The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3


Kenzi Alexis



Siena


Jiro duduk di sofa memperhatikan Siena mengobati luka di kening Miko. Pria itu tidak mengizinkan Miko pulang sebelum luka nya di obati karena tidak ingin membuat Ibu Miko semakin khawatir. Kenzi yang duduk di samping Jiro hanya diam menundukkan kepalanya. Ia memikirkan bagaimana caranya memberitahu Miko tentang dirinya yang telah membunuh Ayahnya. Melihat putranya yang mencintai gadis itu, begitu pula sebaliknya dengan Miko. Membuat Kenzi semakin khawatir.


Saat ini, bukanlah waktu yang tepat untuk memberitahu Miko. Kenzi menghela napas gusar, lalu berdiri melangkahkan kakinya menuju teras rumah duduk termenung di kursi.


"Sudah selesai." Siena tersenyum menatap perban di kening Miko. "Aku harap, kau bisa menghindari hal hal yang mencelakakan dirimu sendiri. Miko."


Miko melirik sesaat ke arah Jiro lalu menundukkan kepalanya. "Iya Tante."


"Hei jangan sedih dong." Tangan Siena mengangkat dagu Miko. "Putraku tidak mungkin memilih Zoya, iya kan sayang?" Siena melirik ke arah Jiro.


Pria itu tersenyum samar sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu berdiri, "aku buatkan teh."


Siena dan Miko memperhatikan Jiro yang berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Siena. Membuat gadis itu bertanya tanya, jangan jangan Jiro menyukai Zoya?


"Kau juga, jangan bengong terus. Ayo kita duduk di teras." Siena berdiri, menarik tangan Miko untuk berdiri. Lalu mereka melangkahkan kaki menuju teras rumah.


"Sayang? apa yang kau pikirkan?"


Kenzi menoleh ke arah pintu menatap Siena dan Miko mendekatinya lalu duduk di kursi.


"Tidak ada sayang." Kenzi menatap perban di kening Miko. "Apa kau sudah lebih baik?"


Miko melirik sesaat ke arah Kenzi, menganggukkan kepalanya.


"Teh sudah datang!" seru Jiro dari arah pintu, membawa nampan lalu di letakkan di atas meja.


"Kau buat sendiri?" tanya Kenzi.


Jiro menganggukkan kepalanya. "Iya Yah."


Kenzi menghela napas panjang, menatap Miko lalu beralih menatap Jiro. "Sebaiknya kau antarkan Miko pulang, Ibunya pasti khawatir."


Jiro menoleh ke arah Miko yang menatapnya lalu mengangguk tanda ia setuju dengan ucapan Kenzi. "Baiklah Yah."


Jiro berdiri di ikuti Miko. "Aku pulang dulu Tante, Om." Miko membungkukkan badan sesaat lalu mereka berjalan menuju halaman rumah.


"Apa yang kau pikirkan sayang?" Siena menggeser duduknya lebih dekat dengan Kenzi.


"Aku-?" Kenzi tidak melanjutkan kata katanya, saat salah satu penjaga gerbang menghampirinya.


"Tuan, di luar ada tamu ingin bertemu dengan Tuan." Pria itu membungkuk sesaat.


"Siapa?" Kedua alis Kenzi saling bertaut menatap pria itu.


"Tuan Adelfo."


"Adelfo?" mata Kenzi melebar menatap pria itu lalu beralih menatap Siena. "Adelfo sayang.." ucapnya pelan.


Siena mengangkat kedua bahunya, menggelengkan kepala. "Ada apa lagi ini."

__ADS_1


"Biarkan dia masuk, kita tidak perlu cari permusuhan." Kenzi memberikan perintah.


"Baik Tuan."


Pria itu berlalu dari hadapan Kenzi, lalu membuka gerbang rumah. Tak lama dua buah mobil memasuki halaman rumah. Kenzi dan Siena berdiri memperhatikan Adelfo keluar dari pintu mobil. Sementara anak buahnya menunggu di halaman.


"Selamat sore Nyonya Siena, Tuan Kenzi." Adelfo tersenyum, lalu membungkuk sesaat.


"Selamat sore Tuan Adelfo. Ada angin apa yang membawa anda kesini?" tanya Kenzi dengan ramah. "Silahkan duduk."


"Terima kasih." Adelfo duduk di kursi berhadapan dengan mereka.


Adelfo tersenyum menatap Siena cukup lama, membuat Kenzi terbatuk kecil.


"Oh, maaf. Kedatangaku kemari hanya untuk menjalin ikatan persaudaraan." Adelfo langsung mengatakan maksud tujuannya datang ke rumah Kenzi setelah mendapat tatapan tidak suka darinya.


"Maksud Anda?" tanya Kenzi sembari menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Putriku mencintai putra anda Jiro."


"Oh." Kenzi kembali membenarkan duduknya menatap Siena sesaat. "Soal pasangan putraku, aku tidak ikut campur. Jadi, aku tidak bisa memutuskannya."


"Benar tuan, Jiro memang putra kami. Tapi soal hati, kami tidak ikut campur," timpal Siena.


Adelfo mengangguk-anggukkan kepalanya. Bibirnya mengatup rapat. Ia tidak suka dengan penolakan halus mereka. Namun Adelfo berusaha untuk menyembunyikan rasa tidak sukanya. "Ah, begini. Kita lupakan masalah kita dulu.' Adelfo berpikir, Kenzi menolak secara halus karena merasa sakit hati atas tuduhan pembunuhan yang di lakukannya pada Kanaye.


Kenzi tersenyum sinis, " aku sudah biasa tuan Adelfo. Tidak masalah bagiku, tapi soal putraku. Aku tidak bisa menentukan pilihan untuk Jiro."


Pria itu mendengus kesal, lalu berdiri. "Baiklah, jika itu keputusan kalian." Adelfo menatap Kenzi sesaat. Lalu beralih menatap Siena cukup lama. "Semoga harimu menyenangkan Nyonya Siena."


Setelah bicara seperti itu, Adelfo melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua. Kenzi berdiri di ikuti Siena gang ikut berdiri menatap kepergian Adelfo.


Kenzi menoleh merangkul bahu Siena dan mendekapnya erat. "Tentu sayang."


"Tuan, ada masalah?" sapa Egor dari arah pintu. Lalu ia menoleh ke arah gerbang rumah.


"Iya, ini masalah Jiro." Kenzi menepuk pundak Egor.


"Tuan muda, harus di peringati tuan."


Kenzi menganggukkan kepalanya, "kau tidak perlu khawatir, aku pasti mengawasinya."


****


Sementara Jiro di tengah perjalanan di hadang oleh anak buah Zoya, dan gadis itu ada di antara mereka. Berdiri di tengah jalan menghadang motor yang Jiro gunakan.


"Zoya?" Jiro menoleh ke arah Miko. Gadis itu langsung turun dari atas motor saat melihat Zoya menghadang mereka. Jiro buru buru turun dari atas motor, lalu membuka helm di letakkannya di atas motor. Ia khawatir terjadi keributan lagi di antara mereka.


Miko berdiri di hadapan Zoya dengan kedua tangan di silangkan di dada, tersenyum mencemooh.


"Rupanya kau masih penasaran."


"Cuih!" Zoya menanggapi dingin ucapan Miko. "Aku belum kalah, kita lanjutkan."


"Cukup!" Jiro berdiri di tengah diantara mereka berdua. Menatap tajam Zoya lalu beralih menatap Miko. "Apa apaan kalian ini!" seru Jiro menatap keduanya.


"Kau jangan ikut campur. ini masalah kami berdua." Zoya tersenyum sinis dengan tatapan lurus pada Miko.

__ADS_1


"Kau pikir aku akan mundur? oho, tidak." Miko maju selangkah dengan santai dan mengabaikan Jiro.


"Miko! Zoya! hentikan!" pekik Jiro, tubuhnya di pepet dua wanita yang saling menatap tajam.


"Aku mohon, hen-?"


"Diam!" ucap mereka serempak tanpa melihat pada Jiro.


Kedua gadis itu mendorong tubuh Jiro hingga mundur menjauh dari tubuh mereka. Zoya langsung mengepalkan tinju ke wajah Miko hingga terhuyung. Miko tidak terima langsung menubruk tubuh Zoya meninju perut gadis itu hingga terhuyung ke belakang.


"Ya Tuhan!" Jiro mengusap wajahnya kasar, lalu maju mendekati kedua gadis yang tengah bertarung. Ia berusaha memisahkan mereka dengan cara ikut dalam pertarungan mereka dengan melawan Miko dan Zoya. Dua gadis itu tidak bisa di anggap sepele. Wanita bisa lebih garang di banding pria, wanita bisa membuat pria berlutut di hadapannya jika sudah marah. Jiro mulai kewalahan menghadapi serangan mereka.


Saat kaki miko menerjang perut Zoya, begitu juga sebaliknya dengan Zoya kaki kirinya menerjang perut Miko, tapi yang terkena terjangan adalah Jiro. Darah segar mengalir dari sudut bibir Jiro. Membuat kedua gadis itu panik, keduanya berhambur mendekati Jiro.


"Kau tidak apa apa?" tanya mereka berdua bersamaan. Miko dan Zoya saling menatap tajam. Tangan Zoya langsung mengepal meninju wajah Miko hingga darah segar mengalir dari hidung gadis itu. Akhirnya pertarungan mereka lanjutkan dan mengabaikan Jiro.


"Hentikan!"


Jiro berlari mendekati mereka, kerah baju Miko ia tarik mundur ke belakang, lalu melingkarkan tangan kirinya di leher Miko. Tangan kanannya ia lingkarkan di leher Zoya, lalu menguncinya hingga kedua gadis itu tidak bisa bergerak lagi.


"Lepaskan!"


"Aku tidak akan melepaskan kalian," bisik Jiro di telinga mereka berdua.


"Dengar, jika kalian ribut terus seperti ini. Terpaksa, aku akan menikahi kalian berdua." Jiro tertawa lebar.


"Apa?!" jawab mereka serempak menatap Jiro.


"Ya, aku akan menikahi kalian." Jiro melepaskan cengkraman tangannya menatap kedua gadis di hadapannya.


"Aku tidak sudi berbagi dengan gadis sialan ini!" pekik Zoya menatap benci Miko.


"Siapa yang sudi? cuih!" Miko tak kalah berang menatap Zoya.


"Tapi aku ingin kalian menjadi istriku!" Jiro tertawa terbahak bahak.


Kedua gadis itu menatap bingung Jiro. Mereka merasa aneh dengan sikap Jiro.


"Kau baik baik saja bukan?" tanya Miko khawatir.


"Aku tidak baik baik saja, sejak kalian bertarung. Kalian paham?!" Jiro menatap tajam keduanya membuat Zoya begidik ngeri. "Ingat Miko, urusan kita belum selesai," tunjuk Zoya ke wajah Miko, Lalu ia berjalan mundur menjauh dari Jiro.


"Jiro, kau baik baik saja?" tanya Miko pelan, ia berjalan mendekati Jiro setengah ragu dan takut.


"Kita pulang." Jiro menarik tangan Miko, setelah menyadari Zoya telah masuk ke dalam mobil miliknya dan meninggalkan tempat.


"Kau serius mau menikahi aku dan dia?" Miko wajahnya muram.


"Kau pikir, aku pria brengsek?" tanya Jiro balik.


"Trus? tadi maksudnya apa?" Miko menatap wajah Jiro yang senyum senyum sendiri.


"Tidak ada, aku hanya bercanda. Biar kalian berhenti bertarung."


"Jirooo!!" jerit Miko mencubit pinggang Jiro, hingga pria itu mengerang kesakitan.


"Kau cemburu bukan?" tangannya mengacak rambut Miko sesaat.

__ADS_1


Miko memajukan bibirnya, "cemburu? tidak ada. Kau pikir siapa?"


Jiro menggelengkan kepalanya, wanita memang paling pandai menyembunyikan perasaannya. Baik dalam keadaan senang atau sedih, itulah wanita.


__ADS_2