The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and Love


__ADS_3

Ryu termenung menatap layar monitor, sesekali ia mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya perlahan. Zoya dan Adelfo duduk di kiri dan kanan Ryu ikut termenung memperhatikan Ryu yang sedang berpikir keras.


"Tik!


" Tik!


"Tik!


Semua terdiam tidak ada yang bersuara, sampai Adelfo menguap, matanya perih karena memperhatikan Ryu. Tangannya meraih cangkir kopi lalu mengangkatnya.


Tak lama kemudian, Siena dan yang lain ikut masuk ke dalam ruangan setelah selesai membereskan bekas makan malam. Mereka duduk di kursi ikut memperhatikan Ryu.


"Ibu, apakah Ayah pernah bercerita tentang masa lalunya sebelum masuk ke jaringan Crips?" tanya Ryu memecah keheningan.


"Tidak sayang, Ayahmu tidak pernah mengatakannya pada Ibu." Siena menautkan kedua alisnya menatap wajah putranya yang masih fokus menatap layar monitor.


"Aku semakin paham, mengapa mereka menganggap Ayah sebagai aset berharga mereka." Ryu mengalihkan pandangannya pada Siena sesaat.


"Apa maksudmu, Nak?" tanya Siena masih tidak mengerti ucapan Ryu.


"Mereka hanya memakai satu gram bom antimateri, yang dicuri dari laboratorium Pusat Penelitian milik Papanya Miko. Itu artinya, pekerjaan selanjutnya akan di kerjakan oleh Ayah. Antimateri itu bukanlah senjata tapi Jika meledak, setengah dari kota ini akan luluh-lantak. bom antimateri setara dengan 20 ribu ton bom trinitrotoluene."


Adelfo yang sedari tadi menguap, matanya melebar mendengar penjelasan Ryu. Ia tertawa kecil menatap Ryu.


"Itu mustahil, bukankah antimateri masih menjadi misteri kebenarannya?" Adelfo masih belum percaya.


Ryu menganggukkan kepalanya lalu menjelaskan pada mereka. Antimateri adalah partikel dalam materi yang berlawanan dengan jumlah energi yang sama. Antimateri dari elektron adalah positron, dan antimateri dari proton adalah antiproton.


Antimateri tak tersedia di alam tapi terbentuk oleh peluruhan radioaktif.


Antimateri diteorikan Paul Dirac, fisikawan Inggris, pada 1928 dan ditemukan empat tahun kemudian oleh fisikawan Amerika Serikat, Carl Anderson.


Jika materi dan antimateri bertemu, keduanya akan meledak saling meniadakan.


Antimateri dipakai sebagai sinar laser pada mesin rontgen. Pada mesin ini, benturan positron dan elektron akan menghasilkan foton sinar Gamma (sinar X), yang akan ditangkap detektor. Pendeteksi meneruskannya ke komputer yang menghasilkan gambar pindai.


Efektivitas 1 antimateri \= 4 proton

__ADS_1


salah satu organisasi bisa memproduksi 10 nanogram antimateri berbiaya Rp 200 miliar per tahun.  Jadi, untuk membuat 1 gram antimateri butuh Rp 10 juta triliun.


- Membuat 1 gram antimateri perlu 100 juta tahun.


- Dengan rumus E\=mc2, energi 1 gram antimateri \= 42.800 ton bom TNT.


"Setara Teknologi Nuklir." Ryu menghela napas panjang di akhir ucapannya.


Semua yang ada di ruangan itu menahan napas membayangkan jika hal itu terjadi, dan apa yang di katakan Ryu benar. Akan banyak korban jiwa yang hilang. Dan perekonomian kota ini akan benar benar lumpuh. Ryu kembali memperjelas, jika hal ini di laporkan pada pihak berwajib. Mustahil mereka akan percaya, yang ada mereka akan di anggap gila.


"Ibu, aku membutuhkan bantuanmu." Ryu berdiri, berjalan mendekati Siena lalu jongkok di hadapannya.


"Apa yang kau inginkan dari Ibu?" tanya Siena menunduk menatap wajah putranya.


"Dengar Ibu.." Ryu meraih kedua tangan Siena dan menggenggamnya erat.


"Iya?"


"Ibu jangan lihat sikap Ayah ketika bersama wanita lain, aku tahu Ibu paling mengerti bagaimana Ayah," ucap Ryu terdiam sesaat. "Ibu harus bisa menyusup ke markas Crips, dan hentikan Ayah. Bawa Ayah kembali ke tengah tengah kita. Aku akan buatkan serum anti pencuci otak itu."


Siena menarik napas dalam dalam menatap wajah putranya yang penuh harap.


Ryu tersenyum lebar, mencium tangan Siena sesaat. Lalu beralih menatap Adelfo.


"Om, aku juga butuh bantuanmu. Selama Ibu ada di markas mereka. Tolong jaga Ibu dengan baik."


"Tentu! dengan senang hati!" sahut Adelfo cepat, sembari berdiri dan membungkukkan badan sesaat, lalu kembali duduk di kursi.


Lagi lagi Zoya menepuk keningnya saat melihat sikap Adelfo yang kecentilan. Siena hanya tertawa kecil menanggapi sikap Adelfo.


"Zoya, aku butuh bantuanmu," Ryu mengalihkan pandangannya pada gadis itu. "Kau pintar dan bisa di andalkan. Aku mau kau bantu aku, masuk ke tempat penelitian mereka untuk menghancurkan antimateri itu."


"Baik." Kata Zoya singkat.


"Kakak juga Miko, bantu aku untuk melindungiku." Ryu berdiri lalu berjalan mendekati Jiro dan Miko. "Bagaimana Kak?"


"Aku memang tidak sepintar kau, tapi untuk melindungimu. Aku sanggup dengan nyawaku." Jiro berdiri lalu memeluk erat tubuh Ryu.

__ADS_1


"Oke, karena sudah malam. Kalian boleh istirahat, karena besok pagi kita harus bergerak cepat. Ryu, apa yang kau butuhkan untuk membuat serum? biar anak buahku yang membawakannya."


"Baik Om."


Ryu mencatat, apa saja yang di perlukan lalu di berikan Adelfo. Sementara Siena memilih untuk beristirahat karena ia merasakan tubuhnya sangat lelah.


Jiro dan Miko keluar dari ruangan mengikuti langkah Adelfo. Sementara Zoya tetap menemani Ryu dan berpindah ke ruangan lain yang lebih besar. Memperiapkan alat alat yang di butuhkan. Dengan bantuan salah satu Dokter pribadi Adelfo yang segera di panggil.


"Hei, aku tidak mengira. Ternyata kau pintar juga." Zoya tersenyum memperhatikan Ryu yang duduk di depan layar monitor.


Sesaat Ryu melirik ke arah gadis itu.


"Jangan katakan, kau menyesal karena meninggalkanku." Goda Ryu.


Mata Zoya melebar menatap Ryu, tangannya mencubit hidung Ryu gemas.


"Enak saja!" sungut Zoya.


"Wanita awalnya bicara seperti itu, padahal hatinya suka. Wee!" Ryu menjulurkan lidahnya pada Zoya. Membuat gadis itu tertawa lebar, sembari memukul pelan lengan Ryu.


"Sudah jadi Dokter, masih saja nyebelin kaya dulu." Gerutu Zoya.


"Tapi kau suka, bukan?" Ryu menoleh ke arah Zoya, menaik turunkan kedua alisnya. Gadis itu berkali kali tertawa saat Ryu menggodanya. Jiro yang kebetulan lewat di depan pintu, mendengar suara Zoya yang tertawa. Langkahnya terhenti di depan pintu ruangan menatap mereka berdua.


"Zoya, kau terlihat bahagia bersama adikku. Maafkan aku yang selalu menyakitimu," ucap Jiro dalam hati. Sesaat ia menundukkan kepala. Lalu balik badan, tatapannya tertuju pada Miko yang sudah berdiri di hadapannya yang sejak tadi memperhatikan.


"Kau cemburu?" tanya Miko.


"Tidak," jawab Jiro melangkahkan kakinya.


Miko berjalan menyusul Jiro lalu menarik tangannya. "Tentukan sikapmu, sebelum semua terlambat. Jika kau menyesal pada akhirnya, itu tidak lucu."


Namun Jiro enggan menimpali ucapan gadis itu, ia memilih pergi begitu saja dari hadapan Miko.


"Aku tahu kau mencintai Zoya!"


Sesaat langkah Jiro terhenti, mengibaskan tangannya ke udara. Lalu kembali melangkahkan kakinya. Mengabaikan Miko yang berdiri terpaku di belakangnya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, tapi kau tidak bisa menentukan pilihanmu." Miko menundukkan kepalanya sesaat. Lalu ia balik badan melangkahkan kakinya menuju kamar yang sudah di sediakan Zoya.


__ADS_2