
Siena terus berjalan menyusuri jalan perumahan yang sepi meninggalkan rumah Alya yang semakin jauh. Pagi itu bagaikan mimpi buruk bagi Siena.
"Bukan salah siapa siapa, ini semua salahku begitu mudah percaya menerima lamaran kakek," gumam Siena berjalan gontai kepalanya menunduk sembari menyeret dua koper.
"Tiiiiittttttt!
Suara klakson mobil dari arah belakang yang memekakkan telinga mengagetkan Siena. Ia berjengkit kaget menoleh ke belakang. Nampak sebuah mobil Alphard berwarna hitam terus membunyikan klakson. Siena langsung menepi memperhatikan mobil itu.
" Berisik!! seru Siena sembari memungut botol plastik kosong yang tergeletak di dekat kakinya, lalu ia lemparkan ke arah mobil itu.
"Pletakk!"
"Bisa diam tidak!" pekik Siena kesal. Setelah Siena melempar botol plastik kosong ke arah mobil itu, barulah bunyi klakson itu berhenti.
"Dasar kurang kerjaan," sungut Siena, ia kembali melangkahkan kakinya.
"Apa kau bilang? berisik?!" ucap seorang pria dari arah belakang menarik tangan Siena hingga ia mundur selangkah.
Siena menatap pria yang berdiri sejajar dengannya. "Ya, kau berisik!" bentak Siena.
"Adrian! biarkan wanita itu pergi! seru salah satu pria lain dari arah kaca mobil yang terbuka. Pria yang bernama Adrian itu langsung melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Siena.
" Baik tuan! sahutnya.
Adrian menatap Siena sesaat, lalu ia kembali berjalan mendekati mobilnya lalu masuk ke dalam. Siena mengerutkan dahi menatap pria yang berada dalam mobil. "Ada ada saja," ucap Siena pelan.
perlahan mobil itu berjalan perlahan melewati Siena, nampak pria itu tidak menutup kaca jendelanya. Ia terus menatap Siena dari arah kaca mobil hingga hilang dari pandangan.
Siena menghela napas dalam, ia kembali berjalan menyusuri tepi jalan. Tak lama ia telah sampai di ujung jalan raya. Sesaat ia tertegun, "apa aku pulang ke rumah kakek saja ya," gumam Siena.
Siena tertegun cukup lama, menit berikutnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah kakeknya. Ia menghentikankan Taksi yang kebetulan lewat di hadapannya. Kemudian ia masuk ke dalam taksi menuju rumah Pak Karta.
****
Pak Karta dan Hana yang tengah duduk di kursi teras rumah, terkejut melihat kedatangan Siena dengan membawa dua koper.
"Siena, putriku ..ada apa denganmu sayang?" tanya Hana berdiri memperhatikan dua koper yang di bawa Siena.
"Hana, biarkan cucuku duduk dengan tenang dulu..sini sayang..duduklah dekat kakek," sela Pak Karta.
Siena meletakkan kopernya lalu ia duduk di sebelah pak Karta dengan menundukkan kepala. "Kek..Ma..boleh aku tinggal di sini?" tanya Siena tengadahkan wajahnya menatap Hana dan Pak Karta.
"Tentu sayang," jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Apa yang terjadi nak?" tanya Hana.
Awalnya Siena hanya diam, sementara Hana dan Pak Karta saling pandang menunggu jawaban Siena. Detik berikutnya barulah ia bicara dan menceritakan apa yang terjadi.
"Apa?! berani sekali dia menyakiti cucuku!" seru Paka Karta langsung berdiri. "Mereka harus di beri pelajaran!"
Siena tengadahkan wajah menatap Pak Karta yang terlihat geram, "Kakek aku mohon, jangan lakukan apapun pada mereka..ini keputusanku untuk meninggalkan Reegan," ucap Siena memegang erat tangan pak Karta.
"Tidak bisa begitu nak, mereka sudah menghina keluarga Sujatmikodiningrat!" seru pak Karta.
"Kakek..ini semua salahku..jika saja dulu aku menolak lamaran kek Hardi, mungkin aku tidak akan merasakan hal ini..tolonglah kakek..aku tidak apa apa kek.."
Pak Karta menatap wajah Siena, lalu ia duduk di kursi. "Kau tidak ingin memberi mereka pelajaran?" tanya Pak Karta.
Siena menggeleng cepat, "aku yang memutuskan meninggalkan Reegan. Biar aku sendiri yang mengurus semua perceraianku Kek..ma.."
"Sayang, biar Rei yang membantumu ya?" ucap Alya matanya berkaca kaca. "Kau jangan sedih ya, ada mama juga kakek."
"Iya ma.." sahut Siena.
"Sekarang kau istirahat dulu, biar kakek menghubungi Rei untuk mengurus surat perceraianmu," ucap Pak Karta.
Siena menganggukkan kepala, lalu ia berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Mereka benar benar keterlaluan, aku tidak akan tenang kalau belum memberikan mereka pelajaran atas perbuatannya pada cucuku!
"Hmm, kenapa kakek sangat menyayangiku sekarang? kenapa mama dulu meninggalkanku dengan ayah?" tanya Siena pada dirinya sendiri.
"Mama alya..maafkan aku..semoga mama baik baik saja di sana," ucap Siena. Ia bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Tok tok tok!"
"Sayang, di luar ada Keenan! seru Hana dari luar pintu kamar.
" Iya ma!" sahut Siena.
Siena tirun dari atas tempat tidur, lalu ia membuka pintu kamar. "Keenan ada di sini ma?" tanya Siena menatap Hana.
"Iya sayang, mama sengaja menelpon dia," jawab Hana merangkul bahu Siena.
"Kenapa mama telpon Keenan, nanti pekerjaannya terganggu atau istrinya nanti tidak suka," gerutu Siena.
"Tidak sayang, Keenan kesini bersama istrinya," jawab Hana.
__ADS_1
"Bebarkah?" tanya Siena lagi.
Hana menganggukkan kepala, "benar sayang, ayo.."
Siena menganggukkan kepala, mereka melangkah keluar menemui Keenan dan Dinda. "Keenan! Dinda!" seru Siena langsung memeluk mereka berdua.
"Apa kabar kak Siena," ucap Dinda.
"Kabar baik, Dinda..ayo duduk." Siena mempersilahkan mereka duduk.
"Mama masuk ke dalam dulu ya," ucap Hana.
"Iya ma.." sahut Siena.
"Si..apa benar? kau meninggalkan rumah Reegan?" tanya Keenan langsung.
Siena menganggukkan kepala, "iya..itu benar.."
"Hanya pria bodoh yang mau melepaskanmu Siena, kau jangan sedih." Keenan menepuk bah Siena.
"Iya kak, buat apa juga kita bertahan jika terus di sakiti," timpal Dinda.
"Nah itu..kenapa aku memilih pergi..Reegan tidak mencintaiku..tapi..aku tidak membencinya apalagi mama Alya, dia sangat menyayangi aku," jawab Siena.
"Non, ini minumannya," ucap mbok marni dari arah pintu.
"Ah, iya mbok terima kasih."
Mbok Marni mengangguk sesaat, lalu ia letakkan minuman segar di atas meja. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam rumah.
"Si..bagaimana kalau kau bekerja di perusahaan kakekmu saja?" usul Keenan.
"Aku belum tahu harus ngapain saat ini..aku belum bisa memutuskannya," sahut Siena.
"Iyalah, aku juga paham..yang penting..kau jangan larut dalam kesedihanmu.." Keenan memberikan semangat pada Siena.
"Benar kak..kakak cantik dan masih muda," sela Dinda.
"Kalian ya..terima kasih sudah perduli denganku."
"Kita keluarga Siena. bukankah kau tahu itu.."
"Lebay nya kumat deh," sungut Siena
__ADS_1
"Hahahaha!"
Keenan tertawa terbahak bahak melihat Siena cemberut. Mengingatkan mereka saat saat dulu waktu masih kuliah. Tak terasa Waktu terus berlalu, hari mulai sore. Keenan dan Dinda berpamitan pulang setelah berbincang bincang dengan Siena mengenang masa lalu.