
Memiliki Siena adalah hal yang berbeda dalam hidup Kenzi. Gadis itu telah memberikan warna yang berbeda sekaligus ketakutan. Jika dulu ia mampu menghadapi musuh dengan tenang. Sekarang ia harus berpikir dua kali jika bertindak sesuka hati. Ada Siena, gadis yang ia cintai. Bukan cinta yang membuat dia lemah. Tapi rasa takut yang besar telah melemahkan.
Kenzi menghisap cerutunya dengan gusar, sesekali ia terbatuk karena asap rokok yang di hisapnya. Sementara Samuel yang sedari tadi diam memperhatikan semua pergerakan dan kegusaran Kenzi, akhirnya ia memberanikan diri untuk bicara.
"Bos," ucap Samuel menundukkan kepala, ia tidak berani mengangkat wajahnya apalagi menatap mata Kenzi jika dalam keadaan marah.
Kenzi melirik sesaat ke arah Samuel, namun ia tidak bicara sepatah katapun. Ia hembuskan ke udara asap cerutu
"Katakan." Kenzi melirik ke arah Samuel.
Samuel menyodorkan ponsel milik Kenzi yang ada di atas meja, "Bos besar."
Tangan Kenzi terulur mengambil ponsel miliknya di tangan Samuel, matanya melirik sesaat ke arah Samuel. Lalu beralih menatap ponsel tertera 'Hernet'. Pria itu mendengus tersungging senyum samar di sudut bibirnya. Ponsel ia dekatkan di telinganya.
"Bos." Raut wajah Kenzi berubah menegang saat mendengar suara terkekeh di iringi suara tembakan.
"Bawa gadis itu, sekarang juga!" suara nada tinggi dari Bos besar seiring putusnya sambungan telpon. Ia masukkan ponsel ke dalam saku celananya. Matanya melirik ke arah Samuel.
"Jangan biarkan Siena pergi dari rumah, jangan bertindak ceroboh." Setelah bicara seperti itu. Kenzi berlalu dari hadapan Samuel menuju mobil yang terparkir di halaman. Samuel sendiri langsung masuk ke dalam rumah dan memberitahukan pada dua temannya.
Ditengah perjalanan Kenzi merasakan jantungnya berdebar debar tidak karuan, hatinya tidak tenang. Dudukpun menjadi gelisah berkali kali ia mengusap wajahnya sendiri.
***
"Pagi Pa.." sapa Siena.
Surya menoleh ke belakang, ia tersenyum seraya mengusap rambut Siena yang duduk di kursi sampingnya.
"Sarapan." Surya menyodorkan segelas susu hangat di hadapan Siena.
__ADS_1
"Terima kasih." Ia tersenyum melihat Surya lalu beralih menatap ke arah jendela. Nampak Samuel tengah berjalan mondar mandir di halaman sembari menelpon seseorang, Siena mengerutkan dahi. "Samuel berlari? ada apa?" Siena langsung berdiri hendak menghampiri, namun Surya menahan lengannya.
"Kau mau kemana? habiskan dulu susunya." Siena menoleh ke arah Surya. Ia menganggukkan kepala lalu kembali duduk. Baru saja Siena hendak mengambil gelas susu di atas meja. Satu peluru menembus kaca ruangan tempat Siena berada.
Seiring peluru melesat menembus kaca, Surya langsung menarik tangan Siena untuk merunduk ke bawah dan bersembunyi.
"Aaahk! jerit Siena sembari menutup kedua telinganya.
"Kau di sini! Papa ambil senjata!" pekik Surya berlari, setengah membungkuk untuk menghindari peluru nyasar.
Jantung Siena berdegup kencang, rasa takut mulai menguasai dirinya.Detik berikutnya ia teringat senjata api miliknya yang ada di dalam kamar. Ia menghela napas panjang mengumpulkan keberanian. "Aku bisa!" pekik Siena langsung berlari menaiki tangga menuju lantai dua rumah.
Sesampainya di dalam kamar, Siena langsung membuka lemari pakaiannya, tangannya gemetar membuka tas miliknya dan mengambil senjata api di dalam tas.
"Ini dia!" Mata Siena berbinar menatap senjata api di tangannya lalu menatap pintu kamar. Terdengar suara tembakan di semua sudut rumah. Suara Surya jelas terdengar di telinga Siena.
"Siena lari!"
Terdengar suara langkah kaki berlari mendekati pintu, Siena tubuhnya semakin gemetar berdiri terpaku menatap pintu kamar.
"Brakk!! pintu terbuka bersamaan ambruknya tubuh Surya.
" Papa! jerit Siena langsung berhambur, senjata api di tangannya terlepas dari tangan jatuh ke lantai. Ia mendekati Surya yang bersimbah darah. Namun seorang pria muncul dari balik pintu langsung menjambak rambut Siena lalu membenturkannya di pintu sebelum sempat ia melawan. Darah segar mengalir dari keningnya, mata gadis itu berkunang kunang saat pria itu menghempaskan tubuh Siena ke lantai. Kepalanya mulai pusing, namun ia masih bisa mendengar suara lirih Surya, "Siena lari.."
Ia berusaha membuka mata, di depan matanya pria itu menendang perut Surya hingga tak sadarkan diri. Air mata Siena berlinang di pipi bercampur dengan darah.
"Papa.." matanya menatap marah pria itu yang terkekeh mencemooh. Dengan segenap keberanian yang tersisa, Siena memalingkan wajahnya menatap senjata api miliknya yang tergeletak di lantai. Ia mencoba meraihnya, dengan tangan gemetar ia mengambil pistol lalu berdiri dengan langkah gontai ia arahkan senjata api pada pria itu. Matanya merah menyalang menatap pria itu yang tertawa mencemooh Siena, dia berpikir Siena tidak bisa menggunakan senjata api.
"Ini untuk Papa!" pekik Siena. Peluru melesat ke arah kening pria itu.
__ADS_1
"Dorr!!" seiring pria itu langsung ambruk di lantai tak bernyawa lagi. Siena berjalan tertatih mendekati pria itu dan menendang perutnya.
"Mati kau brengsek!!" Perlahan ia tertawa kecil hingga terbahak bahak, "kau pikir aku lemah!"
Suara tawa Siena menyadarkan Surya, ia membuka mata perlahan menatap ke arah pria yang tergeletak di lantai, lalu beralih menatap Siena yang tengah tertawa terbahak bahak menegang senjata api.
"Siena.." ucap Surya lirih. Ia berusaha bangun dan berdiri menatap tajam ke arah Siena. Ia tidak melihat putrinya yang lugu dan lembut. Tapi kali ini Surya melihat seorang wanita pencabut nyawa. "Siena."
Siena menoleh ke arah Surya, perlahan ia berhenti tertawa dan berlari mendekati Surya, "Papa.."
"Kau putriku, bukan monster!" pekik Surya. Siena mundur selangkah menatap Surya.
"Aku tahu Pa, tapi mereka jahat!" matanya berkaca kaca. Lalu ia berlari keluar kamar dengan senjata api di tangannya.
"Siena!" Surya berjalan tertatih menyusul Siena keluar kamar. Surya tertegun melihat putrinya menembaki musuh musuh yang merangsek masuk ke dalam rumah. Sementara Samuel dan dua pengawalnya mati matian menghalau musuh. Ia bisa melihat dengan jelas, Siena melindungi Samuel dan akira yang sudah terluka parah. Sementara Yeng Chen dalam cengkraman Livian.
Livian tertawa terkekeh menatap ke arah Siena, sementara senjata apinya ia arahkan di pelipis Yeng Chen. "Buang senjatamu, gadis liar!"
Siena balas menatap tajam Livian dengan raut wajah menakutkan. Ia berjalan perlahan mendekati Livian. "Buang senjatamu!" pekik Livian.
"Kenapa? kau takut?" ucap Siena mencemooh.
"Turunkan senjatamu Livian!"
Livian menoleh ke arah Kenzi yang sudah berdiri di sampingnya dengan senjata api mengarah kepadanya. "Kau?" Livian mulai menciut nyalinya, matanya melirik waspada ke arah Siena dan Kenzi bergantian. Kali ini ia harus mengakui, jika wanita yang ingin dilenyapkannya bukan lagi wanita lemah seperti yang dia pikirkan. Dengan sigap Livian mendorong tubuh Yeng Chen ke arah Kenzi. Lalu ia menembak punggung Yeng Chen hingga terhuyung ke pelukan Kenzi.
Sementara Siena tak mau tinggal diam, ia menembak bahu Livian dua kali berturut turut. Livian sudah kebal, meskipun ia tertembak namun ia masih sempat melarikan diri. Siena langsung membuang senjata apinya ke lantai lalu ambruk tak sadarkan diri.
"Siena!" ucap Kenzi dan Surya secara bersamaan berhambur mendekatinya. Kenzi mengangkat tubuh Siena ke pangkuannya. Ia menatap seluruh ruangan yang hancur berantakan. Tiga anak buahnya dan yang lain terluka parah. Mayat bergelimpangan di lantai rumah dengan bau anyir darah yang menyengat hidung.
__ADS_1
"Kalian urus yang lain!" perintah Kenzi pada dua anak buahnya yang masih selamat. Sementara dia dan Surya membawa Siena ke kamar.