
Sabtu pukul 21:00.
Marsya sudah siap, ia menggunakan celana jeans ketat dan jaket berwarna hitam. Sedangkan Rei dan Keenan hanya menggunakan jaket biasa saja.
"Kalian sudah siap?" tanya Hana, ia meremas tangannya sendiri karena cemas.
"Siap tante," jawab mereka serempak.
"Tante do'a kan kalian berhasil dan pulang dengan selamat," ucap Hana bergetar suaranya.
"Berdoa saja tante.." jawab Rei.
"Kalau begitu, kami pamit tante.." Marsya memeluk sesaat Hana. Lalu mereka beranjak keluar rumah di antarkan sampai teras depan.
Marsya dan yang lain masuk ke dalam mobil. Sementara di mobil lain sudah menunggu tiga pria temannya Marsya untuk membantu mereka.
Hana berdiri terpaku menatap dua mobil yang melaju meninggalkan rumahnya.
"Ya Tuhan..lindungi mereka," ucapnya pelan.
***
Tiga puluh menit berlalu akhirnya mereka sampai di halaman club Dragon Night. Marsya dan Rei masuk ke dalam Club. Sementara Keenan mengikuti dari belakang bersama tiga pria temannya Marsya.
Rei berjalan bersama Marsya, mereka memperhatikan seluruh ruangan lantai dansa, suara mudik Dj terdengar mengentak entak dan aroma nikotin menguar terasa menyengat di hidung. Rei berjalan di antara orang orang yang tengah menari di lantai dansa di ikuti Marsya. Langkah mereka terhenti tepat di depan dua pria kekar bertato menghadang langkah mereka.
"Mereka orangnya bos," ucap pria berkepala botak pada temannya.
Pria itu mengangguk, memperhatikan Rei dan Marsya. "Ikut kami!"
Dua pria itu berjalan mendahului Rei dan Marsya. Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong club. Langkah mereka terhenti di depan sebuah gudang kosong berukuran luas. Nampak seoramg pria berambut panjang, menggunakan kaos putih. Dia berjalan dengan santai menatap Rei dan Marsya.
"Mana barangnya?" tanya pria itu pada mereka berdua.
Rei memperhatikan sekitar dengan penuh kewaspadaan, ia membuka jaketnya lalu ia mengambil paket yang ia selipkan di balik jaket.
__ADS_1
Pria itu mengambil paket di tangan Rei, lalu ia membukanya perlahan. Pria itu melirik tajam ke arah Rei dan Marsya, ia memberikan kode pada anak buahnya yang berjajar untuk memberikan koper berukuran kecil pada Rei.
Rei dan Marsya memperhatikan dengan penuh kewaspadaan saat pria itu mendekat membawa koper. Saat Rei akan mengambil koper dari tangan pria itu, detik berikutnya pria itu langsung menerjang perut Rei hingga terjungkal ke belakang. Marsya yang berdiri di sampingnya dengan sigap membangunkan tubuh Rei dan membalas dengan meninju wajah pria itu menggunakan tangan kosong.
"Habisi mereka!" seru pria yang mengambil paket dari tangan Rei.
Beberapa pria langsung maju menggunakan barang barang tajam untuk menghabisi Rei dan Marsya. Akhirnya terjadi perkelahian di depan gudang Itu. Tepat bersamaan Keenan dan tiga temannya Marsya datang membantu. Pertarungan yang imbang membuat kubu Crips menggunakan senjata api untuk menghabisi Rei dan yang lain. Beruntung Marsya sudah mempersiapkannya dengan matang. Ia juga membawa senjata api yang di sembunyikan di balik pinggangnya.
"Dorrrr!!"
Suara letusan terdengar di udara, bersamaan geng dari kubu lawan datang menyerbu. Cara mereka mirip dengan tawuran. Mereka sengaja mengecoh lawan supaya tidak kalah atau tertangkap pihak kepolisian yang membuat sindikat itu bebas melenggang.
Rei yang mewaspadai segala hal kemungkinan bersama Marsya. Mereka berdua berhasil merebut koper yang berisikan uang dari tangan pria itu. Sementara Keenan masih berusaha keluar dari tengah tengah pertarungan.
"Rei! cepat kalian pergi! biar aku dan yang lain atasi mereka! seru Keenan sembari menendang dan memukul lawan.
"Tidak! kita pulang sama sama! pekik Rei, ia mengambil balok yang tergeletak di tanah lalu ia pukulkan pada musuh musuh.
" Kalian cepat pergi, waktunya sudah mepet. Biar aku atasi mereka!" ucap Marsya.
Tiba tiba terdengar suara sirine dari mobil Polisi yang berpatroli. Lampu mobil yang mengarah pada geng Crips langsung berhamburan melarikan diri. Semenatar Rei dan yang lain bersembunyi di balik tembok. Detik berikutnya mereka berlari ke arah bdlakang gudang menuju lahan kosong.
" Keenan ayo cepat! seru Rei.
Mereka terus berlari hingga sampai di tepi jalan raya. "Rei jam berapa sekarang? tanya Keenan.
Rei melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 00:00. " Satu jam lebih tiga puluh menit lagi! pekik Rei.
"Ayo ayo!" Keenan berlari bersama Rei untuk kembali ke club mengambil mobil mereka. Namun langkah mereka terhenti saat Marsya sudah berhasil membawa mobil dari club.
"Ayo cepat masuk!" seru Marsya.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil dan meluncur ke club milik Kenzi.
"Akhirnya kita berhasil membawa uang ini," ucap Keenan mengusap dadanya.
__ADS_1
"Marsya tolong cepat sedikit! seru Rei.
" Oke! sahut Marsya.
Tiba tiba dari arah belakang, dua mobil Polisi yang tengah berpatroli mengejar mobil mereka.
"Gawat, polisi mengejar kita!" seru Keenan ia menatap mobil polisi dari balik kaca mobil.
"Kita memutar arah, jangan ke kanan. Kau ambil ke kiri Marsya!" ucap Rei memberikan petunjuk jalan. Marsya memutar balik arah mobil menuju jalan sepi. Namun sayang, sesampainya di ujung jalan. Mereka mendapati jalan itu buntu karena tengah di perbaiki.
"Bagaimana ini!" pekik Marsya panik.
"Tenang, kita ambil jalan kampung saja. Ayo cepat!"
Marsya kembali memutar arah mobilnya, mengambil jalan sempit dan berbatu. Tapi dengan keahliannya mengendarai mobil, Marsya berhasil sampai di jalan raya lagi dengan cepat.
Rei mrlirik jam tangannya, yang menunjukkan pukul 01:00. "Kita pasti berhasil kali ini," ucap Rei menoleh ke belakang menatap Keenan yang menyandarkan tubuhnya di kursi sembari menutupi wajahnya dengan tangannya.
"Kau kenapa?" tanya Rei.
"Aku pusing!" sahut Keenan. Rupanya Keenan mual mual akibat Marsya melajukan mobinya dengan kecepatan tinggi.
Rei tertawa kecil, ia kembali fokus ke jalan. Nampak di depan mobil patroli sedang menepi. Dan salah satu anggota polisi memberhentikan mobil yang di kendarai Marsya. Marsya menepikan mobilnya lalu ia membuka kaca jendela.
"Selamat malam bu..boleh kami melihat surat surat kendaraan ibu?" tanya Pak Polisi.
Marsya langsung mengeluarkan surat surat mobil miliknya lalu ia berikan pada Pak Polisi. Selama pak Polisi memeriksa kelengkapan kendaraan. Rei berkali kali melirik jam tangannya. Ia sangat gelisah begitu juga Keenan.
"Terima kasih bu, semua lengkap.
silahkan jalan dan jangan ngebut. Selamat malam."
"Malam pak." Marsya menganggukkan kepala sesaat. Ia kembali menutup kaca jendela dan menjalankan kembali mobilnya. Saat ia merasa sudah jauh dari pengawasan Polisi. Marsya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lagi lagi Keenan merasa mual mual.
"Jangan sampai kita terlambat barang satu menit," ucap Rei.
__ADS_1
Marsya menganggukkan kepala, ia melirik ke arah Rei sesaat. Ada rasa kagum di hati Rei melihat Marsya yang cekatan dan pintar berkelahi.