The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 93: Baby?


__ADS_3

Beberapa menit Kenzi menunggu di luar ruangan terasa sangat lama. Akhirnya ia masuk ke dalam ruangan di susul Surya dan yang lain dari belakang.


Perlahan Kenzi mendekati Siena yang masih duduk dengan tatapan kosong lurus ke depan. "Siena!" Kenzi langsung memeluk tubuh Siena. Mengecup puncak kepalanya cukup lama.


Tangan Siena terulur meraba wajah Kenzi, ia tersenyum lebar, "kau kah ini?"


Kenzi mengerutkan dahi menatap kedua bola matanya, "kau tidak melihatku?" tanyanya bingung.


Siena menggelengkan kepala, "hanya samar samar." Tangannya terus mengusap pipi Kenzi.


Surya terkejut mendengar pernyataan Siena. Sesaat ia saling pandang dengan Samuel Lalu berjalan lebih dekat ke arah Siena. "Sayang, apa kau bisa melihat Papa, Nak?"


Siena memalingkan wajahnya, lalu tangannya terulur mencoba meraba wajah Papanya. Surya mendekatkan wajahnya ke tangan Siena yang terulur dan membiarkan dia mengusap lembut pipinya. "Dokter? apa yang terjadi dengan putriku!" Surya menurunkan tangan Siena lalu berjalan mendekati Dokter yang masih berdiri di ruangan itu.


"Peluru yang bersarang di kepala Nona Siena mengenai saraf optikus yaitu saraf bola mata, Nona Siena mengalami kebutaan tapi masih bisa melihat meski samar samar." Dokter menjelaskan.


"Apa?!" Surya matanya melebar menatap Siena sedih. Sementara Kenzi langsung memeluk erat dan mencium kedua bola matanya.


"Maafkan aku," ucap Kenzi pelan. Ia merasa sangat bersalah, seharusnya bukan Siena yang mengalami itu semua jika saja gadis itu tidak melindunginya dari serangan Livian. Tapi Siena tidak terganggu sama sekali, ia terlihat tegar.


"Tidak, ini bukan salahmu..kau tidak perlu minta maaf." Siena tersenyum membalas pelukan Kenzi.


"Tapi ada kabar baik lainnya, Tuan," ucap Dokter.


Kenzi dan yang lain menatap ke arah Dokter. "Apa Dok?" tanya Surya.


Dokter tersenyum, "selamat Tuan Kenzi, Anda akan menjadi seorang Ayah."


"Ayah?!" Kenzi tersenyum lebar, lalu memalingkan wajahnya menatap Siena lalu mencium keningnya dengan dalam. "Terima kasih, sayang." Siena tersenyum menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya permisi." Dokter menganggukkan kepala sesaat, lalu beranjak pergi bersama perawat keluar ruangan.


Surya langsung duduk di tepi tempat tidur, tangannya mengusap rambut Siena yang ada dalam pelukan Kenzi. "Papa akan menjadi Kakek!" ucapnya tersenyum lebar menatap Kenzi sekilas lalu beralih menatap Samuel dan yang lain saling merangkul.


"Selamat Bos!" ucap mereka serempak.


Kabar duka telah tergantikan dengan kabar bahagia, terutama Kenzi. Selama ia menggeluti dunia kriminal, belum pernah ia merasakan hangatnya keluarga. Kebersamaan, saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Kenzi tersenyum sambil terus memeluk Siena erat. Ia tidak salah mencintai seorang wanita tangguh. Dalam situasi apapun tetap tegar menghadapinya.


***


Dua hari setelah Siena sadar, Dokter mengizinkan Siena untuk di bawa pulang. Dengan membawa kebahagiaan, akhirnya mereka kembali pulang ke rumah.


"Kau istirahat yang cukup, besok kita pulang ke Indonesia." Kenzi mencium puncak kepala Siena cukup lama. Lalu ia membaringkan tubuh Siena di atas tempat tidur dan mencium perutnya.


'Kau harus banyak istirahat dan jangan sampai kecapean. Mulai sekarang di dalam perutmu ada anak kita." Kembali Kenzi mengingatkan Siena. Hari hari sulit telah terbayar dengan kebahagiaan dengan hadirnya buah cinta mereka.


Siena hanya tertawa kecil melihat sikap Kenzi yang berubah lembut dan banyak bicara sejak dari rumah sakit, "iya bawel."


Siena menghela napas panjang, dengan tatapan ke arah langit langit kamar. Berkali kali ia mengerjapkan pandangan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Namun hasilnya tetap sama.Tangannya mengusap perutnya yang masih rata dan bergumam pelan. "Semoga semuanya telah berakhir."


Sementara itu, Kenzi menemui Samuel dan yang lain. Mereka tengah menonton acara berita yang menayangkan siaran tentang kematian Bos mafia organisasi kriminal. Tetapi sayang, sampai sekarang pihak berwajib belum menemukan keberadaan Livian yang melarikan diri.


"Bos!" Samuel menoleh ke arah Kenzi yang berdiri di belakang mereka.


"Tidak perlu memikirkan Livian lagi, biar Polisi yang mengurusnya." Kenzi berjalan lalu duduk di kursi.


"Kau benar, tapi bersikap waspada juga penting." Surya menimpali, mengingat kelicikan Livian. Bukan hal yang harus di sepelekan jika kaburnya Livian justru untuk membalaskan dendam pada Kenzi.


"Bagaimana dengan Nona?" tanya Akira menatap ke arah Kenzi.

__ADS_1


"Istirahat." Kenzi mengambil sebatang rokok yang ada di atas meja, lalu menyalakannya. Ia hisap dalam dalam rokok lalu ia hembuskan perlahan. Mau tidak mau, akhirnya Kenzi memikirkan kata kata Surya. Ya benar, apa yang di katakan Surya. Kenzi mengakuinya, tapi kali ini ia tidak mau gegabah bertindak dan membahayakan istri dan calon bayinya. Lagipula Kenzi berniat untuk membawa Siena pulang ke Indonesia. Apa mungkin, Livian juga akan menyusul ke sana? tentu tidak akan bisa. Sebelum dia melewati Bandara saja sudah di tangkap.


Pihak Kepolisian telah menyebarkan foto Livian di berbagai sudut kota. Baik jalur darat, laut maupun udara. Bukan hal mustahil mereka langsung menangkapnya, pikir Kenzi.


"Bos!"


Kenzi terkejut, saat rokoknya hampir jatuh mengenai celana yang ia kenakan, jika saja Samel tidak mengingatkannya. Kekhawatiran yang di ungkapkan Surya dan anak buahnya bukan tanpa alasan. Tentu Kenzi tidak bisa menganggap sepele. Kini ada anggota baru yang akan hadir di tengah tengah mereka. Walau bagaimanapun ia harus dua kali lebih ekstra menjaga Siena dan bayinya.


"Kalian tidak perlu khawatir, besok pagi kita tinggalkan kota ini." Kenzi mematikan rokoknya yang sudah habis ke dalam asbak. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamar Siena untuk memastikan dia baik baik saja.


Saat Kenzi membuka pintu, ia melihat Siena tengah berjalan meraba raba menuju pintu. Kenzi langsung berjalan mendekat dan merangkul bahu Siena. "Kau mau kemana?"


Siena memalingkan wajahnya, tangannya mencengkram baju Kenzi untuk pegangan. "aku bosan di kamar terus."


"Baiklah, aku antar kau ke bawah." Kenzi langsung mengangkat tubuh Siena dan menggendongnya.


"Aku bisa jalan sendiri," keluh Siena.


"Aku tidak mengizinkan, biar aku menggendongmu." Kenzi tersenyum meski Siena tak melihatnya, lalu mencium pipinya sekilas.


Di sela sela langkahnya, Kenzi tidak berhenti bicara. Sementara Siena hanya mendengarkan, sesekali Siena tertawa kecil saat Kenzi berbisik di telinganya. "Apa? kau bilang apa?"


Kenzi menggelengkan kepala, "tidak ada." Siena tertawa kecil, tangannya meraba hidung Kenzi dan mencubit gemas hidungnya.


"Siena.." ucap Surya berdiri, saat melihat Kenzi tengah menggendongnya. "Kau tidak apa apa?" tangannya terulur mengusap rambut Siena.


"Tidak apa apa, Pa," sahut Siena.


Kenzi mendudukkan tubuh Siena di kursi, lalu ia ikut duduk di sampingnya. "Kau mau butuh sesuatu?" tanya Surya pada Siena.

__ADS_1


Siena menggelengkan kepala, "tidak Pa..aku hanya bosan di kamar terus."


Surya menghela napas panjang, lalu ia duduk kembali dengan tatapan lurus ke arah Siena. Rasa sedih dan bahagia menjadi satu di hati Surya, melihat kondisi Siena yang seperti itu.


__ADS_2