langsung menghampiri Helion, senjata apinya ia selipkan di balik pinggang lalu ia menggendong Helion untuk menenangkan. Siena mulai panik saat mendengar kegaduhan di luar kamar. Suara senjata api mulai terdengar bersamaan teriakan. Entah suara siapa Siena tidak tahu.

__ADS_1


"Sayang, dengar Ibu Nak. Jangan menangis." Siena terus berusaha menenangkan. Namun Helion tidak berhenti menangis. Ikatan batin antara anak dan orangtua pasti bisa merasakan apa yang terjadi kepada orangtuanya. Dari luar kamar terdengar suara langkah kaki tergesa gesa.


"Papa?" ucap Siena pelan. Ia berjalan menghampiri pintu kamar dan membukanya. "Papa!"


Mata Siena melotot ke arah sosok pria yang ia kenali. "Livian?"


Livian tertawa menyeringai mengarahkan senjata api ke wajah Siena. "Keluar!"


Perlahan Siena keluar dari kamarnya mengikuti langkah Livian menuruni anak tangga. Siena tidak menyangka jika Livian akan datang menyerang ke rumah pada saat Kenzi tidak ada. Ini semua seperti sudah di rencanakan. Bagaimana dengan Kenzi di sana? apa semua ini ada hubungannya dengan Dany Tan? mereka bekerjasama?


Siena mengalihkan pandangan ke arah Surya dan yang lain. Mereka tengah dalam tekanan beberapa pria bersenjata. "Papa!" seru Siena.


"Hahahahaha, kalian memang bodoh!" ucap Livian mencemooh.


"Bukankah kau di penjara, Livian?" tanya Samuel geram.


"Oho, itu hanya sandiwara bodoh! untuk mengelabui Kenzi." Livian tersenyum sinis ke arah Siena. Lalu beralih menatap Helion yang tengah menangis. "Putra kalian sudah besar rupanya."


Siena memeluk erat Helion, "brengsek! jangan mendekat!" pekik Siena mundur dua langkah.


Livian duduk dengan santai di kursi dengan terus mengarahkan senjatanya pada Siena. "Hm, rasanya aku ingin melihat raut wajah Kenzi melihat keluarganya mati!" atau kau ingin melihat suamimu mati, Nyonya Kenzi?"


Siena diam terpaku menatap tajam Livian. Tidak, tidak mungkin. Ini semua hanya mimpi, Kenzi baik baik saja. Siena mengalihkan pandangan pada setiap celah yang bisa ia pergunakan untuk melumpuhkan Livian.

__ADS_1


"Aku tidak boleh menyerah, diam mati bergerakpun mati," ucap Siena dalam hati.


__ADS_2