
Suasana di kantor polisi sangatlah bising pagi itu. Orang orang keluar masuk dan suara telepon berdering. Rei dan Keenan duduk di kursi menunggu Marsya dan Inspektur untuk bertemu.
"Rei, Keenan!" Marsya menghampiri mereka sembari membawa dua gelas kopi. Marsya menawarkan mereka kopi dengan ramah.
"Aku sudah lama menunggumu, kau tahu bukan? aku tidak punya banyak waktu lagi tinggal di sini?" ucap Rei kesal menatap gelas kopi di tangannya.
"Ikutlah denganku," Marsya berjalan menuju salah satu ruangan interogasi untuk bertemu Inspektur. Marsya membukakan pintu untuk mereka berdua dan mempersilahkan untuk masuk ruangan.
Rei dan Keenan duduk di kursi yang berada di depan meja. Sementara Marsya duduk di kursi bersebelahan dengan Inspektur Sheila.
Rei menarik napas gusar menatap dua wanita di hadapannya. "Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan selama ini, tapi sedikitpun tidak ada kemajuan mengenai kasus Siena.."
Marsya meletakkan senuah file berisi aneka dokumen laporan penculikan Siena. "Kenzi dan jaringan Crips itu sangatlah tidak mudah yang kau bayangkan Rei."
"Kenzi dan jaringannya, selama ini polisi berusaha menangkap mereka semenjak bertahun tahun lalu..tetapi jaringan itu sangatlah licin dari pada yang kita duga selama ini," ucap Inspektur Sheila.
"Apa kau tidak melihat? apa kau begitu sulit menangkap mereka? bukankah kalian sudah tahu apa yang mereka lakukan? terutama Kenzi?" ucap Rei geram. Sementara Keenan masih diam tidak ikut bicara.
"Percayalah, kami akan segera menangkap Kenzi dan mengembalikan Siena ke tengah tengah kalian. Berdasarkan penyelidilan terjadi keretakan di antara mereka." Marsya menyodorkan beberapa foto ke hadapan Rei dan Keenan.
"Ini sangat mustahil, kalian bisa dengan mudah di kelabui mereka." Keenan akhirnya angkat bicara sembari menatap beberapa foto yang tak di kenali
"Sebaiknya kalian istirahat, serahkan kasus Siena kepada kami." Marsya berdiri menatap raut wajah Rei dan Keenan yang kelelahan.
"Tidak, aku akan ikut kalian dalam penangkapan kali ini," ucap Rei menatap tajam Marsya.
Marsya melirik ke arah Sheila, "itu akan menyulitkan kami, percayalah Rei.."
"Tidak, aku tidak akan diam saja." Rei ikut berdiri menatap ke arah Marsya.
"Baiklah, aku harap kalian tidak menyulitkan pekerjaan Marsya," ucap Sheila menyetujui. "Dengan begitu, kita bisa menangkap Siena dan memancing Kenzi keluar dari sarangnya."
Setelah mereka mendapatkan kesepakatan, Rei dan juga Keenan kembali ke rumah Marsya dan menunggu informasi selanjutnya.
****
__ADS_1
Kenzi tengah duduk di hadapan layar monitor, tiba tiba ponselnya berdering. Ia merogoh saku bajunya mengambil ponsel. Ponsel ia dekatkan ke telinganya.
"Halo," sapa Kenzi.
"Kau bermain main dengan api, Kenzi." Suara Livian terdengar di ponsel membuat Kenzi geram.
"Kau tidak perlu mencampuri atau mendikte hidupku, Livian. Aku tahu apa yang harus kulakukan." Kenzi mendengus kesal.
"Tentu saja, asal kau tahu Kenzi. Teman wanita itu telah melaporkanmu pada Polisi. Dan mereka sudah mengendus keberadaanmu. Jika kau tidak melenyapkan wanita itu. Jangan harap bos akan mengampunimu." Livian tertawa mencemooh membuat Kenzi semakin geram. Nada terputus dari sambungan telepon membuat Kenzi semakin tidak dapat menahan emosinya. Ia bergegas keluar ruangan menemui Samuel dan Yeng Chen.
"Kalian urus semua identitas, kita akan pergi dari sini dalam satu minggu ke depan." Kenzi menyerahkan dokumen pada Samuel.
"Baik bos!" sahut Samuel.
"Dan kau..pulanglah lebih dulu dan urus pekerjaan di Indonesia." Kenzi memerintahkan Yeng chen tanpa panjang lebar. "Setelah kau selesai, susul Yeng Chen secepatnya tanpa perlu menemuiku terlebih dulu."
"Siap bos!" sahut mereka serempak. Lalu mereka berdua meninggalkan rumah untuk mengerjakan tugas dari Kenzi.
Kenzi menarik napas dalam dalam, ia menatap mereka berdua. Ia tidak perduli lagi dengan ancaman Livian atau bos besar yang akan menyingkirkannya. Jika memiliki Siena adalah kesalahan terbesar dalam hidup dan pekerjaannya. Kenzi sudah tidak memperdulikannya lagi.
"Kau kenapa?" tanya Siena melihat raut wajah Kenzi merah padam.
"Tidak ada apa apa sayang," jawab Kenzi berjalan mendekatinya.
Siena berdiri dan menjauh dari Kenzi saat tangannya menyentuh dada Siena.
"Kau mau apa?" Siena mundur beberapa langkah dan bersandar di dinding.
"Kenapa kau menjauh?" Kenzi berjalan mendekat. "Kita akan segera pulang." Kenzi menatap bibir Siena yang merah merekah.
"Benarkah?" mata Siena berbinar saat mendengar kata 'pulang'.
Kenzi menganggukkan kepala cepat, ia mencium bibir Siena sekilas. Ia langsung memalingkan wajah dan mengusap bibirnya.
"Kenapa?" tanya Kenzi menatap Siena.
__ADS_1
"Kau bau alkohol," Siena mendorong tubuh Kenzi supaya menjauh. "Kau tahu, alkohol sangat buruk untuk kesehatanmu."
Kenzi tertawa mendengar kata kata Siena. "Bukankah itu bagus untukmu Siena? aku bisa lebih cepat mati?"
"Ya, itu benar. Tapi aku tidak mau kau mati seperti itu," jawab Siena.
Kenzi tersenyum sinis, menatap dalam wajah Siena, ia tahu betul kalau Siena ada perhatian terhadapnya meski terdengar menyakitkan. Tanpa banyak bicara, Kenzi langsung menggigit leher Siena dengan paksa. Terdengar erangan kesakitan dari bibir Siena.
Kenzi melepaskan gigitannya dan tertawa kecil saat melihat ada jejak merah di leher Siena.
"Apa?" Siena mengusap lehernya sendiri.
"Tidak ada," jawab Kenzi. Ia menundukkan kepala sesaat.
"Ada apa denganmu? katakan.."
"Siena.." ucap Kenzi menatap dalam wajah Siena.
Siena mengerutkan dahi menatap wajah Kenzi yang terlihat murung. "Katakan ada apa?"
"Aku punya hadiah untukmu." Kenzi berjalan keluar kamar. Siena hanya menatap bingung dengan sikap Kenzi.
Tak lama, Kenzi kembali dengan membawa kotak berwarna merah di tangannya. "Ini hadiah untukmu." Kenzi memberikan kotak itu pada Siena.
Dengan ragu ragu, Siena mengambil kotak berwarna merah dari tangan Kenzi. "Jangan kau buka sekarang, tapi bukalah kotak itu saat kau membutuhkannya."
"Kenapa harus nanti?" tanya Siena.
Kenzi mengusap pipi Siena dan menyelipkan rambut di telinganya, "karena sekarang kau tidak membutuhkannya, Siena."
Siena menarik napas kasar, ia menatap kedua bola mata Kenzi, mencari kesungguhan di matanya. Kenzi menganggukkan kepala. "Percayalah, suatu hari nanti kau akan membutuhkannya. Simpanlah selalu di dalam tasmu, Siena."
Kenzi menangkup wajah Siena dan mencium keningnya cukup lama. Setelah itu ia berlalu meninggalkan kamar Siena.
Siena terdiam menatap kepergian Kenzi dari kamarnya. Semenjak mereka menikah, Kenzi memegang teguh kata katanya untuk tidak menyentuh Siena, sampai ada penerimaan dari Siena sendiri. Dari waktu ke waktu, telah tertanam rasa percaya terhadap Kenzi. Meski Siena masih belum bisa menerima Kenzi sebagai suaminya.
__ADS_1
"Apa isi kotak ini?" gumamnya menatap kotak berwarna merah ditangannya. Ia memutuskan untuk tidak membuka kotak itu sesuai permintaan Kenzi.