
Pagi ini cuaca sangat cerah, musim dingin telah berlalu. Perlahan Siena membuka mata mata melirik ke arah jendela kamar. Matanya menyipit terkena sinar matahari yang masuk melalui celah jendela. "Hari ini Kenzi ulang tahun yang ke 37." ucapnya dalam hati.
Ia mengucek kedua matanya lalu bangun dan duduk di atas tempat tidur. Matanya melirik ke samping ternyata Kenzi sudah bangun entah sejak kapan. Tangannya terulur mengusap tempat tidur, "aku akan memberikanmu kado spesial." Siena tersenyum mengingat wajah Kenzi. Ia turun dari atas tempat tidur menuju kamar mandi.
Dua puluh menit berlalu, Siena telah selesai dengan dirinya. Ia keluar dari kamar menemui Samuel untuk mengajaknya pergi. Ya, melihat situasi yang semakin memanas semua kemungkinan bisa saja terjadi. Kenzi meletakkan tiga pengawal pribadinya untuk tetap waspada menjaga Siena dan juga Surya. Bos besar sudah mulai curiga terhadap Kenzi. Maka bisa saja Bos besar denhan segala cara akan membunuh Siena. Begitu juga dengan Kenzi, segala cara ia lakukan untuk melindungi istrinya. Dan Kenzi mempercayakan Siena pada tiga pengawalnya saat dia tidak ada di rumah.
"Kalian melihat Kenzi?" tanya Siena menatap Samuel lalu beralih menatap Akira.
"Bos sudah pergi sejak Nona masih tidur." Akira menjelaskan.
Siena mengangguk, dari bibirnya tersungging sebuah senyuman. "Baiklah..kalian bisa antarkan aku ke toko sebentar?"
Akira melirik Samuel yang berdiri di sampingnya, "tidak bisa Nona, Bos bisa marah jika Nona pergi keluar rumah."
Siena maju selangkah menarik lengan Akira, "ayolah..antarkan aku membeli sebuah kado untuk Kenzi," rengek Siena menatap Akira penuh harap.
Akira lagi lagi melirik ke arah Samuel, ia tidak bisa memutuskan sendirian. "Bagaimana?"
Samuel merogoh saku celananya mengambil ponsel namun Siena merebut ponsel dalam genggaman Samuel, "tidak, kau jangan beritahu Kenzi. Aku ingin berikan dia kejutan kecil di hari ulang tahunnya."
Samuel menatap bingung Siena, ia khawatir terjadi apa apa dengan Siena di luar sana. Apalagi kepergiannya tidak dapat izin dari Kenzi. Siena terus merengek meminta mereka untuk menyetujui keinginannya. Samuel menghela napas dalam dalam, akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan Siena bersama Akira.
__ADS_1
"Aku ikut kalian!"
Mereka menoleh ke arah suara, nampak Yeng Chen tengah berjalan menghampiri. "Bagaimana dengan Tuan Surya?" tanya Akira.
"Dia aman di sini, ada penjagaan ketat." Yeng Chen lebih mengkhawatirkan Siena berada di luar di banding di rumah dalam penjagaan yang ketat.
"Baiklah." Samuel mempersilahkan Siena berjalan terlebih dahulu. Sesampainya di halaman rumah Akira membukakan mobil untuk Siena dan memastikan gadis itu duduk dengan tenang, lalu Akira ikut duduk di samping Siena dan kembali menutup pintu.
Sementara Samuel duduk di depan, ikut dalam mobil yang di tempati Siena. Yeng Chen sendiri menggunakan mobil terpisah untuk mengawasi mereka.
***
Sesampainya di toko yang di maksud, Siena langsung masuk ke dalam di temani Akira. Setelah sekian menit berlalu, Siena telah selesai membeli barang yang dia inginkan untuk Kenzi.
"Aku sudah selesai." Samuel menganggukkan kepala, ia membuka pintu mobil untuk Siena.
"Mereka datang," ucap Yeng Chen pelan, namun jelas terdengar oleh yang lain.
"Ada apa?" Siena tengadahkan wajah menatap Samuel terlihat gusar.
Samuel memalingkan wajahnya menatap Siena, "Nona tetap di dalam."
__ADS_1
"Sam! kau bawa Nona Siena, biar aku dan Yeng Chen menahan mereka! pekik Akira berlari ke arah mobil Yeng Chen yang terparkir.
Samuel mengangguk cepat hendak menutup pintu mobil, namun dari arah lain mobil melintas dengan kecepatan tinggi menembaki mobil yang di tempati Siena. Dengan sigap Samuel menarik tangan Siena untuk keluar dari pintu mobil. Mereka berdua merunduk memperhatikan Akira tengah berlari mendekati mereka dengan di tembaki oleh beberapa pria di dalam mobil yang terus bolak balik melintas. Sementara Yang Chen masuk ke dalam mobilnya
" Kau bawa Nona!" tangan Yeng Chen menunjuk ke arah toko, kacanya hancur dan para pengunjung berhamburan menyelamatkan diri, sebagian memilih bersembunyi. Terdengar suara teriakan dalam toko saat para pria tadi kembali melintas dan menembaki mereka.
"Baik!" Samuel menarik tangan Siena untuk masuk ke dalam mobil, sementara Akira coba melindungi mereka.
Setelah melihat Siena duduk merunduk di belakang mobil, Samuel langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara Akira langsung masuk ke dalam mobil yang di kendarai Yeng Chen.
Setiap kali Siena menjerit, Samuel ikut merundukkan kepala, peluru berdesing menghujani kendaraan mereka. Kaca samping dan belakang hancur terkena tembakan yang meleset. Samuel menoleh ke belakang melihat mobil yang di kendarai Yeng Chen berhasil memperdaya musuhnya. Dua mobil musuh bertabrakan sekaligus hingga terdengar bedebum kencang.
"Nona tenanglah semua baik baik saja," ucap Samuel. Dari kaca spion ia melihat mobil musuh tengah mendekat. Satu tangan memegang stir, tangan satunya mengeluarkan senjata api dari balik pinggang. Kepalanya menyembul keluar seiring ia lepaskan sebuah tembakan. Hingga tembakkan ke empat kali ke arah supir mereka. Hingga mobil tidak seimbang, Samuel hampir saja menabrak pengendara lain seiring jeritan histeris Siena. Untuk kesekian kalinya Samuel berhasil menembak sopir mobil musuh yang tersisa. Ia tersenyum menyeringai melihat mobil musuh oleng ke kanan dan menabrak pembatas jalan hingga berguling guling. Namun sialnya Samuel, ia tidak fokus ke depan. Seorang pria dari arah berlawanan yang mengendarai motor menembak ke arah Samuel mengenai dada kanannya. Mobil yang di kendarainya hilang keseimbangan. Samuel berusaha tetap dalam ke adaan sadar. Pria di atas motor itu terus mengejar mobil yang membawa Siena lalu menembak ban mobil.
Dari arah belakang, pengendara motor itu langsung di tabrak mobil Yeng Chen. Ia tidak tahu lagi bagaimana keadaan pria di atas motor itu, mungkin mati di tempat. Sementara dia sendiri fokus ke depan mengejar mobil Samuel yang hilang keseimbangan.
"Lebih cepat lagi!" seru Akira. Sebagian tubuhnya keluar dari pintu mobil berusaha mendekati mobil yang di kendarai Samuel.
Siena yang mengerti keadaan sulit yang di alami Samuel, mencoba menyeimbangkan laju kendaraan. Meski sulit tapi akhirnya Siena berhasil menepikan mobilnya dengan menabrakkan mobil ke sebuah pohon besar di tepi jalan.
"Brakkk!! Mobil itu berhenti, bersamaan dengan hilangnya kesadaran Siena karena membentuk kaca mobil. Darah segar mengalir ke wajahnya. Yeng Chen dan Akira langsung keluar dari pintu mobil mengangkat tubuh Samuel dan Siena masuk ke dalam mobil yang lain. Dari jauh terdengar suara sirine dari mobil kepolisian. Mereka bergegas membawa tubuh mereka yang terluka kembali ke rumah.
__ADS_1
"Bos pasti menghukum keteledoran kita," ucap Yeng Chen dengan nada gusar.
Akira melirik ke arah Yeng Chen, "kau benar."