
Pagi ini Kenzi berusaha mencari cara supaya Siena bisa melihat lagi dengan jelas. Kenzi menghubungi beberapa rumah sakit dan konsultasi tentang mata Siena. Namun hasilnya nihil, tidak ada yang memberikan jawaban pasti tentang kesembuhan Siena.
"Huuuffttt.." Kenzi mendengus, ia benar benar putus asa. "Apa lagi yang harus aku lakukan Siena." ia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil dengan mata terpejam. Beberapa saat ia hanya terdiam, tiba tiba saja ia teringat beberapa kenalannya yang berprofesi sebagai seorang Dokter ahli. Tapi sayang, mereka tidak ada di Indonesia.
Mungkinkah Kenzi membawa kembali Siena ke luar Negeri dalam keadaan hamil? Sementara hidup mereka di bayang bayangi Livian. Kembali Kenzi mendesah kasar, bibirnya mengatup, giginya gemeletuk. Merutuki kebodohan dan kelalaiannya menjaga Siena. Akhirnya Kenzi memutuskan untuk berdiskusi dengan anggota keluarga di rumah.
"Aku rasa, kau harus bisa menahan diri." Surya coba mencairkan suasana hati Kenzi yang semakin gelisah. Jika ada di luar Negeri jalan keluar untuk kesembuhan Siena. Tidak mungkin membawanya dalam keadaan hamil . Dan tentu saja Dokter tidak akan bisa berbuat banyak melihat kondisi Siena yang sedang hamil besar.
Kenzi terdiam mencerna kata kata Surya, dan itu di benarkan oleh Akira juga Samuel. Alangkah bijaknya jika Kenzi menunggu sampai Siena melahirkan. "Baiklah, aku ikuti saranmu."
Surya berdiri dan menghampiri Kenzi. Tangannya menepuk pundak Kenzi pelan. "Aku mengerti, tapi bersabarlah.'
Kenzi tengadahkan wajahnya menatap Surya sesaat, lalu menganggukkan kepala. " Kau benar."
"Sebaiknya kau temani Siena, dari pagi dia belum keluar dari kamarnya," ucap Surya.
Kenzi berdiri dari duduknya, namun sebelum beranjak dari tempatnya. Yeng Chen tengah berjalan menghampiri bersama Marsya.
"Kau mau kemana lagi?" tanya Kenzi setelah mempersilahkan Marsya untuk duduk.
"Hari ini, aku kembali ke Hongkong." Marsya duduk berhadapan dengan Kenzi.
"Kenapa?" Kenzi menautkan kedua alis menatap Marsya bingung.
Marsya menghela napas panjang sebelum ia menjelaskan pada Kenzi. Dalam beberapa minggu terakhir, Marsya dan pihak berwajib bekerjasama dalan pencarian buronan yang kabur, yaitu Livian. Namun setelah mereka menyelidiki sekian lama, mereka menduga jika Livian telah kembali ke Hongkong. Dan Marsya di tarik kembali ke Negaranya.
__ADS_1
Kenzi terdiam coba mencerna semua penjelasan Marsya. Cukup di mengerti oleh Kenzi permainan yang di mainkan oleh Livian. Rupanya dia sudah mengelabui berbagai pihak, bukan tanpa dukungan para elit. Kenzi semakin di buat bingung oleh Livian.
"Kalau begitu, aku pulang. Kalian berhati hatilah." Marsya berdiri lalu mengulurkan tangan pada Kenzi, dan menjabat tangan mereka satu satu. "Jika kalian ada info, kabari aku." Marsya berlalu meninggalkan rumah Kenzi untuk kembali ke Negaranya.
Kenzi menghela napas gusar dan berkata, "Tidak mudah menangkap Livian, terlalu bodoh harus mempercayai permainan Livian." Setelah bicara seperti itu, Kenzi beranjak pergi ke kamar menemui Siena.
Sementara Surya kembali duduk dan memikirkan semua yang di katakan Marsya dan Kenzi. Apa yang di katakan Kenzi memang di benarkan Surya. Selama ia menjadi pecandu dan menyelidiki diam diam tentang organisasi yang di bawah pimpinan Hernet dan Livian. Mereka di dukung penuh oleh orang orang elit di dalamnya.
Kini, Kenzi tidak hanya berhadapan dengan Livian saja. Tapi orang orang elit di dalamnya tentu menginginkan nyawa Kenzi. Sebab Kenzi memiliki bukti bukti kejahatan organisasi itu, termasuk daftar nama nama elit yang terlibat di dalamnya.
***
Perlahan Kenzi membuka pintu kamar, ia melihat Siena masih bergelung di dalam selimut. Ia menutup pintu kamar dan berjalan menghampiri Siena, lalu naik ke atas tempat tidur. Tangannya menyibak rambut yang menghalangi wajah Siena. Ia tersenyum mengusap lembut pipinya.
"Siapa kau!" pekik Siena. Napasnya memburu membuat Kenzi khawatir. Ia membungkukkan badan memeluk tubuh Siena erat.
"Sayang, ini aku." Kenzi langsung mencium kening Siena cukup lama. "Kau bermimpi buruk?"
"Ah kau.." Perlahan Siena kembali tenang. Tangannya meraba wajah Kenzi dengan lembut.
'Apa kau sakit? di mananya yang sakit? tanya Kenzi menatap kedua bola mata Siena. Setiap kali ia menatap matanya, ia akan merasa sangat bersalah.
"Tidak sayang, aku baik baik saja, hanya saja aku bermimpi buruk," ucapnya sedih.
"Itu hanya mimpi, jangan kau pikirkan. Ingat sayang, ada bayi kita." Kenzi tersenyum, lalu ia kembali duduk. Siena ikut bangun dari tidurnya lalu memeluk Kenzi. "Aku lapar."
__ADS_1
"Baiklah, kau tunggu di sini. Aku siapkan makan pagimu." Kenzi melepaskan pelukan Siena, lalu ia turun dari atas tempat tidur. Sesaat ia menatap wajah Siena lalu beranjak keluar kamar.
"Kenapa mimpi itu seolah nyata?" ucap Siena pelan. Ia menghela napas panjang, perlahan ia turun dari atas tempat tidur. Berjalan perlahan menuju kamar mandi. Sepanjang langkahnya ia memikirkan mimpi buruknya tentang kematian Kenzi di depan matanya. Hingga ia tersandung kakinya sendiri, tubuhnya terhuyung ke depan. Siena terjatuh ke lantai dan keningnya membentur tembok cukup keras.
"Bukkk!" Siena mengerang kesakitan, ia merasakan wajahnya basah dan itu adalah darah yang mengalir deras di keningnya. Beruntung posisi jatuhnya Siena duduk di lantai, meski keningnya terbentur tembok tapi tidak dengan perutnya.
"Ahhh.." Siena mengerang kesakitan, tangannya menyentuh darah segar yang mengalir di keningnya. "Darah?'
Siena berusaha bangun meski kepalanya terasa pusing, tapi kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya, ia kembali duduk mencoba untuk tetap sadar, tapi usahanya gagal. Kesadaran Siena perlahan hilang dan gelappun menyambutnya, ia jatuh pingsan.
Selang beberapa menit, Kenzi membuka pintu kamar dengan nampan di tangannya. "Siena?" ia tidak melihat Siena di atas tempat tidur, lalu ia alihkan pandangan ke arah pintu kamar mandi. Kenzi melebarkan matanya, melihat Siena tergeletak di lantai wajahnya di penuhi noda darah. "Siena!"
Kenzi langsung berlari hingga nampan di tangannya jatuh ke lantai berserakan. Suara gelas pecah beradu dengan lantai, mengundang perhatian Surya dan Akira yang berada di ruang tamu.
"Siena.." Kenzi menyentuh darah di kening istrinya, lalu ia angkat tubuh Siena dan menggendongnya keluar kamar. Setengah berlari ia menggendong Siena dan bertemu Surya dan Akira yang berjalan ke arahnya.
"Kenapa dengan Siena?!" Surya langsung panik melihat darah di wajah putrinya.
"Akira siapkan mobil cepat!" seru Surya.
Akira langsung balik badan dan berlari menuju halaman rumah.
"Bertahanlah Siena.." ucap Kenzi lirih, menatap wajah Siena. Lagi lagi Kenzi merasa tidak mampu menjaga Siena hingga wanita itu kembali terluka.
Kenzi langsung membawa Siena ke rumah sakit terdekat di temani Surya. Tidak hanya takut Siena terjadi sesuatu yang buruk terhadap Siena tapi dengan bayi yang ada dalam kandungannya yang sudah menginjak usia 7 bulan.
__ADS_1