The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 43: Kabar berita


__ADS_3

Hari ke tiga.


"Pagi ma.." sapa Siena langsung duduk di kursi.


"Pagi juga sayang," kata Hana melirik ke arah putrinya yang sudah terlihat rapi. "Kau mau berangkat kerja sepagi ini?" tanya Hana.


Siena mengangguk, "iya ma."


"Mama buatkan kau sarapan." Hana berdiri.


"Tidak perlu ma, aku buru buru," jawab Siena mencekal lengan Hana.


"Terserah kau sayang." Hana kembali duduk. "Sayang, ada yang hendak mama bicarakan."


"Ada apa ma?" tanya Siena sembari menuangkan air mineral ke dalam gelas.


"Hari ini kita pindah rumah, mama sudah menjual rumah ini." Hana menatap Siena.


Siena menoleh ke arah Hana, mengerutkan dahi tidak mengerti. "Di jual?"


Hana menganggukkan kepala, "untuk sementara kita tinggal di rumah yang sudah mama sewa."


"Tapi kenapa ma? mama jual rumah buat apa uangnya?" Siena menggeser posisi duduknya menghadap Hana.


"Buat bayar utang."


"Hutang? mama berhutang pada siapa?" Siena meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat.


"Siena, ini urusan mama..jadi mama harap kau jangan banyak bertanya. Ikuti saja apa kata mama." Hana menatap Siena sesaat lalu ia mengambil gelas di atas meja.


"Tapi Ma.." ucap Siena tidak setuju.


"Siena, mama mohon." Hana kembali meletakkan gelas di atas meja lalu berdiri. "Sekarang kau berangkat kerja, nanti sore mama jemput kamu."


Siena menghela napas dalam dalam, ia menundukkan kepala sesaat, "baiklah ma.." Siena berdiri "Aku berangkat dulu ma." Siena mengecup pipi Hana sekilas.


"Hati hati di jalan." Siena menganggukkan kepala. Ia bergegas melangkahkan kakinya keluar rumah.


Hana terdiam kembali duduk di kursi menatap punggung Siena hingga hilang dari pandangan. "Maafkan mama nak.." ucap Hana pelan. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, tangan kanan memainkan gelas di atas meja. "Apa yang bisa aku lakukan untuk membebaskan putriku? uang hasil penjualan rumah kemarin tidak akan cukup."


***


Sepanjang perjalanan Siena tidak berhenti mrmikirkan Hana, ia tidak mengerti dengan sikap dan tindakan Ibunya akhir akhir ini, "ada apa sebenarnya dengan mama?"


Tak lama kemudian Siena telah sampai di halaman kantor. Ia langsung memasuki ruangan dan berpas pasan dengan Kenzi. Ia terpaku menatap Kenzi yang berdiri di hadapannya dan menatap tajam Siena cukup lama.


"Kau ikut ke ruangan saya," ucap Kenzi.

__ADS_1


"Enak saja suruh suruh, aku bukan bawahanmu."


Siena melangkahkan kakinya, namun Kenzi menarik lengan Siena hingga mundur dua langkah tepat di hadapannya. "Ikuti aturanku, atau perusahaan ini aku ambil alih sepenuhnya." Kenzi menatap tajam wajah Siena. Namun tangannya tidak melepaskan lengan Siena.


"Hei, apa apaan ini!" seru Keenan dari arah pintu langsung menepis tangan Kenzi dari lengan Siena. Ia menatap wajah Kenzi dan mengarahkan satu telunjuk ke wajah Kenzi.


"Ingat, jangan sentuh Siena. Aku masih ingat semua kata katamu." Keenan menurunkan tangannya.


Kenzi hanya tersenyum sinis menatap Keenan, lalu ia berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua. "Kamu kenapa? ada apa di antara kalian berdua?" tanya Siena menatap bingung Keenan.


"Tidak ada apa apa," jawab Keenan menarik tangan Siena. "Kau harus jaga jarak dengan pria itu, kau paham?"


Siena mengerutkan dahi, "jaga jarak? maksudmu?" tanya Siena tak mengerti.


"Eu..anu..jaga jarak itu jangan dekat dekat, oke?"


"Ya, aku tahu itu. Tapi maksud di balik kata kata itu apa?" tanya Siena lagi.


Keenan menautkan dua alisnya seolah sedang berpikir, "maksudnya ya..anu." Keenan menarik tangan Siena membawanya ke ruang kerjanya.


"Anu apa?!" tanya Siena di sela sela langkahnya.


"Anu Siena..kita makan.." ucapnya tertawa kecil. "Ayo duduk, kita sarapan."


Siena duduk tanpa protes atau bertanya lagi pada Keenan, di lanjutkan pun percuma. Jawaban Keenan tetap anu anu, pikir Siena.


Saat mereka tengah sarapan, tiba tiba ponsel milik Siena berdering. Ia membuka tas dan mengambil ponsel miliknya.


"Mama Alya," jawab Siena.


Ia dekatkan ponsel di telinganya saat panggilan sudah terhubung.


"Mama? mama sudah sampai di Belanda?" tanya Siena tersenyum. Keenan memperhatikan sembari mengunyah makanan.


"Ti, tidak Siena.." terdengar suara isak tangis di ponsel.


"Mama kenapa,?" tanya Siena.


"Mama tidak jadi ke Belanda sayang, kami mengalami kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit Harapan Bunda." Suara Alya terdengar serak.


"Kecela-?" sambungan terputus,


"Halo! halo! mama!" seru Siena. Ia menatap ponselnya lalu beralih menatap Keenan.


"Ada apa? tanya Keenan.


" Mama Alya dan Reegan kecelakaan!" pekik Siena.

__ADS_1


Ia langsung berdiri mendekati Keenan dan menarik lengan Keenan. "Ayo anyarkan aku ke rumah sakit sekarang!"


"Be, bentar Siena!" Keenan mengambil air mineral di dalam gelas lalu meminumnya.


"Cepat!" seru Siena.


"Sabar, ya ampun." Keenan meletakkan gelas di atas meja lalu ia mengikuti langkah Siena keluar ruangan.


Di luar ruangan Siena berpas pasan lagi dengan Kenzi, "Siena, bukankah aku sudah bilang, kau ikut ke ruanganku!"


"Maaf, kali ini aku tidak bisa. Reegan kecelakaan!" seru Siena kembali menarik tangan Keenan dan melangkahkan kakinya.


"Reegan? siapa Reegan?" gumam Kenzi.


Ia melangkahkan kaki menuju ruangan Adrian. "Adrian!"


Adrian menoleh, lalu ia berdiri. "Iya tuan!"


"Kau ikuti Siena dan Keenan, lalu kau cari tahu siapa Reegan."


"Baik tuan!"


Tanpa bertanya lagi, Adrian langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan mengikuti Siena dan Keenan menuju rumah sakit.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di rumah sakit mereka meminta informasi tentang keluarga Alya yang di rawat. Setelah itu Siena dan Keenan berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan langkahnya terhenti di pintu kamar nomer 06.


"Mbok! seru Siena memeluk si mbok asisten rumah tangga yang berdiri di depan pintu kamar tempat Reegan di rawat.


" Neng.." ucap mbok lirih.


"Bagaimana keadaan mama Alya, Reegan dan Sandra?" tanya Siena melepaskan pelukannya.


"Nyonya Alya baru saja menghembuskan nafas yang terakhir setelah nelpon neng Siena," jawab mbok menundukkan kepala sembari menyeka air matanya dengan ujung pakaian yang ia kenakan.


"Apa..?" Siena mendekap mulutnya ia menoleh ke arah Keenan. Keenan merangkul bahu Siena dan mengusapnya pelan.


"Bagaimana dengan Reegan dan Sandra?" tanya Siena menurunkan tangannya.


"Non Sandra meninggal di tempat kecelakaan, sementara Den Reegan baru selesai operasi tapi masih koma, neng.." jawab mbok dengan suara parau.


"Ya Rabb.." Siena matanya berkaca kaca. Tak terasa air mata jatuh dari sudut netranya. "Kenapa bisa begini mbok.."


"Sudah Siena, iklaskan..ini sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa." Keenan mengusap punggung Siena


"Terus Dokter bilang apa? kapan Reegan akan sadar?" tanya Siena lagi.


"Dokter bilang, Den Reegan akan sadar setelah beberapa hari neng..mbok tidak mengerti lagi maksud ucapan Dokter." Mbon menggelengkan kepala dengan terisak.

__ADS_1


"Ya sudah mbok..kita tunggu Dokter di sini ya."


Mbok menganggukkan kepala, akhirnya mereka duduk di kursi menunggu Dokter keluar dari ruangan.


__ADS_2