The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 66: Trapped


__ADS_3

Dua hari pasca di rawat, akhirnya Siena di perbolehkan pulang. Marsya membawa Siena ke rumahnya bersama dua sahabatnya dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian.


"Bagaimana keadaanmu hari ini Siena?" Rei duduk di kursi berhadapan dengan Siena yang terdiam dengan tatapan kosong.


"Siena, sudahlah..kau jangan memikirkan pria jahat itu." Keenan menggeser duduknya di sebelahnya.


"Aku ingin pulang.." ucap Siena lirih. Ia menundukkan kepala.


"Kita tunggu konfirmasi dari Marsya terlebih dahulu." Rei menyodorkan segelas air di hadapan Siena.


Di tengah perbincangan mereka, Marsya mengetuk pintu lalu membuka pintu dan menghampiri mereka.


"Marsya.." Rei mempersilahkan Marsya untuk duduk di kursi.


"Terima kasih.." Marsya duduk di kursi memperhatikan Siena. "Bagaimana keadaanmu Siena? apa kau sudah lebih baik?" tanya Marsya.


Namun Siena hanya diam, ia tidak ingin bicara dengan siapapun. Apalagi dengan pihak polisi, berkali kali Marsya menginterogasi Siena. Namun mereka tidak mendapatkan keterangan apapun dari Siena.


"Besok kami akan mengantarkan kalian ke Bandara," ucap Marsya menatap mereka bergantian.


"Jadi? kau sudah mengizinkan kami pulang?" Keenan matanya berbinar.


"Tentu, kalian bersiap siap saja." Marsya berdiri. "Besok, aku jemput kalian." Marsya berdiri lalu ia balik badan kembali keluar rumahnya untuk bertugas.


"Siena, apa kau dengar? kita akan pulang besok." Keenan menyentuh bahu Siena.


Siena melirik sesaat ke arah Keenan, ia berdiri dan melangkahkan kakinya memasuki kamar. Ia berdiri di depan jendela kamar menatap beberapa polisi yang berjaga di luar rumah.


"Kenzi tidak akan membiarkanku pergi..dia tidak akan melepaskanku..aku tahu itu..dan dia sedang mengawasiku di luar rumah ini."


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Marsya dan anggotanya menjemput Siena dan dua sahabatnya, mereka mengawal kepulangan Siena dan du sahabatnya itu. Namun di balik pengawalan yang di berikan Marsya, pihak kepolisian sengaja untuk menjadikan Siena umpan untuk menangkap Kenzi.


Sesampainya di Bandara, mereka langsung keluar dari pintu mobil. Sementara beberapa anggota kepolisian termasuk Marsya memperhatikan dari jarak yang lumayan dekat. Mereka bersembunyi di beberapa titik.


Baru saja beberapa langkah, dari arah lain sebuah motor berhenti tepat di depan mereka. Salah satu pria yang duduk di belakang motor itu turun dan menarik Siena dan membawanya naik ke atas motor.


Kejadian yang tiba tiba membuat Rei dan Keenan belum sempat melakukan satu tindakan. Setelah menyadari Siena di bawa pria itu naik motor. Rei dan Keenan berlari mengejar motor itu.


"Siena!!" Rei berteriak sembari berlari. Namun usaha mereka sia sia. Rei dan Keenan langsung masuk ke dalam mobil yang berhenti di depannya. "Siena di culik!" seru Keenan menutup pintu, lalu menoleh ke arah Marsya yang mengeluarkan senjata api.


Sementara dua pria yang membawa Siena melajukan motornya ke arah jalan raya, di kejar oleh mobil dari pihak kepolisian. Aksi kejar kejaran di jalan raya pun terjadi. Pihak kepolisian menembaki motor yang membawa Siena. Begitu pula pria yang duduk di belakang memeluk Siena erat dengan satu tangan menembaki mobil polisi.


Sampai di ujung jalan, pria yang membawa Siena memutar arah melalui jalan setapak yang menurun. Sehingga mobil pihak kepolisian tidak bisa mengejar lewat jalan itu. Rei dan Keenan juga Marsya keluar dari pintu mobil menatap mereka yang terus melajukan motornya melalu jalan yang curam dan menurun.


"Bagaimana ini, kenapa kau diam saja. Kejar mereka! seru Keenan turun ke jalan yang menurun. Namun Marsya mencekal lengan Keenan untuk tidak meneruskan langkahnya.


"Percuma kau mengejarnya! ucap Marsya menarik mundur lengan Keenan.


"Kenzi, itu pasti Kenzi." Marsya menatap kesal ke arah jalan setapak.


"Lalu kita harus bagaimana? diam saja begitu?' tanya Keenan marah.


" Tidak, kita akan memyusuri jalan itu menggunakan motor. Kalian tunggu saja.'


Marsya langsung menelpon pusat kantor Kepolisian untuk mengabari mereka. Dia juga memerintahkan yang lain untuk mengejar pria yang menculik Siena menggunakan motor.


***


Sementara dua pria yang membawa Siena, menepikan motornya tepat di halaman rumah Kenzi. Pria yang duduk di belakang yang tak lain Kenzi sendiri langsung turun dari atas motor. Ia membuka helmnya dan mengangkat tubuh Siena turun dari atas motor. Siena hanya diam menatap marah ke arah kenzi lalu beralih menatap pria satunya lagi yang tak lain adalah Yeng Chen.


"Ayo masuk.." Kenzi langsung menggendong Siena memasuki rumahnya menuju kamar yang biasa Siena tempati.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak membiarkan aku pulang Kenzi?" Siena mendengus kesal menatap Kenzi.


"Kita pulang Siena, tapi kau harus tetap bersamaku. Bukan dengan pria yang bernama Rei!" Kenzi jongkok di hadapan Siena yang duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa?" tanya Siena.


"Apakah kau lupa? kau istriku, milikku. Tidak boleh ada satu pria pun yang boleh dekat denganmu Siena." Kenzi memegang tangan Siena dan meremasnya pelan.


"Mereka sahabatku Kenzi, kenapa kau cemburu terhadap mereka?" Siena menepis tangan Kenzi.


Ia berdiri dan mengangkat tubuh Siena, dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Kau mau apa?" Siena berusaha bangun dan mendorong tubuh Kenzi.


"Aku tidak suka melihat kau bergandengan tangan dengan pria itu Siena," Kenzi menatap wajah Siena dalam dalam.


"Tapi, aku tidak melakukan apa apa. Kau lihat sendiri bukan?" Siena berusaha untuk turun dari atas tempat tidur. Namun Kenzi menarik tangannya.


"Tetap di sini bersamaku, aku tidak mau kau jauh dariku." Kenzi memeluk tubuh Siena erat. Siena hanya diam membiarkan Kenzi memeluknya, ia bisa mendengar detak jantung Kenzi dan desahan napasnya di wajah Siena. Ada rasa yang tak biasa, Siena merasakan ketenangan saat dalam pelukan Kenzi.


"Bisakah kau lepaskan pelukanmu? aku kesulitan bernapas." Siena tenadahkan wajahnya menatap Kenzi.


"Maaf, aku hanya takut kehilanganmu." Kenzi melepaskan pelukannya menatap Siena yang tiba tiba saja tertawa. "Kenapa?" tanya Kenzi.


"Kau itu lucu, pekerjaanmu saja bermain main dengan maut. Kenapa tiba tiba kau berubah menjadi pengecut?" cibir Siena.


Kenzi tersenyum tipis, ia menundukkan kepala sesaat. Tanpa bicara atau berniat membantah kata kata Siena. Ia langsung turun dari atas tempat tidur. Sesaat ia menatap wajah Siena lalu ia berbalik melangkahkan kakinya keluar kamar, meninggalkan Siena yang termangu menatap perubahan sikap Kenzi.


"Aneh, kenapa lagi dia?" gumam Siena.


Ia mengangkat kedua bahunya, lalu turun dari atas tempat tidur. Ia berjalan keluar menyusul Kenzi untuk menastikan kalau ia baik baik saja. Langkah Siena terhenti di depan pintu kamar Kenzi yang terbuka. Siena mengintip di balik celah pintu. Ia melihat Kenxi tengah duduk di sofa tengah bicara dengan Yeng Chen. Ia bisa mendengar kata kata Kenzi yang terakhir dan membuatnya terenyuh.

__ADS_1


"Aku sangat menyukai kegelapan, dengan kegelapan aku bisa berbuat bebas sesuka hati. Tapi..semenjak aku melihat cahaya kecil dari wajah Siena..aku kehilangan kegelapanku."


__ADS_2