The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 82: Scared


__ADS_3

Kenzi duduk di depan monitor, ia mulai memberikan beberapa bocoran pada pihak Kepolisian. Sesekali ia mendesah gusar lalu mengangkat cangkir kopi yang ada di atas meja.


"Bagaimana Bos," tanya Samuel yang berdiri di samping Kenzi memperhatikan layar monitor.


"Sam, kau panggil Akira dan Cheng Yen jika hanya mengandalkan pihak berwajib itu akan sangat terlambat, mereka pumya aturan sendiri." Kenzi melirik sesaat ke arah Samuel yang mengangguk cepat.


Samuel bergegas keluar ruangan dan Kenzi kembali fokus memperhatikan file masuk yang di kirim orang kepercayaannya.


"Apa aku mengganggumu?"


Kenzi mengalihkan pandangannya sesaat, nampak Surya berdiri di depan pintu. Sejak bertemu dengan putrinya, Surya berhenti mabuk dan mengkonsumsi obat obatan. Ia bertekad akan membantu Kenzi agar masalah ini cepat selesai. Dan Siena bisa pulang Ke Indonesia dengan aman.


"Tidak," jawab Kenzi datar.


Surya berjalan mendekati meja, ia duduk di kursi menatap wajah Kenzi, "Apa kau menghancurkan Outfit dari dalam? aku ingin membantu kalian."


Kenzi terdiam sesaat, ia menyandarkan tubuhnya di kursi menatap tajam Surya, "tidak, temani saja putrimu." Kenzi tidak ingin melibatkan Surya, ia khawatir jika terjadi sesuatu pada dirinya. Siena sendirian dan akan kebingungan nantinya.


"Tapi-?


" Tidak!" Kenzi memotong ucapan Surya. Tangannya mengangkat cangkir kopi lalu menyecapnya perlahan. "Aku tidak mau istriku sedih." Kenzi letakkan cangkir kopi di meja. Ia mengeluarkan sekotak rokok lalu mengambil satu batang rokok dan menyalakannya. Pria itu menghisap dalam dalam rokoknya, lalu menawarkan rokok pada Surya. Namun Surya menolaknya, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mengecewakan putrinya, Siena. Surya terdiam memperhatikan setiap gerakan Kenzi, sesekali pria itu mengangkat cangkir kopi dan meletakkannya kembali.


"Kau gelisah, Kenzi?' tanya Surya, ia melihat cara Kenzi menghisap dan memainkan rokok di jarinya bukanlah kebiasaan seorang Kenzi yang selalu tenang di setiap masalah. Kegelisahan jelas terlihat di mata Surya.


Kenzi tersenyum samar melirik ke arah Surya sekilas. Ya, benar apa yang dikatakan Surya. Pria itu tengah gelisah. Bagaimana tidak? Livian atau pun Bos besar sudah mulai mencurigai keterlibatan Kenzi dalam setiap kegagalan. Namun Bos besar masih menaruh kepercayaan pada Kenzi. Berbeda dengan Livian yang memang sedari awal ingin menyingkirkan Kenzi. Pria pemilik mata gelap itu tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya lagi, yang membuat pria itu gelisah menyangkut nyawa Siena akan menjadi taruhannya. Mereka akan melakukan apa saja demi tercapainya tujuan.


" Kau tahu, dan aku tidak perlu menjelaskan lagi," ucap Kenzi, mematikan rokok di asbak.


Surya berdiri dan menghampiri Kenzi tanpa ragu ragu lagi, pria itu menepuk pundak Kenzi. "Aku tahu kau bisa!" Kenzi tengadahkan wajahnya menatap senyum lebar Surya, lalu pria itu meninhgalkan ruangan. Bersamaan dengan masuknya Akira dan yang lain.


"Bos! ucap mereka serempak. Menatap ke arah Kenzi.


Kenzi berdiri mendekati mereka, memperhatikan satu persatu anak buah yang bisa di percaya dan bisa di andalkan.

__ADS_1


"Tetap di sini, jaga istriku dengan baik."


"Baik Bos!" jawab mereka serempak, tanpa perlu membantah ataupun mendengar penjelasan panjang lebar dari Kenzi. Mereka sudah tahu apa yang harus di kerjakan.


"Kalian tetap waspada," sambung Kenzi.


Mereka mengangguk cepat, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan. Sementara Kenzi kembali duduk di kursi, ia sandarkan tubuhnya di kursi dengan kedua tangan di silangkan di dada. Ia memutuskan untuk bekerja sendiri tanpa melibatkan anak buahnya. Itu akan mempermudah langkahnya, dan dia tidak mau kecolongan lagi seperti dulu. Livian atau anak buahnya akan melukai Siena. Dalam pengawasan Samuel dan yang lain, setidaknya ia cukup lega untuk meninggalkan Siena. Keinginannya sama seperti Surya. Menyelesaikan masalah lalu kembali ke Indonesia.


Kenzi tersenyum dalam lamunannya, memimpikan hidup bersama Siena dan memiliki seorang putra. Namun lamunannya buyar seketika, ponsel miliknya berbunyi. Kenzi menghela napas panjang, tangannya mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.


'Livian?" matanya menatap layar ponsel. Tertera nama Livian di ponsel miliknya. Ia menggeser icon berwarna hijau dan mendekatkan ponsel di telinganya.


"Halo!" ucap Kenzi dengan nada kesal. Ia berdiri melangkahkan kakinya.


"Bos besar memanggilmu," jawab Livian dengan nada suara mengancam.


Kenzi tertegun sesaat sebelum menjawab, "baik."


"Ingat Kenzi, kau sudah bermain main hanya karena seorang wanita yang tidak penting." Livian terkekeh hingga membuat Kenzi geram.


Panggilan langsung terputus sebelum Kenzi membalasnya. Pria itu langsung membanting ponselnya ke lantai hingga berantakan.


"Brengsek!" Tangan Kenzi mencengkram meja kuat, sementara satu tangannya melonggarkan dasi yang serasa mencekik lehernya.


"Kenzi.." ucap Siena pelan. Matanya tertuju kelantai melihat ponsel berserakan di lantai.


"Siena..' Kenzi berdiri tegap. Ia berjalan menghampiri Siena.


"Apa yang terjadi?" tanyanya, menatap raut wajah Kenzi yang terlihat sangat marah.


"Tidak ada," jawabnya. Lalu merangkul bahu Siena membawanya keluar ruangan. Ia tidak ingin membuat Siena takut.


***

__ADS_1


Siena duduk dikursi termenung, ia memikirkan Kenzi dan keselamatan Ayahnya. Ia merasa dirinya akan menjadi penghalang mereka. Gadis itu menghela napas panjang, sesekali ia memijit pelipisnya berusaha berpikir keras. "Aku tidak boleh terlihat lemah, tapi apa yang harus aku lakukan?" ucapnya dalam hati.


Ia berdiri, sesaat tertegun sambil bertolak pinggang. Gadis itu manggut manggut lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Siena memutuskan untuk belajar menembak untuk melindungi diri dan keluarganya. Namun langkahnya terhenti, ia melihat Kenzi sudah berdiri dalam kamar.


"Sejak kapan kau disini?" tanya Siena berjalan menghampirinya.


"Apa yang kau pikirkan Siena." Kenzi menangkup wajah Siena dan memperhatikan kedua bola mata gadis itu.


"Kenzi.." ucap Siena pelan. Kedua tangan terulur mengusap lembut dada Kenzi. Ia tengadahkan wajah melihat wajah Kenzi yang menegang.


"Semua akan baik baik saja, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak sendirian." Kenzi memeluk erat tubuh Siena dengan segenap perasaan yang ia miliki.


Siena terdiam membiarkan Kenzi memeluk tubuhnya erat. Jika ia mengatakan keinginannya pada pria itu. Jelas Kenzi akan melarangnya. Akhirnya Siena memutuskan untuk belajar secara diam diam.


"Siena, aku menginginkanmu sekarang.' Kenzi melepaskan pelukannya lalu mencium bibir Siena cukup lama hingga gadis itu kesulitan bernapas, namun detik berikutnya Siena membalas ciuman panas Kenzi. membiarkan Kenzi menggendong tubuh Siena lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Menatap lekat wajahnya, tangannya terulur mengusap perut rata Siena.


"Aku menginginkan seorang putra darimu,' ucap Kenzi tersenyum melihat wajah Siena tersipu malu, ia tutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Kenzi menurunkan tangan Siena, " hei, aku ingin melihat wajahmu yang tengah malu."


Siena tertawa kecil, "kau pakai parfum apa?" tanya Siena mengusap lembut pipi Kenzi. Biasanya aroma tubuh Kenzi bau alkohol dan asap rokok.


"Apa kau menggodaku? bagaimana kalau aku menerkammu sekarang?" Kenzi mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Siena. Namun Siena mendorong bibir Kenzi supaya menjauh dari wajahnya.


"Kenapa? tanya Kenzi menautkan kedua alisnya. Apakah Siena akan menolaknya lagi?


"Tidak sekarang." Siena langsung bangun, dan duduk di atas tempat tidur. Ia membenarkan pakaiannya yang berantakan.


Kenzi ikut bangun dan memeluk tubuh Siena dari belakang, "kenapa kau menolakku? lalu apa yang kau katakan kemarin hanya untuk menyenangkan hatiku?" bisik Kenzi di telinga Siena.


Siena menggeleng kepala cepat, ia mengusap pipi Kenzi dengan lembut. "Tidak, bukan begitu." Siena tersenyum samar, ia hanya tidak ingin menambah beban buat Kenzi. Adanya Siena sudah membuat Kenzi ketakutan. Apalagi kalau mereka punya anak?


Kenzi menghela napas panjang, ia mencium pipi Siena sekilas lalu turun dari atas tempat tidur. "Kau istirahat saja, aku tidak akan mengganggumu."

__ADS_1


Siena memganggukkan kepala, ia menatap punggung Kenzi hingga hilang dari pandangan.


__ADS_2