
Kenzi yang baru saja separuh jalan, dari kaca spion mobil melihat anak buah anggota Crips. Tanpa pikir panjang, ia langsung memutar arah mobilnya hingga terdengar suara berderit.
"Bos! Samuel menoleh menatap Kenzi tidak mengerti mengapa dia kembali ke arah jalan menuju rumah.
"Crips!" ucapnya tanpa ekspresi dengan tatapan lurus ke depan. Samuel langsung diam mengerti maksud Kenzi.
Tak lama mereka sampai, Kenzi langsung menabrakkan mobilnya ke pintu gerbang rumahnya yang sudah rusak. Dan benar saja dugaan Kenzi, dari dalam mobil ia bisa melihat anak buahnya tergeletak dengan pedang di punggungnya. Kenzi dan Samuel keluar dari pintu mobil langsung berlari ke dalam rumah.
"Siena! kakak Yu!"
Napas Kenzi memburu, tatapan tajam keseluruh ruangan, ia tidak melihat Yu atau Siena dan putranya. Yang ada hanya mayat dari anggota Crips dan anak buahnya. Kenzi langsung berlari ke lantai dua rumahnya menuju kamar Siena yang ia kunci dari luar.
Dengan perasaan yang tidak menentu, tangannya merogoh saku celana mengambil kunci lalu membukanya. Mata Kenzi melebar menatap Siena tergeletak bersimbah darah dengan pakaian terbuka, di sampingnya Helion duduk menangisi Ibunya.
"Sayang!" pekik Kenzi berlari ke arah Siena lalu jongkok dan mengangkat tubuh Siena ke pangkuannya. Tangannya mengusap wajah dan menyentuh luka tembakan di perut Siena.
"Ayah.." ucap Helion lirih.
"Hei, jagoan Ayah jangan menangis, ayo bangun." Kenzi tersenyum getir menatap putranya terdapat noda darah di keningnya. Dengan raut wajah merah padam, Kenzi bangun menggendong Siena.
"Sam!" teriak Kenzi.
"Bos! Samuel berlari dari arah pintu kamar.
"Siapkan mobil!" Kenzi berlari keluar ruangan. Sementara Samuel mengangkat tubuh Helion dan menggendongnya lalu berlari menyusul Kenzi.
__ADS_1
"Sayang, bertahanlah..demi anak kita.." ucap Kenzi lirih mencium kening Siena dengan dalam, lalu beralih menatap Helion yang duduk di sampingnya. "Hei, jagoan Ayah..apa kau baik baik saja?"
Helion menganggukkan kepala, "iya Ayah..kata Ibu, aku tidak boleh cengeng," ucapnya pelan sembari mengucek kedua matanya yang berair.
Kenzi tersenyum menatap nanar putrannya yang berusaha untuk tidak menangis melihat Ibunya terluka. Perlahan Helion mencium kening Siena. "Ibu jangan takut, aku ada di sini." Tangannya memeluk wajah Siena.
Perih! marah! Kenzi rasakan saat ini, di benaknya hanya terbayang wajah Livian. "Apa yang sudah kau lakukan pada istriku," ucapnya dalam hati, mengingat pakaian Siena yang terbuka. Bibirnya mengatup, kedua bola mata merah menyala.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit, mereka langsung keluar dari pintu mobil. Setengah berlari Kenzi membawa Siena ke ruang UGD, sementara Samuel membawa Helion ke ruangan berbeda untuk mendapatkan perawatan luka di keningnya.
Empat jam berlalu Kenzi menunggu di luar ruangan bersama Samuel, sementara Helion tengah beristirahat di ruangan ia di rawat.
Kenzi meremas tangannya kecewa. Si brengsek Livian telah melukai istrinya dan berusaha menyentuhnya.
"Bos!
"Tidur.." sahut Samuel.
"Di mana Yu?" Kenzi menoleh ke arah Samuel.
Samuel menggelengkan kepala, dia sendiri tidak tahu keberadaan Yu. Dia hilang bak di telan bumi. Bahkan Samuel berkali kali menghungi nomer ponselnya, tapi sampai sekarang nomernya tidak aktif. "Mungkinkah Tuan Yi di tangkap?"
Kenzi menghela napas dalam, ia melirik sesaat ke arah Samuel. "Aku tidak yakin." Yu bukan anak kemarin sore yang harus di ajarkan bagaimana caranya bertarung, dan rumah Kenzi tidak mungkin kecolongan Livian sampai bisa masuk ke kamar Siena. Jika Yu ada, tipis kemungkinan Livian berhasil.
Samuel mengangguk anggukkan kepalanya, lalu keduanya diam larut dalam pikirannya masing masing. Hening! hanya terdengar desahan napas Kenzi berkali kali nenarik napas panjang.
__ADS_1
Kenzi berdiri, lalu berjalan memasuki ruangan Siena. Ia duduk di kursi, menatap tubuh Siena yang masih tak sadarkan diri pasca operasi pengangkatan peluru di perutnya. Sejak peperangannya dengan organisasi terlarang dan keluar dari keanggotaan. Ternyata semua yang ia ketahui bukanlah omong kosong belakan. Organisasi itu begitu kuat dan susah di cabut ke akarnya. Dan kini wanita yang ia cintai, terbaring tak sadarkan diri telah menjadi korban untuk kesekian kalinya.
Dada Kenzi terasa nyeri. Dia melihat keadaannya dan menatap wajah Siena. Dia merasa kini hanyalah pria lemah. Sangat jauh di bandingkan dengan yang dulu. Dia tidak selincah dan berkali kali kecolongan. Tapi jika ia harus berhadapan dengan bos Crip dan anak buahnya sekalipun. Kenzi sanggup melawannya, tapi kali ini berbeda. Livian menaruh dendam padanya. Buktinya Livian berusaha menghancurkannya dari dalam. Kata kata Livian yang menginginkan Siena masih hangat dalam ingatannya.
Perlahan Siena kembali mendapatkan kesadarannya, kembali membuka matanya. Tatapannya bertemu dengan iris sekelam malam, air matanya mengalir. Lengan Siena terulur menyentuh pipi beku Kenzi. Merasakan bahwa pria di hadapannya adalah Kenzi. Siena terisak, dan dia berusaha berusaha bangun namun kondisinya belum pulih benar. "Sayang.."
Kenzi membeku, tidak melakukan apapun. Bahkan ia tidak ingin memeluk Siena, menenangkannya. Semua rasa yang ia miliki untuk Siena sesaat hilang tanpa bekas. Bukan ia marah padanya tapi kecewa terhadap dirinya sendiri.
"Sayang.." Siena menggenggam erat tangan Kenzi. Perlahan hati Kenzi melunak dan membungkukkan badan memeluk tubuh Siena. Merasakan isakan Siena di pelukannya membuat dadanya nyeri. Tapi dia pun merasa lega melihat Siena sadar, ia begitu khawatir pada Siena hingga rasanya mau mati. Dia kehilangan rasa percaya diri di saat ia lemah dan kalah telak. Si brengsek Livian membuat Kenzi tidak tenang barang sedikitpun.
"Aku bersyukur kau baik baik saja."
"Klik!"
Suara pintu ruangan di buka membuat mereka menoleh ke arah pintu. Helion dalam gendongan Samuel langsung turun dan berlari naik ke atas tempat tidur. "Ibu..." Helion memeluk tubuh Siena erat.
Kenzi berdiri lalu keluar bersama Samuel, dan membiarkan putranya bersama Siena di dalam ruangan. "Bos, di luar banyak Polisi."
Kenzi tertegun, ia tidak perduli. Yang ia pikirkan saat ini adalah keberadaan Yu. Mungkinkah Yu berkhianat? Kenzi menepis prasangkanya terhadap Yu. Kenzi sudah mengenal lama Yu sejak masih di Hongkong. Dan selama ini mereka bersahabat dengan baik. Tapi, berkali kali ia kecolongan di rumahnya sendiri. Dan musuh selalu menyerang pada saat dia tidak ada. Mustahil Yu mengkhianati Kenzi. Tapi hilangnya Yu bersamaan dengan keluarganya yang di porak porandakan membuat pikiran Kenzi terus mengarah pada Yu.
"Bos, sebaiknya kita pindah rumah."
Kenzi menoleh ke arah Samuel, "maksudmu?"
"Rumah kita sudah tidak aman." Samuel merasa pergerakan di rumah itu sudah di awasi seseorang. Tapi Samuel sendiri belum tahu. Dia menyarankan Kenzi untuk pindah rumah tanpa harus kembali lagi ke rumah itu. Untuk mencegah keberadaan mereka terendus lagi pihak musuh.
__ADS_1
Kenzi menganggukkan kepala, mengingat Yeng Chen kondisinya belum stabil. Dia tidak bisa hanya mengandalkan Akira dan Samuel saja untuk menjaga Siena dan putrinya. Tapi andaikan mereka pindah rumah, apakah mereka akan berhenti mengganggu? tidak mungkin!