The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and Love


__ADS_3

"Cepat, sebelum kita kehilangan jejak mereka!" seru Adelfo.


Namun baru saja mereka sampai, terlihat mobil milik Kenzi sudah dalam keadaan terbakar. Nampak sepuluh pria berdiri berjajar menghadang mereka.


"Siapa mereka?" tanya Adelfo melirik sesaat ke arah Kenzi.


"Anggota Crip," ucap Kenzi pelan.


Adelfo menganggukkan kepala, lalu ia tertawa menyeringai maju dua langkah ke hadapan musuh.


"Kalian cecunguk! cari mati rupanya!" hardik Adelfo.


"Plok plok plok!!"


Kenzi dan Adelfo menoleh ke arah pria yang bertepuk tangan. Pria itu berdiri di belakang anak buahnya.


"Menarik, dua pria hebat. Sekarang menjadi sahabat. Sejak kapan? Kenzi berubah penakut?" ejek pria itu.


"Rupanya kau masih hidup, Dany Tan!" seru Kenzi mengenali pria itu.


"Kau pikir, aku bisa mati semudah itu? bermimpilah!" Dany Tan tertawa terkekeh, tapi Kenzi tetap bersikap tenang.


"Hei Bodoh! mungkin kau belum pernah merasakan bagaimana tangannku ini. Tanganku ini, bisa menutup mulutmu untuk selamanya," timpal Adelfo di iringi tertawa lebar sembari mengepalkan tangannya ke hadapan Dany Tan.


"Sombong! lebih baik kau serahkan dokumen itu!" menatap geram Adelfo.


Kesepuluh anak buah Dany Tan langsung maju dan mengarahkan senjata api pada Kenzi dan Adelfo. Kedua pria itu saling pandang sesaat.


"Lebih baik kalian serahkan dokumennya, aku akan mengampunyi nyawa kalian," ejek Dany Tan meremehkan.


Kenzi melirik ke arah Adelfo, lalu ia melirik ke arah pinggang Adelfo terlihat senjata api. Lalu Adelfo meletakkan dokumen itu di bawah kakinya. Saat salah satu anak buah Dany maju untuk mengambil dokumen itu.


Dengan sigap Kenzi mengambil senjata di balik pinggang Adelfo lalu berguling ke samping melesatkan peluru ke arah musuh.


"Dor! Dor! Dor!


Serangan tak terduga dari Kenzi membuat tiga musuh ambruk bersimbah darah. Sementara Adelfo yang menyembunyikan senjata lainnya di balik kaus kaki yang ia kenakan langsung menendang musuh yang hendak mengambil dokumen hingga terjungkal. Ia berguling dengan satu tangan mengambil dokumen, dan tangan lainnya mengambil senjata api lalu di tembakkan ke arah musuh.


" Dor! Dor! Dor!"


Musuh berpencar mencari tempat aman, begitu juga Kenzi dan Adelfo. Baku tembak di ujung lorong tak dapat di elakkan lagi. Tunawisma yang ada di sekitar langsung berhambur berlari mencari tempat aman supaya tidak terkena peluru nyasar.


"Tingga satu peluru lagi," gumam Kenzi menatap Adelfo yang jongkok di sampingnya bersembunyi di balik mobil. Sementara peluru musuh terus berdesing menembaki mobil tempat mereka berdua bersembunyi.


"Prank!!! Suara kaca mobil pecah.


"Kita selesaikan dengan cepat!"

__ADS_1


Kenzi mengangguk, lalu ia lesatkan peluru terakhir pada mobil miliknya yang terbakar.


"Dor!"


"DUAR!! suara ledakan dari mobil yang terbakar, di iringi suara jeritan musuh yang terkena kedakan mobil. Sesaat Kenzi dan Adelfo terdiam memperhatikan sekitar, tak lama suara sirine dari mobil patroli milik Polisi terdengar mendekat. Kenzi menarik kerah baju Adelfo, lalu mereka berlari menjauh dari area tersebut.


Setelah di rasa cukup jauh, mereka berhenti dengan napas terengah engah. Mereka berdua menoleh ke arah belakang, pihak kepolisian sudah berdatangan ke lokasi.


"Kita secepatnya pergi dari sini," ucap Kenzi pelan. Adelfo mengangguk, lalu mereka kembali menjauh dari lokasi itu.


***


Sementara Zoya yang mendapatkan pesan dari Miko untuk menyampaikan keinginannya bertemu Jiro. Akhirnya memutuskan untuk menghubungi Jiro lewat ponsel. Beberapa menit mereka ngobrol di ponsel dan Jiro memutuskan untuk tidak menemui Miko lagi. Pria itu tidak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa padanya. Setelah menyampaikan pesan tersebut. Tanpa basa basi lagi, Zoya menghubungi Miko. Dan memintanya untuk datang ke rumah. Ternyata, Miko memang belum pulang ke rumahnya. Gadis itu masih berkeliaran di area rumah Zoya untuk menunggu kepastian dari Jiro.


"Aku sudah menyampaikan pesan yang kau minta," ucap Zoya.


"Apa dia mau bertemu denganku?" tanya Miko. Mengangkat kedua alisnya menatap Zoya menunggu jawaban.


Zoya menggeleng pelan, "mungkin dia butuh waktu. Biarkan dia tenang dulu." Zoya menundukkan kepala sesaat. Ia sendiri ragu dan tidak ingin menyampaikan apa yang Jiro katakan. Itu pasti akan sakit rasanya bila Miko mendengarnya.


Miko mendengus kesal menatap Zoya. "Kau pasti mempengaruhi Jiro supaya tidak bertemu lagi."


Zoya kembali menggelengkan kepalanya, "tidak Miko, mungkin dia butuh waktu. Itu saja, aku bersumpah tidak bohong!"


"Bohong! kau memang menginginkan Jiro bukan?" Miko tersenyum sinis menatap Zoya. Lalu melirik ke arah anak buah Adelfo yang sudah siap siaga jika Miko melakukan kekerasan.


Zoya menggelengkan kepala, saat melihat dua anak buah Adelfo mengarahkan senjatanya pada Miko.


"Jangan sakiti dia, Miko temanku!" Zoya mencegah anak buah Adelfo berbuat kasar pada Miko. Namun sedikitpun hati Miko tidak melihat ketulusan Zoya yang sudah menganggapnya sahabat


"Cuih! Miko meludah di hadapan Zoya. " Jangan pura pura sok baik!" bentak Miko dengan tatapan benci. Lalu ia balik badan meninggalkan rumah Zoya.


"Nona, dia sudah kasar. Kenapa nona melarang kami?" tanya salah satu penjaga rumah.


Zoya berusaha bangun dan berdiri sembari memegang perutnya. "Tidak, dia sahabatku. Satu permintaanku pada kalian. Jangan katakan apapun, dan jangan ceritakan kejadian baru saja pada Papa! kalian paham?!" ucap Zoya dengan nada mengancam.


"Baik Nona!" jawab mereka serempak.


Kemudian gadis itu melangkahkan kakinya dengan tubuh sedikit membungkuk masuk ke dalam rumah. Ia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


***


Seharian ini Kenzi dan Adelfo mempelajari isi dokumen yang di dapatkan dari Alfred. Namun mereka tetap saja mengalami kebuntuan karena tidak mengetahui lokasi tepat di mana mereka menyembunyikan musuh bebuyutan Kenzi. Satu satunya kunci informasi yang bisa mereka dapatkan sudah tewas malam itu juga.


Adelfo diam tercenung memperhatikan Kenzi yang memijit pelipisnya, pria itu tengah berpikir keras bagaimana caranya menyelesaikan masalah tanpa harus peperangan. Sesekali Adelfo juga melirik ke arah Siena yang terdiam, ikut memikirkan masalah suaminya. Sesaat hanya hening, tidak ada yang bicara. Siena berdiri lalu ngeloyor ke dapur untuk membuatkan minuman. Sejak Egor mengundurkan diri dan pulang kembali ke keluarganya. Semua pekerjaan Siena yang menanganinya.


Tak lama, Siena kembali dengan membawakan dua cangkir kopi untuk mereka berdua. Ia letakkan tiap cangkir di hadapan Kenzi dan Adelfo. Tidak lupa Siena membawakan gula tambahan jika kopinya terlalu pahit.

__ADS_1


Mereka semua kembali terdiam, Kenzi masih mempelajari isi dokumen itu, sementara Adelfo mengangkat cangkir kopi berwarna hitam pekat. Lalu ia alihkan pandangannya pada Siena.


"Nyonya, bisa kau berikan sedikit gula? sepertinya kopiku terlalu pahit," ucapnya tersenyum tipis menatap Siena dengan lembut. Kenzi melongo menatap Adelfo sesaat, lalu beralih memandang Siena.


Siena tertawa kecil membalas tatapan Kenzi, lalu beralih menatap Adelfo.


"Baiklah Tuan.." Siena mengambil sendok lalu mencampurkan gula ke dalam kopi Adelfo.


"Terima kasih, Nyonya."


"Hei, kau merayu istriku terus. Kapan selesainya masalah ini?" sungut Kenzi kesal.


Adelfo tersenyum lebar, "tenanglah, aku sudah punya ide." Adelfo meletakkan cangkir kopi di atas meja. Lalu menggeser duduknya dekat Siena.


"Hei, di sini tempatmu. Bukan di sana!" seru Kenzi semakin kesal dengan tingkah konyol Adelfo.


"Oh, maaf." Adelfo kembali bergeser duduknya dekat dengan Kenzi. Lalu tertawa terbahak bahak melihat raut wajah Kenzi yang terlihat kesal. "Ayolah, jangan terlalu serius."


Kenzi hanya menggelengkan kepalanya menatap jengah Adelfo. "Apa idemu?"


"Kita bisa jadi tim yang kuat." Adelfo menepuk pundak Kenzi sesaat.


"Maksudmu?"


Adelfo menarik napas dalam dalam lalu mengangkat cangkir kopi menyesapnya perlahan, kemudian ia letakkan kembali di atas meja.


"Untuk memancing mereka keluar dari sarangnya itu mudah, kau harus ikut dalam pemilihan pemimpin di kota ini. Tujuan kita bukan untuk memenangkan pemilihan itu. Tapi sekedar untuk memancing mereka. Dengan bantuan awak media, berita tentang kau yang ikut pemilihan akan mudah tersebar." Adelfo menjelaskan panjang lebar tentang rencana mereka. Yang harus mereka lakukan saat ini adalah, mendatangi salah satu orang yang berpengaruh di kota itu untuk mendaftarkan Kenzi.


Kenzi terdiam mendengarkan dengan seksama semua rencana Adelfo. Pria itu menganggukkan kepalanya, tanda ia setuju dengan rencana Adelfo.


"Bagaimana?" tanya Adelfo.


"Usul yang bagus, baik aku setuju."


"Untuk mempercepat langkah kita, sebaiknya kita pergi sekarang selagi masih ada waktu tersisa." Adelfo mengangkat cangkir kopinya lagi lalu menyecapnya.


"Baiklah." Kenzi berdiri, lalu beralih menatap Siena. "Sayang, kau di rumah bersama Jiro.


Siena menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mendekati Kenzi. " Kau hati hati, dan tetap tenang." Kenzi menganggukkan kepalanya.


Kemudian mereka melangkahkan kakinya, di sela sela langkah. Adelfo berhenti lalu menoleh ke arah Siena. "Nyonya, terima kasih kopinya."


Siena tertawa kecil, "sama sama tuan."


"Oh, ya ampun." Kenzi menepuk keningnya sendiri lalu menarik kerah baju Adelfo. "Ah kau ini."


Adelfo kembali tertawa lebar saat melihat Kenzi kesal, lalu mereka kembali melangkah meninggalkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2