The Mafia Bride

The Mafia Bride
POV SIENA


__ADS_3

Usia kandungan Siena sudah menginjak sembilan bulan. Saat ini, Siena mencoba untuk melupakan masa lalunya. Dan tidak ingin mengubah apapun, selain menemani putranya dan membesarkan putrinya yang masih dalam kandungan. Musuh musuh Kenzi pun, tidak lagi menampakkan batang hidungnya. Siena dan yang lain berpikir kalau mereka tidak akan mengganggu Kenzi lagi, meski pernah ada ancaman dari pihak musuh akan menghabisi keluarga Kenzi sampai habis, jika Siena berani lagi bersuara. Sejak saat itu, Siena tidak lagi mencari keadilan untuk suami dan putranya. Ia pendam semua luka di hatinya,


Musik yang indah, tak mampu lagi membuat Siena terhibur. Tidak ada yang lebih luka yang menyayat dari terantuk sepi dan kehampaan saat orang yang ia cintai sampai sekarang tidak ada kabarnya.


Seperti inikah hidup? terluka, semua hilang, segala usaha yang percuma. Hidupnya mengambang bagaikan ikan yang terseret air oleh makna yang tak bertuju, hanya air mata yang mengikis usianya yang sudah tidak muda lagi.


Luka


Luka


Hancur


Lalu tiada semua rasa terampas oleh hidup yang telah membuatnya kecewa.


"Akhiri semua ini Tuhan.." gumam Siena lirih, di setiap diamnya menatap kosong ke arah jendela kamar.


Di suatu pagi, Siena meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan Ethan dan yang lain. Siena memutuskan untuk mendatangi tempat di mana mobil Kenzi terjatuh ke dasar laut. Dengan membawa sebuket bunga mawar merah di tangannya. Ia tersenyum menatap ke bawah laut dari jembatan. Sesekali ia menghirup aroma bunga mawar itu, lalu ia jatuhkan bunga itu ke laut.


"Sayang, aku tahu kau masih hidup. Tapi di mana kau sekarang?" ucap Siena pelan menatap ke bawah.


Masa lalu yang indah bersama suaminya, perasaan polos dan semua kenangan. Tawa canda, sedu sedan, kebersamaan yang indah lebih indah dari masa depan. Rumah yang luas, perasaan damai. Suara kecil Jiro berlari memanggilnya dan rengekan manja si buah hati saat keinginannya tidak di kabulkan.


Potongan potongan masa silam yang indah begitu berharga, menyapa setiap hari dan berputar di kepala Siena.


Siena memejamkan matanya, menghirup udara dalam dalam. Perlahan tubuh dan sukmanya terasa melayang, kedua kakinya terangkat, tubuh Siena hampir saja jatuh dari ketinggian kalau saja tidak ada seseorang menarik tangan Siena dan memeluknya dengan erat.


"Apa kau sudah gila!" pekik seorang wanita.

__ADS_1


Siena langsung membuka mata, ia menoleh ke belakang. Melihat seorang wanita bermata sipit, rambutnya pendek seperti laki laki. Kalau di lihat dari wajahnya, usianya sudah tua tapi wanita itu terlihat bugar dan kekar.


Siena balik badan menghadap wanita itu yang terus menggerutu padanya.


"Kau sudah gila? apa masalahmu hingga kau mau melakukan tindakan bodoh!"


Namun Siena hanya diam dengan tatapan kosong menatap wanita itu.


"Apa kau tuli?" tanya wanita itu mengerutkan dahi menatap Siena.


"Aduh!" tiba tiba saja Siena mengerang kesakitan saat merasakan sakit di perut dan pinggangnya.


"Sepertinya kau akan melahirkan," gumam wanita itu menatap perut Siena.


"Aduh!" kembali Siena mengerang, lalu ia jongkok di jalan aspal. Wanita tersebut segera membantu Siena dan mengangkat tubuhnya supaya berdiri.


Namun saat wanita itu hendak melajukan mobilnya, dari arah depan dan belakang. Beberapa motor mulai menghalangi laju mobilnya.


"Hm, sepertinya wanita ini memiliki musuh," ucapnya pelan melirik ke arah Siena yang terus mengerang kesakitan.


"Ayo sialan, kejar aku kalau kau bisa!" seru wanita itu lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menabrak beberapa motor yang coba menghalanginya.


"Sepertinya mereka mengejar wanita ini, aku tidak boleh membawanya ke rumah sakit." Wanita itu tersenyum menyeringai, menatap musuh di belakang. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi bak pembalap profesional meski berkali kali menyenggol mobil lainnya. Wanita itu memutuskan membawa Siena ke rumahnya di perbatasan kota.


***


Sesampainya di halaman rumahnya, wanita itu menepikan mobil. Ukuran rumah yang sangat sederhana dan asri di kelilingi banyak pohon. Wanita itu mengeluarkan Siena dari dalam mobil memasuki rumahnya.

__ADS_1


"Kau tenang, aku panggilkan Dokter." wanita itu menatap Siena yang terus mengerang. Kemudian ia menelpon Dokter pribadinya untuk membantunya dalam persalinan Siena.


Satu jam berlalu, persalinan Siena telah selesai. Suara tangis bayi perempuan memenuhi kamar . Wanita yang membantu Siena, tersenyum memandang bayi perempuaan yang masih merah di pangkuannya.


"Kau cantik sekali sayang," ucapnya sambil mengecup kening si bayi dengan lembut. Lalu ia melirik ke arah Siena yang tak sadarkan diri, alat alat medis terpasang di tubuh Siena.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya wanita itu.


"Laura, sepertinya wanita ini mengalami trauma dan hari hari yang sangat buruk, dia baik baik saja. Tapi entah mengapa ia tidak mau bangun dari tidurnya," ungkap Dokter itu.


Wanita yang bernama Laura itu menatap dalam wajah Siena. "Sudah kuduga."


"Sebaiknya dia tetap di rawat di sini, dan kau harus datang ke sini untuk memeriksa kondisinya." Laura meletakkan bayi itu di samping Siena.


"Kau cantik, di lahirkan di saat saat yang sulit." Laura berdiri tegap menatap wajah Siena sesaat, lalu beralih pada bayi mungil itu. "Biar aku yang memberimu nama, sayang." Laura terdiam sesaat.


"Angela." gumam Laura. Laura tersenyum lebar. Membungkukkan badan sesaat mengecup kening bayi itu lalu kembali berdiri tegap, mengalihkan pandangannya pada Dokter yang sudah berkemas untuk kembali ke Rumah Sakit.


Kemudian wanita itu mengantarkan Dokter keluar dari ruangan setelah persalinan selesai. Meninggalkan bayi itu dan Siena di kamar.


Bayi itu berhenti menangis, matanya terbuka menggeliat. Sementara Siena nampak tertidur dengan pulas, bersama mimpi panjangnya yang entah sampai kapan ia akan seperti itu. Kepedihan atas hilangnya Kenzi telah mengambil cahaya hidupnya yang perlahan redup. Siena tahu, segalanya hampir hilang dan musnah. Kekecewaan yang sangat dalam di bangun atas kesombongan dan ketidak adilan yang harus di terimanya.


Biasanya, saat Siena terpejam atau terluka. Kenzi selalu ada dan tidak pernah meninggalkannya. Kini ia sendirian, berjuang kembali untuk meraih kesadarannya, entah kapan hanya waktu yang akan menjawab itu semua.


"*Apa yang kau takutkan dalam hidupmu?" tanya Siena manja duduk di pangkuan Kenzi.


"Kehilanganmu, setiap kali kumembuka mata. Hanya wajahmu yang lebih dulu ingin kulihat." Kenzi tersenyum menatap sayang*.

__ADS_1


__ADS_2