
Siena berjalan lunglai, ia akhirnya bisa bernapas lega, melihat Kenzi sudah baik baik saja. Ia duduk di tepi tempat tidur mengatur degup jantungnya yang tidak beraturan dan mengumpulkan kesadarannya. Apapun yang terjadi tadi pagi hanyalah mimpi. Siena berusaha meyakinkan dirinya sembari naik ke atas tempat tidur.
"Mama.." Siena menarik napas panjang menatap langit langit kamar. Perlahan ia pejamkan mata berusaha untuk tidur meski sulit terpejam.
Dari arah pintu kamar Kenzi memperhatikan Siena, ia menarik napas panjang lalu menutup pintu kamar. Setelah memastikan Siena tertidur dengan tenang, Kenzi menemui Samuel dan Adrian. Adrian datang lagi ke rumah Kenzi dengan kepasrahan yang berada di ruang tamu. Ia duduk di kursi dengan raut wajah datar. Samuel tidak berani bicara sudah di pastikan Kenzi tengah marah.
"Mereka tidak hanya ingin menyingkirkanku, tapi mereka juga mengincar nyawa Siena," ucap Kenzi menatap Samuel sesaat lalu ia nyalakan cerutu. Samuel hanya diam memperhatikan Kenzi menyalakan cerutunya.
"Apakah aku melakukan kesalahan?" Samuel masih menundukkan kepala, matanya menatap pria yang ada di hadapannya. Kenzi tidak seperti pria bertato, dia memiliki wajah rupawan rambutnya panjang dan mata gelap.
Kenzi tertawa kecil sesekali terbatuk akibat asap cerutu. Ia menatap Samuel lalu beralih menatap Adrian yang duduk di sebelah Samuel dengan kepala tertunduk. Ia berjalan mendekati Adrian dan duduk di sebelahnya.
"Angkat telponnya," ucap Kenzi merogoh saku baju Adrian saat ponselnya berdering. Ia angkat panggilan bos besar dan mendekatkan ponsel di telinga Adrian.
Adrian melirik sesaat ke arah Kenzi, tangannya gemetar suaranya serak saat mulutnya menyapa bos bosar. "halo."
"Adrian, apa kau sudah melenyapkan gadis itu? bagaimana Kenzi? apa kau sudah membawanya ke markas?" Kenzi langsung mematikan panggilan bos besar.
"Jadi, dia memintamu untuk melenyapkan istriku?" ucap Kenzi dengan tatapan sinis. Ia berdiri dan kembali duduk di tempatnya semula. Kenzi mengeluarkan cerutu dari saku jasnya dan sebuah pematik, pria itu menyalakan cerutu.
"Apa tindakan selanjutnya, bos?" ucap Samuel memperhatikan setiap gerakan tangan Kenzi yang menghisap rokoknya dalam dalam, lalu mematikan cerutu di asbak.
Kenzi berdiri dengan kedua tangan ia masukkan kedalam saku celana, menatap Samuel yang tengah menunggu jawaban darinya. "Aku pastikan Siena aman dulu." Ia mengalihkan pandangan menatap Adrian dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"Bawa dia pergi dari sini, aku tidak ingin melihat pengkhianat di rumahku."
Samuel menganggukkan kepala tanda mengerti maksud ucapan Kenzi sembari menuangkan minuman ke dalam gelas lalu menyecapnya perlahan, matanya melihat ke arah Kenzi yang berlalu meninggalkannya duduk sendiri menikmati minumannya.
Sementara Kenzi menemui Siena di kamarnya, ia memutuskan untuk tidur di kamar Siena untuk memastikan dia baik baik saja. Dengan begitu hatinya tenang. Perlahan ia membuka pintu kamar, ia melihat Siena termenung duduk terpaku di tepi tempat tidur, dia terlihat masih terpukul atas kejadian tadi pagi.
"Siena.." Kenzi mengembuskan napas gusar lalu duduk di sampingnya.
Siena memalingkan wajah menatap Kenzi dan lagi lagi menarik napas frustasi. Entah sampai kapan ia akan hidup seperti itu. Tapi kali ini Siena tidak mau bersikap acuh tak acuh lagi terhadap masalah yang tengah Kenzi hadapi. "Jika kau berhenti dari pekerjaanmu, bisa saja mereka membunuhmu juga aku.."
"Siena, mencintaimu bukanlah kesalahan." Kenzi berbicara dengan pelan, kepalanya menunduk. Suaranya parau, ia menyadari telah membawa Siena kedalam kehidupannya yang berbahaya. "Apa aku salah memilikimu?"
"Apa?!"
Siena menatap tajam Kenzi. Kini ia mengerti kenapa mereka ingin membunuhnya. Pria pemilik mata gelap ini aset berharga untuk mereka.
"Semua pasti ada jalan keluarnya, percayalah..meski aku sendiri tidak tahu kapan hari itu tiba." Siena memperhatikan ekspresi wajah Kenzi. Ia masih ingat saat ibunya telah mempertaruhkan dirinya di atas meja judi demi membeli obat obatan terlarang. Siena tidak tahu seberapa jauh keterlibatan ibunya. Sejak saat itu menjadi mimpi buruk yang selalu datang menghampirinya. Dan mimpi buruk itu menjadi sebuah fobia aneh bagi dirinya. Air mata mulai menetes di sudut netra. Perlahan Siena naik ke atas tempat tidur.
Kenzi terdiam sesaat dan memalingkan wajahnya menatap Siena yang menggulung tubuhnya dengan selimut. Kenzi hanya melihat rambut panjangnya. Dan ia menduga kalau Siena tengah menangis. "Kau kenapa?"
"Tidak apa apa." Siena menjawab dengan suara serak.
"Ini salahku."
__ADS_1
"Bukan saatnya berpikir ini salah siapa," ucap Siena lirih. Ia menahan napasnya ketika menyadari keheningan.
Kenzi berdiri menatap Siena, gadis ini adalah miliknya. Persetan dengan outfit dan pekerjaannya.
***
Siena terbangun dengan rasa pusing di kepalanya, ia merasakan cahaya matahari masuk melalui jendela kamar. Ia memperhatikan seluruh ruangan, matanya tertuju ke arah Kenzi yang tengah duduk di sofa berwarna merah marun tak jauh dari tempat tidurnya.
"Kau sudah bangun?" Kenzi berdiri lalu berjalan menuju tempat tidur Siena. Pria itu membungkukkan badan mencium kening Siena sesaat. "Kau sangat berharga buatku."
Siena terdiam menatap kedua bola mata Kenzi, ia tersenyum samar. Lalu bangun dan duduk di atas tempat tidur. "Jika kau anggap aku berharga dari pada uang dan pekerjaanmu, kenapa sampai sekarang kau masih terikat dengan pekerjaanmu?"
Kenzi tertawa kecil, ia duduk di samping Siena. "Sayang, jangankan manusia, bendapun punya harga. Tapi dirimu tidak bisa di ukr dengan uang atau apapun."
Siena tersenyum samar, lagi lagi ia menggelengkan kepala milihat Kenzi masih tertawa. "Kapan kau akan berhenti?"
"Tidak lama lagi." Kenzi menjawab sambil mengusap rambut Siena. Dengan tatapan dingin, ia memperhatikan Kenzi yang megeluarkan cerutu di balim sakunya lalu berjalan kembali duduk di sofa menikmati segelas minuman vodka.
Ada satu hal yang orang katakan kepadanya. Jika Siena lebih beruntung dari pada nasib wanita lainnya yang harus berakhir di lantai dansa pemuas napsu liar mereka, menjadi pecandu dan harus keluar masuk panti rehabilitasi. Keberuntungan di antara banyaknya ketidakberuntungan selama ia menjalani hidup. Siena harus kembali berpikir ulang apakah ia sudah tidak waras?
Siena bertanya tanya, mungkin untuk mencintai sesuatu yang tidak nampak ia harus bersikap gila? ia menghela napas panjang lalu duduk di tepi tempat tidur. "Kapan kau berhenti menjadi pecandu?" tanya Siena menatap Kenzi yang hanya melirik sesaat ke arahnya.
Melihat Kenzi seperti itu mengingatkannya tentang Hana, ibu kandungnya sendiri harus berakhir tragis di usia senjanya. Apa ia harus menganggapnya ibu yang baik atau sebaliknya. Berbulan bulan berlalu begitu cepat, hal buruk seakan menanti di setiap langkah dan detik demi detik adalah kemarian untuk Siena.
__ADS_1