The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and Love


__ADS_3

Siena duduk terdiam di sofa, dia enggan menjawab apapun yang di katakan Jiro. Permintaan maaf, dan penyesalan sudah tidak berarti apa apa lagi. Bertahun tahun menjalin hidup bersama Kenzi. Tidak sedikitpun pria itu menyakitinya. Namun, untuk pertama kalinya. Pria yang selalu mrngerti segala hal tentang Siena. Berubah dan telah menyakiti perasaannya. Rumahnya telah hancur bersamaan dengan hatinya ikut hancur.


Adelfo berusaha meyakinkan Siena untuk tidak terbawa perasaan sebelum membuktikan kebenaran itu. Siena berusaha untuk mempercayainya, tapi apa yang di tunjukkan Kenzi padanya. Sudah cukup memberikan bukti.


Jiro duduk di bawah kaki Siena sembari memegang kedua tangan Ibunya dengan erat. Zoya dan Adelfo tidak dapat berkata apa apa lagi untuk meyakinkan wanita itu. Sementara Ryu berpikir keras, sebagai seorang Dokter, ahli dalam kimia. Tentu dia mengerti berapa lama obat obatan itu akan berpengaruh pada otak Kenzi. Tetapi beda lagi, jika obat yang di berikan mereka menggunakan serum pencuci otak. Perlahan senyum Ryu mengembang, ia maju selangkah lalu duduk di kursi.


"Om, beri aku informasi yang lebih akurat. Aku yakin, Ayah tidak seburuk yang Ibu bayangkan." Ryu menatap tajam Adelfo.


Semua orang mengalihkan pandangannya pada Ryu. "Ya, aku baru ingat." Adelfo mengeluarkan bungkusan kertas kecil berisi chip yang di berikan Kenzi sebelum pergi menyusul Jiro.


"Aku yakin, ada hal besar yang ingin ayah kerjakan tanpa melibatkan kita semua. Tapi di sini, aku ingin kalian bekeejasama untuk memecahkan kasus besar ini. Dan kemungkinan resikonya besar sekali." Ryu menjelaskan secara detail maksud ucapannya.


"Ini, mungkin kau bisa memecahkannya." Adelfo memberikan bungkusan kecil itu pada Ryu.


Ryu mengambil bungkusan itu dan mengambil chipnya. Ia tatap chip di tangannya. "Informasi di dalam Chip ini, kita akan tahu. Apa yang sebenarnya terjadi." Ryu berdiri lalu di ikuti semuanya memasuki ruang kerja Adelfo.


Ryu membuka layar monitor dan memasukkan chipnya. Sesaat Ryu tertegun membaca semua isi file di layar monitor, sementara yang lain tidak mengerti apa isi file tersebut.


"Aku mengerti sekarang, mengapa Ayah seperti itu." Ryu menoleh ke arah Siena. "Ibu tidak perlu khawatir, Ayah tidak seperti yang Ibu bayangkan." Ryu kembali menatap layar monitor.


"Beberapa ekstrimis melacak file ini, untuk melacak senjata api dan akan meriset perangkat dalam file untuk pembalasan di dalamnya."


"Apa maksudmu?" tanya Adelfo tidak mengerti.


"Seseorang ingin meledakkan antimateri di kota ini." Ryu menatap tajam Adelfo.


"Itu tidak mungkin.." ucap Adelfo pelan menggelengkan kepalanya menatap tidak percaya pada Ryu.


"File ini satu satunya data, kita harus menemukan bom asap itu dan yang bertanggung jawab atas pencurian senjata itu adalah Crips." Ryu kembali meyakinkan Adelfo. Lalu ia membuka file berikutnya dan menjelaskannya pada semua.


"Anti materi ini di buat oleh Ayahnya Miko, dan gadis itu tidak benar benar jahat. Aku pernah menyinggung dia seperti laki laki. Tapi sebenarnya bukan itu maksudku.'

__ADS_1


Mereka semua saling pandang sesaat mendengar semua yang Ryu jelaskan. Miko di bawah tekanan, sengaja untuk mendekati Jiro untuk memancing Kenzi.


" Kita membutuhkan gadis itu untuk merebut kembali pekerjaan Ayahnya. Dia bukan putri Hernet seperti yang di katakan kalian sebelumnya, itu hanyalah taktik mereka."


Ryu menatap mereka semua, terlihat raut wajah menegang. "Kita harus mencegahnya, sebelum mereka memaksa Ayah untuk meledakkannya."


"Aku bisa membantu kalian."


Ryu dan yang lain menoleh ke arah suara, nampak Miko berjalan tertatih mendekati mereka dengan luka tembak di paha dan bahunya.


"Miko, apa yang terjadi?" Jiro menghampiri gadis itu dan memapahnya lalu duduk di kursi.


"Mereka sudah tidak membutuhkanku lagi, setelah aku berhasil membawa Om Kenzi. Mereka berusaha membunuhku, tapi aku berhas melarikan diri. Tante, aku minta maaf. Aku melakukan semua itu karena terpaksa."


Siena menarik napas dalam, enggan menimpali. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Sebaiknya kau di obati dulu." Ryu meminta Zoya dan Jiro untuk menyiapkan alat alat untuk mengangkat peluru di tubuh Miko.


***


"Miko, apa peranmu sebenarnya dalam masalah ini?" tanya Adelfo menatap ke arah Miko.


"Apakah kau anggota FBI?" tanya Ryu. "File itu, deskripsi itu." Ryu menatap tajam Miko.


"Kesulitan mendeskripsi, aku hanya bisa mengakses setengahnya. Mungkin kau sudah membaca file itu." Miko menatap Ryu.


"Lalu apa peranmu?" tanya Adelfo mengulang pertanyaannya.


"Aku satu satunya putri Dokter Li. Dia yang menciptakan senjata berbahaya itu. Tapi mereka telah mencurinya dan membunuh ayahku. Seluruh hidupnya dia dedikasikan untuk penelitian ini. Ayahku berharap mendapatkan sumber energi baru untuk umat manusia. Anti materi bukanlah senjata, sebelum mereka mencurinya dari ayahku."


Siena berdiri lalu duduk di samping Miko, mengusap punggung gadis itu untuk menenangkan.

__ADS_1


Miko tersenyum pada Siena. "Tapi aku tahu bagaimana caranya menghancurkan senjata itu. Aku harus merebut kembali pekerjaan Ayahku. Untuk menghentikan pekerjaan pembunuhan massal."


"Baik, kita susun rencana." Adelfo menggosok gosokkan tangannya.


"Miko dan Ryu, kalian menyusup ke dalam organisasi itu untuk menghentikan pekerjaan mereka. Dan kau, Jiro juga Zoya. Kalian bertugas menjaga mereka di luar. Sementara aku akan mengumpulkan bukti bukti beserta video dalam file itu untuk di berikan pada pihak berwajib. Kita tidak mungkin bekerja tanpa melibatkan mereka."


'Bagaimana dengan aku?" tanya Siena.


"Ah Nyonya Siena, kau boleh ikut bersamaku," ucap Adelfo lembut. Zoya yang memperhatikan Adelfo. Langsung membulatkan mata menatap tajam Adelfo.


"Papa..!"


Adelfo tertawa kecil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Tidak Nyonya. aku hanya bercanda. Terserah kau, mau membantu siapa." Adelfo melarat lagi ucapannya. Membuat Jiro dan yang lain tertawa kecil melihat sikap Adelfo yang malu malu.


"Jiro, Zoya." Miko menatap mereka berdua bergantian. "Aku minta maaf, sudah membuat kalian susah."


"Tidak apa apa, aku sudah menganggapmu sahabatku." Zoya tersenyum pada Miko.


Sementara Jiro hanya diam menundukkan kepala, tanpa berkata apapun. Ryu akhirnya ikut menyela. "Kak, kau balikan saja dengan Zoya. Biar adikmu ini dapat pacar juga, jangan serakah ya!" goda Ryu pada kakaknya.


"Kau ini!" sungut Jiro menatap horor Ryu.


"Kalau begitu, Ibu buatkan kalian makan malam dulu." Siena berdiri melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Biar aku bantu, Nyonya!" Adelfo berdiri menyusul Siena ke dapur. Sementara Zoya hanya bisa melongo melihat sikap Papanya yang kegenitan.


"Miko, sebaiknya kau ganti pakaian. Bajumu kotor dan bau amis," ucap Ryu.


"Tapi, aku-?"


"Pakai saja pakaianku, pasti muat kok," potong Zoya. Lalu gadis itu berdiri dan menarik tangan Miko untuk berdiri, lalu mereka berjalan menuju kamar pribadi Zoya.

__ADS_1


"Tentukan pilihanmu, jangan memperumit keadaan," sindir Ryu sembari menepuk pundak Jiro. Lalu ia kembali berjalan memasuki ruang kerja Adelfo untuk mempelajari file itu kembali.


Jiro hanya duduk termenung memikirkan ucapan Ryu. "Aku mulai menyukai Miko," ucapnya dalam hati.


__ADS_2