The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 115: Konspirasi


__ADS_3

Pagi ini Kenzi mendapatkan informasi dari pihak Kepolisian. Pihak berwajib berhasil menangkap pelaku yang mendorong Surya hingga terjadi kecelakaan. Pelaku di temukan di salah satu hotel tempat pelaku menginap. Tentu saja kabar itu membuat Kenzi sedikit lega. Pihak berwajib meminta Kenzi untuk datang ke kantor Polisi.


"Kakak Yu, biar aku dan Samuel yang ke Kantor Polisi. Kau di rumah saja." Kenzi memakai jas nya dengan tergesa gesa. Sementara Siena masih di kamarnya bersama Helion.


"Baik, kau tidak perlu khawatir. Biar aku menjaga Siena dan putramu." Yu mengantarkan Kenzi sampai teras rumah. Sementara Samuel sudah menunggu sedari tadi di halaman rumah.


Yu duduk di kursi teras rumah menatap sekitar halaman. Sementara Yeng Chen dan Akira sejak pagi pergi untuk mengurusi pekerjaan di kantor Kenzi.


"Kakak Yu.." sapa Siena dari arah pintu rumah.


Yu berdiri menatap Siena. "Adik.."


Siena melangkah mendekati Yu, "pergi kemana Kenzi?" tanya Siena.


Yu terdiam sesaat, jika ia mengatakan Kalau pihak berwajib sudah menangkap pelakunya, ia khawatir Siena akan pergi menyusul Kenzi.


"Kenzi pergi ke Kantor Polisi untuk mencari informasi," jawab Yu.


Siena menganggukkan kepala. "Oh, ya sudah.." Siena kembali masuk ke dalam rumah. Sementara Yu kembali duduk di kursi.


***


"Selamat pagi Pak." Salah satu anggota Polisi menjabat tangan Kenzi.


"Di mana pelakunya Pak?" tanya Kenzi sudah tidak sabar.


"Baik, mari ikut saya."


Kenzi mengikuti langkah Pak Polisi menuju ruang interogasi. Kenzi menepi saat Pak Polisi membuka pintu ruangan lalu mempersilahkan Kenzi masuk ke dalam.


Kenzi terkejut saat melihat Adrian tengah duduk di kursi dalam keadaan kedua tangan di borgol. Wajahnya lebam dan terdapat noda darah di sudut bibirnya. "Adrian, kau?!"


Adrian menoleh ke arah Kenzi dan tersenyum samar, "kau percaya? jika aku yang melakukannya?" ucap Adrian.

__ADS_1


Kenzi menautkan kedua alisnya menatap wajah Adrian yang berantakan dan tidak berdaya. "Pak, tolong ceritakan padaku."


"Silahkan duduk." Pak Polisi meminta Kenzi untuk duduk. Lalu Polisi tersebut memanggil saksi yang tempo hari melihat siapa yang mendorong Suryan


Saksi tersebut membenarkan dan mengenali jika Adrian lah pelakunya. Bahkan dia bersumpah demi nama Tuhan. Berdasarkan keterangan saksi, pihak berwajib menangkap Adrian di hotel tempat dia menginap semalam. "Kami tidak menemukan siapa siapa lagi selain pelaku," tegas Pak Polisi.


Kenzi tercenung mendengarkan penjelasan pihak berwajib. Lalu ia menoleh ke arah pria yang menjadi saksi terlihat dari raut wajahnya santai saja. Lalu ia beralih menatap Adrian. Ia tidak percaya kalau Adrian pelakunya. Biarpun mereka sudah tidak bersama lagi, Adrian tidak mungkin menyakiti keluarganya.


"Bagaimana Pak?" tanya Pak Polisi.


"Saya tidak yakin dia pelakunya Pak." Kenzi memberikan keterangan tentang Livian. Ia menduga Livian pelakunya. Namun saksi yang memberatkan Adrian. Akhirnya pihak berwajib menahan Adrian sampai ada bukti yang baru berdasarkan ketetangan Kenzi.


"Terima kasih, kau masih mempercayaiku sampai saat ini. Dan aku menyesal, ternyata Livian lebih licik dari perkiraanku." Adrian tersenyum samar menatap Kenzi. Lalu Pak Polisi meminta rekannya untuk membawa Adrian ke dalam sel tahanan sementara.


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan membebaskanmu." Kenzi menepuk pundak Adrian.


"Sekali lagi terima kasih, hati hati dengan Livian."


Kenzi menganggukkan kepala ia berjalan mendekati Adrian dan memeluknya lalu berbisik pelan. "Kau tahu di mana Livian?"


"Kalau begitu saya permisi Pak."


"Baik, jika Bapak punya informasi lain atau hal hal yang mencurigakan. Hubungi kami secepatnya."


Kenzi menganggukkan kepala lalu ia menjabat tangan Pak Polisi kemudian melangkah keluar ruangan. Kenzi yakin, Adrian tidak bersalah. Ia akan mengurus kebebasan Adrian bersama Yu.


"Bagaimana Bos, Livian tertangkap?" tanya Samuel menoleh ke arah Kenzi.


Kenzi menggelengkan kepala, dengan tatapan lurus ke depan, "bukan Livian tapi Adrian."


"Adrian?!" Samuel terkejut, bagaimana mungkin mereka salah tangkap. "Livian benar benar licik!" ucap Samuel kesal.


"Kita pulang." Kenzi menepuk bahu Samuel. Kemudian Samuel melajukan mobilnya kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan Kenzi berpikir keras. Di mana Livian? ia mendesah gusar dan tidak bisa berpikir jernih. Mungkin ia sanggup menghadapi musuh di depan mata sepuluh orang sekaligus. Tapi musuh dalam selimut Kenzi benar benar harus berpikir keras dan menguras pikiran juga membuat emosi. Apalagi ia masih teringat kata kata Livian.

__ADS_1


"Aku mencintai Siena."


"Ahhh! Kenzi mendesah gusar, lalu mengusap wajahnta berkali kali. Samuel melirik sesaat, ia bisa melihat keresahan di raut wajah Kenzi.


***


Sementara itu di kantor perusahaan milik Kenzi. Kedua anak buah Kenzi baru saja selesai mengurus beberapa pekerjaan yang harus di tangani dengab cepat. Mereka duduk di dalam ruangan menikmati secangkir teh.


"Sudah selesai, kita pulang sekarang." Akira meletakkan cangkir teh di atas meja.


"Ok!" sahut Yeng Chen. Ia membereskan beberapa dokumen perusahaan lalu menyimpannya di laci meja Kenzi dan menguncinya. Setelah semua selesai mereka berjalan bersama menuju halaman kantor. Yeng Chen dan Akira masuk ke dalam mobil lalu memasang sabuk pengaman.


Tiba tiba ponsel milik Yeng Chen berbunyi. Ia merogoh saku celananya lalu menatap layar ponsel. Kedua alisnya bertaut menatap layar ponsel. "Livian?"


Akira memperhatikan Yeng Chen lalu bertanya, "ada apa?"


"Livian menghubungiku." Yeng Chen menatap tajam ke arah Akira.


"Abaikan saja," sahut Akira.


Yeng Chen menganggukkan kepala, lalu ia mematikan panggilan Livian. Namun baru saja ia hendak memasukkan ponselnya lagi. Livian kembali menghubungi Yeng Chen.


"Dia lagi.." ucap Yeng Chen pelan. Karena penasaran, Yeng Chen menggeser icon berwarna hijau lalu ponsel ia dekatkan ke telinga.


"Halo.." sapa Yeng Chen kedua alisnya bertaut mendengar suara Livian tertawa terkekeh. Yeng Chen juga mendengar suara jeritan seorang wanita dan anak kecil.


Matanya melebar, "kau apakan Nona kami!" pekik Yeng Chen geram. Akira langsung menatap Yeng Chen dengan perasaan tak menentu.


"Coba saja kalau kau bisa menyelamatkannya." Livian tertawa terbahak bahak. Membuat Yeng Chen semakin terpancing emosi. Panggilan terputus lalu di susul pesan singkat dari Livian yang memberikan alamat lengkap pada Yeng Chen


"Ada apa!" seru Akira semakin tidak sabar.


"Nona Siena di tangkap Livian bersama Helion! kita ke sana sekarang!" Yeng Chen melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Tapi kita harus menghubungi Bos dulu!" usul Akira.


"Tidak perlu, aku yakin Bos juga sedang menyusul ke sana. Kita harus segera sampai, Bos dan Nona Siena membutuhkan kita!" tanpa berkata apa apa lagi, Yeng Chen melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melalui jalan tol supaya cepat sampai di tujuan. Mereka memutuskan untuk menyelamatkan Siena menuju kaki bukit gunung Sindur.


__ADS_2