The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 69: Desire


__ADS_3

"Apa kau sudah siap?" tanya Kenzi sembari memeluk pinggang Siena.


"Sudah," sahut Siena.


Kenzi melepaskan pelukannya dan merangkul bahu Siena berjalan bersama keluar dari kamar menuju lantai dasar.


"Bos.." sapa Yeng Chen saat melihat Kenzi dan Siena sudah berdiri di hadapannya juga Akira.


"Kita berangkat," ucap Kenzi melangkah bersama keluar rumah di susul Akira dan Yeng Chen dari belakang. Tak lupa Akira mengunci pintu rumah.


Kenzi membukakan pintu mobil untuk Siena, lalu ia masuk ke dalam mobil setelah Siena duduk dengan tenang Kenzi langsung menutup pintu mobil. Ia melangkahkan kakinya hendak memutar arah. Namun bersamaan dengan tiga mobil melintas lamgsung menembaki ke arah Kenzi dan dua anak buahnya.


Siena menjerit dari dalam mobil saat peluru berdesing menghujami mobil yang ia gunakan. Sementara Kenzi dan dua anak buahnya langsung berguling berbalik menembaki mereka yang ada di dalam mobil.


Kenzi dan dua anak buahnya berhasil merobohkan beberapa pria yang menyerang. Mendengar Siena menjerit, Kenzi langsung berlari ke arah mobil di mana Siena berada. Di saat bersamaan mobil dari pihak kepolisian berhasil meringkus Akira dan Yeng Chen bersamaan. Sementara Kenzi sendiri tertembak tepat di kaki kanannya.


Dengan sigap Kenzi membuka pintu mobil bersamaan ambruknya tubuh Siena ke dalam pelukan Kenzi.


Siena..! ucap Kenzi matanya berkaca kaca, memeluk tubuh Siena.


"Menyerah Kenzi!" seru Marsya mengarahkan senjata api ke wajah Kenzi. Sementara Rei dan Keenan dengan sigap merebut tubuh Siena dari pelukan Kenzi. Mereka langsung membawa Siena masuk ke dalam mobil polisi.


"Lepaskan dia!" pekik Kenzi, namun Marsya dan Sheila langsung memukul pundak Kenzi dan meringkusnya.


"Ayo jalan!" Marsya menarik kerah baju Kenzi untuk berjalan di saat bersamaan sebuah motor melintas dan sengaja menabrak ke arah Marsya dan Sheila langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping menghindari motor.


Seorang pria yang menggunakan helm langsung menarik tubuh Kenzi naik ke atas motor dan membawanya pergi.


"Kejar mereka," ucap Sheila memberikan perintah.


Dua buah mobil Polisi langsung mengejar mereka. Sementara Marsya langsung meringkus Akira dan Yeng Chen membawanya ke dalam mobil


Kejar kejaran di jalan raya terjadi dan saling baku tembak. Pria yang membawa Kenzi berhasil melarikan diri diantara kendaraan yang melintas. Polisi kehilangan jejak mereka.


Sementara Rei dan Keenan langsung membawa Siena yang terkena peluru di bahunya ke rumah sakit di kawal polisi.


***

__ADS_1


Tiga jam berlalu, Rei juga Keenan menunggu Siena sadar. Akhirnya mereka di izinkan untuk menjenguk Siena.


"Siena, apa kau butuh sesuatu?" tanya Rei duduk di kursi. Sementara Keenan berdiri di samping Rei memperhatikan Siena yang hanya diam dengan tatapan kosong.


"Siena, kau baik baik saja? apa ada yang sakit?" Keenan membungkukkan badan menyentuh tangan Siena yang tak bergeming bahkan tidak melihat ke arah mereka sama sekali. Keenan kembali berdiri tegap menatap Siena bingung.


"Kenzi.." ucap Siena lirih.


Rei tengadahkan wajah menatap Keenan sesaat, "Siena, jangan kau pikirkan pria itu. Dia sudah membuatmu susah." Rei menyentuh tangan Siena, namun Siena menepisnya.


"Tidak..ia bukan penjahat.." ucapnya tanpa melihat ke arah Rei sama sekali.


"Siena..kami butuh kerjasamamu," ucap Marsya yang sudah berdiri di belakang Keenan. Mereka berdua menoleh ke arah Marsya sesaat.


"Tidak, aku tidak tahu apa apa.." jawab Siena.


"Kau jangan bohong Siena, kami tahu kalau kau mengetahui kemana larinya Kenzi." Marsya berjalan mendekati Siena.


"Marsya, aku harap kau tidak memaksa. Dia sedang mengalami hari yang sulit,' potong Keenan.


Keenan tertawa kecil, ia berjalan menghampiri Marsya. "aku sudah menduga ada yang tidak beres." Keenan menatap tajam Marsya di ikuti Rei menghampiri Marsya.


"Itu urusanmu, kami akan membawa Siena pulang ke Negaraku,' potong Rei.


" Tidak bisa! Siena kami tahan untuk menjadi saksi." Setelah bicara seperti itu, Marsya melangkahkan kakinya keluar ruangan dan memerintahkan anak buahnya memberikan penjagaan ketat di sekitar ruangan Siena.


Rei dan Keenan saling pandang, "ternyata kau benar, Keen..." ucap Rei.


Dua orang polisi masuk ke dalam ruangan bersama Sheila langsung menangkap Rei dan Keenan.


"Apa apaan ini!" pekik Keenan berusaha melepaskan diri saat salah satu polisi mengunci kedua tangan Keenan dan memborgolnya. Begitu juga dengan Keenan.


"Kalian kami amankan selama penyelidikan kasus ini." Salah satu polisi menjelaskan.


"Ini namanya bukan mengamankan, tapi kalian menangkap kami tanpa ada kesalahan!" potong Rei menatap salah satu polisi.


"Diam dan ikuti kami, kalian akan aman." Dua polisi itu langsung membawa mereka berdua keluar ruangan. Sementara Siena tidak dapat berbuat apa apa. Dia sendiri di bawah tekanan Sheila.

__ADS_1


"Apa maksud kalian menangkap sahabatku!" seru Siena berusaha untuk bangun.


"Kau tidak tahu apa apa, mereka aman bersama kami. Jika tidak, mereka akan di lenyapkan Kenzi dan anak buahnya.


" Bohong! dia tidak mungkin melakukan itu!" Siena melepaskan alat infus di tangannya.


"Siena, kami harap kau bisa bekerjasama." Sheila langsung menekan tombol untuk memanggil Dokter. Tak lama kemudian Dokter datang dan di minta untuk memberikan obat penenang pada Siena.


"Ternyata kau bukan orang baik," ucap Siena tersenyum sinis menatap geram Sheila. Sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.


***


Sementara itu di tempat lain, Kenzi berhasil lolos di selamatkan pria yang menggunakan motor yang tak lain Samuel.


"Bos, tahan sebentar." Samuel merobek daging kaki Kenzi untuk mengangkat peluru yang bersarang di kakinya.


Kenzi menganggukkan kepala, ia mengatupkan giginya menahan rasa sakit. Bersamaan erangan kecil di mulut Kenzi, peluru yang bersarang berhasil Samuel angkat.


"Bagaimana kau bisa ada di saat bersamaan?" tanya Kenzi sembari mengusap kemeja putihnya yang berlumuran noda darah Siena.


"Aku sengaja tidak memberitahumu bos, rupanya Livian hendak menyingkirkanmu." Samuel meletakkan pisau di atas meja.


"Kau benar," Kenzi menatap noda darah di kemejanya. "Aku harus merebut kembali istriku."


"Akan aku atur bos," potong Samuel.


"Siapkan senjata, nanti malam kita datangi markas Livian." Kenzi memberikan perintah. Samuel menganggukkan kepala, ia berjalan ke arah meja yang tak jauh dari tempat duduk Kenzi. Samuel membuka laci dan mengeluarkan beberapa senjata lalu ia letakkaan di atas meja.


"Bagaimana dengan Akira dan Yeng Chen bos?" tanya Samuel sembari duduk di kursi menghadap Kenzi.


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan membebaskan mereka." Kenzi melirik sesaat ke arah Samuel.


"Kita selesaikan semua bos, jika tidak..mereka tidak akan membiarkan kita tenang."


"Kau benar," kata Kenzi


Ia mengambil satu senjata api dan berkata, "tunggu aku Siena," ucapnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2