The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Keesokan paginya, kondisi Jiro sudah mulai membaik. Paman Egor menjemput Jiro karena Izanagi merasa khawatir Jiro tidak ada kabar sama sekali. Akhirnya Jiro pulang untuk menemui Izanagi.


Sementara Kenzi dan Siena pergi ke kantor Polisi untuk meminta bantuan mencari Ryu, atas saran Yu. Sesampainya di kantor Polisi. Adelfo, ayahnya Zoya ada di kantor Polisi melaporkan putrinya yang di bawa lari Ryu. Pria itu meminta Polisi menangkap Ryu dan memperkarakannya. Kenzi tidak membantah tuduhan Adelfo, karena pada kenyataannya Ryu telah pergi bersama gadis itu.


Perdebatan di dalam kantor Polisi berlanjut di halaman. Adelfo memancing emosi Kenzi. Dengan mengatakan, jika Kenzi tidak mampu mengembalikan Zoya. Pria itu tidak segan segan akan menangkap Ryu hidup atau mati.


"Bukan hanya putraku yang bersalah, tapi putrimu juga yang membuat putraku nekat." Kenzi menatap tajam Adelfo.


Adelfo tertawa mencemooh sebelum membalas kata kata Kenzi. Matanya melirik ke arah Siena yang menatapnya tidak suka.


"Mungkin, aku bisa berubah pikiran. Jika-?"


"Apa maksudmu?" potong Kenzi. Melirik ke arah Siena sesaat. Saat matanya melihat Adelfo terus memperhatikan Siena.


"Kau bisa menukar nyawa putramu dengan istrimu."


Kenzi membulatkan mata menatap geram Adelfo, kedua tangannya mencengkram kuat kerah baju Adelfo. "Jangan pernah mengganggu keluargaku, atau kau akan menyesal."


Adelfo tersenyum sinis menatap kedua bola mata Kenzi. Tangannya mencengkram tangan Kenzi kuat.


"Kau pikir aku takut?"


Siena menggelengkan kepala, lalu maju menarik tangan Kenzi hingga menjauh dari tubuh Adelfo.


"Sayang tenanglah, jangan terpancing manusia satu ini." Mata Siena melirik tajam Adelfo.


"Awas kau?" ancam Kenzi. Ia paling tidak bisa melihat siapapun menggoda istrinya.


"Sayang, sudahlah." Siena memeluk erat tubuh Kenzi dan menenangkannya supaya tidak menambah situasi tambah keruh.


Adelfo berjalan satu langkah lebih dekat dengan mereka. Lalu membungkuk hormat pada Siena.


"Nona, senang bertemu dengamu. Aku harap, lain kali kita bisa bertemu lagi. Tentu dalam suasana yang menyenangkan."


"Brengsek!" seru Kenzi.


Kenzi berusaha melepas pelukan Siena. Namun wanita itu tidak akan membiarkan suaminya menghajar Adelfo. Sekarang bukanlah waktu yang tepat.


"Sayang, hentikan." Siena menatap tajam Kenzi. Lalu menganggukkan kepala saat matanya beradu pandang dengan Kenzi. Wanita itu tersenyum manis, tatapannya berubah lembut. Dengan satu tangan mengusap dada Kenzi lembut.


"Sayang, kau ingat? berapa lama kita berada di lingkaran ini? tentu kau tidak melupakan betapa cinta dan keteguhan kita di uji?" Mata Siena melirik ke arah Adelfo sesaat. "Ini tidak ada apa apanya di banding yang sudah kita lewati, aku harap kau lebih tenang menghadapi apapun."


Kenzi menganggukkan kepala, tersenyum lalu mencium bibir Siena sekilas. Matanya melirik ke arah Adelfo yang memalingkan wajahnya kesal. "Iya sayang, maafkan aku."

__ADS_1


Adelfo tersenyum sinis menatap mereka berdua. "Sudah cukup, kemesraan yang kalian perlihatkan. Sepertinya aku harus pergi. Nona Siena, sampai jumpa lagi." Adelfo membungkuk sesaat lalu balik bada melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua.


"Sayang, ayo kita pulang. Lebih baik kita fokus mencari Ryu."


Siena menarik tangan Kenzi untuk masuk ke dalam mobil. Lalu mereka meninggalkan kantor polisi. Sementara Adelfo hanya memperhatikan mereka dari dalam mobil dengan tatapan marah.


"Sekuat apa tanganmu melindungi istrimu Kenzi." Adelfo tertawa menyeringai. "Kita lihat, apa yang bisa aku lakukan Siena. Akan kubuat kau bertekuk lutut di hadapanku."


***


Sementara Abel, yang menangani kasus penembakan Izanagi di anggap telah melakukan kesalahan. Di tambah lagi Abel menolak dan membantah perintah atasannya untuk menangkap Ryu dalam keadaan hidup atau mati. Menurutnya itu sangat tidak adil memperlakukan Ryu seperti penjahat. Sementara di sini, Ryu tidak melarikan Zoya. Tetapi atas keinginann berdua. Kesalahan tidak sepenuhnya milik Ryu. Peringatan atasannya dan kesalahan yang telah Abel perbuatnya. Abel terkena sanksi, kasus Ryu di limpahkan pada yang lain. Namun di luar dugaan Atasannya. Abel memilih mengundurkan diri dari Kepolisian saat itu juga.


Setelah itu, Abel pergi menemui Jiro dan akan membantunya mencari Ryu dengan caranya sendiri tanpa harus terbentur lagi dengan aturan yang mengikatnya.


"Sayang, kau serius?" tanya Jiro menggenggam erat tangan Abel.


"Tentu saja, aku tidak menyesalinya." Abel tersenyum menatap kedua bola mata Jiro.


Abel sama sekali tidak keberatan, meski ia sudah tahu kalau Kenzi yang menjebloskan Sam Hoi ke penjara dan di hukum mati. Bagi dia, Ayahnya memang pantas di hukum atas perbuatannya. Apalagi mengingat tentang kekejaman Sam Hoi pada Ibunya. Meski Abel sendiri tidak menyaksikan. Tantenya Abel yang memberitahu itu semua.


Jiro memeluk Abel erat. "Maafkan aku, sudah melibatkanmu." Jiro melepas pelukannya.


"Tidak sayang, ini keinginanku sendiri."


Jiro dan Abel menoleh ke arah Izanagi yang tengah duduk di kursi roda. "Papa."


"Sebaiknya kalian bergerak cepat sebelum Polisi menemukan adikmu, Nak." Izanagi memberikan izin pada Jiro untuk membantu orangtuanya menyelesaikan permasalahan yang tengah di hadapi.


Jiro berdiri lalu jongkok di hadapan Izanagi. Meraih tangan pria itu dan menciumnya sekilas. "Papa, memang Papaku yang paling mengerti. Aku sayang Papa."


"Iya Nak, Papa memberikan waktu sebanyak yang kau mau."


"I Love You, Pa." Jiro memeluk Izanagi sesaat.


"Pergilah, cari adikmu."


Jiro menganggukkan kepalanya, lalu berdiri. Setelah berpamitan mereka berdua bergegas pergi meninggalkan rumah untuk mencari Ryu.


****


Sementara di tempat lain, di kota Kowloon. Ryu dan Zoya tengah mencari tempat untuk bersembunyi. Ia berpikir jika Kenzi dan Siena atau Adelfo tidak akan menemukannya di kota Kowloon yang padat penduduk. Ryu berjalan mendekati sekumpulan tunawisma yang tengah minum minum. Sementara Zoya menunggu di dekat motor yang terparkir tak jauh dari Ryu.


"Paman, boleh aku bertanya sesuatu?" Ryu menepuk pundak salah satu pria.

__ADS_1


Pria itu menoleh tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang menguning. Pria itu menatap tajam Ryu, lalu tertawa terbahak bahak menepuk pundak temannya. Membuat Ryu takut juga bingung.


"Ada apa, Paman?" tanya Ryu lagi mundur satu langkah.


"Bukankah kau, anak yang di cari cari?" pria itu menunjukkan selebaran pemberitahuan yang terpajang di tembok tembok bangunan.


"Paman, aku tidak tahu maksud Paman." Ryu mulai ketakutan. Ia takut jika pria itu menangkap dan membawanya beserta Zoya.


"Kau putra, Kenzi Alexis bukan?" tanya pria itu lagi.


"Pa, paman mengenal Ayahku?" tanyanya gugup.


Pria itu menepuk pundak Ryu, membuat anak itu berjengkit kaget. "Tentu saja, siapa yang tidak kenal Kenzi Alexis! serunya tertawa di ikuti teman temannya. Ternyata pria itu adalah anak buah anggota Crips sewaktu Bos besar dan Livian masih menjadi pemimpin mereka.


Ryu termenung sesaat, ia tidak menyangka jika Ayahnya bisa terkenal di kota Kowloon. Ryu mulai teringat kata kata Jiro terakhir bertemu.


" Tindakanmu membahayakan kami, Ryu! "


Ryu menghela napas dalam. Menatap pria di hadapannya yang tengah bercerita bagaimana kejamnya Kenzi saat menjadi mafia. Dan bagaimana jatuh bangunnya Kenzi saat keluar dari organisasi itu.


Ryu mengusap wajahnya pelan. "Ayah, Ibu. Aku harap kalian baik baik saja," ucapnya dalam hati.


"Nak, sebaiknya kau pulang. Kami bisa hidup bebas dan menikmati hidup kami yang sekarang. Semua karena Ayahmu." Pria itu mendorong bahu Ryu.


"Pulanglah, sebelum kau menyesal akhirnya!"


Perlahan Ryu berjalan mundur, lalu balik badan meninggalkan mereka semua.


"Pulang Nak!" pekik pria itu lagi.


Ryu menoleh sesaat lalu kembali berjalan mendekati Zoya.


"Bagaimana? ada?" tanya Zoya menatap wajah Ryu yang berubah murung.


"Hei, kau kenapa?" tanya Zoya bingung.


Namun Ryu tidak mengabaikan pertanyaan Zoya, ia ambil helm untuk Zoya lalu di berikan pada gadis itu. "Pakailah, kita pergi dari sini."


Kemudian Ryu menggunakan helmnya lalu naik ke atas motor, di ikuti Zoya dari belakang. Saat itu juga Ryu memutuskan untuk mengantarkan Zoya kerumahnya. Namun Ryu tidak mengatakan niatnya itu pada Zoya.


Sepanjang perjalanan, Ryu merutuki kebodohannya telah membuat susah kedua orangtuanya. Kali ini dia paham, mengapa Kenzi melarangnya berhubungan dengan Zoya. "Maafkan aku, Ayah.." ucap Ryu dalam hati. Ryu memang mencintai Zoya, tapi apakah harus seperti itu caranya?


Ryu terus menjalankan motornya menuju rumah Adelfo. Apakah Adelfo akan memaafkannya? apakah Adelfo akan melepaskan Ryu? atau sebaliknya? pikiran Ryu terus berkecamuk memikirkan tundakannya yang salah.

__ADS_1


__ADS_2