The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: vendetta and love


__ADS_3

Keesokan paginya, Jiro sudah bersiap siap untuk menjemput Zoya untuk menemui Miko. Namun gelagat Jiro yang tak bisa berbohong, membuat Siena semakin curiga. Namun kali ini, Jiro masih bisa meyakinkan Siena atau Kenzi bahwa semua baik baik saja.


"Sayang, jangan terlalu menekannya. Aku khawatir, dia malah semakin jauh." Kenzi berusaha meyakinkan Siena kalau putranya bisa mengatasi masalahnya jika memang dia punya masalah.


"Tapi sayang-?"


"Sudahlah, kau tenang saja. Hari ini, aku akan menemui kakak Yu." Potong Kenzi.


"Baiklah sayang, aku tidak mau masalah ini terus berlarut. Apalagi Ryu bulan depan Ry dan Savanah akan menyusul kesini."


Siena atau Kenzi berpikir, setelah bertahun tahun. Mereka akan hidup tenang tanpa ada permasalahan lagi. Namun mereka sadari, selama masih bernapas. Selama mereka masih hidup, masalah akan datang silih berganti. Yang di butuhkan adalah ketenangan dalam menyikapi setiap permasalahan yang ada. Dari awal pernikahan bukanlah sesuatu yang membahagiakan, tapi awal dari permasalahan dan tantangan tantangan baru. Karena setiap pilihan akan membawa ke dalam pilihan lain. Siena menghela napas dalam dalam, memikirkan putranya yang bersikap aneh.


***


Setelah menjemput Zoya di rumahnya. Mereka berdua langsung meluncur ke rumah Miko yang sudah menunggu mereka berdua. Kemudian mereka bertiga kembali berangkat ke markas Crips.


Sesampainya di markas Crips, mereka tengah mengadakan turnamen. Pertarungan hidup dan mati, siapa yang kuat dia layak menjadi pemimpin. Zoya dan Jiro sangat terkejut dengan persyaratan yang harus di lakukan Jiro. Sebelumnya Miko tidak mengatakan itu semua dari awal, Zoya pun berusaha untuk mencegah Jiro. Karena menurut dia, ini bukan sekedar turnamen. Namun Miko terus membujuk Jiro untuk melakukannya atas nama cinta dan demi menyelamatkan Ibunya. Akhirnya Jiro menyetujuinya.


Semua anggota Crip berdiri di luar ring yang akan di gunakan untuk bertanding. Tak sedikit merekapun bertaruh siapa yang hidup. Zoya semakin curiga dengan Miko, tapi dia tidak bisa membuktikannya pada Jiro. Zoya hanya bisa diam memperhatikan yang menjadi musuh tanding Jiro. Gadis itu khawatir akan ada kecurangan. Sementara Miko dengan santai memperhatikan jalannya pertandingan.


Awal pertandingan semua berjalan lancar. Babak pertama dan kedua, Jiro berhasil membuat musuhnya babak belur. Sorak sorai yang menonton dan bertaruh terus berteriak memberikan semangat pada kedua belah pihak. Namun di babak berikutnya, Zoya menangkap ada kecurangan dari pihak musuh. Sepintas mata, Zoya melihat musuh mengeluarkan senjata rahasia, sebilah belati berukuran kecil siap menghunus perut Jiro, saat pria itu tengah berusaha bangkit setelah mendapatkan pukulan keras di perutnya. Dengan sigap Zoya berlari lalu naik ke atas ring menerjang punggung musuh hingga tersungkur, tidak hanya cukup di situ. Zoya mencekik leher musuhnya lalu meninju habis habisan. Miko yang melihat itu langsung ikut naik ke atas ring. Miko langsung menarik tangan Zoya mundur lalu menampar gadis itu.


"Kenapa kau mengacaukan pertandingan ini? kalau kau membantu Jiro. Artinya pertandingan ini gugur. Dan Jiro harus mengulangnya lagi!" seru Miko menatap tajam Zoya yang memegang pipinya.


"Apa maksudmu? oh, atau jangan jangan kau sengaja hendak mencelakakan Jiro? iya begitu?"


"Jaga mulutmu, Zoya!" pekik Miko.


Jiro hanya berdiri menatap tajam keduanya.


"Apa kau tidak lihat? dia berbuat curang!" ucap Zoya kesal.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengada ada!" Miko kesal dengan sikap Zoya. Akhirnya terjadi perkelahian diantara gadis itu. Membuat Jiro pusing mana yang benar.


Miko berkali kali meninju wajah Zoya. Begitu pula Zoya berhasil memukul wajah Miko.


"Hentikan!" seru Jiro menarik tangan Zoya mundur. "Zoya! apa yang di katakan Miko benar, seharusnya kau tidak ikut campur."


"Apa?" Zoya menggelengkan kepala pelan. "Aku-aku-?


"Cukup!" Jiro membentak Zoya lalu menarik tangan Miko turun dari atas ring. Zoya hanya diam memperhatikan lalu ia keluar dari ring menyusul mereka berdua.


"Jiro, maafkan aku. Bukan maksudku ikut campur. Tapi mereka curang."


Jiro balik badan menatap tajam Miko. "Aku tidak tahu apa yang kau katakan itu benar atau tidak. Aku tidak melihat dia memegang senjata seperti yang kau bilang."


"Hah, jangan jangan kau sengaja untuk mengacaukan," timpal Miko.


"Sebaiknya kau pulang." Jiro menarik tangan Miko meninggalkan markas Crips.


Sepanjang perjalanan ia menangis, hatinya serasa sakit. Dulu Ryu sangat mencintainya, hingga rela melakukan apa saja untuknya. Kini ia merasakan apa yang Ryu rasakan.


"Maaafkan aku Ryu, sekarang aku baru merasakan sakitnya tak di anggap oleh orang yang kucintai. Tapi, aku memang tidak mencintaimu Ryu, jika di teruskanpun percuma," gumam Zoya terisak.


Tak lama kemudian ia telah sampai di rumahnya. Baru saja ia membuka pintu, ia melihat Adelfo tengah berdiri menatapnya tajam. Namun Zoya malah tertawa terbahak bahak menatap wajah Adelfo yang terkena tepung, tidak hanya itu. Rambut Adelfo juga putih terkena tepung. Entah apa yang sedang di lakukan Ayahnya.


"Kau dari mana?" tanya Adelfo.


Zoya menurunkan volume suaranya, lalu mengusap wajah Adelfo. "Papa sedang apa? kok wajahnya kotor."


"Hari ini, kekasih Papa ulang tahun. Papa mau buat kue dengan tangan Papa sendiri. Seperti yang biasa Ibumu lakukan."


Gerakan tangan Zoya terhenti, matanya berkaca kaca menatap Adelfo. Lalu memeluknya erat.

__ADS_1


"Papa.." bisiknya lirih.


"Hei, sudah selingkuhi Papa, sekarang malah menangis." Adelfo membalas pelukan Zoya. Dia tidak menyinggung sama sekali kenapa wajah Zoya lebam lebam. Bukan ia tidak tahu, Zoya gadis yang keras kepala jika sudah ada maunya. Jika di larang, ia khawatir putrinya akan meninggalkannya seperti yang dilakukannya bersama Ryu.


"Rupanya ada yang hendak mengadu domba antara aku dan Kenzi," ucap Adelfo dalam hati.


"Hei, sudah jangan cengeng. Ayo bantu Papa buat kue nya."


Zoya melepaskan pelukannya, tengadahkan wajahnya menatap Adelfo.


"Siap pacarku!" ucap Zoya tertawa kecil.


Adelfo tersenyum kecil menatap wajah putrinya. Hatinya di selimuti rasa marah terhadap Jiro, namun demi putri semata wayangnya. Nafsu untuk membunuh Jiro ia buang jauh jauh.


***


Sementara itu, Kenzi dan Yu berhasil mengumpulkan informasi yang di butuhkannya. Bagi mereka tidak sulit untuk mendapatkan berbagai informasi. Mantan anak buah Kenzi masih tersebar di berbagai sudut kota. Yang siap mencari dan memberikan informasi yang Kenzi butuhkan.


Setelah semua informasi itu di rasa cukup, Kenzi bergegas kembali pulang ke rumah. Dan membicarakannya langsung dengan Siena.


"Apa?!" Siena bangkit dari duduknya menatap tajam Kenzi. Ia tidak menyangka masalah ini begitu rumit. Masa tuanya masih di bayang bayangi masa lalu.


"Ya, benar." Kenzi duduk di kursi mengusap wajahnya kasar.


"Apa tindakanmu, sayang?" tanya Siena.


"Jiro sudah lama tidak mengurus pekerjaannya. Ia sibuk dengan Miko, kita harus mencegah hubungan mereka. Aku tidak mau putra kita masuk ke dalam lingjaran setan itu."


Siena berjalan mendekati Kenzi, melingkarkan kedua tangannya di leher Kenzi.


"Tenanglah sayang, kita jangan panik."

__ADS_1


__ADS_2