The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

"Kau kucintai dengan segenap hati, aku selalu mencoba seperti yang gadis impianmu," gumam Zoya pelan. Menatap langit langit kamar rumah sakit.


"Aku tahu, kau pun tahu. Kalau aku mencintaimu. Tapi kau tidak menganggapnya," ucap Zoya sembari menyeka air matanya.


Hatinya terasa sakit saat mengetahui, ternyata Jiro tidak menepati janjinya untuk menjenguknya lagi. Seharian penuh ia menunggu, matanya terus terjaga menatap pintu rumah sakit. Berharap yang datang adalah Jiro, tapi yang datang lagi lagi hanya Ayahnya saja.


"Hmm." Adelfo berdiri di samping ranjang menatap putri semata wayangnya tengah menangis.


"Papa.." ucap Zoya lirih. "Apakah Jiro tidak datang?"


Adelfo menggelengkan kepalanya pelan menatap wajah putrinya terlihat sangat berharap. Se-arogannya Adelfo sebagai seorang mafia. Dia tetap punya hati, saat melihat putrinya terpuruk hanya karena mencintai pria baik baik. Hatinya ikut sedih, apalagi Adelfo manusia. Sudah pasti punya rasa belas kasih di balik sisi arogannya.


"Aha! Papa punya ide." Adelfo duduk di kursi meraih tangan Zoya.


"Apa Pa?"


"Bagaimana kalau besok kita kerumah Jiro?" Adelfo tersenyum lebar menatap Zoya.


Wajah Zoya langsung cemberut menepis tangan Adelfo.


"Tidak mau."


Adelfo kembali terdiam, ia tidak tahu bagaimana lagi caranya menghibur Zoya. Ia berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan meninggalkan Zoya sendirian.


Sementara Jiro sendiri memang lupa dengan janjinya untuk menjenguk Zoya. Seharian ini, Jiro membujuk Miko untuk tidak ikut bergabung bersama anggota Crips. Salah satu mantan anak buah Hernet menghubungi Miko dan memintanya untuk menggantikan posisi Ayahnya dulu.


"Miko, aku mohon. Kau jangan mau memenuhi permintaan mereka. Kau tahu, aku sangat mencintaimu."


"Cinta?" Miko tersenyum sinis. "Kata cinta saja tidak cukup, kau harus membuktikannya padaku."


"Bukti apalagi yang kau inginkan?" Jiro menggelengkan kepala, tidak mengerti mengapa Miko berubah. Namun tekad Jiro sudah bulat untuk tetap mencintai Miko dan akan terus berusaha membuktikan, membawa kembali gadis itu seperti yang ia kenal dulu.


"Kalau kau mencintaiku, buktikan." Miko berdiri dari duduknya.


"Katakan.." ucap Jiro pelan.


"Kau ikut bersamaku, bergabung dengan mereka. Dan kita berdua akan menjadi pemimpin mereka."


"Apa?" mata Jiro melebar menatap Miko. "Apa kau sudah gila?"


"Tidak mau? ya sudah." Miko melangkahkan kakinya meninggalkan Jiro berdiri mematung menatap kepergiannya.

__ADS_1


Miko balik badan menoleh ke arah Jiro. "Temui aku lagi, jika kau berubah pikiran!"


Jiro kembali duduk mengusap rambutnya kasar. "Apa sebenarnya yang ada di otakmu, Miko?"


Jiro semakin tidak mengerti dengan tantangan yang di berikan Miko. Semenjak gadis itu mengetahui kalau Kenzi yang membunub Ayahnya. Gadis itu berubah, tapi Jiro sangat mencintai gadis itu dan ia tidak ingin kehilangannya. Perlahan Jiro mengangguk anggukkan kepala.


"Tidak akan kubiarkan kau sendirian terjerumus ke dalam dunia hitam."


Pria itu berdiri, lalu melangkahkan kakinya. Baru saja ia membuka pintu mobil, Jiro teringat janjinya pada Zoya.


"Ya Tuhan, aku mulai amnesia lagi. Semoga Zoya tidak marah padaku." Kemudian Jiro masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


***


Sesampainya di rumah sakit, Jiro langsung menemui Zoya di kamar inapnya.


"Maaf," ucap Jiro menatap Zoya yang tengah duduk di atas tempat tidur.


Zoya terdiam menundukkan kepalanya. Rasanya ia ingin marah dan memukul Jiro. Namun lagi lagi hatinya luluh saat melihatnya. Zoya tengadahkan wajahnya dan tersenyum.


"Tidak apa apa, duduklah."


"Terima kasih." Pria itu duduk di kursi.


"Ada apa?" tanya Zoya.


"Tidak ada," jawab Jiro tersenyum tipis.


"Kau jangan bohong, kalau kau tidak mencintaiku tidak apa apa. Anggap saja aku ini, sahabatmu. Jadi, sebagai sahabat kau boleh ceritakan apapun masalahmu padaku."


"Sungguh?" Jiro menatap Zoya. Ia senang sekali gadis di hadapannya sudah berubah.


"Tentu."


Jiro menarik kursinya supaya lebih dekat dengan Zoya. Ia menceritakan kenapa datang terlambat.


"Jadi? Miko mengajakmu untuk bergabung?"


Jiro menganggukkan kepalanya. "Ya."


Zoya terdiam sesaat, ia saja ingin keluar dari bayang bayang Ayahnya yang seorang mafia.

__ADS_1


"Terserah kau, jika keputusanmu itu benar. Tapi kau harus jujur dan bicara dengan kedua orangtuamu. Om Kenzi dulu, bagian dari Crips. Dan kau juga tentu tahu, bagaimana perjuangan Om Kenzi."


Jiro menganggukkan kepalanya. "Ya kau benar," ucap Jiro pelan. Tangannya meraih tangan Zoya dan meremasnya pelan. "Aku senang kau sudah berubah. Mulai sekarang, kau sahabat terbaikku." Jiro berdiri lalu membungkukkan badan mencium puncak kepala Zoya.


"Kau lekas sembuh, dan aku pulang dulu. Ibu pasti khawatir padaku." Jiro kembali berdiri tegap.


"Iya, besok aku sudah di izinkan pulang." Zoya tersenyum.


Tangan Jiro mengacak rambut Miko sesaat. "Syukurlah."


"Hubungi aku, jika kau butuh teman bicara."


Jiro menganggukkan kepala cepat. "Tentu."


"Oke, pulanglah. Hari sudah malam." Zoya kembali berbaring.


"Baiklah, sampai ketemu lagi." Jiro melambaikan tangannya lalu balik badan melangkahkan kakinya meninggalkan Zoya tanpa beban.


Sepeninggal Jiro, gadis itu menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Ia menangis dalam selimut, karena ia takut ketahuan oleh Adelfo. Zoya khawatir, jika Adelfo marah akan melukai Jiro. Seperti yang sudah sudah Ayahnya lakukan pada orang lain.


Zoya akui saat ini benar benar lemah karena cintanya sendiri. Dan dia tidak bisa berpura pura kuat. Namun hanya itu satu satunya cara untuk dekat dengan Jiro, berpura pura bahagia dan menjadi sahabatnya. Biarlah seperti ini, mencintai Jiro dalam diam. Meski harus sakit hati, gadis itu akan tetap bertahan. Cinta memang tak selamanya selalu indah. Cinta juga bisa membuat sakit.


Adelfo hanya berdiri memperhatikan putrinya dari balik kaca jendela luar ruangan. Ia menghela napas dalam dalam lalu tersenyum tipis. "Aku tidaj benar benar mengenali putriku. Aku, ayah yang buruk," gumamnya pelan.


"Aku baru tahu, kau sudah dewasa. Dan kau tidak sepertiku. Kau mirip Ibumu." Perlahan Adelfo membuka pintu ruangan mendekati Zoya.


"Sayang, lihat Papa bawa apa!" seru Adelfo.


Perlahan Zoya membuka selimutnya menatap Adelfo lalu beralih memperhatikan bunga mawar di tangan Adelfo.


"Kau suka?" Adelfo memberikan bunga mawar itu pada Zoya.


Gadis itu bangun dan duduk, mengambil bunga mawar di tangan Adelfo. Lalu menghirup aroma bunga mawar itu.


"Ih Papa! kaya sama pacarnya saja!" Zoya memukul lengan Adelfo. Lalu tertawa lebar melihat tingkah konyol Ayahnya.


"Hei, Papa lagi menghibur pacar Papa." Adelfo duduk di tepi tempat tidur. Tangannya terulur menyentuh pipi Zoya dengan lembut.


"Memangnya siapa pacar Papa?" goda Zoya.


"Kaulah kekasih Papa, pujaan hati Papa, hidup mati Papa. Kau juga-?"

__ADS_1


"Cukup!" potong Zoya. "Aku sayang Papa." Zoya tersenyum, lalu memeluk erat tubuh Adelfo.


"Papa juga sayang kamu, Nak."


__ADS_2