The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 105: Trauma


__ADS_3

Malam ini terasa sunyi, berbeda dengan malam sebelumnya. Helion telah tidur dengan nyenyak bersama Kenzi. Sementara Siena sendiri tak dapat memejamkan matanya. Yang ia rasakan saat ini perasaan sunyi, entah apa yang di pikirkannya.


Siena berdiri termenung di balkon kamar sembari mendengar alunan musik lagu lama.


Goodbye - Air Supply


I can see the pain living in your eyes.


And i know how hard you try


you deserve to have so much more


I can feel your heart and I sympatize


And i' ll never criticize all you' ve ever meant to my life


Siena menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Terdengar suara canda tawa mereka yang pernah singgah di kehidupannya di masa lalu. Satu persatu pergi meninggalkannya. Hana, Kakek Karta, Alya, Kakek Hardi, orang orang yang Siena cintai dan sayangi. Belum pernah sebelumnya ia merasakan kesunyian dan perasaan hampa yang serasa mencekiknya.


Kepergian orang yang di cintai menyisakan luka dan kenangan yang sama sama menyakitkan. Siena kembali menarik napas panjang, ia pejamkan mata meresapi setiap bait dari lagu tersebut dengan segenap perasaan sunyi yang di rasakannya.


I don't want to let you down


I don't want to lead you on


I don't want to hold you back


From where you might belong.


Jujur ia akui, ada rasa takut kehilangan lagi. Melihat mereka pergi satu persatu menyakitkan hati. Satu bulir air mata menetes di sudut netranya yang terpejam. Tanpa ada keinginannya untuk menghapus air mata itu.


"Queen."


Siena langsung membuka matanya dan tengadahkan wajah menatap wajah suaminya telah berdiri di belakang dan memeluk pinggangnya dengan erat

__ADS_1


"Sayang..apa kau terganggu dengan suara musiknya?" tanya Siena terus tengadah menatap wajah Kenzi.


"Queen, apa yang kau pikirkan?" Kenzi balik bertanya dan mengabaikan pertanyaan Siena.


Wanita itu tersenyum dengan tatapan lurus kedepan. "Tidak ada," ucap Siena meletakkan tangannya menggenggam erat tangan Kenzi yang melingkar di pinggangnya.


"Queen, jika kau sedang berpikir keras, aku menjadi sangat khawatir. Semua akan baik baik saja."


Siena memutar tubuhnya memeluk Kenzi erat dan membenamkan wajahnya di dada Kenzi. "Aku tahu."


"Kau tidak sendirian, ada aku..ada putra kita. Kita bisa lewati ini semua dengan merangkul mereka semua." Kenzi mencium puncak kepala Siena cukup lama.


"Aku tahu." Siena menganggukkan kepalanya.


Hening! tidak ada kata kata yang terucap dari bibir mereka. Keduanya hanyut dalam alunan musik yang Siena putar. Siena menejamkan matanya dalam pelukan Kenzi. Angib malam berhembus menembus pori pori sampai ke tulang, membuat mereka saling mengeratkan pelukannya.


"Aku mau, selamanya seperti ini," ucap Siena pelan.


"Tentu Queen." Kenzi mengecup puncak kepala Siena sekilas.


Sementara Kenzi pergi bersama Yu, yang lain tidak di perbolehkan ikut untuk menjaga anak istrinya di rumah. Jika pun terjadi sesuatu di sana, cukuplah Kenzi yang mengambil resikonya. Tidak akan pernah ia membahayakan keluarga kecil yang coba ia lindungi.


"Queen, kita tidur." Kenzi melepaskan pelukannya.


Siena menganggukkan kepala menatap Kenzi. "Iya." Kenzi merangkul bahu Siena dan berjalan masuk ke dalam kamar.


***


Siena berdiri di depan pintu memperhatikan Kenzi tengah mengangkat tubuh Helion dan berputar, sesekali Kenzi tertawa saat putranya ikut tertawa air liurnya menetes ke wajah Kenzi. Siena yang menyandarkan bahu di depan pintu kamar ikut tertawa kecil melihat kebersamaan mereka.


"Ya Tuhan, jangan kau ambil mereka dariku lagi." Siena membatin.


Kembali Siena tertawa kecil melihat mereka berdua, suara khas tertawa Kenzi dan Helion. Tiba tiba saja terasa menakutkan di telinga Siena. Dengan reflek ia berlari menghampiri mereka dan menarik lengan Kenzi. "Hentikan!" pekik Siena.

__ADS_1


Kenzi berhenti tertawa dan menurunkan tubuh Helion menatap wajah Siena jelas terlihat raut ketakutan. "Queen?"


"Berikan putraku!" Siena mengambil Helion dari pangkuan Kenzi dan menggendongnya.


"Queen, ada apa?" Kenzi mengedarkan pandangan ke arah jendela kamar. Lalu ia menatap Siena yang memeluk Helion erat dalam pangkuannya. "Ada apa?" tanya Kenzi lagi. Namun Siena mengabaikan pertanyaan Kenzi. Ia langsung berjalan keluar kamar membawa serta Helion. Kenzi menautkan kedua alisnya tidak mengerti dengan sikap Siena yang tiba tiba ketakutan.


"Queen, ada apa denganmu?" ucapnya pelan. Lalu ia menyusul Siena dan Helion.


Langkah Kenzi terhenti di depan pintu kamar Surya yang sedikit terbuka. Ia melihat Siena tengah memangku Helion duduk di tepi tempat tidur bersama Surya. Tangan Kenzi terulur hendak membuka pintu, tapi niatnya ia urungkan. Kenzi memilih diam mendengarkan apa yang menjadi ketakutan Siena. Ia bisa mendengar dengan jelas dari balik pintu kamar Surya.


Surya berdiri, ia menarik kursi lalu duduk di kursi berhadapan dengan Siena. "Papa tahu, apa yang membuatmu setakut ini sayang."


Siena menarik napas dalam dalam, ia cium puncak kepala Helion berkali kali. "Aku takut Pa..aku takut terjadi apa apa dengan Kenzi atau putraku."


"Hei, mana anak Papa yang dulu tangguh?" tatapan Surya lembut menatap Siena.


Siena mengangkat wajahnya menatap Surya, "tapi ini beda, Pa.."


"Awal kau menerima Kenzi sebagai suamimu seutuhnya, itu artinya kau siap dengan segala konsekwensi yang akan kau terima apapun yang akan terjadi. Hal terburuk sekalipun dan Papa tahu, tidak semudah kita bicara. Tapi apa kau mau di kuasai rasa takutmu? dan itu akan membuat Kenzi tidak fokus." Surya menjelaskan panjang lebar. Bukan ia tidak memahami ketakutan seorang istri sekaligus Ibu. Tapi hanya dengan cara itu Surya saling menguatkan satu sama lain.


Siena bukanlah gadis kecil lagi, dia seorang Ibu. Dan ikut mengambil tanggung jawab dalam sebuah keluarga. Ikatan dalam sebuah pernikahan bukan hanya sekedar menyatukan dua fisik, bukan hanya sekedar saling mencintai saja. Tapi satu sama lain saling melengkapi, meskipun pernikahannya dengan Hana kandas di tengah jalan bukan berarti, putri satu satunya harus mengalami hal yang sama hanya karena sebuah keegoisan.


"Maafkan aku, Pa." Siena menyentuh tangan Surya. "Terima kasih, Papa sudah mengingatkanku. Tidak seharusnya aku memberikan rasa tidak nyaman pada suamiku." Siena kembali tersenyum mengembang.


"Tidak perlu kau minta maaf atau berterima kasih pada Papa. Itu tandanya kau semakin dewasa, kau cepat cepat menyadari kekeliruan pikiranmu."


Siena menganggukkan kepala, "iya Pa.."


Surya mengambil Helion dari pangkuan Siena, "temui suamimu."


Siena menganggukkan kepala, ia berdiri lalu membungkukkan badan mencium Helion sekilas. Ia kembali berdiri tegap dan melangkahkan kakinya keluar kamar. Siena terpaku di depan pintu kamar menatap wajah Kenzi yang tersenyum lebar padanya. Siena langsung memeluk Kenzi erat.


"Maafkan aku, maafkan aku." Siena benamkan wajahnya di dada Kenzi.

__ADS_1


Kenzi hanya tersenyum mengusap punggung Siena untuk menenangkan. Tatapannya lurus ke arah Surya yang memperhatikan mereka dan menganggukkan kepala.


"Aku sangat beruntung memiliki kalian semua," ucap Kenzi dalam hati.


__ADS_2