The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 42: Negosiasi


__ADS_3

Sore itu Keenan mendatangi rumah Rei, untuk membicarakan hasil usaha mereka mengumpulkan uang untuk menebus Siena dari tangan Kenzi. Sesampainya di rumah Rei mereka duduk di ruang kerja Rei. Keenan mengeluarkan amplop berwarna coklat berukuran sedang.


"Ini hasil penjualan rumahku yang dulu tak terpakai," ucap Keenan meletakkan amplop itu di atas meja. "Jumlahnya memang tak seberapa, tapi kalau di kumpulkan bisa membantu meringankan hutang hutang bu Hana."


Rei mengambil amplop coklat yang tergeletak di atas meja lalu ia membuka isinya.


"Dan ini hasil pinjaman uang dari papaku, juga tak seberapa." Keenan menyodorkan amplop yang ke dua ke hadapan Rei.


"Waktu kita tinggal lima hari lagi Keenan." Rei mengambil amplop ke dua. Lalu ia berdiri mendekati meja yang tak jauh dari tempat ia duduk. Rei membuka laci dan mengeluarkan amplop yang berukuran lebih besar dari amplop milik Keenan. Ia kembali duduk di kursi meletakkan amplop miliknya di atas meja.


"Uang ini hasil penjualan saham di perusahaanku, dan itupun belum cukup untuk menebus Siena." Rei menatap tajam ke arah Keenan.


Keenan menghela napas panjang, "apa yang harus kita lakukan Rei?" tanya Keenan. "Apa tidak sebaiknya kita beritahu Siena?"


"Jangan dulu, aku rasa kita bisa menyelesaikan masalah ini," ucap Rei terdiam sesaat untuk meyakinkan ucapannya sendiri.


"Tenang Rei, aku pasti membantu Siena..dia sahabat terbaikku." Keenan menggeser duduknya lebih dekat dengan Rei.


"Jumlah uang yang kita kumpulkan saat ini hanya bisa membayar bunganya saja, belum hutang pokoknya. Tapi uang dari almarhum pak Karta yang berhasil di kumpulkan cukup membayar hutang pokok sekitar 50% saja." Rei menghela napas dalam dalam.


"Aku tidak mengerti, bagaiman bisa seorang ibu mempertaruhkan bayinya di meja judi..ckckckck..." Keenan berdecak heran.


"Aku juga tidak tahu pasti bagaimana kejadian sebenarnya, aku hanya di minta melindungi Siena dan membayar hutang Bu hana untuk menebus Siena." Rei mengusap rambutnya kasar.


Keenan menepuk pundak Rei, "jangan pikirkan masa lalu, kita harus dapatkan jalan keluar dalam masalah utang piutang ini." Keenan tertegun sesaat. "Bagaimana kalau kita lapor polisi?" usul Keenan.


Rei berdiri, ia melangkah menuju meja dan mengambil berkas yang tergeletak di atas meja. Ia kembali ke kursi dan meletakkan berkas itu du atas meja. "Aku pernah melakukannya dulu, melaporkan pada pihak berwajib."


Keenan tengadahkan wajahnya menatap Rei, "lalu?"


"Semua sia sia, hasilnya nihil..Kenzi terlalu licik dan licin. Dia memutar balik fakta seakan akan akulah yang mencemarkan nama baik dia," ungkap Rei.


Keenan menganggukkan kepala, "sebaiknya kita temui Kenzi sekarang juga."


Rei menganggukkan kepala, "baik.."


Mereka akhirnya memutuskan untuk menemui Kenzi dan memberikan uang itu, sembari bernegosiasi penambahan waktu satu atau dua hari.


Hanya butuh waktu lima belas menit, akhirnya mereka sampai di club milik Kenzi dan langsung menemuinya di ruangan.


"Duduk." Kenzi menatap dua pria di hadapannya.

__ADS_1


"Tidak perlu, kami datang untuk membayar bunga dan setengah hutang Bu Hana," ucap Rei.


Rei membuka tas berukuran sedang, ia mengeluarkan amplop berukuran sedang dan meletakkan amplop itu di atas meja.


"Silahkan kau cek ulang." Rei menatap Kenzi tajam.


Kenzi berdiri dengan kedua tangan mrncengkram meja, ia menatap Rei dan Keenan bergantian dan tertawa kecil.


"Bawa kembali uang kalian, aku mau kalian membayarnya semua tepat di hari yang sudah di janjikan Pak Karta dan Bu Hana," ucap Kenzi penuh penekanan.


Keenan berdiri, dan menggebrak meja. "Kau tidak perlu sesombong ini!" seru Keenan. Rei menarik lengan Keenan untuk tidak berbuat gegabah. Keenan melirik sesaat ke arah Rei lalu beralih menatap Kenzi yang terdiam menatap marah ke arah Keenan.


"Aku sudah peringatkan, apa kau masih ingat?" Kenzi berdiri tegap. Ia melangkah mendekati Keenan. "Kepercayaan itu mahal bagiku. Dan aku percaya kalian bisa membayarnya tepat waktu."


"Jika kami tidak bisa tepat waktu?" tanya Keenan.


Kenzi menyilangkan kedua tangan di dadanya. Ia mengangkat kedua bahu dan berkata, "Siena menjadi milikku."


"Kurang ajar!" seru Keena hendak melangkah mendekati Kenzi. Namun langkahnya tertahan. Rei mencekal lengan Keenan, hingga mundur ke belakang. Keenan menatap geram Kenzi. "Kau pikir Siena boneka!"


"Tentu saja dia akan menjadi bonekaku, jika kalian tidak bisa membayar hutang hutang Hana." Kenzi tersenyum sinis.


"Kau!!" pekik Keenan geram.


"Sebaiknya kalian pergi dari ruanganku sekarang juga." Kenzi kembali duduk di kursi dengan santai.


Rei menarik mundur lengan Keenan, meskipun dia tidak mau. Rasanya ia ingin memukul wajah Kenzi, berbeda dengan Rei yang mencoba untuk tetap tenang menghadapi Kenzi.


Perlahan mereka berjalan mundur dan meninggalkan ruangan Kenzi dengan perasaan marah.


"Kita harus bagaimana?" tanya Keenan.


"Kita ke rumah Siena sekarang," jawab Rei.


Keenan menganggukkan kepala, mereka langsung meluncur ke rumah Siena tanpa buang buang waktu lagi.


Sesampainya di rumah Siena. Mereka mendapati gadis itu tengah melamun di teras rumah. Menyadari kedatangan mereka betdua, Siena langsung berdiri menghampiri.


"Rei! Keenan!" serunya.


"Kenapa kau bengong Siena?" tanya Keenan.

__ADS_1


Mereka duduk di kursi, "apa kau baik baik saja?" tanya Rei.


"Mama.." ucap Siena pelan.


"Tante Hana kenapa?" ucap mereka serempak.


"Mama diantarkan seorang pria dalam keadaan mabuk," jawab Siena sedih.


"Mabuk.." ucap Keenan pelan, ia menoleh ke arah Rei yang menundukkan kepala. "Sekarang bagaimana kondisi mamamu?"


"Mama istirahat di kamar," kata Siena.


'Heiii! jangan sedih gitu dong, jelek tau!" goda Keenan mencoba membuat suasana hati Siena untuk tidak bersedih.


"Aku bukan sedih, tapi aku tidak tahu ada apa dengan mama.." ucap Siena menundukkan kepala.


"Siena, dari pada berpikir yang bukan bukan..lebih baik kau ambilkan minum. Kita haus!"


"Ah, iya maaf..kalian mau minum apa?" tanya Siena langsung berdiri.


"Terserah kau Siena," sela Rei.


"Baiklah, kalian tunggu sebentar ya." Siena langsung ngeloyor masuk ke dalam rumah.


"Tante Hana berbuat ulah lagi," ucap Rei pelan, tapi bisa terdengar oleh Keenan.


"Maksudmu?" tanya Keenan.


"Sudah lama tante Hana berhenti minum sejak peristiwa pembunuhan itu, sekarang dia mulai gila minuman lagi," jawab Rei.


Rei menghela napas dalam dalam, sementara Keenan hanya mengerutkan dahi tak mengerti apa yang terjadj di keluarga Hana.


"Hei, sekarang kalian yang melamun!" seru Siena dari arah pintu. Ia letakkan nampan di atas meja kembali duduk. "Kalian itu kenapa?" tanya Siena menatap kedua pria di hadapannya.


"Tidak ada apa apa," jawab mereka serempak.


"Kalian kok kompakan begitu, apa kalian habis jadian?" goda Siena.


"Apa kau bilang? enak saja!" seru Rei menatap Keenan sesaat lalu begidik.


"Ih, apaan sih..aku normal kali!" Keenan menatap Siena horor.

__ADS_1


Detik berikutnya Siena tertawa terbahak bahak memperhatikan mereka berdua. Sesaat Siena melupakan kebingungannya tentang ibu kandung yang baru saja beberapa bulan yang lalu ia ketemukan.


__ADS_2