
Sesampainya di halaman rumah Zoya, setelah mendapat izin dari penjaga gerbang. Mereka turun dari atas motor. Lalu Zoya marah pada Ryu karena tidak menepati janji untuk membawanya pergi. Zoya kembali berlari hendak melarikan diri. Namun Adelfo yang mengetahui kedatangan mereka memerintahkan dua pengawal langsung menangkap Zoya dan di bawa kehadapannya
"Zoya!"
Zoya menundukkan kepala, sesaat melirik ke arah Adelfo. Sementara Ryu diam terpaku di samping Zoya.
"Om, aku minta maaf." Ryu maju selangkah mendekati Adelfo.
Dengan tatapan tajam, Adelfo berjalan mengelilingi tubuh Ryu. Langkahnya terhenti di tepat di belakang Ryu. Menatapnya dengan tatapan marah, namun pria itu mampu menyembunyikannya. Hingga tak terbaca oleh Ryu maupun Zoya, karena mereka masih anak kemarin sore.
"Menghukum anak ini, sama saja aku menggagalkan rencanaku." Adelfo tersenyum menyeringai kembali berjalan. Tangannya menyentuh pundak Ryu, membuat nyali anak itu menciut.
"Aku tidak akan menghukummu ataupun Zoya."
Ryu dan Zoya terkejut, tengadahkan wajahnya menatap Adelfo yang berdiri dengan raut wajah tak terbaca.
"Aku merestui hubungan kalian." Adelfo merentangkan tangannya pada Zoya.
"Benarkah Pa?" tanya Zoya.
Adelfo menganggukkan kepalanya, lalu menyambut tubuh Zoya yang memeluknya erat.
"Terima kasih Pa."
Pernyataan Adelfo baru saja, tentu membuat Ryu senang. Anak yang masih belum mengerti betapa kejamnya dunia kriminal yang menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan.
"Terima kasih, Om."
Adelfo melepas pelukan Zoya. "Sekarang kau pulanglah, katakan pada orangtuamu kalau aku merestui hubungan kalian. Dan sampaikan permintaan maafku. Kau Zoya, masuk ke dalam kamarmu, istirahat.
" Baik Pa.." Zoya melangkahkan kakinya menuju kamar tanpa menoleh lagi ke arah Ryu yang bahagia.
"Kalau begitu, aku pulang Om."
__ADS_1
Adelfo menganggukkan kepala, menatap punggung Ryu hingga hilang dari pandangan. Detik berikutnya pria itu tertawa terbahak bahak, mentertawakan keluguan Ryu.
"Bagus Nak, kau satu satunya jalanku," gumam Adelfo.
Mungkin saat ini Adelfo merasa di atas angin bisa mengelabui anak itu. Tapi dia melupakan satu hal. Kenzi bukanlah pria yang tak mengerti dunia kriminal. Bahkan dia tidak tahu, pria itu bisa lembut selembut sutra. Namun Kenzi juga bisa kejam melebihi Iblis.
***
Kenzi, Siena dan yang lain terkejut sekaligus senang, melihat Ryu pulang dalam keadaan selamat. Siena langsung memeluk Ryu dengan erat.
"Maafkan aku Bu.." ucap Ryu pelan. Menundukkan kepala di hadapan Kenzi, ia takut di marahi Ayahnya.
"Lalu, di mana Zoya?" tanya Jiro.
"Sudah aku antarkan pulang ke rumahnya." Ryu menjelaskan kronologi yang terjadi. Bahkan dia menyampaikan apa yang di katakan Adelfo.
Bagi Ryu, itu berita yang menggembirakan. Awal yang baik untuk jalinan cintanya dengan Zoya. Namun tidak, bagi Kenzi dan Siena. Mereka saling pandang sesaat.
"Sayang, sebaiknya kau masuk ke kamarmu dan istirahat. Nanti Ibu mau bicara denganmu."
Kenzi menatap punggung Ryu hingga masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia kembali duduk di kursi. Kenzi dan Siena tertegun cukup lama memikirkan kata kata Adelfo. Mereka tidak percaya sama sekali dengan pernyataan pria itu benar adanya. Kenzi dan Siena bukan orang yang belum pernah ada di dunia hitam. Tentu saja mereka paham maksud Adelfo. Tetapi, apa sebenarnya tujuan utamanya? Kenzi melirik ke arah Siena yang melamun di sampingnya. Mungkinkah dia? atau ada hal lain?
Jiro dan Abel yang sedari tadi memperhatikan orangtuanya. Akhirnya angkat bicara.
"Apa yang Ibu dan Ayah, pikirkan? bolehkah aku tahu?" tanya Jiro ragu ragu.
Kenzi menoleh ke arah Jiro. "Kita harus hati hati Nak."
Jiro menganggukkan kepalanya, tanpa perlu Kenzi menjelaskan. Jiro paham maksud dari kata kata Kenzi.
"Mereka itu licik Om, Tante. Tentu kalian jauh lebih memahami dari pada aku," timpal Abel.
"Iya Nak, tapi tetap saja kita harus waspada." Kemudian Kenzi berdiri dan melangkahkan kakinya menuju teras rumah.
__ADS_1
Siena memperhatikan sikap Kenzi yang terlihat khawatir, ia berdiri mengikuti Kenzi dan mendengarkan pembicaraan suaminya dengan Kakak Yu. Kenzi meminta Yu datang ke rumah untuk membicarakan masalah Ryu dan minta pendapat langkah apa yang harus dia ambil. Pria itu benar benar tidak ingin terlibat lagi apalagi sampai masuk ke lingkaran setan yang sudah lama Kenzi tinggalkan. Pasalnya, Adelfo bukanlah bos besar atau Livian. Menghadapi kedua orang itu saja, Kenzi harus bertaruh nyawa.
Siena yang mendengarkan, mengerti apa yang di takutkan Kenzi. Ia berjalan mendekati Kenzi dan memeluknya dari belakang. Pria itu memutus panggilan teleponnya lalu memutar tubuh membalas pelukan Siena.
"Kau tahu, apa yang paling aku takutkan Sayang."
Siena menganggukkan kepalanya, ia benamkan wajahnya di dada Kenzi. "Semoga kita menemukan jalan keluarnya."
Jiro yang berdiri di ambang pintu mengerti, apa yang membuat mereka sulit mengambil tindakan. Dirinya lah yang membuat mereka tetap bertahan di Hongkong. Jika bukan dirinya, mungkin Kenzi sudah memboyong keluarganya ke Indonesia. Kenzi tidak mungkin meninggalkan Jiro di sini. Begitu pula Jiro tidak mungkin ikut Kenzi dan meninggalkan Izanagi yang sudah di anggap sebagai Ayahnya.
"Ayah, Ibu."
Kenzi melepas pelukannya, mereka menatap Jiro yang sudah berdiri di hadapannya. "Iya sayang." Siena berjalan mendekati Jiro.
"Ayah, pulanglah ke Indonesia. Bawa Ryu pergi dari sini. Aku akan menyusul kalian nanti."
"Nak.." Siena langsung memeluk Jiro.
"Iya Bu, Yah..demi Ryu. Demi keselamatannya." Jiro membalas pelukan Siena dengan air mata yang hampir jatuh di pipinya.
Kenzi menundukkan kepalanya sesaat, jangankan untuk bicara. Menelan air ludahpun susah. Betapa hatinya perih dengan kata kata Jiro. Ia berjalan lalu memeluk Jiro dan Siena.
"Tidak Nak, Ayah tidak akan meninggalkanmu, tidak akan. Kita hadapi bersama sama."
"Maafkan aku Ayah, Ibu. Aku sayang kalian." Jiro melepas pelukan kedua orang tuanya. Menatap lembut ke arah mereka berdua. "Izinkan aku, menjadi pelindung kalian semua," ucap Jiri pelan.
Kenzi dan Siena tertawa kecil mendengar pernyataan Jiro. "Kau memang anak Ayah yang paling tangguh. Ayah tahu itu."
"Terima kasih Yah."
Tangan Siena terulur menyentuh pipi Jiro lembut matanya berkaca kaca. Satu hal yang Siena sadari. Anak yang terlahir di tengah tengah sulitnya menghadapi terjangan badai kehidupan. Cenderung tangguh dan mandiri, lebih dewasa dari usianya. Berbeda dengan Ryu.
"Ibu jangan menangis, ada aku." Tangan Jiro terulur mengusap air mata di pipi Siena. "Tersenyumlah buat aku, Ibu."
__ADS_1
Siena tertawa samar, menarik wajah Jiro dan mencium keningnya dengan dalam. "Kau bukan lagi anak Ibu, kau pria hebat. Sayang."
Kenzi hanya diam memperhatikan mereka berdua, ada kesedihan, kekhawatiran dan kebahagiaan memiliki putra seperti Jiro. Bukan berarti tidak bangga memiliki putra seperti Ryu. Dia masih lugu dan banyak yang tidak di mengertinya. Sikapnya yang keras kepala, membuat Kenzi dan Siena harus kerja keras untuk membuatnya mengerti. Jika batu di benturkan dengan batu, yang ada dua duanya akan hancur.