The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 55: late


__ADS_3

Semalaman Siena tidur di kamar Kenzi hingga pagi menjelang. Ia membuka mata perlahan menatap langit langit kamar.


"Sudah pagi rupanya."


Perlahan ia bangun dan duduk di tepi tempat tidur menatap sekitar kamar. Ia tidak menemukan Kenzi. Kemudian ia berdiri melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri. "Bukankah dia sedang terluka? tapi sepagi ini dia sudah tidak ada di rumah," gumam Siena.


Ia masuk ke dalam kamar mandi, entah kenapa Siena terpikirkan tentang Kenzi. "Terserah dia mau kemana sesuka hatinya, buat apa aku memikirkan manusia satu itu."


Perasaan aneh menyeruak di dalam hatinya, namun ia memilih untuk berendam di dalam bak berukuran besar. Ia berendam cukup lama hingga tak terasa tubuhnya mulai merasa kedinginan. Dari arah luar kamar mandi, Siena mendengar suara langkah kaki mengendap endap.


"Ada orang yang masuk," ucap Siena pelan.


Perlahan ia bangun dan keluar dari bak mandi. Siena meraih handuk, lalu ia lilitkan di tubuhnya dan berjalan ke belakang pintu kamar mandi. Saat pintu kamar mandi terbuka ia ikut mundur ke belakang dan bersembunyi.


"Kenzi" ucapnya dalam hati.


Saat Kenzi tengah memeriksa bak mandi, Siena langsung melangkahkan kakinya keluar kamar mandi menuju pintu. Sepintas bayangan, Kenzi menyadari Siena keluar dari kamar. Ia bergegas keluar kamar mandi menuju pintu kamar yang terbuka.


"Siena.." ucapnya pelan.


Kenzi berlari menyusul dan melihat Siena menuruni tangga hanya dengan menggunakan handuk. "Siena!" seru Kenzi.


Siena tengadahkan wajah ke atas lantai dua, ia melihat Kenzi tengah berlari menyusulnya. Ia langsung berlari ke arah pintu keluar yang tanpa penjagaan. Tanpa pikir panjang ia langsung membuka pintu menuju pintu gerbang.


"Siena!" seru Kenzi.


Namun Siena tidak menggubrisnya, ia langsung berlari. Halaman yang luas menyulitkan Siena sampai ke pintu gerbang. Sesampainya di pintu gerbang ia berusaha membuka pintu gerbang yang terkunci. Namun Siena tidak dapat membukanya. Ia menoleh ke belakang melihat Kenzi semakin dekat. Akhirnya Siena nekat hendak memanjat pintu gerbang.


"Kau mau kemana Siena?" ucap Kenzi langsung memeluk tubuh Siena, menahan tangannya supaya menjauh dari pintu gerbang.


"Lepaskan aku!" pekik Siena.


Kenzi langsung mengangkat tubuh Siena dan menggendongnya ke atas pundak. Ia langsung membawa kembali Siena ke dalam rumah. Kepala Siena yang menjuntai ke bawah terus memukul punggung Kenzi sekuat tenaga.


"Lepaskan aku! Kenzi lepaskan aku!!" pekik Siena lagi sepanjang jalan hingga sampai di dalam kamar.


Tubuh Siena, ia hempaskan ke atas tempat tidur. Kenzi menatap tajam wajah Siena, jelas terlihat raut wajah kesal. "Apa kau sudah gila hah? kau mau melarikan diri hanya dengan menggunakan handuk?!" ucap Kenzi sinis.


Siena langsung berdiri menatap marah ke arah Kenzi, "ya! kenapa kalau aku gila? tidak suka?!"

__ADS_1


Kenzi tertawa kecil, "terserah kau, tapi aku tidak suka tubuhmu di lihat pria lain."


Siena menyilangkan kedua tangannya di dada dan tertawa mencemooh, "oya? pria hidung belang di luar sana apa bedanya denganmu, Kenzi?!!"


Mendengar pernyataan Siena yang menyamaratakan dirinya dengan pria lain membuat raut wajah Kenzi berubah marah.


"Bedanya, sampai sekarang aku masih menghormatimu sebagai seorang wanita. Bisa saja bukan? aku merusak hidupmu lebih dari ini?" ucap Kenzi tangannya terulur menyentuh dada Siena.


"Lakukan! ayo lakukan jika itu maumu!' seru Siena mendekatkan tubuhnya hingga tak ada jarak lagi di antara mereka. Namun Kenzi hanya dian menatap kesal Siena.


" Dasar keras kepala!" Kenzi membentak Siena, ia langsung balik badan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Sesaat ia berdiri di depan pintu lalu menoleh ke arah Siena. "Dua hari lagi kita tinggalkan Indonesia my doll"


"Aahhkkk sial!!! seru Siena meraih bantal lalu ia lemparkan ke arah Kenzi, tidak hanya bantal. Semua barang di atas meja ia lemparkan meski Kenzi tak menggubrisnya.


Siena duduk di tepi tempat tidur, napasnya naik turun menahan amarah. Matanya melotot menatap lantai kamar.


" Hongkong.." ucapnya pelan.


****


Sepekan lebih berlalu Rei dan Keenan menyelidiki di mana Siena berada, akhirnya membuahkan hasil. Berdasarkan informasi yang di dapat, mereka berdua mulai merencanakan untuk membebaskan Siena.


Dua jam berlalu, akhirnya mereka sampai di depan gerbang rumah Kenzi. Mereka langsung keluar dari pintu mobil mendekati gerbang rumah.


"Kok sepi?" tanya Keenan mengintip dari balik celah gerbang. Rei penasaran ia bergantian mengintip.


"Kau benar," jawab Rei.


"Terus gimana ini?" tanya Keenan menatap gerbang yang di gembok dari luar.


"Apa kita salah alamat?" ucap Rei.


Keenan mengangkat ke dua bahunya. "Entahlah."


Sesaat mereka tertegun, tidak tahu harus bagaimana lagi. Tiba tiba dari belakang seorang pria paruh baya menepuk bahu Rei, "kalian sedang apa di sini?" tanya pria itu.


Rei dan Keenan langsung balik badan menatap pria paruh baya itu, "anu pak..kami mau bertamu. Tapi kok gerbangnya di kunci," sahut Keenan.


Pria itu memperkenalkan diri, "saya asisten rumah tangga di sini, tapi saya sudah tidak bekerja lagi mulai hari ini," ucap pria itu.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rei.


"Tuan Kenzi pindah ke Hongkong, baru saja mereka pergi."


"Hongkong!!" ucap mereka serempak.


Pria itu menganggukkan kepala, "iya benar, kalau begitu saya permisi dulu." Pria paruh baya itu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan mereka yang bengong.


"Rei! bagaimana ini!" seru Keenan menepuk punggung Rei.


"Aku tidak tahu Keenan..mereka pasti naik pesawat pribadi, sementara kita tidak tahu di mana lokasinya. Di Jakarta banyak perusahaan yang menyewakan." Rei terduduk lemas bersandar ke pintu gerbang.


Rei ikut jongkok di hadapan Rei, saat melihat sahabatnya putus asa. "Hei, ayolah.."


"Apalagi yang harus kita lakukan?" ucap Rei menundukkan kepala.


Akhirnya Keenan ikut duduk berhadapan dengan Rei, "huffftt..Siena..Siena..dulu aku sering cubit hidung kamu, dulu aku sering acak acak rambutmu..tapi sekarang..sampai di kejarpun tidak dapat dapat.." gumam Keenan menyipitkan mata menatap ke langit.


"Aha!!" seru Keenan.


Rei mengangkat wajah menatap Keenan, "apa?"


"Kita susul Siena ke Hongkong!" seru Keenan antusias


Rei mengerutkan dahi menatap Keenan, "boleh juga idemu, tapi?"


"Kita punya uang hasil penjualan segala macam untuk menebus Siena, bagaimana kalau kita pergunakan ke Hongkong?" usul Keenan.


"Kau benar!" sahut Rei.


"Uang itu cukup untuk kita berdua tinggal di sana sementara waktu," ucap Keenan.


"Bagaimana dengan istrimu Dinda?" tanya Rei.


"Dia istriku yang paling baik dan pengertian, dia pasti mengizinkanku, lagipula..dia bersama ayahnya."


"Aku setuju, ayo..kita urus segala hal nya." Rei berdiri, disusul Keenan ikut berdiri.


"Berangkat!" seru Keenan.

__ADS_1


Akhirnya mereka memutuskan untuk menyusul Siena ke Hongkong dengan menggunakan uang yang pernah mereka kumpulkan.


__ADS_2