The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 67: The Damned


__ADS_3

"Dalam kegelapan, aku bisa bebas melakukan apa yang aku inginkan. Sebelum akhirnya sebuah cahaya mengenai pikiranku.' kata kata dari bibir Kenzi terus terngingang di telinga Siena.


" Masih adakah cahaya di hatinya?" gumam Siena. Hingga satu ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan Siena.


"Masuk! sahut Siena sembari menarik napas panjang.


Akira membuka pintu perlahan, " nona ditunggu tuan Kenzi untuk makan malam."


"Ya!" kata Siena malas, ia berdiri dan melangkahkan kakinya mengikuti Akira turun ke langai dasar.


"Duduklah." Kenzi berdiri dan menarik kursi dan mempersilahkan Siena duduk.


"Aku malas makan." Siena duduk di kursi menatap makanan yang sudah tersaji di meja makan.


Kenzi terdiam menatap Siena sesaat, lalu ia mengambil makanan yang tersaji untuk dirinya sendiri. "Terserah kau, tapi temani aku makan."


Siena menuangkan air mineral kedalam gelas, ia memperhatikan Kenzi yang tengah menikmati makan malamnya. Dengan mata berkaca kaca Siena menatap kedua bola mata Kenzi. Adakah cahaya di hatinya? benarkah dia mencintai seperti apa yang dia katakan? masih adakah kelembutan di hatinya?


"Apa yang kau pikirkan? tanya Kenzi, ia berhenti makan dan meletakkan pisau dan garpu di atas piring.


" Tidak ada." Siena menundukkan kepala.


"Katakan.." ucap Kenzi sembari mengusap bibirnya dengan tisu.


Siena mengangkat wajahnya, dengan ragu ragu ia melontarkan sebuah pertanyaan, "apa yang kau dapatkan dari pekerjaanmu yang berbahaya, Kenzi?"


Ia menghela napas dalam dalam, sebelum menjawab pertanyaan Siena. Dengan santai ia menjawab. "Kenyamanan."


"Kenyamanan?" Siena mengerutkan dahi menatap wajah Kenzi yang terlihat acuh.


Kenzi menganggukkan kepala sembari mengambil air mineral di dalam gelas di atas meja.


"Kenyamananmu itu membahayakan dirimu juga aku, apa kau tahu itu?" ia sama sekali tidak mengerti kenyamanan yang seperti apa Kenzi rasakan.


"Jangan memintaku untuk menjadi normal," ucap Kenzi menatap tajam Siena.


"Kalau begitu, jangan memaksaku untuk tetap berada di sisimu, Kenzi.."


Kenzi menundukkan kepala sesaat, ia tertawa kecil mendengar pernyataan Siena. "Kenyamanan dan permintaanmu dua hal yang berbeda Siena."


Kenzi berdiri, ia berjalan mendekati Siena dan melingkarkan kedua tangan di dada Siena. "Jangan pernah berpikir, aku akan melepaskanmu Siena." Ia mencium puncak kepala Siena berkali kali.

__ADS_1


Siena tengadahkan wajah menatap Kenzi, "aku tidak memintamu untuk menjadi normal, aku hanya menginginkan kebebasanku seperti kenyamanan yang kau inginkan."


Kenzi menarik tangannya, ia mundur selangkah. "Kalau kau tidak lapar, sebaiknya kau istirahat." Kenzi balik badan berlalu begitu saja meninggalkan Siena sendirian.


Siena memalingkan wajahnya mengerutkan dahi menatap punggung Kenzi dengan tatapan bingung. "Aku tahu kau masih punya hati Kenzi," ucap Siena pelan.


"Nona, apa kau mau makan?" tanya Akira berdiri di samping Siena.


Siena memalingkan wajahnya menatap Akira sesaat, "tidak, aku tidak lapar."


"Baiklah.." Akira mulai membereskan semua makanan di meja.


"Akira.." ucap Siena memegang tangan Akira.


'Iya nona.." sahut Akira.


"Sejauh mana, kau mengenal Kenzi?" tanya Siena, tengadahkan wajah menatap Akira.


Akira menatap balik Siena, ia tersenyum sembari membereskan semua makanan di atas meja. "Tuan Kenzi bukanlah pembunuh berdarah dingin, dia berbeda dengan yang lainnya." Akira mengungkapkan apa yang dia tahu tentang Kenzi.


"Kau benar Akira, tapi mengapa dia memilih pekerjaan itu?" tanya Siena.


"Soal itu, saya kurang tahu nona."


Akira menganggukkan kepala, "silahkan nona."


Siena menepuk lengan Akira sesaat, lalu ia melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur menangkup wajahnya sendiri. "Aku tidak bisa seperti ini terus," gumamnya. Perlahan ia berdiri dan membuka lemari pakaiannya, satu persatu ia masukkan ke dalam koper kecil.


Setelah semua selesai, ia berjalan menuju pintu kamar bersamaan dengan Kenzi masuk ke dalam kamar.


"Kau mau kemana?" tanya Kenzi menatap koper kecil yang Siena bawa.


"Aku mau pulang," jawab Siena datar.


Kenzi merebut koper di tangan Siena, "kau tidak boleh pergi!"


"Aku tidak bisa seperti ini terus Kenzi!" Siena menepis tangan Kenzi dan mendorong tubuhnya ke belakang.


"Tidak, kau tidak boleh pergi! beri aku waktu!" Kenzi memeluk tubuh Siena.


Siena kembali mendorong tubuh Kenzi, "lihat dirimu, setiap hari kau mabuk!"

__ADS_1


"Beri aku waktu, Siena!"


Kenzi mendorong pintu dan menutupnya, bersamaan suara ponsel miliknya berdering. Ia merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan dari bos besar. Sementara Siena hanya diam memperhatikan.


"Halo!" pekik Kenzi.


"Kenzi, datanglah malam ini juga. Ada hal yang harus kau kerjakan." seiring terputusnya panggilan bos besar.


Siena tertawa kecil menatap cemooh, "lihat dirimu..kau tak lebih seorang pecundang. Kau bilang ini kenyamanan yang kau inginkan? apa? buktinya kau hanyalah boneka dari bos besarmu."


Siena langsung mendorong tubuh Kenzi dan dia berlari keluar kamar. Kenzi langsung berlari menyusul Siena dan memeluknya dari belakang. "Aku mohon jangan pergi, beri aku waktu dan akan kuselesaikan semuanya."


Kenzi langsung mengangkat tubuh Siena dan menggendongnya. Ia bawa kembali Siena ke dalam kamar. "Lepaskan aku! biarkan aku pulang!"


Kenzi tidak memperdulikan semua ucapan Siena, ia hempaskan tubuh Siena ke atas tempat tidur. "Diamlah dan jangan banyak bicara!"


Dengan mata berkaca kaca ia tatap pria di hadapannya. "Aku tidak memintamu untuk meninggalkan pekerjaanmu, Kenzi. Kau tidak punya pilihan."


"Aku tahu Siena," ia memijit pelipisnya. "Tapi tidak bisakah kau diam dan tetap di sini bersamaku!" Kenzi langsung naik ke atas tempat tidur dan mencium bibir Siena cukup lama.


Setelah puas, Kenzi langsung turun dari atas tempat tidur, ia meninggalkan Siena sendirian di kamarnya. Sementara dia sendiri pergi menemui bos besarnya.


***


Kenzi duduk berhadapan dengan bos besar dan Livian Aghler. Sementara bos besar duduk di sofa kulit berwarna marun di kelilingi anak buahnya.


"Kau sudah keluar dari jalur Kenzi, kau pikir gadis itu istimewa? ucap bos besar sembari menghisap cerutu yang berasal dari cuba.


Kenzi hanya diam tak bergeming sekalipin, tangannya menainkan gelas wiski lalu meketakkannya di atas meja. " Ini masalah pribadiku,bukan urusan kalian tidak ada kaitannya dengan outfit."


Bos besar mengatupkan bibirnya, baru pertama kali Kenzi membantah apa yang dia katakan. Selama ini Kenzi di anggap putranya yang selalu menuruti apa katanya.


"Apa yang akan kau lakukan pada gadis yang bernama Siena?" tanya Livian sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Bukan urusanmu," jawab Kenzi singkat, membuat Livian geram.


"Gadis itu tidak terlalu penting buatmu dan outfit, kenapa kau masih mempertahankannya?" Livian semakin memperkeruh suasana.


Kenzi melirik sesaat ke arah Livian dan bos besar, "aku harap kalian tidak mencampuri urusan pribadiku, atau aku akan keluar dari jaringan ini."


"Kau membuat masalah dengan menculik gadis itu, sahabatnya telah melaporkan pada pihak kepolisian. Tidak hanya Crips yang bermasalah denganmu, tapi juga pihak kepolisian."

__ADS_1


Kenzi tertawa pelan, ia berdiri menatap Livian dan bos besar, "kalian tidak perlu mengkhawatirkanku, aku bukan anak kecil lagi." Kenzi balik badan dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tanpa basa basi lagi.


Kenzi akan melakukan apapun untuk Siena, dan dia tidak memperdulikam lagi nyawanya sendiri.


__ADS_2