
Jiro hampir saja putus asa mencari di mana Zoya di rawat. Namun pada akhirnya salah satu anak buahnya menemukan di mana gadis itu di rawat. Kemudian ia menghubungi Kenzi dan Siena. Kalau dia sudah menemukan alamat rumah sakit, sebagai orang tua dan rasa kemanusiaan. Siena dan Kenzi langsung mendatangi rumah sakit untuk sekedar mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa putra mereka.
Namun rupanya kedatangan mereka tidak di sambut dengan baik oleh Adelfo. Orang tua mana yang terima, jika putrinya dalam keadaan seperti itu.
"Om, izinkan aku bertemu dengan Zoya sebentar saja." Jiro terus memohon pada Adelfo. Namun pria itu tetap menghalangi Jiro untuk masuk ke dalam ruangan rawat Zoya.
Adelfo berdiri di depan pintu ruangan menatap tajam Jiro. Jika saja putrinya tidak mencintai pria di hadapannya, mungkin akan lain ceritanya. Adelfo tidak akan segan segan untuk melenyapkannya saat itu juga.
"Aku tidak akan pernah mengizinkan kau untuk menemui putriku lagi." Adelfo mendorong bahu Jiro hingga mundur ke belakang.
"Jiro!
Adelfo dan Jiro menoleh ke samping, melihat Siena dan Kenzi berjalan tergesa gesa mendekati mereka.
" Tuan Adelfo, apa yang kau lakukan pada putraku?" Siena menarik tangan Jiro supaya menjauh dari Adelfo.
"Nyonya Siena, Kenzi."
Adelfo menatap Siena, terlihat senyum samar di sudut bibirnya yang tertangkap mata Kenzi. Membuat pria itu risih.
"Tuan Adelfo, kami dan putraku kesini hanya untuk menjenguk putrimu. Kenapa anda menghalangi niat baik kami?" tanya Kenzi bernada kesal.
"Oh maaf jika sikapku berlebihan. Tapi jika putra anda ada dalam posisi putriku? kau juga akan bersikap sama bukan?" jawab Adelfo sinis.
Kenzi tertawa kecil menatap tajam Adelfo. "Tentu itu hal yang berbeda, ini masalah anak muda. Kita sebagai orangtua hanya bisa membantu apa yang tidak bisa di selesaikan putra putra kami."
Siena maju selangkah mendekati Kenzi, menatap ke arah Adelfo. "Sebaiknya anda tidak mempersulit keadaan, ini masalah anak anak. Buat apa kita ikut campur, jadi biarkan putra kami menyelesaikan masalahnya dengan putri anda," timpal Siena tegas.
Bagi Adelfo, lain lagi kalau Siena yang bicara. Di telinganya apapun yang wanita itu katakan, ia tidak ingin membantahnya. Tanpa banyak perdebatan lagi, Adelfo mengizinkan Jiro untuk masuk ke dalam ruangan di mana Zoya di rawat. Perbedaan sikap Adelfo terhadap Siena membuat mata Kenzi melebar, mengusap wajahnya kasar. Namun ia tidak ingin membuat masalah sepele menjadi besar. Ia percaya pada Siena, wanita yang bisa dipercaya dan Ibu yang baik untuk putra putranya. Kenzi memilih mengabaikan perasaan kesalnya.
Jiro langsung masuk ke dalam menemui Zoya yang terbaring lemah, dengan alat alat medis terpasang di tubuhnya. Jiro menatap perban di kepala Zoya, lalu duduk di kursi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jiro menatap wajah Zoya.
__ADS_1
Gadis itu sangat bahagia saat melihat pria yang di cintainya menjenguk dan ada di hadapannya tanpa harus ia paksa. Zoya menganggukkan kepalanya, tersenyum pada Jiro.
"Aku baik baik saja, terima kasih. Kau sudi menjengukku."
Tangan Jiro memegang lengan Zoya dengan lembut, membuat gadis itu semakin senang.
"Tidak, aku yang berterima kasih padamu. Kau telah menyelamatkan nyawaku. Dan aku minta maaf, karena telah membiarkanmu. Sungguh, aku tidak sengaja." Jiro menjelaskan dan meminta maaf atas kesalahannya.
"Tentu, aku sudah memaafkanmu." Zoya tersenyum samar, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam. Gadis itu ingin marah dan tidak ingin bertemu lagi dengan Jiro. Tetapi hatinya luluh saat melihatnya. Zoya termenung menatap wajah Jiro, ia berpikir untuk tidak keras kepala atau dengan jalan kekerasan untuk mendapatkan Jiro. Mengingat sikap Ayahnya yang arogan, hingga menyebabkan Ibunya tiada. Zoya tidak menginginkan itu, ia butuh sosok Jiro untuk keluar dari bayang bayang Ayahnya.
Perlahan tangan Zoya meraih tangan pria di hadapannya. "Terima kasih, kau masih mau perduli padaku. Bagaimana dengan Miko?" tanyanya, meski sebenarnya ia tidak benar benar ingin bertanya kabar gadis yang menjadi saingannya.
"Miko baik baik saja, kau tidak perlu khawatir. Yang terpenting kau sehat lagi seperti dulu. Biar bisa gangguin aku lagi," ucap Jiro tertawa kecil.
"Sungguh? kau tidak kesal padaku?"
Jiro terdiam memikirkan ulang ucapannya baru saja. Ia menepuk keningnya sendiri.
"Ya ampun, apa yang sudah aku katakan. Sial," ucapnya dalam hati.
"Tidak, tidak apa apa. Sebaiknya kau istirahat supaya cepat sembuh. Aku pulang dulu, nanti aku datang lagi menjengukmu." Jiro berdiri, ia tidak ingin banyak bicara yang hanya akan membuat gadis itu berharap lebih padanya
"Sungguh?" Zoya menahan tangan Jiro.
Jiro menganggukkan kepalanya. "Tentu, aku pasti tepati janjiku."
"Ajak Miko juga ya."
Jiro terdiam, ia mencerna kata kata Zoya. Apa dia sudah berubah? tapi Jiro tidak ingin mengajak Miko. Ia khawatir nanti malah akan terjadi keributan.
"Tidak, aku saja sendirian." Jiro melepaskan tangan Zoya pelan. Lalu membenarkan selimut Zoya. "Aku pulang ya."
Zoya menganggukkan kepalanya. "Iya."
__ADS_1
Jiro berdiri tegap, lalu tersenyum sekilas pada Zoya. Lalu ia melangkahkan kakinya keluar ruangan. Saat ia membuka pintu ruangan melihat Adelfo tengah memperhatikan Siena yang tengah duduk di samping Kenzi. Membuatnya bertanya tanya, ada apa dengan Adelfo? ia melihat ada yang lain saat Adelfo memperhatikan Siena. Namun lagi lagi ia menepis kecurigaannya.
"Ayah, Ibu.."
Siena dan Kenzi langsung berdiri menghampiri Jiro. "Bagaimana sayang?" tanya Siena.
"Sudah Bu, Zoya baik baik saja."
"Syukurlah.." ucap Kenzi pelan.
Lalu mereka masuk ke dalam ruangan menemui Zoya untuk mengucapkan rasa terima kasih. Sementara Jiro menunggu di luar bersama Adelfo. Pria itu berdiri menatap tajam Adelfo yang terus memperhatikan Siena.
"Ada apa dengan Ibuku? kenapa om, terus memperhatikan Ibuku?"
Adelfo terperangah mendapat pertanyaan itu dari Jiro.
"Bukan urusanmu, dan kau tidak perlu mendikteku. Sebaiknya kau pulang kalau urusanmu sudah selesai." Adelfo memutar tubuhnya membelakangi Jiro menatap ke dalam ruangan lewat kaca jendela.
"Jangan bilang kalau Om, menyukai Ibuku."
Adelfo balik badan menatap Jiro. Tertawa kecil, lalu kembali membelakangi Jiro.
"Kau masih anak anak, jangan asal bicara."
Dia memang masih muda, tapi bahasa tubuh Adelfo jelas terlihat kalau pria itu menyukai Ibunya. Jiro mengusap wajahnya kasar menatap punggung Adelfo.
"Ya ampun, bapak san ayah sama sama gilanya," ucap Jiro dalam hati.
Tak lama kemudian Siena dan Kenzi telah selesai menjenguk Zoya, lalu mereka memutuskan untuk pulang.
"Nyonya Siena, terima kasih anda sudah menjenguk putriku." Adelfo tersenyum.
Kenzi dan Jiro saling pandang sesaat lalu menatap Adelfo tajam. "Kau terlalu berlebihan tuan Adelfo. Rasanya siapapun akan melakukan hal yang sama jika putranya di selamatkan orang lain," sela Kenzi ketus.
__ADS_1
Setelah bicara seperti itu, Kenzi langsung menarik tangan Siena untuk meninggalkan rumah sakit, di ikuti Jiro dari belakang. Sementara Adelfo tidak perduli ucapan Kenzi. Ia sangat senang bisa melihat wajah Siena lagi