
Kenzi meminta kakak Yu untuk tinggal bersamanya. Namun Yu menolak dengan alasan acara pertandingan akan di lakukan 7 bulan mendatang. Yu meminta Kenzi untuk tidak datang ke pertandingan itu, menurutnya jika Kenzi mengikuti pertandingan itu masalah baru akan datang lagi.
"Kau benar kak Yu, aku memang tidak mau terlibat lagi." Kenzi menyodorkan sekotak rokok di atas meja pada kakak Yu.
"Sayang, di mana Helion? tanya Kenzi menatap Siena yang tengah menuangkan kopi di meja lain.
Siena melirik sesaat ke arah Kenzi. "Dia tidur sama kakeknya."
Kenzi menganggukkan kepala, lalu mengalihkan pandangannya. "bagaimana kak?"
"Hari ini aku pulang." Yu tersenyum pada Siena saat meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"BRAKK!!
Kenzi langsung berdiri dan menoleh ke arah suara pintu yang di dobrak paksa dari luar. Nampak beberapa pria menggunakan setelan jas lengkap dengan senjata api di tangan mereka. Mereka berhasil melumpuhkan beberapa penjaga yang ada di luar rumah.
"Dany Tan," ucap Kenzi dalam hati lalu berjalan mendekati pria yang bernama Dany Tan, di ikuti Yu yang sudah waspada memperhatikan gerak gerik mereka. Sementara Samuel dan dua sahabatnya berdiri di depan Siena dan menyembunyikannya di belakang mereka.
"Di mana Kenzi!" ucap pria yang bernama Dany Tan.
"Aku!" Yu maju selangkah lebih dekat dengan Dany dengan tatapan waspada.
Dany tersenyum sinis menatap Yu lalu beralih menatap Kenzi sesaat. "Kau rupanya, tuan Kenzi."
"Ada apa kau mencariku," ucap Yu melirik sesaat ke arah Kenzi yang hanya diam dan mengerti maksud Yu.
"Aku menantangmu di pertandingan nanti, aku tidak yakin kalau kau penjudi hebat yang terkenal itu." Dany berjalan lebih dekat dengan Yu.
Yu tertawa kecil, "mungkin kau salah mendengar, kau tahu bukan? orang orang terlalu melebih lebihkan."
Dany Tan mendengus, tersungging senyum sinis di sudut bibirnya dengan tatapan tajam ke arah Yu. "Kau meremehkanku?"
Yu menarik napas panjang, ia memutar tubuhnya membelakangi Dany Tan dengan tatapan lurus ke arah Kenzi. "Aku tidak tertarik lagi dengan pertandingan itu."
__ADS_1
"Kau yakin?" Dany Tan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memberikan ponsel genggam miliknya pada Yu.
Yu menatap tajam Dany Tan sesaat, lalu mengambil ponsel milik Dany. Pria itu memutar sebuah video di ponsel. Nampak dua pria tengah mengarahkan senjatanya pada Surya dan putra Kenzi.
Yu dan Kenzi menoleh ke belakang, nampak Surya tengah menggendong Helion, putra Kenzi. Di bawah tekanan dua orang pria sesuai dalam video itu.
Kenzi menggeram memalingkan wajah menatap Dany Tan, ia hendak melangkahkan kakinya namun Yu menahan lengan Kenzi. Yu menganggukkan kepala menatap Kenzi sesaat.
"Papa! Siena langsung berlari mendekati Surya dan mengambil alih Helion dari pangkuan Ayahnya.
"Jika kau menolak pertandingan ini, maka.." Dany Tan tidak meneruskan ucapannya. Ia tertawa mencemooh. Lalu tersenyum lebar menatap Siena. "Nona.." ucap Dany Tan penuh penekanan.
"Baik, jika itu maumu!" seru Siena. Ia berjalan mendekati Dany Tan.
"Kau siapa?" Dany Tan menautkan kedua alisnya menatap Siena.
Siena tersenyum lebar, "aku istri Kenzi." Siena memberikan Helion pada Yu.
Dany Tan menganggukkan kepala menatap Yu, "baik, aku tunggu kalian di Taiwan." Dany Tan memberikan kode untuk melepaskan Surya.
"Jangankan uang, aku pertaruhkan nyawaku," ucap Dany Tan pelan menatap geram pada Siena. Lalu menatap Yu dengan tatapan marah. Ia masih menganggap kalau Yu adalah Kenzi. Lalu dia dan semua anak buahnya beranjak pergi meninggalkan rumah Kenzi.
"Sayang, kenapa kau membahayakan nyawamu?!" pekik Kenzi tidak percaya dengan apa yang di lakukan Siena baru saja.
"Aku tarik kata kataku, aku tahu kau bisa menyelesaikan pria brengsek itu." Siena mengambil Helion dari pangkuan Yu. "Tidak ada kejahatan yang bertahan lama di muka bumi ini. Begitu pula dengan kebaikan." Selesai bicara seperti itu, Siena melangkahkan kakinya ke kamar Helion.
Kenzi menatap Yu yang tertawa. "Kenapa?"
Yu menepuk pundak Kenzi. "Perempuan bisa membuat seorang laki laki bertekuk lutut di hadapannya. Perempuan juga bisa meruntuhkan sebuah sistem, tanpa melupakan kodratnya sebagai wanita. Wanita tetaplah wanita yang memiliki kelembutan dan kasih sayang."
Kenzi menghela napas panjang. Ia meminta Samuel dan yang lain untuk memperbaiki kerusakan dan mengobati penjaga yang luka.
"Kita masih punya waktu 7 bulan untuk menyusun rencana." Yu merangkul bahu Kenzi dan mengajaknya bicara di ruangan lain.
__ADS_1
"Kenapa kau membahayakan nyawamu?" awalnya Kenzi tidak setuju dengan ide Yu, yang tiba tiba mengaku sebagai Kenzi. Namun setelah ia mendapatkan penjelasan dari Yu kenapa ia menggunakan nama Kenzi.
"Jadi?" ucap Kenzi pelan.
Yu menganggukkan kepala, lalu duduk di kursi. "Kau benar, dia lebih licik dan kejam dari Hernet."
"Apa aku bisa mengalahkannya?" ucap Kenzi setengah ragu.
"Aku percaya sepenuhnya padamu, begitu pula dengan istri dan putramu."
Kenzi terdiam menatap wajah Yu penuh keyakinan. "Ya, aku bisa," ucap Kenzi dalam hati.
***
Siena berbaring di atas tempat tidur untuk menyusui putranya. Ia menatap dalan Helion yang baru saja berusia 5 bulan. Tangannya mengusap lembut pipi Helion yang menggemaskan. "Semoga keputusan yang aku ambil sudah tepat," ucap Siena mengajak bicara putranya. Helion tersenyum menatap wajah Siena, seolah olah mengerti apa yang di katakan Ibunya.
"Hei, kau mentertawakan Ibumu Nak? ucap Siena tertawa kecil sembari mencium pipi Helion dengan dalam. " Kalau kau sudah besar, jangan ikuti jejak Ayahmu, ya?" Siena tertawa lagi saat Helion kembali tersenyum menatap wajah Siena.
"Kalian sedang apa? kok tidak ajak ajak Ayah, Nak?" ucap Kenzi langsung naik ke atas tempat tidur berbaring di sebelah Helion.
Helion melepas dot susunya, lalu tersenyum melihat kedatangan Kenzi, tangan kecil dan mungil menyentuh pipi Kenzi. Membuat Kenzi menciumi wajah Helion dengan gemas.
Siena terdiam memperhatikan suami dan putranya tengah bercanda. Apakah keputusannya tadi salah? apa yang akan terjadi jika Kenzi kalah? kematian? tidak, tidak. Keputusanku sudah tepat, menolak atau tidak. Tantangan pria itu, tidak merubah apapun. Dia akan semakib beringas meneror keluarganya.
"Kau baik baik saja? tanya Kenzi memperhatikan Siena yang melamun.
"Ah, iya." Siena tersenyum lalu mencium kening putranya yang sedang memainkan tangannya.
Kenzi tahu, apa yang sedang di pikirkan Siena. "Jika kau mau, aku bisa batalkan."
Siena melirik ke arah Kenzi, "tidak perlu, aku mendukungmu sepenuhnya." Siena memeluk tubuh Helion.
"Baiklah sayang." Kenzi mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Siena cukup lama, lalu beralih mencium pipi Helion.
__ADS_1
"Kalian harta yang tak ternilai," ucap Kenzi tersenyum. Ia kembali merebahkan tubuhnya dengan memeluk putra dan istrinya.