The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 76: Cruel


__ADS_3

Marsya menghempaskan tubuhnya di kursi, Ia lelah dalam tekanan Inspektur Sheila, secara tidak sengaja ia mengerahui keterlibatan atasannya dengan Crips. Meskipun berkali kali ia memberitahu pihak kepolisian tentang keterlibatannya. Tetapi yang Marsya dapatkan hanyalah tekanan lain dari atasanya.


Diam diam Marsya telah mengumpulkan informasi tentang outfit. Kabar yang berkembang tentang Kenzi dan Crips organisasi kriminal dan keterlibatannya. Marsya tahu di mana para pecandu itu mendapatkan obat obatan terlarang dan ia juga tahu di mana senjata itu di selundupkan. Kini Marsya mengantongi itu semua dan di mana keberadaan Kenzi juga Siena. Ia tidak bekerja sendirian selama ini, di ketahui Rei dan juga Keenan sahabat Siena ikut membantu pekerjaan Marsya. Selama ini ia menghubungi mereka berdua untuk kembali ke Honglong dengan kemudahan yang ia berikan sekarang Marsya, dan dua sahabat Siena telah bekerjasama dengan kepolisian.


Sudah sejak lama pihak kepolisian mengincar organisasi itu. Tetapi organisasi itu semakin lama tambah berkembang dan sulit untuk di tangkap karena ada perlindungan dari pihak tertentu yang berkuasa. Marsya dan dua sahabat Siena tahu, di mana mereka mendapatkan informasi itu.


Salah satu Club terbesar yang mereka miliki Dragonfly. Dan malam ini mereka tahu, jika Kenzi dan Siena ada di club itu.


Marsya bangun dari duduknya dan menghampiri Rei dan juga Keenan. Mereka tengah berdiri di halaman rumah menunggu Marsya untuk secepatnya ke club. Sebelum pertemuan itu selesai dan bos besar dari organisasi itu pergi. Mereka akan kesulitan untuk mendapatkan mereka lagi.


Marsya dan dua temannya Siena memilih bergegas, matahari mulai tenggelam dan mereka memilih lebih awal datang.


***


'Klik!


Mata Siena melihat senjata api di tangan Kenzi mengarah padanya, "Kenzi." Siena membulatkan matanya. "Aku mohon."


"Apa kau bilang?" Bos besar dan Livian seperti mengejek. "Cepat selesaikan Kenzi, gadis ini tak berguna. Untuk apa kau melindunginya dan mempertaruhkan pekerjaan dan pertemanan kita." Bos besar dan Livian menatap raut wajah Kenzi yang tak terbaca.


"Jika kau memilih pekerjaanmu, lakukan," ucap Siena dengan mata berkaca kaca. Saat ini Siena memang tidak punya pilihan, selain membiarkan Kenzi melaksanakan perintah bosnya. Dari pada keberadaannya menjadi penghalangnya.

__ADS_1


"Lakukan!" pekik Livian di iringi tertawa terkekeh. Sementara bos besar asik menghisap cerutunya menyaksikan adegan.


Siena tubuhnya bergetar bukan karena lapar, tapi pria yang selama ini menginginkannya tengah mengarahkan senjata api dan menggenggam erat lengan Siena. Namun detik berikutnya, Kenzi mengalihkan pandangannya ke arah bos besar bersamaan senjata api yang ia arahkan di kepala bos besar.


"Aku sudah bilang padamu, jangan pernah menyentuh istriku, apa kau tuli?" ucap Kenzi terbentuk senyum di sudut bibirnya. Kenzi rela melakukan apa pun saat ini, saat nyawa Siena berada di ujung tanduk. Namun di saat bersamaan Livian mengarahkan senjatanya di kepala Kenzi, saling tatap diantara ketiganya dengan kewaspadaan penuh memperhatikan setiap gerakan Kenzi ataupun sebaliknya.


seseorang menarim tangan Siena menjauh dari Kenzi dan dua penjahat kelas kakap. Kenzi menoleh ke arah Siena yang sudah berada di antara Rei dan Keenan. Tanpa membuang waktu Livian menyarangkan sebuah tinjuan ke kepala Kenzi hingga tersentak ke belakang dan Siena memekik kencang. "Hentikan!!


Kenzi tertawa mencemooh lalu meludahkan darah dari mulutnya. " Aku tidak akan merubah keputusanku Livian." pria itu meringis merasakan sakit. "Kesabaranku mulai hilang, aku tidak mungkin membunuh istriku sendiri." Kenzi tertawa sinis di hadapan Livian dan bosnya.


"Apa?" Rei menatap ke arah Siena. "Benarkah yang di katakan pria gila itu?!"


"Rei, aku.." Siena tidak melanjutkan ucapannya saat bos besar dan Livian menendang dan memukul Kenzi dengan balok hingga tak sadarkan diri, sementara Kenzi hanya diam tanpa perlawanan.


"Siena." Bahkan dengan wajah lebam membiru Kenzi masih bisa tersenyum melihat Siena. "Aku mencintaimu."


Namun Livian menarik tangan Siena untuk menjauh dari Kenzi, Siena tetap berusaha melindungi tubuh Kenzi yang sudah babak belur demi melindunginya


"Menyingkir darinya! Livian lagi lagi tertawa sinis saat melihat Siena berusaha melindunginya. Ia lalu mengeluarkan senjata api dan mengarakan pada Siena dan Kenzi.


"Brengsek! apa yang sudah kau lakukan! pekik Rei, ia berjalan mendekati Siena dan menarik paksa Siena menjauh dari Kenzi yang tengah kesakitan.

__ADS_1


" Kau sudah membuat Siena menderita, sekarang kau meminta perlindungan, brengsek!"


"Rei, cukup!' Siena mengguncang lengan Rei dengan air mata berlinang. " Dia tidak seperti yang kau pikirkan!" tangannya menunjuk ke arah Kenzi menatap wajah pria itu tersenyum padanya.


Kenzi terbatuk, "bawa pergi istriku," Kenzi terbatuk lagi menatap ke arah Rei.


"Tidak!" pekik Siena berlari ke arah Kenzi dan memeluknya erat.


"Kalian berdua harus mati!" Livian menatap bos besar sesaat, lalu ia menarik pelatuknya, menyarangkan sebuah tembakan ke tubuh Siena. Matanya yang sudah terlatih menghadapi perang jalanan dengan reflek Kenzi membalik tubuh Siena ke bawah tubuhya.


"Dor!!


Tembakan itu tepat mengenai punggung Kenzi. Namun Livian kembali menembak punggung Kenzi tiga kali berturut turut. Kenzi tersenyum, ia tidak memperdulikan yang lainnya lagi, ia hanya melihat satu wajah. Tak ada yang lain selain Siena, bersamaan dengan tumbangnya Kenzi dengan di warnai merah darah memercik di lantai dansa dan membasahi pakaian Siena yang hanya diam terpaku tak bergeming dengan mulut menganga menatap wajah pria yang selama ini gadis itu membencinya.


Livian dan bos besar tertawa terkekeh mencemooh, menatap garang Siena. " Selesaikan satunya lagi." Bos besar memberikan perintah pada Livian.


"Tidak! Kenzi!" jerit Siena memeluk tubuh Kenzi, namun bos besar menarik tubuh Siena menjauh dari Kenzi.


Rei dan Keenan yang sedari tadi diam memperhatikan pertunjukan langsung berlari dan menghajar Livian secara bersamaan sebelum dia melenyapkan Siena. Rei dan Keenan meninju perut Livian, membuatnya mengerang kesakitan Livian membalas tinjuan Rei dan Keenan tepat di ulu hati. Mereka tahu, tidak akan menang melawan Livian.


"Brengsek!" Rei dan Keenan berusaha mengeluarkan semua tenaga untuk melawan Livian, namun usahanya sia sia. Dua pria berbadan kekar maju dan menghantam Rei dan Keenan hingga terjungkal dan ambruk di lantai dansa club.

__ADS_1


"Katakan selamat tinggal pada suami dan dua sahabatmu," bisik bos besar di telinga Siena. Gadis itu hanya diam menatap tajam ke arah dada Kenzi yang masih naik turun bernapas walau pelan. ia menyunggingkan senyum samar mengetahui Kenzi masih hidup. Lalu mengalihkan pandangan pada Rei dan Keenan yang tak sadarkan diri, sebelum akhirnya Livian dan bos besar menyeret paksa tubuh Siena meninggalkan lantai dansa


__ADS_2