
Sampai detik ini, Kenzi coba memulihkan rasa di hatinya. Meski tiap menit sikap Siena yang membuat hati Kenzi semakin di rundung duka. Demi dia yang selalu ada di dalam hatinya, ia terima itu semuanya.
Siang itu Kenzi menjemput Rei, Keenan dan dua anak buahnya. Sepanjang perjalanan Kenzi menceritakan apa yang telah menimpa Siena dan amnesianya. Rei menarik napas dalam menatap tajam wajah Kenzi, terlihat lingakaran hitam di sekitar tepi matanya, yang menandakan dia tidak pernah tertidur lelap. Rei menundukkan kepalanya tersenyum samar lalu kembali menatap Kenzi. Memegang bahu Kenzi sesaat.
"Aku tahu kau pria hebat. Kau tidak sendirian, ada kami yang akan membantumu mengembalikan wanita yang kau cintai. Bodoh sekali kalau Siena melupakanmu."
Kenzi melirik ke arah Rei sesaat, lalu tertawa kecil. Setidaknya dengan kedatangan dua pria ini membuat hati Kenzi sedikit lega. Jika hal buruk terjadi padanya. Ada orang yang bersedia menjaga Siena.
"Terima kasih." Kenzi tersenyum tipis. Keenan yang duduk di kursi belakang bersama Akira dan Yeng Chen menepuk pundak Kenzi berkali kali.
"Hei, aku masih ingat bagaimana gigihnya kau merebut Siena dari kami. Aku harap kali ini kau pun masih sama seperti dulu."
Kenzi tersenyum lebar mendengar ucapan Keenan yang mengingatkannya tentang masa lalunya. Ia melirik sesaat ke belakang. "Tentu saja."
"Nah gitu dong!" sahut Keenan.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di halaman rumah. Mereka langsung masuk ke dalam rumah di sambut Samuel dan Helion. "Halo sayang! seru Rei merentangkan kedua tangannya.
"Om!" Helion berlari menyambut kedua tangan Rei.
"Apa kabar sayang." Rei mencium pipi Helion dengan gemas. Lalu ia alihkan pandangannya pada Siena yang duduk di kursi roda bengong menatap Keenan yang jongkok di hadapannya.
"Hai Siena, apa kabar?" tanya Keenan tersenyum tipis.
"Kau siapa?" tanya Siena lalu ia alihkan pandangannya pada Rei. Kembali menatap Keenan dengan tatapan bingung.
"Aku si bodoh Keenan, sahabatmu yang dulu pernah suka padamu tapi di tolak!" rutuk Keenan mengungatkannya tentang persahabatan mereka dulu.
"Keenan. " ucap Siena pelan menatap bingung, ia masih belum mengingat semuanya. Lalu beralih menatap Rei, "Kau?"
"Aku Rei, sahabatmu juga Siena."
Siena menggelengkan kepalanya. "Kenapa aku tidak ingat sama sekali."
Kenzi menghampiri Siena yang mulai terlihat gelisah dalam kebingungannya. "Sayang, mereka sahabatmu dari Indonesia. Tapi kalau kau tidak bisa mengingatnya, jangan kau paksakan."
Siena tengadahkan wajahnya menatap Kenzi, "antarkan aku ke kamar. Kepalaku pusing."
"Baiklah." Kenzi mengangkat tubuh Siena lalu menggendongnya masuk ke dalam kamar. Selama dalam gendongan Siena berusaha mengingat mereka semua. Namun yang ada kepalanya tambah sakit.
"Apa kau baik baik saja?" Kenzi membaringkan tubuh Siena di atas tempat tidur. lalu duduk di samping Siena menatap dalam wajah Siena, hingga napas Kenzi terasa di wajah Siena.
"Siapapun kau, seberapa berartinya kau dalam hidupku. Aku hanya ingin mengatakan, terima kasih." Siena tersenyum menatap wajah Kenzi.
__ADS_1
"Kau hidup dan matiku." Kenzi tersenyum tipis lalu turun dari atas tempat tidur. "Sebaiknya kau istirahat, besok jadwal pengecekan kondisimu."
Siena menganggukkan kepalanya lalu meraih tangan Kenzi.
"Kenzi."
Kenzi menatap tangan Siena yang meremas pelan tangannya. "Ya."
"Kau mau kemana?" tanya Siena.
"Aku menemani sahabatmu dulu, nanti aku kembali."
Siena menarik tangannya lalu mengangguk. Kenzi balik badan melangkahkan kakinya keluar kamar. Apa yang Siena katakan, sikap yang Siena tunjukkkan berkali kali membuat hati Kenzi hancur. Ia pikir itu semua awal yang bagus Siena akan mengingatnya lebih cepat. Tapi itu hanyalah perasaan samar yang wanita itu miliki.
***
kenzi berdiri di samping mobil menyalakan sebatang rokok, lalu ia hisap dalam dalam. Matanya menatap sekitar depan kantor pusat kepolisian. Pikirannya yang sudah kacau karena memikirkan Siena, sekarang ia di tuduh sebagai pembunuh sejumlah orang orang kelas atas yang di latarbelakangi perebutan wilayah dan politik. Ia di hadapkan pada hukuman mati jika Kenzi tidak bisa membuktikan keterlibatannya.
"Tenanglah." Yu menatap wajah Kenzi jelas terlihat kegelisahan. Cara dia menghisap rokok dan pandangan matanya yang kosong.
"Bagaimana aku bisa tenang, aku dihadapkan permasalahan pelik. Sementara satu satunya saksi, istriku sedang amnesia. Apakah mereka mau menunggu sampai istriku sembuh?" ucap Kenzi geram. "Siapa sebenarnya yang menginginkanku mati."
"Sam Hoi."
"Sam Hoi?" Kenzi mendengus kesal.
Siapa yang tidak kenal Sam Hoi, salah satu pria kelas atas yang sangat berpengaruh dalam setiap jajaran penting di kota itu.
Kenzi tertawa samar menatap tajam Marsya. "Rupanya dia." Rokok yang hampir habis ia buang sembarangan ke jalan.
"Sidang pertama akan di mulai satu minggu ke depan. Kita punya waktu untuk mengumpulkan bukti dan bagaimana usaha kita untuk menyembuhkan istrimu." Marsya menoleh ke arah Kenzi.
Kenzi menghela napas panjang, menundukkan kepalanya sesaat. "Aku sedang usahakan, tapi jika tidak bisa.." Kenzi tidak melanjutkan ucapannya. Terlalu sakit ia untuk mengingat semuanya nanti.
"Tenanglah." Marsya berusaha untuk menenangkan Kenzi. Kemudian wanita itu meminta Kenzi dan yang lain untuk masuk ke dalam Kantor Polisi segera melakukan berbagai pemeriksaan.
Empat jam berlalu, akhirnya mereka telah selesai dengan serangkaian pemeriksaan. Pihak Kepolisian memberi waktu tiga hari pada Kenzi untuk penahanan sementara sebelum sidang di mulai. Namun pengacara Kenzi tetap akan bersikap kooperatif dan meminta selama tiga hari, Kenzi menjadi tahanan rumah dalam pengawasan pihak Kepolisian.
Pria itu duduk di dalam mobil menundukkan kepalanya. Ia benar benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Konsentrasinya pecah memikirkan Siena yang belum menunjukkan kesembuhannya. Apakah dia akan amnesia permanen seperti yang Dokter Chiang Lin katakan? bagaimana kalau itu terjadi? akhir hidup Kenzi akan berada di ujung kematian.
"Ahhhkkk!!" pekik Kenzi menendang pintu mobil yang terbuka. Membuat Yu dan Marsya yang tengah bicara dengan Pengacara terkejut.
"Kenzi, tenanglah!" Yu menghampiri Kenzi.
__ADS_1
"Aku mau pulang!" sahut Kenzi kesal.
"Baik, tunggu sebentar." Yu berjalan kembali mendekati Marsya dan Pengacara beberapa menit. Setelah selesai Yu kembali dan masuk ke dalam mobil mengantarkan Kenzi pulang ke rumah.
***
Sesampainya di rumah, Kenzi mendapati Siena tengah asik bercanda dengan dua sahabatnya. Tentu saja membuat Kenzi kesal dan lupa kalau Siena amnesia. Ia berjalan menghampiri Siena dan menarik tangannya dengan kasar.
"Kau bisa tertawa dengan mereka, kau bisa bersikap baik terhadap mereka. Tapi mengapa kau tidak mengingatku? mengapa Siena?!!"
Siena meringis kesakitan akibat cengkraman tangan Kenzi menyakiti tangannya yang masih di perban. Wanita itu hanya menangis ketakutan melihat Kenzi yang semakin kacau.
"Kenzi tenanglah!" Yu menarik lengan Kenzi dan melepaskan cengkraman tangan pria itu. "Lepas! dia istrimu yang amnesia. Ingat itu Kenzi!"
Napas Kenzi naik turun menahan gejolak emosi yang tak dapat ia kontrol lagi. Tatapannya beralih melihat Helion yang ketakutan dalam pelukan Keenan. Lalu beralih menatap Siena yang menangis ketakutan memegang tangannya yang terasa sakit. Perlahan hati Kenzi mulai melunak dan menyesali perbuatannya. Ia berjalan mendekati Siena.
"Kau jahat! kau jahat! pergi menjauh dariku!" jerit Siena menatap ketakutan ke arah Kenzi.
Hati Kenzi tambah hancur dan pikirannya semakin kalut. Di tambah rasa bersalah telah menyakiti Siena. Semua bercampur menjadi satu. Kenzi terduduk bersimpuh di hadapan Siena. Kepalanya ia dekatkan ke kursi roda Siena. Tubuhnya bergetar menangis dalam diam. Semua orang di ruangan itu menunduk sedih, tidak banyak yang bisa mereka lakukan atas apa yang menimpa Kenzi.
Melihat Kenzi menangis di hadapannya, perlahan hati Siena merasakan sakit yang tak bisa ia mengerti. Tangannya terulur mengusap rambut Kenzi dengan lembut.
"Maafkan aku..maafkan aku yang belum bisa mengingatmu.." ucap Siena terisak.
Kenzi mendongakkan wajahnya lalu memeluk tubuh Siena dengan erat. Pria itu menangis dalam pelukan Siena untuk pertama kalinya. "Maafkan aku.." ucap Siena lagi.
Hati siapakah yang tak akan hancur, bila wanita yang di cintai tidak mengingatnya. Sementara ia sendiri di hadapkan pada kematian.
Mereka berpelukan cukup lama. Siena terus memeluk pria itu, dan tiba tiba Siena terkulai lemas tak sadarkan diri dalam pelukan Kenzi.
"Sayang?" Kenzi melepaskan pelukannya. Dan tubuh Siena terkulai lemas.
"Sayang!" pekik Kenzi, ia menahan tubuh Siena supaya tidak jatuh. "Sayang, kau kenapa?" Kenzi mendongakkan wajahnya menatap Yu
"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit," ucap Yu khawatir.
"Baiklah." Kenzi mengangkat tubuh Siena lalu menggendongnya. "Kalian tetap di sini jaga putraku."
Rei mengusap air mata di matanya sebelum jatuh di pipinya. "Siena, aku harap kau baik baik saja."
"Cepatlah sadar, bantu suamimu," timpal Keenan memeluk erat Helion yang menangis.
"Semua akan baik baik saja, iya kan?" Akira menoleh ke arah Samuel yang menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Yeng Chen hanya bisa diam, enggan untuk berkata apa apa lagi.