The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Sore itu Yu menemui Kenzi dan Siena membicarakan masalah Ryu. Mereka berharap Yu memberikan solusi untuk mereka. Yu juga tidak tahu harus berbuat apa. Posisi Kenzi dan Siena sulit. Namun Yu memberikan usul pada Kenzi. Dia mengusulkan supaya mereka pulang saja ke Indonesia. Dan Yu bersiap untuk menjaga Jiro di sini. Namun Siena keberatan kalau harus meninggalkan Jiro di sini hanya di temani Kakak Yu. Akhirnya mereka pun mendapatkan jalan buntu. Masing masing tidak mau meninggalkan Jiro tanpa adanya Kenzi atau Siena.


Setengah jam mereka hanya diam tanpa adanya solusi. Akhirnya Kenzi memutuskan untuk memulangkan Siena dan Ryu bersama Samuel ke Indonesia. Sementara Kenzi sendiri bersama Jiro. Menurut pendapat dia, jika salah satu orang tuanya ada, Jiro tidak akan merasa di buang. Lagi pula Jiro pria dewasa meskipun usianya masih muda. Tentu dia akan mengerti situasinya. Jika Ryu di biarkan di sini lebih lama, hanya akan menimbulkan masalah saja.


Usul Kenzi sempat di tolak Siena, namun pada akhirnya Siena mau mengalah berpisah jauh dari Kenzi dan putranya demi keselamatan Ryu juga. Setelah mereka sepakat, Kakak Yu pamit undur diri, karena putrinya sendirian di rumah.


Sepeninggal Yu, Kenzi duduk termenung di balkon kamar. Menatap langit yang terlihat gelap. Dulu, dia harus berjuang untuk melindungi Siena dan dirinya. Sekarang pria itu harus bertanggungjawab melindungi dua putranya dari ancaman.


Siena berdiri di ambang pintu memperhatikan Kenzi. Perlahan ia berjalan mendekat lalu duduk di pangkuan Kenzi.


"Hei.." Kenzi tersenyum.


"Sayang, aku ingin bicara denganmu." Tangannya mengusap pipi Kenzi lembut. Lebih dari dua puluh tahun mereka menikah, namun kemesraan diantara mereka masih tetap sama seperti dulu. Rasa sayang dan cinta semakin besar untuk Siena dan dua putranya.


"Ada apa sayang, Katakanlah, aku akan mendengarkan semuanya," ucap Kenzi pelan.


"Tentang apa yang kurasakan, bila nanti kita berjauhan. Berjanjilah padaku, jangan main perempuan," ucap Siena di akhiri tawa kecil menggoda Kenzi.


"Tidak mungkin sayang, kau adalah Ratuku. Seandainya pun kau telah tiada. Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah tergantikan. Tak akan pernah sayangku, janjiku janji untukmu." Kenzi mencium pipi Siena sekilas.


"Kalau begitu, untuk apa kita berpisah jauh? Jiwa ragaku untukmu sayang. Matipun aku mau." Siena tersenyum tipis, kedua alisnya di angkat menunggu jawaban Kenzi.


Mata Kenzi membulat, mencubit gemas hidung Siena, "jangan pernah bicara seperti itu. Kita sudah sepakat sayang. Sebagai orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk putra putra kita."


"Aku tahu itu, sayang. Tapi, aku takut. Kalau kita berjauhan kau menduakan cintaku," goda Siena.

__ADS_1


Kenzi tertawa kecil, bibirnya maju hendak menggigit hidung Siena. "Awas ya, kau mulai menggodaku. Mau aku terkam di sini?"


Siena tertawa lebar lalu memeluk Kenzi erat. Membenamkan wajahnya di dada Kenzi, bersama menatap langit yang gelap. Mengingat semua kenangan yang sudah mereka lewati. Sesekali tangan Siena mencubit pinggang Kenzi. Membuat pria itu menjerit kesakitan.


"Kau ingat sayang?" Kenzi menatap wajah Siena.


"Hmm."


"Hal terbodoh yang pernah aku lakukan, saat aku membiarkanmu menari di depan teman temanku dulu."


Siena mengangkat wajahnya menatap Kenzi dan tersenyum lebar, "Hei, kau baru sadar. Kalau dirimu bodoh, sayang?"


"A, appa? katakan, apalagi kebodohanku," sungut Kenzi.


"Banyak, kalau aku hitung, tapi biarpun kau bodoh. Kau suamiku yang paling bodoh, sayang."


Siena tertawa terbahak bahak, melihat Kenzi cemberut. "Kalau aku bodoh, kamu sendiri sayang?" tanya Kenzi kembali memeluk erat Siena.


"Aku pintar dong," sahut Siena.


Kenzi terdiam menatap Siena. "Tunggu sayang, kalau kau pintar. Kenapa memilih pria bodoh sepertiku? hmm, itu tandanya?"


"Apa? Siena membalas tatapan mata Kenzi.


Tangan Kenzi terulur mencubit hidung Siena dengan gemas. " Itu tandanya, kita sama sama bodoooh."

__ADS_1


Siena tertawa terbahak bahak, kemudian Kenzi ikut tertawa kecil memperhatikan Siena yang tertawa puas berhasil menggodanya. Pria itu merasa beruntung memiliki istri seperti Siena yang tetap setia memberikan cinta dan kasih sayang untuknya meski terjangan badai terus menghantamnya. Usia Kenzi atau Siena sudah tidak muda lagi.


***


Sementara di kamar lain, Jiro tengah memperhatikan foto Kenzi dan Siena. Tangannya menyusuri wajah Kenzi dan Siena dalam foto itu. Mereka sudah tidak muda lagi, terlihat kerutan di sekitar matanya. Di mata mereka masih menyimpan semua peristiwa, benturan dan hempasan menghantam tergambar di lingkaran hitam mata mereka.


"Kalian tidak muda lagi, tapi kalian tetap kuat meski memikul beban yang semakin berat dan tetap bertahan dan saling setia. Kalian telah mengerti hitam dan merah kehidupan ini. Maafkan aku Ayah, Ibu." Mata Jiro mulai merembes basah oleh air mata.


"Ayah, Ibu, tidak akan kubiarkan kalian memikul beban ini sendirian. Mungkin, aku tidak bisa seperti Ayah, tapi aku akan berusaha semampuku."


Foto kedua orangtuanya Jiro angkat lalu menciumnya dengan dalam.


"I love You, Mom..Dad."


Setelah puas memandangi foto mereka, kembali foto itu Jiro letakkan di atas meja. Lalu ia berdiri. Malam ini Jiro memutuskan untuk mengajak bicara dengan Ryu. Lalu ia melangkahkan kakinya menemui Ryu di kamarnya. Lalu Jiro mengajak Ryu menemui Samuel di kamarnya. Menurut Jiro, Samuel adalah saksi sejarah kehidupan orangtuanya. Jiro tidak ingin masalah ini terus berlarut. Ryu harus tahu semuanya. Mungkin dengan begitu, Ryu akan mengerti situasi sulit yang di alami Kenzi dan Siena.


Samuel terkejut melihat kedatangan dua putra Kenzi ke kamarnya. Awalnya Samuel tidak mau menceritakannya pada Ryu, namin atas desakan Jiro. Akhirnya Samuel menceritakan semuanya yang ia ketahui. Semua perjuangan sampai satu persatu anggota keluarga merenggang nyawa. Tanpa ada yang Samuel lewati, bagaimana perjuangan mereka keluar dari lingkaran setan itu. Tidak lupa, Samuel menjelaskan siapa orangtua Zoya sebenarnya. Termasuk Kanaye, pria yang akan menjadi tunangan Zoya.


"Ryu, om memang belum pernah jatuh cinta. Tapi orangtuamu mengajarkanku apa itu cinta yang sesungguhnya," ucap Samuel di akhir cerita.


Jiro mengusap air matanya, ia juga baru tahu. Betapa Siena dan Kenzi menyayanginya dan rela melakukan apa saja untuk menemukan dirinya. Sementara Ryu hanya tertunduk. Begitu berat jalan yang harus kedua orangtuanya lewati. Tapi sekarang, Ryu malah membuka pintu lingkaran setan yang telah lama Kenzi kunci. Menyesal? ya, Ryu menyesal. Tetapi semua sudah terlambat, Ryu sudah membukanya dan memberikan musuh jalan untuk menyakiti kedua orangtuanya lagi.


Ryu tengadahkan wajahnya menatap Jiro. "Kakak, maafkan aku." Ryu memeluk Jiro erat.


"Pilihan ada di tanganmu, kau lebih senang melihat Ibu dan Ayah, mati di depanmu. Atau kau tinggalkan Zoya? dia tidak mencintaimu, Zoya hanya memanfaatkanmu saja. Coba kau pikir? kau tega meninggalkanku di hajar Kanaye dan kawan kawannya. Sementara dia dan kau? pergi meninggalkanku bukan? apa itu namanya cinta? apa itu namanya pasangan? membiarkan kekasihnya terjerumus dalam masalah? tidak Ryu, itu bukan cinta," ungkap Jiro panjang lebar. Membuat Ryu menangis menyesali kebodohannya.

__ADS_1


"Aku paham sekarang kak, aku paham. Maafkan aku."


__ADS_2