
Dua hari berlalu, Siena dan yang lain tinggal di rumah Ethan. Hari ini Siena memutuskan untuk mencari keadilan dan menemukan kebenaran tentang kematian Kenzi.
Ethan pria yang membantu Siena selama ini, ikut mendampingi Siena. Karena ia juga membawa serta Ryu dan Zoya. Satu sama lain tidak ingin di tinggalkan.
Setelah mendapatkan informasi dari pihak Kepolisian yang menyatakan Kenzi telah tiada. Siena meminta bukti jika memang Kenzi telah tiada. Kemudian pihak berwajib membawa Siena ke tempat penyimpanan jenazah. Mereka mengatakan kalau tubuh Kenzi sudah tidak utuh lagi kemungkinan di makan ikan pemangsa. Begitupula dengan Jiro dan Miko yang tidak di temukan jasadnya kemungkinan sudah di makan habis ikan pembunuh di dalam laut.
Namun Siena dan yang lain tidak percaya begitu saja. Saat salah satu Polisi memperlihatkan tubuh Kenzi yang sudah tidak utuh lagi. Beserta pakaian terakhir yang Kenzi kenakan, hampir saja membuat Siena jatuh pingsan.
"Tidak mungkin kau meninggalkanku dengan beban yang begitu berat harus kupikul sendirian," ucap Siena lirih. Menundukkan kepalanya, air mata turun dengan deras jenazah yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Maaf Nyonya, bukti sudah kami berikan. Anda tidak bisa menuntut kami dan menyalahkan instalasi kami." Polisi itu menarij tangan Siena untuk mundur, lalu mendorong kembali tempat penyimpanan jenazah ke tempat asalnya. Lalu mereka berlalu begitu saja meninggalkan Siena dan yang lain.
"Tidak mungkin.." Siena masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Tante, kita tinggalkan tempat ini." Zoya berjalan satu langkah mendekati Siena.
Namun di luar dugaan, Siena yang telah hancur hatinya. Mengambil senjata api di balik pinggangnya yang sudah ia persiapkan sejak di rumah Ethan.
"Klik!" Wanita itu menarik pelatuknya dengan tatapan kosong.
"Tante, jangan lakukan itu lagi." Zoya mengangkat kedua tangannya berusaha menenangkan Siena.
"Nyonya, tenanglah." Ethan menimpali.
__ADS_1
"Buat apa aku hidup, jika kau telah pergi." Siena mengangkat tangannya, ujung senjata ia tempelkan di kepalanya.
"Tante, sampai kapan seperti ini terus! lihatlah putra Tante! percuma meratapi yang sudah terjadi, semua itu tidak akan mengengembalikan Om Kenzi! ada aku dan Ryu akan selalu ada selama yang tante butuhkan. Cukup Tante!" jerit Zoya mulai panik saat Siena tidak lagi mendengarkannya juga Ethan.
Zoya menggelengkan kepala menatap Siena yang hanya diam dengan tatapan kosong, Ryu yang sedari tadi diam. Dengan susah payah turun dari atas kursi roda mendekati Siena lalu menarik tangan Ibunya yang masih memegang senjata api.
"Ryu!" pekik Zoya.
"Sebelum Ibu mati, terlebih dahulu Ibu harus membunubku." Tangan Siena yang memegang senjata api, ia arahkan ke keningnya sendiri.
"Ryu..." ucap Siena lirih, dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
"Buat apa aku hidup jika kalian semua meninggalkanku." Nada suara Ryu terdengar bergetar.
'Aku sempat bahagia dalam hidupku sewaktu kecil, memiliki keluarga yang utuh, tapi sejak aku remaja dan dewasa. Aku tidak pernah lagi merasakan itu semua. Lalu aku bertanya tentang kalian. Hingga Kak Jiro mengatakan siapa kalian sebenarnya. Ibu pikir aku bahagia memiliki kehidupan dan di bayang bayangi oleh kematian? tapi setelah aku dewasa aku mengerti, setiap orang punya masa lalu yang kelam entah apa masalahnya. Dan aku berusaha untuk menerima kalian sebagai orangtuaku." Ryu terus mencengkram tangan Siena supaya senjata apinya mengarah ke kepalanya.
" Lebih baik aku tidak membebanimu dengan ulah dan berbagai pertanyaan di kepalaku tentang kalian. Mengingat kau wanita hebat yang selalu ada buatku. Dan aku berjanji untuk menjadi yang terbaik untuk kalian berdua. Suatu hari nanti, aku ingin menjadi seperti Ayah yang selalu menepati janji dan tidak akan meninggalkan orang yang kusayangi."
"Ryu, putraku..maafkab Ibu nak.." Siena menggelengkan kepalanya, ia berusaha menarim tangannya dan menjauhkan senjata api dari kepala Ryu.
"Apa yang di katakan Ryu benar Tante, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan, Papa..aku telah kehilangan satu satunya yang kumiliki. Tapi aku bisa bertahan, karena kau Tante. Kau wanita hebat yang kukenal selain Ibuku sendiri. Hentikan kesedihan ini, aku tidak sanggup lagi." Zoya menyeka air matanya. Lalu berlari ke arah Ethan menubruk dan memeluk pria itu.
"Bukan hanya Ibu yang kehilangan Ayah dan Kak Jiro. Aku juga, bahkan aku kehilangan masa depanku, cita cita dan harapan terbesarku untum menikah dengan Savanah pupus sudah. Kenapa Ibu begitu egois, kenapa Bu!" Ryu menundukkan kepalanya, tangannya ia turunkan lalu menjatuhkan diri di lantai.
__ADS_1
"Ryu.." Siena memberikan senjata apinya pada Ethan, lalu ia jongkok di hadapan Ryu.
"Maafkan Ibu. Aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh lagi sayang." Siena mengulurkan tangannya memeluk erat tubuh Ryu.
"Aku tidak percaya Ayah dan Kak Jiro sudah mati. Aku yakin mereka masih hidup. Kita pasti berkumpul lagi Bu..pasti.." bisik Ryu pelan.
"Iya sayang, iya.."
Ethan mengusap wajahnya pelan, ia bersyukur. Untuk kedua kalianya, mereka berhasil melewati momen momen terburuk mereka.
"Nyonya, sebaiknya kita pulang. Apa yang di katakan putramu benar. Jangan berhenti berharap." Ethan menimpali.
Siena menganggukkan kepalanya, lalu mengangkat tubuh Ryu supaya berdiri.
"Kita pulang sayang."
"Ibu.." Ryu menagkup wajah Siena dan mengusap air matanya.
"Kau wanita hebat, kita mulai semuanya dari awal lagi. Percayalah, semua akan baik baik saja."
Siena menganggukkan kepalanya, ia berusaha untuk mempercayai apa yang mereka katakan.
****
__ADS_1
Hari berlalu, minggu pun berganti. Siena masih terus berjuang mencari keadilan untuk suaminya. Dan tak lelah berharap suatu hari nanti Kenzi dan putranya akan kembali ke tengah tengah mereka.
Sementara Ryu melanjutkan study nya, dengan bantuan Zoya yang tiap hari mendorong kursi roda Ryu. Hingga suatu hari, Ethan memberikan kaki palsu untuk Ryu. Namun hari hari buruk Ryu tidak pernah berhenti menghampiri hidupnya. Berbagai hinaan dari orang lain seringkali ia dengar, tapi Ryu tetap berusaha tabah, meski dalam diamnya ia kerap kali menangis. Namun Ryu sama sekali tidak ingin membebani Siena lagi. Ia tetap berusaha tegar menghadapinya. Zoya, gadis yang selalu ada untuknya, tidak pernah lelah untuk memberikannya semangat dan sandaran saat Ryu benar benar terpuruk. Namun satu sama lain mereka saling mendukung dan berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Entah kapan, Kenzi akan kembali mereka tidak tahu.