
Sudah tiga hari Kenzi jarang ada di rumah, ia sibuk mengurus kepindahannya ke Negara lain. Hal itu bisa di pergunakan Siena untuk melarikan diri, terlebih penjagaan terhadap dirinya sedikit berkurang. Entah apa yang ada di dalam pikiran Kenzi, hingga ia memberikan sedikit kebebasan untuk Siena bergerak di dalam rumah. Tidak selalu harus berada di dalam kamar yang terkunci.
Meskipun begitu, ia tidak dapat pergi keluar rumah meski hanya di teras. Penjagaan ketat tetap di lakukan di luar rumah dengan pintu keluar selalu dalam terkunci.
Siena duduk termenung di kamarnya, ia bermalas malasan di atas tempat tidur. Untuk apa keluar kamar jika tidak di perbolehkan keluar rumah, pikirnya.
Ia termenung menatap langit langit kamar, teringat akan Ibunya, Hana. Seorang ibu akan menatap putra atau putrinya di kala tidur. Seorang Ibu akan melakukan apa saja demi anaknya. Seorang Ibu rela terluka dan menderita demi anaknya. Seorang Ibu akan menjadi seorang ayah sekaligus jika di perlukan. Seorang Ibu tiada batas kasih sayang yang di berikan untuk anaknya. Tapi Hana? Ibunya sendiri telah menjual putrinya sejak bayi pada seorang pria tak di kenal. Namun walau bagaimanapun, Hana tetaplah Ibunya. Siena seringkali merindukan dan menyayangi Hana sampai akhir ajal menjemput.
Tak terasa Siena pun tertidur pulas hingga sore menjelang. Ia terbangun saat mendengar suara ribut ribut dari lantai dasar rumah Kenzi. "Ada apa di luar?" gumam Siena.
Samar samar ia mendengar seseorang memanggil Dokter ke rumah. "Siapa yang sakit?" Siena turun dari atas tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Dari lantai atas ia melihat ke bawah, beberapa anak buahnya mondar mandir dari dalam keluar rumah. Nampak seorang Dokter pria berjalan tergesa gesa di antar oleh dua pria kekar menuju kamar pribadi Kenzi.
"Kenzi sakit?" pikir Siena. "Syukurlah, mati sekalian," ucap Siena kesal.
Cukup lama Siena tertegun, akhirnya ia memutuskan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan Kenzi. Ia perlahan berjalan menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Sesampainya di depan kamar Kenzi, ia bertanya pada salah satu anak buah Kenzi yang bernama Sandi. "Ada apa dengan Kenzi?" tanya Siena menatap ke arah pintu yang tertutup.
"Tuan Kenzi tertembak non.." jawab Sandi.
"Tertembak? siapa yang menembak Kenzi?" tanya Siena lagi.
"Sebaiknya nona kembali masuk ke kamar, saya khawatir tuan Kenzi marah." Sandi menundukkan kepala sesaat.
"Tidak apa apa, aku ingin tahu keadaannya," jawab Siena sembari duduk di kursi.
Tiga puluh menit berlalu, Siena masih duduk menunggu di depan pintu. Menit berikutnya suara pintu kamar di buka dari dalam. Dokter keluar dan memberitahu Siena, peluru yang bersarang di bahu Kenzi telah di angkat.
"Bagaimana keadaan dia Dok?" tanya Siena.
"Silahkan kau lihat sendiri ke dalam, nona Siena," jawab Dokter pribadi Kenzi.
"Baik Dok.." Siena melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Ia melihat Kenzi tengah duduk di atas tempat tidur menatap ke arah Siena.
Perlahan Siena berjalan mendekati Kenzi dan duduk di kursi, "bagaiamana keadaanmu? sudah lebih baik?" tanya Siena.
__ADS_1
Kenzi tersenyum sinis menatap tajam Siena, "bukankah ini yang kau inginkan? jika aku mati, kau akan bebas?" jawab Kenzi.
"Ya, kau benar..aku memang menginginkan itu. Tapi tidak ada salahnya jika aku bertanya bukan?"
"Kau benar." Kenzi tertawa kecil, perlahan ia turun dari atas tempat tidur.
Dengan reflek, Siena memegang lengan Kenzi dan membantunya untuk turun dari atas tempat tidur, "apa kau butuh sesuatu? biar aku ambilkan."
Sejenak Kenzi terdiam menatap wajah Siena, "apa?" tanya Siena tidak mengerti.
"Apakah kau mulai menyukaiku, Siena?" tanya Kenzi balik.
Siena langsung menarik kembali tangannya dari lengan Kenzi. Ia menggeleng cepat, "tidak!"
Kenzi tertawa melihat raut wajah Siena yang tersipu malu, "dasar wanita!" sahut Kenzi menggelengkan kepala. Ia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar. Sementara Siena diam terpaku di tepi tempat tidur.
"Sandi, Diego! kalian cari tahu siapa dalang di balik penyerangan tadi!" seru Kenzi memberi perintah.
Sementara Kenzi pergi menuju ruang kerjanya. Ia duduk di depan layar monitor dan mengakses sebuah nama. Tatapan mata Kenzi fokus menatap layar monitor.
"Adrian?!" ucap Kenzi terkejut. "Kalau kutahu, kau akan seperti ini. Dari dulu aku akan mekenyapkanmu." Kenzi menggebrak meja kerjanya. Ia geram setelah mengetahui kalau Adrian telah sukses membangun sindikat baru dengan menjual obat obatan dan senjata ilegal. Yang membuat Kenzi terkejut, ternyata di balik penembakan itu ada Adrian. Orang yang selama ini ia percaya dan pernah Kenzi ampuni saat Adrian melakukan penjualan obat obatan terlarang. Meskipun ia seorang mafia tapi di balik karakter Kenzi. Dia paling benci dengan obat obatan terlarang yang merusak manusia.
Kenzi langsung teringat akan masa lalunya. ia menyaksikan ayahnya yang pemabuk dan gila judi telah menghancurkan hidup ibu dan adik perempuannya. Bukan tanpa alasan mengapa Kenzi seperti ini.
Ia menghela napas panjang, bangkit dari kursi. Sesaat ia mematikan layar monitor, lalu melangkahkan kakinya kembali ke kamar pribadinya. Saat ia membuka pintu kamar, Kenzi mendapati Siena tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Perlahan ia mendekati Siena, "rupanya kau masih di sini menungguku," gumamnya.
Kenzi menarik selimut untuk menutupi tubuh Siena, sementara dia sendiri beristirahat di sofa.
***
Sementara di tempat lain, Rei juga Keenan tengah duduk di teras rumah. Mereka sedang mencari ide untuk membebaskan Siena.
"Kita masih punya waktu Rei, untuk pindah ke Negara lain membutuhkan waktu berhari hari sampai surat suratnya selesai," ucap Keenan.
__ADS_1
"Yang aku khawatirkan, kita sudah kehabisan ide," jawab Rei kesal pada dirinya sendiri.
"Lalu, kita harus bagaimana lagi?" tanya Keenan.
Sejenak Rei terdiam, ia berpikir keras untuk mendapatkan ide. "Aha!" seru Keenan.
Rei mengerutkan dahi menatap Keenan, "kenapa?"
"Aku dapat ide!" sahut Keenan.
"Apa?" tanya Rei, ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Keenan.
"Kita awasi rumah Kenzi atau club miliknya, kapan mereka keluar membawa Siena. Di saat itulah kesempatan kita untuk membawa lari Siena dengan perhitungan dan perencanaan yang lebih matang lagi," jelas Keenan.
"Kau yakin?" tanya Rei.
Keenan diam sesaat, "tidak.." ucapnya.
Rei menepuk keningnya sendiri, " oh ya ampun.'
"Tapi kita harus mencobanya Rei..kalau kita hanya memikirkan tanpa ada tindakan, mana tahu kalau ide kita akan berhasil," ucap Keenan menyemangati diringa sendiri.
"Kau ada benarnya juga, Ken..tapi..?"
"Tapi apa?" potong Keenan.
"Apa kau tahu, dimana Kenzi menyembunyikan Siena sekarang?" tanya Rei.
"Kalau tidak ada di club, berarti di rumahnya si Kenzi." Keenan menatap bingung Rei.
"Sebaiknya kita selidiki malam ini juga," ucap Rei.
"Aku setuju, ayo berangkat!" sahut Keenan berdiri di susul Rei. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyelidikinya di club milik Kenzi.
__ADS_1