The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 35: Kebohongan Reegan


__ADS_3

Hari berlalu, minggu pun berganti. Siena merawat Alya dengan sangat telaten sehingga menunjukkan kemajuan. Terapi yang Siena terapkan membuahkan hasil. Alya mulai bisa menggerakkan kaki dan tangannya walau belum sempurna. Namun bicara Alya masih gagap dan tidak jelas untuk di dengar, Siena sangat bahagia dengan hasil kerja kerasnya. Terlebih dia mendapatkan dukungan dari pak Karta dan Hana selaku keluarga Siena sendiri.


Siang itu Pak Karta meminta Siena untuk datang ke rumahnya. Ia di jemput Rei karena ada hal yang penting hendak di sampaikan pak Karta.


"Nduk..Kakek sudah tua..hari ini..kakek minta kau untuk meneruskan beberapa perusahaan kakek," ucap Pak Karta di depan Hana, Siena juga Rei. Pak Karta juga mengundang pengacaranya untuk mewariskan semua harta kekayaannya pada Siena.


"Aku tahu kek..tapi untuk saat ini aku belum bisa bekerja..kakek mau kan menunggu sampai mama Alya sembuh total?" tanya Siena.


"Tentu sayang, kakek tidak keberatan," jawab Pak Karta.


"Untuk sementara, biar Rei saja yang mengurusnya kek.."


"Aku?" potong Rei.


Siena menganggukkan kepala, "aku percaya padamu Rei.." ucap Siena.


"Tapi sayang..Rei juga punya kesibukan..memang selama ini dia banyak membantu kakek."


"Biarkan saja pa.." sela Hana. "Rei juga pasti tidak keberatan, bukan begitu Nak?" tanya Hana.


"Baiklah tante...kek..kalau memang kalian percaya..saya akan melakukan apa saja untuk keluarg ini." Rei tersenyum menatap Siena.


"Kalau begitu, kakek mau kau menandatangani semua dokumen ini Siena." Pak Karta dan pengacaranya menyodorkan beberapa berkas yang harus Siena tanda tangani sebagai pewaris tunggal.


"Baiklah kakek, jika kau memaksaku," ucap Siena. Ia mengambil semua berkas di meja dan mulai menandatanganinya satu persatu.


"Selesai!"


"Baik, akan saya simpan," ucap Pengacara itu.


"Siena, sekali kali kau menginap di sini..mama ingin sekali habiskan waktu bersamamu nak." Hana merangkul bahu Siena.


"Iya ma..sabar ya..nanti aku menginap di sini..tapi tidak sekarang," jawab Siena memeluk Hana.


"Bagaimana kabar suamimu? kenapa dia tidak pernah mau datang ke sini?" tanya Pak Karta.


"Reegan sibuk kek, mungkin kalau nanti ada waktu senggang aku ajak dia kesini," sahut Siena melepaskan pelukannya.


"Baiklah, terserah kau sayang." Pak Karta mengelus rambut Siena.


Sementara Rei hanya diam, ia mulai sedikit mencurigai Reegan sejak ia melihat Reegan ke club malam bersama seorang wanita.


"Kek..ma..aku pulang ya..sudah sore..sebentar lagi Reegan pulang kerja."


"Baik sayang, Rei..antarkan Siena pulang," ucap Hana.

__ADS_1


"Baik tante.." Rei berdiri di ikuti Siena dan yang lain. Mereka melangkahkan kaki keluar rumah.


Hana dan pak Karta mengantarkan Siena sampai teras rumah. Di susul pengacara ikut berpamitan pulang.


***


Sesampainya di rumah, Reegan sudah ada di rumah tengah duduk di temani Sandra di teras rumah. "Sayang, kau sudah pulang?" tanya Siena.


"Iya, aku pulang cepat..pekerjaanku sudah longgar sekarang," jawab Reegan. "Rei, silahkan duduk." Reegan mempersilahkan duduk, sementara Sandra langsung berdiri.


"Ini siapa?" tanya Rei.


"Dia masih saudaraku Rei, dia bekerja di sini merawat mama untuk membantu Siena..namanya Sandra," jawab Reegan.


Rei menganggukkan kepala, ia menatap sesaat ke arah Sandra. "Bukankah wanita ini yang bersama Reegan waktu ke club malam itu? kalau memang dia saudara kenapa malam itu mereka berpelukan?" ucap Rei dalam hati.


"Kok bengong?" tanya Siena.


"Tidak..oya..aku mau langsung pulang saja.." sahut Rei.


"Baiklah Rei..terima kasih ya," ucap Siena.


Rei menganggukkan kepala, ia berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.


Sementara Siena dan Reegan masuk ke dalam rumah di ikuti Sandra dari belakang. Tiba tiba Sandra merasakan pusing dan mual mual.


"Hoekkk!"


Siena langsung balik badan menatap Sandra yang betlari ke kamar mandi. "Dia kenapa?" tanya Siena.


"Mungkin masuk angin," jawab Reegan.


Siena berdiri mematung mendengarkan suara Sandra yang muntah dari arah kamar mandi. Tak lama kemudian mbok memanggil Siena.


"Tuan! neng Sandra pingsan!" seru si mbok berlari dari arah pintu dapur. Siena dan Reegan langsung berlari ke kamar mandi. Reegan langsung menghampiri Sandra yang tergeletak pingsan. Ia mengangkat tubuh Sandra lalu di bawa ke kamar.


Siena langsung berinisiatif memanggil Dokter Ana ke rumah. Setelah itu ia langsung ke kamar Sandra. Siena tertegun melihat Reegan tengah memangku Sandra dengan raut wajah cemas. "Reegan mengapa begitu khawatir?" ucap Siena dalam hati.


"Bagaimana, dia sudah sadar?" tanya Siena.


Reegan langsung meletakkan tubuh Sandra di atas tempat tidur. "Dia masih pingsan."


"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah memanggil Dokter Ana ke rumah," ucap Siena berdiri di hadapan Reegan.


"Kenapa kau panggil Dokter! kau ini sok tahu banget!" bentak Reegan. Siena terhenyak melihat Reegan yang tiba tiba marah padanya.

__ADS_1


"Loh, memang salahku di mana? salah aku panggil Dokter? jika dia kenapa napa bagaimana?" balas Siena.


"Ah, terserah kau saja!" seru Reegan langsung turun dari atas tempat tidur dan berlalu begitu saja. " Aneh.."


Tak lama kemudian Dokter Ana datang, ia langsung masuk ke dalam kamar, "apa masih belum sadar?" tanya Dokter Ana.


"Belum Dok," jawab Siena.


"Sebaiknya kau tunggu di luar, biar saya periksa." Siena menganggukkan kepala, lalu ia keluar kamar.


"Kau kenapa gelisah?" tanya Siena menatap Reegan.


"Tidak ada, aku hanya khawatir dia kenaoa napa, kita juga yang di salahin." Reegan menundukkan kepala, duduk di kursi.


Masuk akal jawaban Reegan, namun Siena menangkap hal lain pada diri Reegan. "Kenapa kenapa apa maksudnya?" tanya Siena.


"Aku-?" ucapan Reegan terputus saat Dokter Ana keluar dari pintu kamar.


"Bagaimana Dok?" tanya Siena.


"Dia harus di bawa ke rumah sakit, ada kelainan pada janin dalam kandungannya," jawab Dokter Ana.


"Janin? maksud Dokter, Sandra tengah hamil?" Siena melebarkan matanya menatap Dokter Ana.


"Benar Siena, dia tengah hamil dua bulan," jawab Dokter.


"Hamil.." ucap Siena pelan. Ia melirik ke arah Reegan. "Reegan! kenapa kau tidak memberitahuku kalau Sandra tengah hamil? dan hamil oleh siapa?" tanya Siena.


"Aku takut kau tidak mengizinkan Sandra tinggal di sini, sementara dia butuh tempat tinggal. Dia memang lagi hamil oleh suaminya yang meninggalkannya begitu saja," jawab Reegan mengarang cerita.


"Kenapa baru sekarang kau cerita?" ucap Siena kesal.


"Aku sudah bilang, aku takut kau tidak mau menetima dia disini!


" Kita menikah sudah satu tahun Reegan, kau sama sekali tidak mengenali istrimu sendiri? apa aku akan setega itu pada orang lain?!" Siena tersenyum sinis menatap Reegan.


"Siena, Reegan, sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit sekarang," potong Dokter Ana.


"Baik Dok, biar aku saja yang ikut..kau di rumah jaga mama.." ucap Reegan.


"Baik, kifa berangkat sekarang." Dokter Ana melangkah keluar lebih dulu, sementara Reegan masuk ke kamar dan menggendong Sandra di bawa keluar kamar.


Siena diam mematung menperhatikan keresahan dan kekhawatiran Reegan. Ia duduk di kursi menangkup wajahnya.


"Ya Rabb, ada apa ini sebenarnya," ucapnya pelan namun jelas terdengar oleh Alya dan si mbok yang me.perhatikan sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2