
Siena mondar mandir di teras rumah, menunggu kedatangan Kenzi dan Chen Yen. Rambutnya masih berantakan dan gaun pengantin yang ia kenakan belum ia ganti.
"Tenanglah nona." Samuel berdiri di belakang Siena.
"Bagaimana aku bisa tenang Sam, kalian itu benar bebar sudah gila ya?" Siena memalingkan wajahnya menatap Samuel yang tengah memperhatikannya.
"Sepertinya bos sudah datang!" Samuel turun dari teras rumah, saat mobil yang di kendarai Yeng Chen memasuki pintu gerbang. Siena menoleh dan mengikuti langkah Samuel dari belakang.
"Bagaimana bos?" Samuel langsung bertanya saat Yeng Chen keluar dari pintu mobil, sementara Siena hanya memperhatikan dari belakang.
"Bos terkena tembakan." Yeng Chen membuka pintu mobil. Kenzi langsung keluar dari pintu mobil menghampiri Siena.
"Kau terluka?" Siena menyentuh lengan Kenzi yang terkena luka tembakan. "Sam, cepat panggil Dokter!"
Sam mengangguk cepat, ia langsung menelpon Dokter. Yeng Chen dan Siena membawa Kenzi ke kamar pribadinya.
"Aku sudah bilang, berhenti melakukan pekerjaan yang berbahaya! lebih baik kita pulang ke Indonesia!" Siena membuka kemeja putih yang Kenzi kenakan dengan perlahan. Sementara Kenzi hanya terdiam mendengarkan semua ocehan Siena.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? apakah aku salah bicara? tidak bukan?"
Kenzi tersenyum samar menatap Siena, "kau mengkhawatirkanku lagi Siena?"
"Tentu saja! kau harus hidup, dan mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu terhadapku! kau paham?! Siena menarik kemeja dari tubuh Kenzi dan meletakkannya di atas meja.
"Kenapa kau tidak mau mengakui Siena?" tanya Kenzi menggeser tubuhnya bersandar di bantal.
"Aku harus mengakui apa?!" ucap Siena tanpa melihat wajah kenzi, ia sibuk menyeka darah di lengan Kenzi dengan tisu.
"Ya..mengakui kalau kau mencintaiku, bukan?" Kenzi menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Apa?" Siena menatap horor Kenzi. "Bermimpilah!" seru Siena sembari menekan tisu ke luka di lengan Kenzi, hingga terdengar erangan kecil di bibir Kenzi.
Siena berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar, ia meninggalkan Kenzi di kamarnya. "Dasar keras kepala," gumam Kenzi.
Tak lama kemudian Dokter masuk ke dalam kamar Kenzi di temani Samuel. Kemudian Dokter mengobati luka di lengan Kenzi dan mengangkat pelurunya.
Di luar rumah, nampak dua orang polisi mendatangi rumah Kenzi untuk meminta keterangan perihal insiden tadi siang. Samuel memberikan keterangan sesuai apa yang terjadi. Setelah mendapat keterangan dari Samuel, kedua Polisi itu meninggalkan rumah Kenzi. Samuel sendiri langsung menemui pengacara Kenzi untuk mengurus kasus tersebut.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, Dokter telah selesai dengan pekerjaannya. Ia kembali ke Rumah Sakit di antarkan Yeng Chen.
Sementara Kenzi sendiri duduk termenung di kamarnya. Ia memikirkan pekerjaannya dan raut wajah Siena yang ketakutan.
"Tidak mudah untukku keluar dari jaringan ini, tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu Siena." Kenzi menghisap rokoknya dalam dalam, ia sandarkan tubuhnya di kursi.
"Livian sendiri tidak akan membiarkanku hidup tenang, apalagi identitasku sudah di ketahui pihak kepolisian. Bos besar tidak akan memberikanku kesempatan." Kenzi mematikan rokoknya di asbak. Ia mengambil botol minuman di atas meja dan meminumnya perlahan.
"Siena, aku tidak akan melepaskanmu. Lebih baik kau kujadikan santapan hewan buas, dari pada aku melihatmu dengan pria lain."
Ia letakkan botol minuman di atas meja, "aku harus membuat satu pilihan, pekerjaanku..atau Siena."
***
Entah sudah berapa lama Siena duduk termenung di atas tempat tidur. Ia bahkan tidak menyentuh makanan yang di bawakan Akira tadi sore. Ia memikirkan hidup dan pernikahannya tadi pagi.
"Siena.." sapa Kenzi dari arah pintu. Siena menoleh ke arah Kenzi yang tengah berjalan mendekatinya. Ia jongkok di hadapan Siena meraih kedua tangannya dan meremas lembut.
"Apakah kau baik baik saja," tanya Kenzi lembut.
Siena hanya diam, ia menatap lekat kedua bola mata Kenzi. Meskipun Kenzi seorang mafia tapi Siena bisa melihat dengan jelas ada kelembutan, ketenangan, dan kasih sayang terpancar dari matanya.
"Tidak! aku baik baik saja." Siena memalingkan wajahnya.
"Baiklah, sekarang kau istirahat." Kenzi berdiri tegap menatap Siena. "Good night..my doll."
Siena tengadahkan wajah menatap wajah Kenzi, ia berpikir malam ini Kenzi akan melakukan apa yang dia inginkan padanya. Tapi dugaannya salah, Kenzi melangkahkan kakinya menuju pintu. Siena langsung berdiri menyusul langkah Kenzi.
"Kau mau kemana? apa lukamu sudah tidak sakit lagi?" tanya Siena berdiri di belakang Kenzi.
Kenzi menghentikan langkahnya, ia melirik sesaat ke arah Siena, "kau tidak perlu khawatir."
"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Siena sembari menundukkan kepala.
Kenzi balik badan menghadap Siena, ia menyilangkan kedua tangan di dadanya. "Apa yang ingin kau katakan?"
Siena berjalan mendekati Kenzi, "apa kau mabuk?" tanya Siena.
__ADS_1
Kenzi tertawa kecil, ia menundukkan kepala sesaat dan menurunkan tangannya. "Kalau aku mabuk kenapa? kau takut?" tanya Kenzi balik. Ia merengkuh pinggang Siena dan mendekapnya erat.
"Sampai kapan kau hidup seperti ini? aku tidak mau seperti ini. Aku ingin pulang." Siena melepaskan pelukan Kenzi. Ia balik badan dan berjalan ke arah tempat tidur, lalu ia duduk.
"Aku tidak tahu Siena," ia berjalan mendekati Siena dan duduk di sampingnya.
"Jika kau ingin pulang, aku turuti kemauanmu. Tapi tidak sekarang." Kenzi menyelipkan rambut di telinga Siena.
Siena menatap wajah Kenzi, dengan ragu ragu ia berkata, "jika kau tidak ingin mengembalikan aku ke Indonesia, aku punya satu permintaan."
"Katakan."
"Ceraikan aku."
"Tidak Siena!' seru Kenzi langsung berdiri tegap menatap Siena marah.
"Kenzi!" Siena berdiri. "Jika kau terus menahanku di sini bersamamu, kau akan kesulitan bergerak."
"Tidak akan pernah aku melepaskanmu Siena! Kenzi mencengkram lengan Siena.
"Aku tahu! bos kamu menginginkan kau mati bukan?!"
Kenzi melepaskan cengkraman tangannya di lengan Siena. "Dari mana kau tahu?"
"Kenzi, aku tahu semua tentangmu, kebiasaanmu, apa yang kau suka dan tidak!"
"Siena..aku..?" Kenzi tidak melanjutkan ucapannya.
"Mengertilah Kenzi, jika kau tetap menahanku. Sama saja kau membahayakan nyawamu sendiri." Siena meraih tangan Kenzi dan meremasnya pelan.
Kenzi tertawa kecil menatap Siena, "kau bicara seperti ini sengaja bukan? supaya aku melepaskanmu?".
Siena menggelengkan kepala cepat " tidak Kenzi..tidak!"
"Bohong! kau ingin bebas dan menemui pria yang bernama Rei, bukan?" Kenzi menangkup wajah Siena. "Kau istriku, kau milikku."
"Aku mohon mengertilah, apa yang aku katakan itu benar." Siena menurunkan tangan Kenzi dari wajahnya. Namun Kenzi sudah di kuasai rasa cemburu. Ia tidak mau mendengar apapun yang di katakan Siena meskipun itu benar. Kenzi mengangkat tubuh Siena dan membaringkannya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Kenzi, jangan kau lakukan itu padaku..aku mohon." Siena berusaha mendorong tubuh Kenzi yang berada di atas tubuhnya.
Sesaat Kenzi menatap dalam kedua bola mata Siena yang penuh harap, supaya ia tidak menyentuhnya. Kenzi mendengus kesal, ia bangun dan turun dari atas tempat tidur. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia langsung keluar dari kamar Siena.