
Seisi rumah sibuk mempersiapkan diri untuk pulang ke Indonesia. Sementara Siena masih duduk termenung di kursi balkon kamar. Suara tembakan, jeritan yang menyayat, darah memercik di mana mana. Masih bisa Siena rasakan bagaikan mimpi buruk. Perjalanan panjang, ketidak beruntungan diantara ketidak beruntungan lainnya telah membawanya masuk ke dalam kehidupan Kenzi, suaminya. Kini, ia harus merelakan kedua matanya buta permanen. Siena hanya berharap sebuah keajaiban akan datang padanya. Namun ia tidak sedikitpun menyesali apa yang sudah terjadi padanya. Sekarang ketidak beruntungan itu telah tergantikan dengan keluarga baru, apalagi akan hadir buah cinta mereka. Memiliki suami seperti Kenzi bukanlah sebuah petaka bagi Siena. Namun telah menjadikannya pribadi lebih dewasa dan tangguh, jika suatu hari nanti keadaan kembali tidak berpihak padanya. Dia sudah siap secara jiwa raga untuk menghadapinya bersama Kenzi dan keluarga kecil yang selalu Siena ingin lindungi. Siena tersenyum, tangannya mengusap perutnya sendiri.
"Kita pulang sayang."
"Kau melamun?"
Siena memalingkan wajahnya, tangannya menyentuh lengan Kenzi yang melingkar di dada. "Tidak."
"Kita pulang."
Kenzi memeluk tubuh Siena dari belakang, lalu mencium puncak kepala Siena cukup lama. Memiliki Siena adalah anugerah terindah buat Kenzi. Meski harus di bayar dengan darah dan air mata. Kini masa masa sulit telah tergantikan, meski rasa khawatir masih ada di dalam pikirannya. Selama belum ada kabar penangkapan Livian dari pihak Kepolisian. Kenzi harus tetap waspada menjaga Siena dan keluarga kecil yang baru saja terbentuk. Terkadang kita harus melepaskan sesuatu demi mendapatkan yang lebih baik. Tapi apa yang lebih baik itu? Kenzi sendiri tidak tahu.
"Kita pergi sekarang."
Siena menganggukkan kepala, lalu Kenzi menarik tangan Siena pelan membantunya berjalan menuju lantai bawah.
Sementara itu Surya dan yang lain sudah menunggu di bawah, tak sabar untuk kembali pulang. Terlebih Surya, sejak ia menitipkan Siena di panti asuhan sewaktu masih bayi. Sejak itu pula ia meninggalkan Indonesia. Ia tersenyum melihat Siena tengah berjalan bersama Kenzi mendekatinya. Hal yang tak pernah ia bayangkan bahkan berharappun tidak. Jika ia akan berkumpul kembali bersama putrinya meski Hana, istrinya lebih dulu tiada. Dia berjanji di dalam hatinya, untuk tidak men-sia siakan sisa waktu yang telah Tuhan berikan.
"Akhirnya, aku punya keluarga yang bisa menghargaiku," ucap Samuel dalam hati. Matanya melirik ke arah Akira dan Yeng Chen.
"Aku akan melindungi dan menjaga kalian dengan nyawaku," ucap Akira dalam hati tersenyum ke arah Samuel dan Yeng Chen.
"Tidak akan kubiarkan siapapun melukai keluargaku lagi." Yeng Chen tersenyum samar sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalian sudah siap?" tanya Kenzi pada mereka semua.
__ADS_1
"Siap Bos! jawab mereka serempak, raut wajah yang bahagia, senyum manis tersungging di bibir mereka. Membuat Kenzi semakin yakin, jika Livian sekalipun datang kembali, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
" Kita berangkat!"
Mereka mengangguk cepat, lalu membiarkan Kenzi dan Siena berjalan lebih dulu, mereka mengikuti dari belakang menuju halaman rumah. Kenzi langsung masuk ke dalam mobil setelah memastikan Siena duduk dengan tenang. Di susul yang lain masuk ke dalam mobil setelah Kenzi dan Siena duduk.
Tak jauh dari halaman rumah, di balik kaca mobil yang terparkir. Seorang pria muda tengah memperhatikan mereka. Senyuman seringai menghiasi bibirnya.
"Nikmati saja kebahagiaanmu, aku akan datang kembali menuntut balas," gumamnya.
***
Empat jam berlalu, akhirnya mereka telah sampai di Negeri tercinta. Siena merentangkan kedua tangannya menarik udara sebanyak banyaknya lalu ia hembuskan perlahan. "Akhirnya, aku pulang!" pekiknya gembira.
Kenzi merangkul bahu Siena, "iya sayang."
"Ayo sayang, kita pulang ke rumah."
Kenzi langsung menggendong tubuh Siena dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sementara Surya dan yang lain menggunakan mobil yang lainnya.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah Kenzi dulu. Mereka semua langsung masuk ke dalam rumah dan beristirahat sejenak. Setelah itu mereka mulai menyusun agenda untuk pekerjaan selanjutnya. Yaitu meneruskan perusahaan milik Kenzi di Indonesia. Samuel dan Surya juga berinisiatif untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Dan memberikan penjagaan di rumah. Mereka masih khawatir dengan lolosnya Livian. Tidak menutup kemungkinan jika dia akan menuntut balas.
Sementara Kenzi dan Siena tengah berbincang bincang di balkon kamar. Kenzi mendengarkan semua kerinduan Siena pada semua kenangannya di Indonesia. Terutama pada Keenan. Kenzi berubah raut wajahnya saat Siena menyebut nama Rei.
"Aku tidak suka kau menyebut nama pria itu, apalagi mantan suamimu."
__ADS_1
Siena langsung bergelayut manja di lengan Kenzi. "Hanya ada kamu di dalam hatiku."
Kenzi tersenyum tipis, ia menarik tangannya lalu meneluk tubuh Siena erat. "Jangan di ulangi lagi."
Siena menganggukkan kepala dan berkata, "iya bawel." Di akhiri dengan tertawa kecil.
Kenzi mencubit hidung Siena gemas. Lalu tangannya mengusap perut Siena sesaat. "Siena.."
"Iya?" jawabnya.
Kenzi berbisik di telinga Siena. Gadis itu tertawa lalu menepuk lengan Kenzi dengan keras. "Ih apaan sih!"
Kenzi hanya tersenyum, tanpa banyak bicara ia berdiri sembari menggendong tubuh istrinya. Siena menjerit pelan lalu mengalungkan tangannya di leher Kenzi. Pria itu membawa Siena masuk ke dalam kamar. Tak lupa ia mengunci pintunya.
Ia membaringkan tubuh Siena di atas tempat tidur, lalu ia ikut naik dan tidur di sebelahnya. Tangan Kenzi memeluk erat tubuh Siena.
"Aku lelah dan aku mau kau temani aku tidur." Kenzi mencium bibir Siena sekilas. Lalu ia memejamkan matanya. Terlintas wajah Livian membuat Kenzi kembali membuka matanya.
Meski Siena tidak bisa melihat dengan jelas, namun ia menggunakan perasaannya. "Ada apa?" tangannya mengusap pipi Kenzi.
"Tidak apa apa, sayang." Kenzi kembali mencium pipi Siena sekilas, lalu ia berusaha menejamkan mata. Ada rasa khawatir namun Kenzi cepat cepat menepisnya. Hari ini, adalah hari hari bahagianya. Dia tidak ingin merusak setiap momen yang ada dengan memikirkan Livian. Lagi pula ada Polisi, tentu Livian tidak akan bisa bersembunyi dengan tenang. Pihak Kepolisian akan mencarinya sampai ke ujung dunia sekalipun. Mungkin seperti itu?
***
Jauh di Negara lain, di waktu yang berbeda, seorang pria muda menggunakan setelan jas hitam dan kaca mata hitam memasuki Bandara Hongkong. Dengan santai ia masuk ke dalam dan memesan tiket untuk tujuan ke Indonesia. Ia tersenyum miring menatap tiket di tangannya.
__ADS_1
"Aku datang Kenzi," ucapnya pelan. Lalu ia melangkahkan kakinya. Bersamaan dari belakang pria muda itu, nampak Marsya menggunakan pakaian biasa, di tangannya menggenggam sebuah tiket menuju arah yang sama.
INDONESIA