The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 60: Meeting


__ADS_3

Sepanjang jalan di dalam mobil Siena hanya diam, ia masih trauma dengan insiden tadi. Sesampainya di halaman club, Kenzi langsung keluar dari pintu mobil, ia mengulurkan tangan pada Siena yang masih duduk di dalam mobil enggan untuk keluar.


"Ayo Siena.." Kenzi menatap kesal Siena yang selalu bersikap keras kepala. Akhirnya Kenzi menarik paksa tangan Siena.


"Aku tidak mau! Siena menggigit tangan Kenzi. Namun Kenzi terus saja memaksa, akhirnya Siena keluar dari pintu mobil dengan tatapan marah ke arah Kenzi.


"Mau ngapain kita kesini? aku mau pulang!"


Kenzi meletakkan satu jari di bibir Siena sesaat, lalu ia merangkul bahu Siena masuk ke dalam club.


"Selamat datang tuan Kenzi," sapa salah satu pria yang menggunakan jaket berwarna coklat, merangkul Kenzi sesaat.


"Tuan livian Aghler, senang bertemu anda kembali." Kenzi menatap dingin wajah pria yang bernama Livian Aghler yang tengah menatap Siena.


"Mari, mari.." Livian berjalan mendekati kursi dan mempersilahkan Kenzi dan Siena duduk di kursi. Sementara Samuel dan Yeng Chen berdiri di samping Kenzi dan Siena.


Livian memerintahkan anak buahnya membawakan minuman. Tak lama kemudian anak buahnya meletakkan beberapa botol minuman di atas meja


"Kenzi, siapa dia?" tanya Livian menatap Siena.


Kenzi menuangkan minuman ke dalam gelas, "dia istriku." Siena memalingkan wajahnya menatap horor Kenzi yang tengah menyecap minumannya.


"Istri?" Livian tertawa kecil mencemooh. "Bagaimana dengan Sheila?"


Kenzi meletakkan gelas diatas meja, "terkadang kita akan melakukan apa saja demi sebuah kepentingan bukan?" Kenzi menatap tajam Livian.


"Kau sudah keluar jalur dari kesepakatan awal," Livian menggeram atas jawaban Kenzi.


"Aku tidak perduli lagi dengan outfit dan aturan yang sudah kalian terapkan," Kenzi terlihat santai.


Siena hanya diam memperhatikan, ia tidak mengerti apa yang tengah mereka bicarakan. Terlebih mereka berdua berbicara dalam bahasa asing. Tak lama Siena melihat raut wajah Livian marah menggebrak meja menatap Kenzi geram. Kemudian Livian balik badan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan. Sementara Kenzi terlihat acuh tak acuh.


"Ayo kita pergi." Kenzi menarik tangan Siena untuk berdiri.


Namun, baru saja mereka hendak pergi dari ruangan. Dua orang pria mengarahkan senjatanya ke arah mereka. "


"Sial!" ucap Kenzi pelan, namun jelas terdengar oleh Siena. Dengan Sigap Kenzi mengambil senjata api di balik jaketnya dan di tembakkan pada dua pria itu, bersamaan tangan kirinya memegang bahu Siena dan menekan tubuhnya ke bawah. Peluru berdesing dan berseliweran. Siena langsung merunduk ke bawah dan merangkak di antara langkah kaki para pengunjung club yang berhamburan keluar club. Ia menghentikan langkahnya saat dua kaki menghadangnya di depan. Ia tengadahkan wajah menatap pemilik kedua kaki itu.


"Adrian?"


Adrian langsung jongkok di hadapan Siena yang duduk di bawah kolong meja.


"Siena, aku tidak akan menyakitimu..aku hanya ingin memberitahumu," ucap Adrian sambil merunduk.

__ADS_1


"Apa?" Siena menautkan kedua alis menunggu jawaban Adrian.


"Ibumu, ibumu di tabrak oleh Kenzi sendiri. Ibumu mati bukan karena kecelakaan semata. Tapi di sengaja." Setelah bicara seperti itu, Adrian berdiri dan berlari diantara kerumunan orang. Siena melebarkan matanya dengan mulut menganga. Ia masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Adrian. Tapi tidak menutup kemungkinan jika Kenzi melakukannya.


"Siena, sedang apa kau di sana?" Kenzi jongkok di hadapan Siena langsung menarik tangannya untuk keluar dari kolong meja. Tak lama kemudian anggota polisi datang ke lokasi dan menangkap beberapa orang yang berada di club, termasuk anak buah Livian.


"Selamat malam tuan Kenzi," sapa Marsya mengarahkan senjata api ke arah Kenzi. "Bisa saya bicara dengan anda?" Marsya menurunkan senjata apinya.


"Siena!" seru seseorang yang Siena kenal.


"Rei! Keenan!" Siena hendak berlari ke arah mereka berdua. Namun Kenzi menahan tangan Siena dengan erat.


"Rupanya kalian di sini?" Kenzi menatap Rei dan Keenan. Ia tidak mengerti kenapa dua pria itu menyusul Siena ke Hongkong.


"Tuan Kenzi, anda bisa jelaskan dengan keributan ini?" Marsya menduga ada keterlibatan Kenzi dalam keributan itu.


"Kau bicara dengan pengacaraku saja," ucap Kenzi. Ia menarik tangan Siena untuk menjauh, namun di ikuti oleh Rei dan Keenan.


"Kenzi! berikan Siena pada kami!" seru Keenan. Namun Kenzi tidak memperdulikannya. Ia terus berjalan dan memaksa Siena masuk ke dalam mobil meski Siena berusaha lepas dari cengkraman Kenzi.


"Siena!" pekik Keenan


"Hei, Bung! ada masalah?!" Samuel dan Yeng Chen menghadang langkah Rei dan Keenan.


Mereka berdua mundur, saat Samuel mengarahkan senjata api ke arah mereka berdua. Samuel juga Yeng Chen tertawa kecil, mereka balik badan dan kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan club.


" Aku bisa membantu kalian!"


Rei dan Keenan menoleh ke arah suara, nampak seorang wanita menggunakan jaket hitam dengan celana jeans selutut, tersenyum mendekati mereka.


"Sheila!" wanita itu mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


"Rei, dan ini Keenan sahabatku." Rei membalas uluran tangan wanita yang bernama Sheila.


"Kalau kau mengikuti polisi yang bernama Marsya, kau tidak akan mendapatkan temanmu itu." Sheila tersenyum.


"Kau kenal Kenzi?" tanya Rei.


"Tentu saja," ucapnya


Rei dan Keenan saling pandang sesaat.


"Ayo ikut aku," wanita itu berjalan lebih dulu di ikuti Rei dan Keenan.

__ADS_1


"Rei, bagaimana kalau dia penjahat?" Keenan sedikit meragukan Sheila.


"Sudah, kita ikuti saja dulu." Rei tidak sependapat dengan Keenan.


Keenan mengangkat ke dua bahunya, akhirnya mereka mengikuti langkah Sheila menuju sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan raya tak jauh dari club.


***


"Apa kau sudah gila? kenapa kau mengatakan aku istrimu?" Siena melemparkan asbak di atas meja ke arah Kenzi.


Kenzi menepisnya dengan mudah. "Kau memang calon istriku Siena."


"Apa kau bilang!" Siena berjalan mendekat dan memeluknya erat. Di luar dugaan Kenzi, tangan kanan Siena meraba pinggangnya mengambil senjata api yang terselip di pinggang Kenzi.


Siena melepas pelukannya dan mundur beberapa langkah mengarahkan senjata api itu ke wajah Kenzi.


"Kau pembunuh ibuku!"


Kenzi menatap tajam Siena. Ia berjalan perlahan mendekati Siena. "Siapa yang bilang!"


"Kau tidak perlu tahu, kenapa kau membunuh ibuku!" Kali ini Siena tidak maun main. Ia sudah di kuasai amarah. Siena menarik pelatuknya dan mengarahkan ke kaki Kenzi yang semakin mendekat.


"Jangan mendekat!" seru Siena menatap tajam Kenzi.


"Tenanglah sayang," Kenzi terus mendekat dan langsung menangkap tangan Siena, tanpa sengaja Siena melepaskan tembakan dan mengarah ke tangan Kenzi.


Siena langsung membuang senjatanya dan memegang tangan Kenzi yang berdarah. "Ma, maaf.." ucapnya dengan suara bergetar.


Kenzi tersenyum tipis memperhatikan Siena yang terlihat khawatir, "Samuel! panggil Dokter! pekik Siena berlari ke arah pintu memanggil Samuel. Setelah itu Siena kembali mendekati Kenzi yang berpura pura kesakitan.


Samuel langsung berlari menghampiri. " Ada apa bos?!!" ia menatap tangan Kenzi yang berdarah.


"Panggil Dokter cepat!" Siena memerintahkan Samuel untuk memanggil Dokter.


"Baik Non!" Samuel langsung menelpon Dokter pribadi Kenzi.


Sementara Siena membawa Kenzi ke kamarnya, "apakah sakit?" tanya Siena.


"Tentu saja Siena! kau pikir tidak! bentak Kenzi.


" Maaf.." Siena menundukkan kepala merasa bersalah.


"Sekali lagi kau berbuat seperti itu? aku tidak akan..?" Kenzi tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Apa?!" Siena langsung berdiri. "Kau mau membunuhku? silahkan! aku tidak takut!" Siena langsung berlari ke arah pintu dan keluar kamar sembari membanting pintu kamar Kenzi.


"Ya ampun..Siena..kau benar benar keras kepala," gumam Kenzi. "Sial!"


__ADS_2